<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079</id><updated>2012-01-01T05:34:10.218-08:00</updated><category term='Agama'/><category term='Jurnalistik'/><category term='Linguistik'/><category term='Lingkungan Hidup'/><category term='pendidikan'/><category term='membaca'/><title type='text'>LITERAT</title><subtitle type='html'>Mari Membaca dan Menulis</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-4732809141220264993</id><published>2011-06-17T18:29:00.001-07:00</published><updated>2011-06-17T18:33:58.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FAMILY LITERACY : &lt;br /&gt;KIAT MENUMBUHKAN POTENSI DAN KEMAMPUAN &lt;br /&gt;LITERASI ANAK-ANAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;br /&gt;FPBS, Universitas Pendidikan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;A. Kisah Anak-anak Indonesia dengan Kemampuan Literasi yang luar Biasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 2003, khazanah buku anak-anak kita ditandai oleh terbitnya buku-buku sastra anak buah karya dari anak-anak Indonesia (usia 6 sampai 12 tahun).  Penerbitan  buku-buku yang jenisnya berupa kumpulan cerita pendek, novel, puisi, illustrasi, komik,  serta  cerita-cerita yang diangkat dari kisah nyata tersebut  dilakukan oleh DAR! Mizan yang merupakan salah satu devisi  penerbit Mizan Bandung. &lt;br /&gt;Setiap bulannya,  DAR! Mizan menerbitkan buku-buku karya anak-anak  yang mereka namakan  “Kecil-kecil Punya Karya” (KKPK) tersebut,  antara  4-5 judul, dengan tiras  rata-rata 1.000-2.000 eksemplar per judulnya. Hingga April tahun 2010 ini, DAR! Mizan telah berhasil menerbitkan 120 judul karya 75 penulis belia kita. &lt;br /&gt;Menurut  Dadan Ramadhan Editor buku Mizan seri Kecil-kecil Punya Karya, pasca sukses serial KKPK. Konon setiap minggu DAR! Mizan menerima hampir seratusan naskah buku karya anak-anak yang datang dari  berbagai daerah di tanah air (www.mizan.com/v2/index.php?fuseaction=news_det&amp;id=26-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bermunculannya anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan literasi (baca-tulis) yang sangat membanggakan sebagaimana dibuktikan lewat penerbitan buku-buku bacaan anak serial KKPK tersebut, sungguh telah menjadi novum yang tak terbantahkan bahwasanya kemampuan literasi anak-anak Indonesia saat ini tidak seburuk  sebagaimana yang disimpulkan dalam berbagai penelitian lembaga-lembaga asing,  yang kemudian diamninkan dan dikutipi tanpa sikap kritis oleh sejumlah pengamat dan peneliti kita (periksa laporan PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) tahun 2001, IEA (International Asociation for the Evaluation  of Educationig Achevment) tahun 2006); sedangkan pada tataran anak SMP dan SMA (periksa laporan penelitian PISA (Programme for International Student Assesment) tahun 2000, tahun 2003, dan tahun 2006). Dengan perkataan lain, fenomena penerbitan buku-buku bacaan serial KKPK  tersebut memberikan jawaban bahwasanya “stigmatisasi” bahwasanya  anak-anak Indonesia kurang piawai menghasilkan karya tulis sudah saatnya  dievalusi kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, jika dihubungankan dengan dunia pendidikan formal atau atau  persekolahan, kehebatan literasi anak-anak KKPK tersebut  --sayangnya-- bukan merupakan akibat dari hasil kerja keras lembaga-lembaga persekolahan kita. Berdasarkan  penelusuran dan kajian penulis terhadap karya dan proses kreatif kepenulisan sejumlah penulis anak-anak tersebut, potensi dan kemampuan literasi mereka tumbuh dengan baik sebagai dampak dari pendidikan literasi keluarga (family literacy) yang mereka alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana gambaran mari kita perhatikan bagaimana proses kreatif Ramya (8 tahun) dan Putri Salsa (9 tahun); dua orang anak penulis cerpen yang cukup produktif. Proses kreatif Ramya, sebagaimana dikatakan Marcapada Sukardi (ayah) dan Gitawati Setianingrum (ibu) pada Kata Pengantar buku karya Ramya Dunia Es Krim  (DAR! Mizan, 2008: 7-15),   faktor pendorongnya akibat dari kebiasaan putrinya mendengarkan berbagai cerita yang dibacakan oleh keduanya. Sejak masih balita dan masih belum bisa membaca putrinya itu sangat gemar membolak-balikan halaman buku dan mengamati gambar serta tulisan dengan saksama. Ramya juga  konon suka “mendalang” bersandiwara sendiri dengan tokoh-tokoh hayalannya dengan menggunakan alat-alat peraga yang berada di sekitarnya, entah selembar sapu tangan atau setangkai kembang ilalang. Menurut orang tuanya, saking hobinya Ramya “mengobrol”, di sekolah Ramya kerap mendapat teguran dari gurunya . Kemudian pada  usia 6 tahun Ramya sudah bisa menulis. Sejak itu Ramya rajin menulis diary. Dia menulis pengalaman sehari-harinya secara sederhana pada diary-nya dalam sebaris atau dua baris kalimat. Kemudian lambat laut Ramya menuliskanya dalamn beberapa kalimat dan menjadi karangan yang panjang. Dari satu halaman menjadi dua halaman dan selanjutnya. &lt;br /&gt;Sedangkan proses kreatif Putri Salsa (9 tahun), sebagaimana yang dituliskan oleh  Asma Nadia, bunda Putri  Salsa,  pada pengantar buku  “My Candy”(DAR! Mizan, 2008:11-17),  Putri Salsa  mulai menulis saat usianya mendekati tujuh tahun. Syahdan salah satu faktor pendorong putri sulungnya ini ingin  menulis antara lain setelah menyaksikan sepupunya, Abdurahman Faiz, meluncurkan  buku  kumpulan puisi pertamanya (Untuk Bunda dan Dunia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut rupanya membuat  Putri  Salsa  sangat terobsesi untuk juga menjadi penulis dan menerbitkan buku. Hal itu  terang-terangan ia ungkapkan kepada bundanya,  “Karena Mas Faiz menulis. Caca  (Salsa-pen) sama-sama makan nasi. Jadi Caca pasti juga bisa menulis, asalkan Caca mau, Bunda!” (2008:11). Setelah itu menurut Asma Nadia, ia mulai rajin menemani putrinya menulis (mengetik di komputer). Biasanya Putri Salsa menulis di pangkuanya. Kadang-kadang kalau  putrinya itu lelah dia  mendiktekanya kepada dirinya, laiknya dirinya sekretarisnya. Putrinya kerap kali melakukan aktivitas menulis sambil bermain, melompat-lompat, berputar-putar atau sambil  menggoda adiknya. Demikian  perjalanan awal putrinya menulis . Saat menulis putrinya itu harus selalu ditemani oleh dirinya dan proses menulisnya lebih banyak dilakukan sambil bermain-main, hingga buku pertamnaya Dunia Caca diterbitkan oleh DAR!Mizan (2004). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perjalanan waktu, gadis kecilnya mulai mandiri saat menulis. Dia sudah mulai mengetik sendiri halaman-halaman ceritanya tanpa bantuan bundanya. Di samping itu sesekali putrinya mengajak mendiskusikan jalan cerita yang sudah ada di kepala putrinya itu, meminta pendapatnya. Saat putrinya kehabisan ide, Asma Nadia kerap berperan sebagai pemancing ide kreatifnya atau memberikan buku-buku cerita dari penulis lain.Sepertti yang dituliskan oleh  Asma Nadia, bunda Putri  Salsa,  pada pengantar buku  My Candy (DAR! Mizan, 2008:11-17) Putri Salsa  mulai menulis saat usianya mendekati tujuh tahun. Syahdan salah satu faktor pendorong putri sulungnya ini ingin  menulis antara lain setelah menyaksikan sepupunya, Abdurahman Faiz, meluncurkan  buku  kumpulan puisi pertamanya. Peristiwa tersebut rupanya membuat  Putri  Salsa  sangat terobsesi untuk juga menjadi penulis dan menerbitkan buku. Hal itu  terang-terangan ia ungkapkan kepada bundanya,  “Karena Mas Faiz menulis. Caca  (Salsa-pen) sama-sama makan nasi. Jadi Caca pasti juga bisa menulis, asalkan Caca mau, Bunda!” (2008:11). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian proses kreatif dari keempat penulis anak- anak di atas, kiranya dapat dikumukakan hal-hal sebagai berikut. Pertama, para penulis anak-anak tersebut semuanya berasal dari keluarga yang terpelajar (well educated) sekaligus keluarga yang memiliki budaya literasi (baca-tulis) yang kokoh. Kondisi keluarga yang seperti itu telah membawa anak-anak tersebut, dari sejak dini telah berkenalan dengan budaya membaca dan menulis, sebelum secara teknis mereka bisa melakukannya. Mereka telah dibacakan buku-buku cerita oleh orang tuanya serta difasilitasi menggambar benda-benda sebagai manifestasi ekspresi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Ramya, menurut pengakuan orang tuanya, karena di rumah mereka tersedia banyak buku, maka sejak masih balita dan masih belum bisa membaca putrinya itu sangat gemar membolak-balikan halaman buku dan mengamati gambar serta tulisan dengan saksama. Dari situ kemudian Ramya mulai bisa mengekspresikan idea tau imajinasinya lewat gambar-gambar yang dibuatnya. Begitu pula halnya dengan Sri Izzati, penulis novel yang sangat produktif yang kini mulai memasuki usia remaja ini menurut penuturan orang tuanya, sudah dikenalkan dengan buku   konon sejak ia masih bayi. &lt;br /&gt;Perkenalan dan pergaulan anak-anak dengan aktivitas literat pada usia dini seperti itu  pada akhirnya telah menjadikan kedua kegiatan tersebut sebagai kebiasaan sekaligus kegemaran. Dari buku-buku yang mereka baca dan atau dibacakan oleh orang tua mereka, pelan tapi pasti, jiwa, pikiran, serta imajinasi mereka mendapatkan asupan aneka muatan  nilai-nilai  edukatif yang sangat berharga dan mereka butuhkan, seperti bahasa, moral, sosial, serta kepribadian. Selain itu hal itu juga berperan besar dalam melejitkan daya khayali atau imajinasi mereka. Kemudian yang sangat penting ialah, seperti diakui oleh para orang tua anak-anak tersebut, kebiasaan membaca dan atau dibacakan buku sangat berpengaruh besar dalam menumbuhkembangkan potensi menulis anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta di atas kiranya semakin meneguhkan teori yang hingga saat ini diyakini oleh para pendidikan pakar literasi, bahwasnya membaca dan menulis bak dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan serta berbaku-peran dalam hal mencapai kemahirannya.  Dengan membaca, bukan hanya akan wawasan seseorang akan semakin berkembang, tepai juga, sebagaimana dikemukakan Jordan E. Ayan (Hernowo 2003: 37), bahwa membaca juga dapat memicu kreativitas. Buku mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi, dan karakter. Tiap buku yang melekat dalam pikiran, membangun sebuah bentang ide dan perasaan yang menjadi dasar dari ide kreatif. Padahal salah satu faktor yang mendorong agar anak mempunyai minat menulis ialah kebiasaan membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lainnya, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil riset Prof. Benyamin Bloom yang mengungkapkan bahwasanya saat anak-anak berada pada masa Balita mereka tengah berada pada periode suka meniru perbuatan orang tuanya tanpa terkecuali. Apapun yang dilakukan oleh orang tuanya sangat potensial untuk ditiru oleh anak-anak. Dengan demikian jika orang tua suka membaca, anak juga akan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu sebagaimana disarankan oleh pakar pendidikan anak,  sedari kecil, anak-anak perlu didekatkan pada bacaan supaya kelak mereka bisa menghasilkan tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kemampuan menulis anak-anak tersebut diperoleh tidak secara tiba-tiba, tetapi setelah melalui proses latihan  yang cukup panjang. Kemampuan bercerita Ramya misalnya, pada awalnya karena ia masih belum bisa menuangkannya secara tertulis tetapi disampaikan secara lisan (didongengkan). Baru setelah Ramya bisa membaca huruf-huruf, lantas ia tuangkan secara tertulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut selaras dengan teori yang juga dikemukan oleh para pakar literasi, bahwasanya menulis merupakan sebuah proses. Kemampuan tersebut diperoleh secara bertahap, sedikit demi sedikit. Kualitas kemampuan menulis seseorang, baik yang menyangkut teknis redaksional maupun kedalaman isinya akan berbanding lurus dengan kuantitas latihan yang dilakukannya. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat Gary Provost sebagaimana dikutip Hernowo (2002:11), bahwasanya yng dibutuhkan dari seorang penulis adalah 10% bakat, sisanya 90% adalah kemauan dan latihan.&lt;br /&gt;Sehubungan hal tersebut para orang tua hendaknya menyadari bahwasanya setiap anak pada dasarnya mempunyai potensi untuk bisa menulis. Anak-anak juga memiliki imajinasi yang luar biasa pada otaknya. Untuk menumbuhkan  potensi menulis anak-anaknya yang perlu dilakukan oleh para orang tua adalah menyediakan berbagai fasilitas. Seperti, alat tulis, computer, serta buku-buku bacaan yang baik dan sesuai dengan usia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, proses menulis anak-anak tersebut acap kali dilakukan sambil bermain (learning by doing). Hal tersebut misalnya dialami pada proses menulis Putri Salsa. Menurut penuturan ibunya, hingga buku pertamnaya Dunia Caca diterbitkan oleh DAR!Mizan (2004), Putri Salsa lebih banyak dilakukan sambil bermain-main. Dia kerap kali melakukan aktivitas menulis sambil melompat-lompat, berputar-putar atau sambil  menggoda adiknya. Seringkali pula ia menulis sambil duduk di pangkuan ibunya.&lt;br /&gt;Sehubungan hal tersebut maka para orang tua dan guru dalam membantu menumbuhkembangkan potensi menulis anaknya-anaknya, perlu memahami dan lebih dekat kepada  “dunia” anak-anak mereka. Selain itu para orang tua juga harus melakukan pembimbingan dengan penuh kesabaran, ketelatenan, serta dengan lebih mengedepankan belajar sambil bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, dalam meniti dan mengasah kemampuan menulisnya anak-anak tidak jarang sangat dipengaruhi oleh faktor moody mereka. Seperti dituturkan Asma Nadia, pada awal-awal tahun proses kepenulisannya,  faktor moody sangat mempengaruhi putrinya. Saat sedang mood-nya naik, tanpa disuruh  Putri Salsa  bisa menulis berlembar-lembar halaman, namun saat mood-nya buruk,  berhari-hari, bahkan berminggu-minggu dia tidak menulis selembar pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan hal tersebut, maka dibutuhkan juga kesediaan orang tua untuk menjadi “teman” sekaligus motivator untuk memancing atau membangkitkan kembali semangat menulis anak-anaknya. Bila perlu dengan menyuntikkan berbagai “reward” atau hadiah yang mendidik kepada mereka. Jurus semacam itu tampaknya cukup berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;B.Ihwal Family Literacy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, literasi (literacy) dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis, atau kadang disebut juga dengan istilah ‘melek aksara’ atau keberaksaraan. Namun saat ini literasi juga kerap diartikan secara lebih luas, sehingga Literasi jauh lebih dari yang mampu membaca dan menulis. Literasi memungkinkan orang untuk membaca dunia bukan hanya kata. Ini melibatkan penggunaan berbagai bentuk komunikasi yang memberikan kita kesempatan lebih lanjut dalam masyarakat kita - untuk diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literasi membantu kita memahami dunia kita tinggal masuk Hal ini juga membantu kita memahami diri kita sendiri dan mengungkapkan identitas kita, ide-ide kita dan budaya kita.  Dengan perkataan lain literasi bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Seseorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya generasi yang literat merupakan sebuah keniscayaan, agar bangsa kita bisa bangkit dari keterpurukan bahkan bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain. Atau menurut Seto Mulyadi (Annida online, Selasa, 30 Juni 2009), kesadaran literasi itu penting untuk ditumbuhkembangkan, karena bisa membuat anak-anak kita menjadi cerdas dalam melihat masalah dalam kehidupannya. Orang-orang yang memahami masalah secara otomatis mampu mencarikan solusi atas masalah-masalah tersebut. Anak-anak yang cerdas akan membuat bangsa kita maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar pendidikan sepakat bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, kemiskinan, dan pengangguran. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia. Menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hand Book of Family Literacy&lt;/span&gt; (2008:5) literasi keluarga (family literacy) merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Danny Taylor (1983) sebagai program mengajarkan kemampuan literasi (baca-tulis-pen) dengan menggunakan hubungan keluarga peserta didikdan keterlibatan mereka dalam praktek literasi di dalam masing-masing keluarga (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;family literacy programs to teach literacy that acknowledge and make use of learner's family relationships and engagements in family literacy practices). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan munculnya gagasan tersebut antara lain, walaupun kemampuan literasi itu memegang peranan penting namun faktanya banyak sekali anak-anak AS yang belum memilikinya, apalagi menjadikannya sebagai kebiasaan (habit). Sebagai gambaran, pada tahun 1995, seperempat (atau sekira 300.000 orang) dari pemuda dan orang dewasa penduduk negara bagian Nevada masih buta huruf. Mereka tidak mampu membaca atau menulis secara memadai untuk melakukan tugas-tugas sederhana keseharian mereka, seperti mengisi aplikasi pekerjaan atau membaca koran. (http://www.aflo.on.literacy.ca/famlit/models.htm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lainnya menurut Taylor, yakni bahwasanya  untuk menumbuhkembangkan kemampuan literasi pada anak merupakan persoalan yang cukup kompleks, karena berhubungan dengan sejumlah faktor,  seperti status sosial,ekonomi, bahasa, serta faktor-faktor  budaya lainnya.   Oleh karena itu menurut Taylor, perhatian program pendidikan literasi seharusnya tidak hanya bertumpu pada sekolah formal, tetapi juga harus melibatkan sumber daya keluarga, seperti  mempertimbangkan bahasa dan budaya literasi masing-masing keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hubungan antara program pendidikan literasi keluarga dengan pendidikan yang berlangsung di sekolah, secara tamsil Taylor (1997: 2)menggambarkannya --dalam sejumlah kasus tentu saja-- justru secara paradoksal. Taylor mengatakan,  "Benih-benih kegagalan pengajaran literasi di sekolah justru mulai ditanamnya  di rumah-rumah setiap keluarga, dan dalam banyak kasus sekolah menjadi cukup kesulitan untuk mencabutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga dalam segala kelebihannya merupakan ruang praksis sekaligus kunci penting dalam konteks perolehan dan penumbuhan kemampuan serta menanamkan tradisi literasi kepada anak-anak. Ruang praksis dimaksud yakni kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas bahasa lisan, aktivitas berhitung, membaca dan menulis, pengenalan atau pengenalan ilmu dan penggunaan teknologi tepat guna lainnya.Lebih lanjut Taylor mengatakan bahwa penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua pada program pendidikan literasianak-anaknya pada semua tahapan  memiliki dampak positif padaanak kemampuan akademis anak-anak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LiterasiKeluarga (Family literacy) adalah tentang uapaya yang dilakukan oleh keluarga menggunakan aktivitas literasi dan bahasa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Literasi keluarga adalah tentang bagaimana suatu keluarga belajar, menggunakan aktivitas baca-tulis  untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari mereka, membantu anak-anak mengembangkan kemampuan baca-tulisnya, menggunakan aktivitas literasi untuk menjaga hubungan dengan satu sama lain dan dengan masyarakat, serta bagaimana meningkatkan kemampuan seseorang untuk berinteraksi, baik dengan  organisasi dan institusi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program literasi Keluarga mempromosikan kerjasama masyarakat untuk memberikan sistem pelayanan yang fleksibel dan mudah diakses di bidang literasi untuk keluarga dengan anak-anaknya. Program literasi Keluarga memberikan kesempatan berarti bagi anak-anak, orang tua mereka, anggota keluarga lainnya dan pengasuh untuk belajar dan tumbuh bersama. Menurut Taylor, program program pendidikan literasi keluarga akan  membantu para orang tua dan wali murid  dapat memahami dan mengembangkan peran mereka terhadap  anak-anak mereka sebagai pendidik pertama, meningkatkan kemampuan dan  kepercayaan mereka, serta dukungan bahasa dan keaksaraan belajar dan menemukan lebih banyak tentang bagaimana anak-anak dan orang dewasa belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih rinci program literasi keluarga bertujuan untuk membantu membangun rasa percaya diri, khususnya para orang tua maupun anak-anak meningkatkan potensi dan kemampuan literasi mereka sehingga mereka menuai keberhasilan di sekolah, menawarkan  pengembangan lebih hubungan yang lebih dekat dan  lebih kuat dalam keluarga, , membantu mempersiapkan anak-anak untuk sekolah,  membantu keluarga memahami sistem sekolah dan peran mereka di dalamnya, serta menjaga dan melestarikan nilai-nilai  luhur budaya  keluarga lewat penggunaan literasi pada bahasa pertama. (http://www.aflo.on.literacy.ca/famlit/models.htm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lamb et al dalam  bukunya yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt; At home with literacy: A study of family literacy practices &lt;/span&gt; (National Adult Literacy Agency, 2010: 5), secara ringkas, program program pendidikan literasi keluarga yakni sebagai berikut : (1) mempromosikan keluarga sebagai lingkungan belajar; (2) membangun budaya rumah dan pengalaman;(3) mendorong pembelajaran partisipatif; (4) mempromosikan pembelajaran sebagai perubahan dalam atau penegasan keterampilan, sikap dan pengetahuan; (5) mempromosikan hubungan keluarga sebagai pendukung kesejahteraan dan kesiapan untuk belajar; serta (6) mempromosikan budaya aspirasi pada orang dewasa dan anak-anak, dan memberikan kesempatan dan membangun kepercayaan diri untuk mencoba keterampilan dan ide-ide baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Adele Thomas, Ph.D dari Faculty of Education, Brock University, Ontario, Canada, pada situs http://www.aflo.on.literacy.ca/famlit/models.htm, hingga setakat ini sedikitnya terdapat sejumlah prototipe  atau framework  program literasi keluarga telah dikembangkan di sejumlah negara, khususnya di AS dan Canada. Antara lain  Books for Babies, Book Mates,  Centre for Expertise in Family Literacy, Come Read With Me, From Lullabies to Literacy, Home-Based Family Literacy: Parents As Teachers, Parent-Child Mother Goose Program, Parents' Roles Interacting with Teacher Support (PRINTS),  Reading and Parents Program (RAPP) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah program literasi keluarga seyogyanya memiliki kriteria sebagai berikut: dikonseptualisasikan untuk memenuhi kebutuhan dan keprihatinan keluarga terhadap masalah-masalah pengembangan literasi anak-anak; berisi komponen pendidikan yang secara formal maupun informal yang mempengaruhi perkembangan literasi anak; berisi komponen pendidikan bagi orang dewasa, baik menyediakan kegiatan literasi dan pendidikan  yang memungkinkan mereka  mencapai kemahiran keterampilan literasi dasar; serta kegiatan-kegiatan  yang berfokus pada pertukaran pengetahuan dan informasi antara orang dewasa dan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis program literasi keluarga bervariasi, tergantung pada kebutuhan masyarakat. Beberapa di antaranya merupakan program kecil dan berbasis kelompok kecil masyarakat, sementara yang lain lebih besar lagi. Program-programnya diorientasikan untuk pengaturan pendidikan anak-anak keluarga mereka. Selain itu,  programnya bisa juga ditunjukkan untuk memberikan dukungan di luar tujuan literasi dasar. Misalnya, untuk membantu pemahaman anak terhadap  mata pelajaran-mata pelajaran untuk persiapan UN atau masuk PT. Apapun jenis programnya, upaya proaktif  dari seluruh anggota keluaga ini  merupakan elemen kunci dari suksesnya program literasi keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSTAKA RUJUKAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hannon Pater and Viv Bird.2008.”Family Literacy in England: Theory, Practice,    &lt;br /&gt;        Research and Policy” dalam Hand Book of Family Literacy Tylorand Frances.&lt;br /&gt;        e-library&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muakhir, Ali. 2006. “Kecil-Kecil Punya Karya”, dalam Matabaca Vol.4/No.7/Maret 2006. Hlm. 11. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyadi.Seto  "Kecerdasan Literasi Anak Tanggung Jawab Orang Tua" (Annida online, Selasa, 30 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak : Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norton. Donna, 1993. Through the Eyes of a Child: An Introduction to Children Literature. Boston &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olson, David and Nancy Torrance.1991 Literacy and Orality.Cambridge University &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olson, David et all. 1985  Literacy, Language and Learning: The Nature and Concequences of Reading and Writing Cambridge University&lt;br /&gt;Sarumpaet. Riris K. 2010 Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyatno. 2009. Struktur Narasi Novel Karya Anak. Surabaya: Jaring Pena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stewig, John, Warren, 1980.Children and Literature. Chicago: Rand College Publishing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasik.Barbara Hanna.2008 Hand Book of Family Literacy Tylorand Frances.e-library&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs internet:&lt;br /&gt;http://www.aflo.on.literacy.ca/famlit/models.htm.&lt;br /&gt;http://www.joe.org/joe/2001august/iw2.php.&lt;br /&gt;http://www.ruangbaca.com/berita_buku/?action=b3Blbg==&amp;linkto=NDM=&amp;when=MjAwNTEyMDU=.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-4732809141220264993?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/4732809141220264993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=4732809141220264993' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/4732809141220264993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/4732809141220264993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2011/06/family-literacy-kiat-menumbuhkan.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-2092023743336940639</id><published>2011-06-12T17:38:00.001-07:00</published><updated>2011-06-12T17:42:01.666-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Rekomendasi IKA UPI pada Kongres IV di Bandung</title><content type='html'>oleh Kholid A. Harras &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi daerah (Otda) boleh saja dianggap sebagai langkah maju dalam tata kelola pemerintahan di Indonesia. Sayangnya, langkah tersebut kurang ramah bagi dunia pendidikan. Bahkan, otda menambah karut marut tata kelola pendidikan. Boleh dibilang, otda hanya memindahkan masalah dari pusat ke daerah. Demikian salah satu poin rekomendasi Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) yang disampaikan dalam Kongres IV IKA UPI di Savoy Homann Bidakara Hotel Bandung akhir pekan kemarin (26 Maret 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal IKA UPI Aim Abdulkarim yang membacakan rekomendasi tersebut menegaskan, otda memicu mismanagement alias salah urus pendidikan akibat kurang profesionalnya pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pendidikan. Di lain pihak, tambah Aim, politisasi dan birokratisasi lembaga pendidikan tampak jelas di daerah. Dia mencontohkan, posisi dan pengangkatan kepala sekolah atau posisi kepala dinas dari orang yang tidak memahami pendidikan. Mutasi kepala sekolah cenderung bergantung pada keinginan kepala daerah sehingga tidak lagi didasarkan pada pertimbangan profesionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikian pula persoalan pembangunan fisik fasilitas pendidikan yang tidak menunjukkan keadaan lebih baik. Besarnya kucuran dana pendidikan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas dan sarana pendidikan. Otda melahirkan birokrasi ketat di bidang pendidikan sehingga sekolah melembaga menjadi birokrasi di level sekolah,” tegas Aim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“IKA UPI merekomendasikan agar dilakukan kajian terhadap pembagian tugas dan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga adanya ketegasan tugas dan wewenang pada masing-masing pemerintah. Kewenangan pemerintah kota/kabupaten yang terlalu besar saat ini berimplikasi pada tidak terbangunnya tata kelola pendidikan dengan baik. Perlu adanya penegasan wilayah kewenangan yang sesuai dengan kapasitas pemerintah kota dan kabupaten yang akan menentukan tata kelola yang baik dalam penjaminan mutu pendidikan di Indonesia, “ Aim menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, IKA UPI menyoroti persoalan rekruitmen guru. Menurut Aim, rekruitmen guru saat ini tidak dilakukan secara profesional yang hanya menggunakan cara-cara koneksitas dan kolusi. Banyaknya kasus yang mengemuka tentang pencaloan pegawai negeri sipil (PNS), termasuk pengangkatan guru, menunjukkan pemerintah daerah tidak serius melakukan seleksi calon guru untuk menghasilkan para pendidik profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa daerah, tambah Aim, banyak calon PNS guru yang diterima berasal dari perguruan tinggi yang tidak jelas akreditasinya. Lebih buruk lagi, beberapa daerah dengan alasan otonomi daerah, lebih banyak mengangkat PNS guru dari perguruan tinggi daerah yang kualitasnya kurang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cara-cara demikian, bukan saja merugikan masa depan pendidikan secara umum, tetapi merugikan pembangunan pendidikan di daerah tersebut. Karena itu, IKA UPI merekomendasikan agar pemerintah menata kembali rekruutmen PNS guru agar diselenggarakan secara profesional oleh lembaga pendidikan yang memahami dunia pendidikan. Seleksi PNS guru hendaknya berbeda dengan seleksi PNS lain, karena PNS guru tidak hanya berdasarkan kemampuan akademik, tetapi juga menuntuk adanya kemampuan metodologi dan psikologi pendidikan,” papar guru besar UPI ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoroti profesionalisme guru dan dosen, IKA UPI menilai saat ini belum fokus dilaksanakan. Juga, belum bermuara pada kesejahteraan tenaga pendidik. Sejauh ini, profesionalisme  masih dipahami setengah hati dan basa-basi, bahkan lebih bernuansa politis. Dengan kata lain, penyelenggaraan profesi guru belum menyentuh terciptanya profesionalisme di lapangan. Yang menyedihkan, kesejahteraan yang merupakan implikasi dari  guru profesional banyak dihambat birokrasi pusat dan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak guru belum menikmati hasil kerja kerasnya mengikuti pendidikan profesi karena rumitnya birokrasi pemerintahan. Karena itu, IKA UPI merekomendasikan agar pembinaan profesi guru dilakukan secara tegas dan jelas arahnya dengan melibatkan LPTK yang benar-benar memiliki kemampuan sumber daya dan kapasitas. Pemerintah juga harus memberikan pelayanan birokrasi yang jelas dan terencana dalam penyaluran kesejahteraan guru, dengan tidak memperpanjang birokrasi yang memperlambat proses kerja profesionalitas pendidikan,” tandas Aim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karut marut pendidikan juga ditandai dengan munculnya permasalahan bantuan operasional sekolah (BOS) dan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Dua kebijakan tersebut dianggap keluar dari komitmen peningkatan kualitas pendidikan. Fakta menunjukkan, dua kebijakan tersebut bukti bahwa komunikasi dalam pelaksanaan aturan penyelenggaraan pendidikan dipahami secara parsial oleh penyelenggara pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“IKA UPI mendesak agar pemerintah lebih konsentrasi dan konsisten dalam menata dan mengelola pendidikan. Pemerintah juga harus mengacu pada UUD 1945 dalam mengelola pendidikan sehingga pendidikan dapat dinikmati dan diakses seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” tegas Aim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami merekomendasikan agar pemerintah mengkaji kembali beberapa program pendidikan yang bersifat ekslusif demi tercapaikan kesetaraan dan kesejajaran dalam mendapatkan akses pendidikan. Pemerintah juga harus menciptakan budaya transparansi dan akuntabilitas dalam dunia pendidikan pada setiap jenjangnya,” pungkas Aim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-2092023743336940639?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/2092023743336940639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=2092023743336940639' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/2092023743336940639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/2092023743336940639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2011/06/rekomendasi-ika-upi-pada-kongres-iv-di.html' title='Rekomendasi IKA UPI pada Kongres IV di Bandung'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-621146359234044245</id><published>2011-06-12T17:34:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T17:36:47.109-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>MENGAPA KITA GAGAL MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN?</title><content type='html'>oleh Kholid A. Harras &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadist Rasulullahbersabda "Berapa banyak orang yangberpuasa namun ia tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari puasanya tersebutkecuali rasa lapar dan dahaga saja...". Dari keterangan hadist tersebut jelaslah bahwasanya tidak setiap kita yangmelakukan ibadah puasa dapat mengantarkannya meraih derajat taqwa sebagaimana yangmenjadi tujuan dari ibadah shaum ramadhan ini ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ulama, penyebabutama terjadinya kondisi yang paradoksal seperti itu antara lain karena ibadahshaum atau puasa yang banyak dilakukan  mengabaikan dua syarat utamanya, yakni penuh  keimanan(imanan) serta perhitungan dan kesungguhan (ikhtisaban). Ketika kedua syarattersebut tidak secara sungguh-sungguh diperhatikan maka sudah pasti kita akangagal meraih keutamaan Ramadhan. Berikut sembilan  indikator penyebab kita gagal meraih keutamaanRamadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTAMA,ketika berpuasa tidak menghalangi dirinya untuk tidak menjaga mulutnya,  seperti bergunjing membicarakan keburukanorang lain, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, sertaberdusta. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia.(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUA, ketika target pembacaan Al-Qur'an yang dicanangkan minimal satu kali khatam, tidakterpenuhi selama bulan ramadhan. Kenapa minimal harus dapat mengkhatamkan satukali sepanjang bulan ini? Karena itulah terget minimal pembacaan Al-Qur'an yangdiajarkan oleh Rasulullah SAW. Di bulan ini, pembacaan Al-Qur'an merupakanbentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah tersebutmalam lailatul qadar. Pada bulan ini pula Jibril as biasa mengulang-ulangbacaan Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW. Orang yang berpuasa  sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur'anyang lebih baik dari bulan-bulan selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGA, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yangharam. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekamankedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata,lebih sulit terhapus daripada informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya.Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa danpikiran dari berbagai kotoran. Ini sebabnya Islam mewasiatkan sikap hati-hatidalam menggunakan nikmat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEEMPAT, ketika malam-malam ramadhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selainRamadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah menganjurkanumatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do'a-do'a tertentu. Ibadahshalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih, merupakan amalibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih,tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELIMA, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejakpagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan "balas dendam"dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berartinilai pendidikan puasa akan hilang. Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikanbagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawanafsu. Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannyaketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsuyang dihempaskan saat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEENAM, ketika bulan ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah.Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yang palingmurah dan dermawan di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisabernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya.Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETUJUH, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibukdengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untukmemperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan idul fitridengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulanmulia tersebut.Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untukberdiam didalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Merekamemperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan,saat diturunkannya Al-Qur'an. Pada detik-detik terakhir menjelang usainyaramadhan, mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah denganbulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah denganbulan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDELAPAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari"merdeka" dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena inisebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai denganadabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhansebagai beban dan keterkungkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESEMBILAN, setelah ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjutipada bulan-bulan selanjutnya. Misalnya memelihara kesinambungan puasa sunnah 6hari di bulan Syawal dan puasa-puasa sunah lainnya, shalat malam, membacaAl-Qur'an, ataupun bersedekah dan berinfak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal-amal ibadah satu bulanramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkatkanuntuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraihkeutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikanamal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan di bulan ramadhan.marilah kita perbaiki diri kita di bulan ramadhan ini, dan kita tingkatkankualitas kepribadian kita agar kita mampu meraih keutamaan bulan ramadhan.  (KAH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-621146359234044245?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/621146359234044245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=621146359234044245' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/621146359234044245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/621146359234044245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2011/06/mengapa-kita-gagal-meraih-keutamaan.html' title='MENGAPA KITA GAGAL MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN?'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-485624629710283447</id><published>2011-06-12T17:31:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T17:33:59.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Tiga Catatan di Akhir Ramadhan</title><content type='html'>oleh Kholid A. Harras &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadan sebentar lagi akan meninggalkan kita.  “Madu” ramadhan sudah sampai di tetes terakhir untuk kita nikmati. Minimal  minimal ada tiga catatan yang patut kita garisbawahi setelah kita menapaki hari-hari Ramadhan tahun ini. Tentu saja  masing-masing kita bisa menambahkan catatan tersebut  sesuai hasil perenungan kita  masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, seliar apa pun nafsu kita, sesungguhnya  ia bisa didewasakan. Momentum Ramadan telah menyediakan tarbiyah khusus buat pengendali  nafsu yang bersemayan pada diri manusia. Mungkin pada hari-hari di luar bulan Ramadhan  nafsu kerap kali mendiktekita. Di balik tuntutan lapar materi, nafsu  bisa  mencipta seribu satu dalih agar orang mencuri atau melakukan korupsi. Nafsu  jugalah yang kerap  mengelabui manusia mengumbar libido syahwat. Dan dibalik tuntutan nafsu ingin  istirahat,  kerap mengungkung orang menjadi penyantai dan pemalas dan melakukan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Ramadhan Allah SWT Yang Maha Pengasih telah  menghadiahi kita dengan kewajiban melaksanakan shaum atau puasa agar setiap muslim bisa mendewasakan nafsu-nafsu duniawinya. Bisa menutup-buka pintu-pintu energinya. Hingga, nafsu tidak lagi seperti anak kecil yang bisa dapat apa pun ketika merengek dan menuntut. Nafsu harus dipaksa. Agar, ia bisa dewasa.  Inilah salah satu  tarbiyah Rabbaniyah atas kehadiran bulan Ramadhan ini, ia  telah memdewasakan nafsu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sekotor apa pun jiwa kita, sesungguhnya ia bisa dibersihkan. Selama sebelas bulan, tubuh,  jiwa juga indria kita boleh jadi begitu longgar dalam menerima masukan dari luar. Semuanya bisa masuk. Mulai dari yang samar, kotor, bahkan yang beracun sekalipun.  Akibatnya, tubuh, jiwa maupun indria kita tidak lagi peka dan mata hati kita pun menjadi buta. Ramadhan telah menyediakan semacam “saringan alami” bagi ketiganya. Karena telah mendapat saringan akan membuat berbagai amaliyah ibadah yang sebelumnya terasa berat menjadi ringan. Bahkan sangat ringan!. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena telah berusaha membersihkan jiwa kita selama sebulan di Ramdhan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sepicik apa pun ego kita, ternyata ia bisa dicerdaskan.Karena ego, orang bisa menganggap kalau dirinyalah yang terbaik. Tak perlu masukan dan sumbang saran. Karena ego pula, orang menjadi tak perlu berjamaah. Ego menghias kepicikan diri menjadi prestasi besar. Ramadhan telah memaksa ego kita untuk tunduk dengan kenyataan. Bahwa, yang ego banggakan ternyata tak sekuat yang dibayangkan.Lewat Ramadhan telah memaksa ego kita untuk melihat kenyataan diri. Bahwa, kita  hanyalah seorang hamba, yang harus tunduk dan taan kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah momentum Ramadan yang begitu mahal. Semoga  kita masih diberikan kesempatan oleh Allah bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun hadapan.Amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-485624629710283447?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/485624629710283447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=485624629710283447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/485624629710283447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/485624629710283447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2011/06/tiga-catatan-di-akhir-ramadhan.html' title='Tiga Catatan di Akhir Ramadhan'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-1607938876206766307</id><published>2011-06-12T17:25:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T17:30:06.311-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>CITRA GURU PADA SINETRON KITA</title><content type='html'>oleh Kholid A. Harras &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimananakah sosok guru dicitrakan dalam film-film atau sinetron yang setakat ini  ditayangkan oleh sebagian besar stasiun televisi kita?  Memprihatinkan, mengenaskan, bahkan cenderung terjadi ‘pelecehan’ terhadap profesi yang konon layak “digugu dan ditiru” ini. Supaya pernyataan tersebut tidak dianggap mengada-ada atau dinilai fitnah, berikut penulis akan sajikan sejumlah hujah serta bukti-buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok peran guru yang banyak dimunculkan pada film atau sinetron dan ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi kita, baik yang berformatkan film televisi (FTV), layar miniseri (LMS) dan sinetron mini seri (SMS). pada umumnya dikaitkan pada cerita-cerita dunia cinta remaja. Mereka pada umumnya juga merupakan para guru yang mengajar di sekolah-sekolah ‘bonafide’ di kota besar, khususnya Jakarta, baik di SMP maupun di SMU. Namun yang harus segera dicatat,  kehadiran peran guru dalam seabrek sintron dunia cinta remaja tersebut pada umumnya bukanlah tokoh sentral. Sebaliknya,  keberadaan mereka hanya sekadar peran tempelan alias ‘pelengkap penderita’ bagi penggambaran dari gaya hidup para pelajar atau remaja kota besar yang serba wah dan hedonis, yang memang merupakan mainstream dari sinetron-sinetron tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun peran minimalis para guru tersebut tidak mewakili fakta yang sesungguhnya, tapi hal itu bukanlah masalah benar. Yang justru menjadi soal adalah bagaimana  para pembuat sinetron tersebut selama ini mencitrakan posisi kaum guru dalam sinetron mereka. Jika kita coba  cermati secara saksama, maka tampaklah bahwasanya dalam banyak sinetron remaja tersebut para guru pada umumnya selalu digambarkan dalam posisi yang artifisail serta nyaris tanpa wibawa, baik dari sisi penampilan fisik maupun tingkah-paripolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah contoh misalnya pada sinetron Opera SMU dan Amanda. Di situ digambarkan  bagaimana dandanan serta penampilan fisik dari tokoh-tokoh ibu guru yang laiknya para tante yang akan pergi ke pesta dansa, dan bukannya sebagai orang yang hendak mengajar di sekolah. Make up dari para ibu guru tersebut tampak habis-habisan: berbedak tebal, berlipstik menyala, memakai pinsil alis, eye shadow, mascara, sampai ber-blush-on segala. Begitu pula busana dan aksesoris yang digunakan pun pada umumnya juga  tampak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya,  seperti halnya yang telah menjadi ciri khas pada sinetron-sinetron kita dimana penampilan pemeran wanitanya   harus tampak  cantik, menarik serta  menor, penampilan para ibu guru pun demikian. Dalam sinetron mereka, penampilan ibu guru pun tidak boleh tampak biasa-biasa saja, apalagi kumuh, sekalipun ia baru bangun tidur. Begitu pula penggambaran prilaku mereka, khususnya dalam menghadapi ulah dari para peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar kelas juga pada umumnya nyaris  tak tampak kewibawaannya sebagai seorang pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu sinetron remaja,  digambarkan sang guru meminta muridnya berpidato di depan kelas. Ketika seorang murid berpidato dengan tergagap-gagap, teman-temannya justru melemparinya dengan potongan-potongan kertas yang pasti menjadi sampah di kelas.  Bagaimana si guru menghadapi situasi tersebut? Marahkah dia? Oh tidak, sang guru hanya digambarkan menggeleng-gelengkan kepala, cemberut, lalu menyuruh si murid gagap tersebut duduk kembali. Pada episode yang lain, muncul seorang guru yang arogan ketika menghadapi muridnya yang terlambat masuk kelas. Dengan judesnya sang guru mengusir si murid, tanpa perlu bertanya penyebab keterlambatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tak adanya wibawa guru dalam sinetron juga muncul antara lain lewat adegan di mana murid seenaknya bicara pada sang guru sambil mengolah permen karet di mulutnya! Adegan lainnya, ketika guru memanggil ke ruangannya seorang murid yang melakukan kesalahan, si murid justru menantang mata sang guru. Dengan seenaknya si murid membantah perintah sang guru karena hal itu tak sesuai dengan keinginan hatinya. Adegan in jelas menunjukkan betapa “berkuasanya” si murid yang dalam cerita itu merupakan anak seorang pejabat dan betapa rendahnya wibawa guru tersebut sampai-sampai muridnya bisa seenaknya melecehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang juga bisa dianggap sebuah pelecehan, yakni bagaimana bebasnya pakaian seragam para  murid, baik SMP maupun SMA  dalam sinetron-sinetron tersebut. Umumnya murid yang berakting pada sinetron pakaian seragamnya seenaknya sendiri. Misalnya yang laki2 bajunya tidak dimasukan ke dalam celana atau roknya, potongan celana atau roknya tidak sesuai aturan atau menggunakan asesoris yang diluar kepatutan. Hal itu  jelas tidak realistis. Mungkin memang ada anak sekolah seperti itu, tetapi mayoritas murid SMU saya yakin tidak seperti apa yang digambarkan dalam sinetron- sinetron tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah antara lain penggambaran citra dan sosok guru dalam sinetron remaja yang bertebaran di layar kaca kita. Di tengah krisis pada semua segi bangsa ini, realitas dunia sinetron itu seperti menggambarkan krisis etika kita, krisis budi pekerti kita. Tragis memang! ****&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-1607938876206766307?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/1607938876206766307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=1607938876206766307' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1607938876206766307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1607938876206766307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2011/06/citra-guru-pada-sinetron-kita.html' title='CITRA GURU PADA SINETRON KITA'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-7531220165034260247</id><published>2011-06-12T16:18:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T16:34:05.024-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>SBY,  PRESIDEN PERUSAK BAHASA INDONESIA</title><content type='html'>oleh Kholid A. Harras &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu SBY menjabat sebagai Menko Polkam dalam Kabinet Gotong Royong era Presiden Megawati, pada perayaan bulan bahasa Oktober 2003 Pusat Bahasa (kini statusnya ditingkatkan menjadi Badan Bahasa Nasional, mengganjarnya sebagai tokoh publik berbahasa Indonesia lisan terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dasar pertimbanganya, karena dalam setiap pidatonya di hadapan publik atau pers SBY akan senantiasa menggunakan bhs.Indonesia yang tertib, runut dan cerdas.Sejak SBY menjadi orang nomor satu di negeri ini, terlebih-lebih setelah dia menyandang gelar doktor, SBY tampaknya sudah tidak lagi istiqomah. Menurut saya, saat ini dia merupakan tokoh publik yang paling buruk dalam menggunakan bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin bukti? Coba saja simak pidatonya pada acara pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/1/2011). Dalam pidatonya tersebut, SBY begitu 'jor-joran' melontarkan istilah-istilah atau kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hanya dalam 30 menit pertama pidatonya, SBY menggelontorkan istilah dalam bahasa Inggris sebanyak 24. kali Padahal, pidato SBY hari ini berdurasi lebih dari satu jam. Jadi dapat dibayangkan akan berapa banyak istilah-istilah bahasa Inggris yang keluar dari mulut presiden kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa contoh kutipan Bhs Indonesianya SBY yang banyak disoroti publik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam melakukan evaluasi, kita harus merujuk pada parameterdan ukuran yang jelas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Correct measurement&lt;/span&gt;". Selanjutnya SBY mengatakan, "Pemulihan ekonomi untuk menjaga kesejahteraan rakyat, atau dengan bahasa bebas saya katakan&lt;span style="font-style:italic;"&gt; minimizing the impact of the global economic crisis.&lt;/span&gt;". Menurut SBY, keberhasilan perekonomian Indonesia di tahun 2010 ini mencapai 6 persen lebih. Tak lupa, ungkapan ini juga dia sampaikan dalam bahasa Inggris. "Insya Allah tahun 2010 ini kita bisa mencapai enam persen, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;close to six percent&lt;/span&gt;," ujar Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam pidato tsb SBY mengutip kata maupun istilah-istilah dari bahasa Inggris yang fungsinya hanya sebatas penggaya saja, karena dia terlebih dahulu mengutip istilah bhs. Indonesianya. Antara lain “Kita tetapkan sejumlah kebijakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;policies&lt;/span&gt;, dan tindakan nyata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;actions&lt;/span&gt;.” “Menuju sebuah anggaran yang berimbang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;balance badget&lt;/span&gt;.” “Tetapi, secara umum, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;in general&lt;/span&gt;.” “Yang menyakitkan, yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;painful&lt;/span&gt;.” “Tapi, kami pemerintah mengatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;it is achievable&lt;/span&gt;, bisa dicapai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar kenyataan tersebut, saya mengusulkan kepada Badan Bahasa Nasional untuk mencabut kembali gelar SBY sebagai "Tokoh Publik Pengguna Bahasa Indonesia Lisan Terbaik". Kini SBY sudah tidak tepat lagi menyandang gelar tersebut. Bahkan bila perlu, SBY perlu diganjar sebagai presiden pelanggar UU Nomor 24 Tahun 2009 yang mewajibkan pejabat negara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tindakan ini penting dilakukan untuk menjaga harkat dan martabat Badan Bahasa Nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-7531220165034260247?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/7531220165034260247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=7531220165034260247' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7531220165034260247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7531220165034260247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2011/06/sby-presiden-perusak-bahasa-indonesia.html' title='SBY,  PRESIDEN PERUSAK BAHASA INDONESIA'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-1803355517460649538</id><published>2011-06-12T16:02:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T16:15:55.854-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Emansipasi yang Salah Kaprah?</title><content type='html'>oleh Kholid A. Harras &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak wanita saat ini yang kerap mengartikan emansipasi secara salah kaprah sehingga kadang mengorbankan kemulyaan wanita itu sendiri. Ironisnya semua itu kerap dinisbatkan seolah2 sebagai bagian dari perjuangan wanita berhati emas RA Kartini. Padahal kalau kita baca surat2 RA Kartini sebagaimana yang ia tulis kepada sahabat2nya cita-cita beliau (kalau itu disebut emansipasi) sesungguhnya sangat sederhana. Coba kita simak misalnya surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga banyak orang yang tidak tahu bahwasanya pikiran-pikiran RA Kartini sesungguhnya merupakan buah dari hasil kekritisannya dalam mempelajari ajaran Islam, khususnya Al-Quran. Kartini syahdan sering berdiskusi dengan para ulama di daerahnya. Antara lain beliau pernah berdialog dengan Kiyai Soleh Darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut antara lain dialog antara Kartini dengan Kyai Sholeh Darat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut K.H.Ahmad Chalwani Nawawi, pengasuh Ponpes Al-Nawawiyah Purworejo Jateng dan mantan anggota DPD RI Wakil jawa Tengah, Kartini lantas mengusulkan kepada Kiyai Sholeh Darat untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Konon dari usulan Kartinilah, akhirnya Kiyai Sholeh Darat menjadi orang pertama yang menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Jawa (lihat majalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mataair&lt;/span&gt; edisi VI,2007.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;minazh zhulumaati ilan nuur&lt;/span&gt; [Q.S: 2:257] ini sering diulang-ulangnya, dari gelap kepada cahaya. Bagi Kartini, terasa benar pengalaman pribadi tersebut, dari kegelisahan dan pemikiran tak berketentuan kepada pemikiran hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;”Dari Gelap Kepada Cahaya”&lt;/span&gt; ini. Istilah ini yang dalam Bahasa Belanda adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Door Duisternis Tot Licht”&lt;/span&gt;, kemudian menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane menjadi &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;”Habis Gelap Terbitlah Terang”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-1803355517460649538?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/1803355517460649538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=1803355517460649538' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1803355517460649538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1803355517460649538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2011/06/emansipasi-yang-salah-kaprah.html' title='Emansipasi yang Salah Kaprah?'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-8400623716820513814</id><published>2010-09-04T22:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-04T22:31:09.696-07:00</updated><title type='text'>ISLAM AGAMA SILATURAHIM</title><content type='html'>Menurut para ulama, Islam merupakan agama yang menjadikan SILATURAHIM (bukan SILATURAHMI sebagaimana yg sering kita dengar banyak dipakai secara salah kaprah oleh masyarakat kita) sebagai hal yang sangat penting sekal, Bahkan ada seorang ulama yang mengatakan SILATURAHIM  merupakan jantungnya agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa yang benar itu SILATURAHIM  dan bukan SILATURAHMI? Ditinjau secara morfologi atau cabang ilmu Linguistik yang mempelajari tata kata, baik kata SILATURAHIM maupun SILATURAHMI terbentuk dari kata yang sama yaitu SHILAH  yang artinya menyambungkan. Yang membedakan keduanya adalah akhiranya. Yang satu kata RAHIM sedangkan yang satu lagi RAHMI.  Dalam bahasa Arab, kedua kata ini berbeda artinya. Kata RAHIM artinya kasih sayang (ingat: ALLAH SWT mempunyai sifat Ar Rahim, Yang Maha Penyayang). Sedangkan kata RAHMI mempunyai arti “rasa nyeri yg timbul (dan diderita sang ibu) pada saat melahirkan”.  Dengan demikian kata SILATURAHIM = penyambung kasih sayang, sedangkan SILATURAHMI= penghubung uterus (tali pusar yg menghubungkan ibu dan anak). Sangat berbeda sekali maknanya bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberpa  bukti bahwa Islam  merupakan agama SILATURAHIM, misalnya  bisa dilihat  dari anjuran Rasululloh SAW (minimal) kepada kaum pria agar melakukan sholat berjamaah di masjid. Dengan melakukan sholat berjamaah di masjid  akan menciptakan kondisi  setiap hari antar sesama muslim dalam suatu kawasan (RT atau RW atau tetangga dekat)  saling bertemu melakukan ibadah yg serupa. Karena bisa saling bertema  tentunya mereka pun akan berkomunikasi, Jika sering terjalin komunikasi maka ujung2nya hubungan kasih sayang dan kekeluargaan antar sesama mereka..  Saat ada seorang jamaah yang tidak hadir, akan terasa kita akan merasa kehilangan seorang anggota ‘keluarga’, ini artinya dalam diri kita telah tumbuh rasa kasih sayang kepada jamaah ybs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Jum’at, kaum pria mesti menghadiri Jum’atan. Di hari itu, acara SILATURAHIM yang terjadi lebih besar, karena tidak saja tetangga dekat yang hadir, bisa jadi ada saudara dari beda rw yang ikut hadir di masjid. Selain itu, akan banyak hadir tetangga dekat yang jarang kita temui pada saat sholat berjamaah. Dengan demikian, scoop (ruang lingkup) dari SILATURAHIM menjadi lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan SILATURAHIM yang diajarkan Islam tidak berhenti pada level ini. Masih ada event lain yang mengajak kita untuk MEYAKINI bahwa Islam adalah agama yang SEMPURNA yakni event SHOLAT ‘IED, baik ‘Iedul Fitri ataupun ‘Iedul Adha. Kaum muslimin/muslimat akan berbondong-bondong hadir di satu tempat yang luas, dan bisa menampung ratusan bahkan ribuan umat untuk bertemu dan saling mengenal dan bersilaturahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tingkatan akhir dari SILATURAHIM yang diajarkan Islam adalah HAJI. Pada musim haji, JUTAAN manusia DARI SELURUH DUNIA BERKUMPUL. Kita akan bertemu dengan saudara muslim dari Amerika, Inggris, Perancis, juga dari Afrika, Mesir, Iran, Soviet, dst dst (tentu saja dengan Arab) dengan keunikan dari masing-masing individu dan kebudayaan  mereka. Di saat inilah, akan terasa bahwa betapa Islam adalah agama yang TIDAK MEMBEDA-BEDAKAN RAS, JABATAN, KEDUDUKAN, DST DST. Yang membedakan manusia hanyalah TINGKAT KETAQWAANNYA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-8400623716820513814?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/8400623716820513814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=8400623716820513814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8400623716820513814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8400623716820513814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/09/islam-agama-silaturahim.html' title='ISLAM AGAMA SILATURAHIM'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-8100765709472523336</id><published>2010-08-05T03:32:00.000-07:00</published><updated>2010-08-05T03:33:55.945-07:00</updated><title type='text'>ARTI DAN TAFSIR TAHNIAH "MARHABAN RAMADHAN"</title><content type='html'>Menjelang tibanya bulan Ramadhan, di sudut-sudut jalan kita kerap melihat aneka spanduk atau poster yang berisikan tahniah (ucapan selamat) “Marhaban Ramadhan”. Apa sesungguhnya arti dan maksud, serta tafsir dari tahniah  tersebut? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Quraish Shihab  dalam bukunya Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (penerbit Mizan, 1989), dalam bahasa Arab kata ‘marhaban’ berasal dari akar kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”. Dari akar kata tersebut kemudian memunculkan kata "rahiba" yang berarti "selamat datang". Dengan demikian medan semantik kata ‘marhaban’ menggambarkan ucapan penyambutan kepada  seorang tamu istimewa yang diterima dengan penuh dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.” Dengan demikian Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya tidak “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita. Sebaliknya, dengan kedatangan bulan yang mulia tersebut kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak melanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt. Demikian menurut Quraish Shihab, kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah apakah bekal itu? Masih menurut Quraish Shihab, yakni benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahuma salimniy min ramadhaany&lt;br /&gt;Wasalim ramadhaana liy&lt;br /&gt;Wasalimhu minny&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-8100765709472523336?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/8100765709472523336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=8100765709472523336' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8100765709472523336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8100765709472523336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/08/arti-dan-tafsir-tahniah-marhaban.html' title='ARTI DAN TAFSIR TAHNIAH &quot;MARHABAN RAMADHAN&quot;'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-701827001598388257</id><published>2010-05-14T20:20:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T20:31:02.700-07:00</updated><title type='text'>KONSEP KESANTUNAN BERBAHASA  MENURUT Al-QURAN</title><content type='html'>KONSEP KESANTUNAN BERBAHASA &lt;br /&gt;MENURUT Al-QURAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid A.Harras *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita mafhumi, fungsi bahasa bagi manusia bukan hanya sebatas alat penyampai pesan semata. Bahasa juga merupakan alat berfikir, alat bernalar, alat berasa, dan bahkan alat berbudaya. Hal itu berarti terkandung makna, bahasa yang digunakan oleh seseorang sesungguhnya dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengukur sejauh mana tingkat kecendikiaan dan tingkat keberadaban dari orang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi Melayu hal yang semacam itu diwadahi lewat  sebuah ungkapan  yang sudah sangat masyhur, yakni ”Bahasa menunjukkan bangsa”. Jadi dalam  bahasa Melayu dan juga bahasa-bahasa di Nusantara lainnya, cakupan medan semantik  yang terkandung dari  kata bahasa atau basa (dalam bahasa Sunda) atau boso (dalam bahasa Jawa) tidak sama persis dengan kata language dalam bahasa Inggris. Cakupan medan semantik dari kata bahasa mengandung makna bahasa yang  sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaannya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the proper conduct of language usage&lt;/span&gt;), baik berdasarkan kaidah kebenaran (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;correctness&lt;/span&gt;) maupun  kecocokannya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;appropriacy&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Jawa dan Sunda misalnya, ada ungkapan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ora mboso&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Teu basa&lt;/span&gt; yang ditunjukkan terhadap orang yang menggunakan kedua bahasa tersebut tetapi mengabaikan prinsip-prinsip pengunaannya. Misalnya, dia menggunakan bahasa Jawa atau bahasa Sunda tetapi tidak sesuai dengan konteks undak-usuknya, atau yang bersangkutan  menggunakan kosa kata yang tidak tepat atau kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula halnya dengan kata bangsa, dalam tradisi Melayu rujukan medan semantiknya tidak sama dengan kata nation dalam bahasa Inggris. Kata “bangsa” mengandung makna status atau derajat  sosial yang terhormat. Oleh karena itu dalam bahasa Melayu dikenal ungkapan “Orang yang berbangsa” atau kata bangsawan, yang  mengandung pengertian seseorang yang  memiliki status,  derajat, atau kedudukan  yang terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini banyak kalangan yang memprihatinkan mulai terkikisnya pilar-pilar keluhuran budaya bangsa ini pada berbagai level masyarakat kita (yang antara lain  dicirikan dari kepiawaian dalam menggunakan bahasa tersebut). Misalnya, banyak orang di negeri ini yang secara formal-akademik merupakan  golongan terpelajar, tetapi dalam praktik berbahasa mereka tidak mampu menunjukkan keterpelajarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang cukup mudah untuk melacak mengenai ihwal ini dapat dilihat dari bahasa tulis yang mereka gunakan pada berbagai karya ilmiah yang mereka hasilkan, baik skripsi, tesis maupun disertasi. Banyak hasil penelitian  mengenai hal itu menunjukkan fakta yang sangat memprihatinkan tersebut. Misalnya struktur kalimat yang mereka susun tidak beraturan, logika bahasanya tidak runut, pilihan kosakatanya tidak tepat, penggunaanan ejaannya yang tidak sesuai dengan kaidah yang sudah ditetapkan  dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula banyak orang yang memiliki status sosial serta derajat yang terhormat di dalam masyarakat negeri ini, tetapi dalam berkomunikasi  mereka tidak mampu  menujukkan kehormatan dirinya. Contoh yang paling aktual mengenai  ihwal ini antara lain berbagai kerincuhan yang setakat ini sering dipertontonton para elit politik kita saat mereka menggelar berbagai persidangan di gedung DPR/MPR. Dalam banyak kasus ternyata pemicu terjadinya berbagai kericuhan di antara mereka tersebut  bukan karena persoalan substansinya yang memang cukup krusial, tetapi lebih dikarenakan akibat mereka tidak tertib dalam menggunakan bahasa serta  kurang piawai dalam beretorika.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Santun Menurut Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai agama yang sempurna ajaran Islam mengajarkan kepada kita para pemeluknya mengenai kesantunan berbahasa ini. Menurut Al-Quran ada enam acuan yang seyogianya dijadikan pegangan saat seorang muslim berkomunikasi dengan sesamanya.  Enam prinsip tersebut sebagai berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;qaulan sadida&lt;/span&gt; (Q.S. 4 an-Nisa: 9), yaitu berkomunikasi, baik yang menyangkut substansi  maupun medium bahasa yang digunakannya dengan benar. Kedua, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;qaulan ma'rufa&lt;/span&gt;, (Q.S.4 An-Nisa: 8), yaitu berkomunikasi dengan  menggunakan bahasa yang menyedapkan hati, tidak menyinggung atau menyakiti perasaan mitra tutur, sesuai dengan kriteria kebenaran, kejujuran, tidak mengandung kebohongan, dan tidak berpura-pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;qaulan baligha&lt;/span&gt;, (Q.S. 4 An-Nisa: 63), yaitu berkomunikasi dengan menggunakan ungkapan yang mengena, mencapai sasaran dan tujuan, atau membekas, bicaranya jelas, terang, tepat, atau efektif.Keempat, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;qaulan maysura&lt;/span&gt;, (Q.S.17 Al-Isra: 28), yaitu berkomunikasi  dengan baik dan pantas, agar orang tidak kecewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;qaulan karima&lt;/span&gt;, (Q.S. 17 Al-Isra: 23), yaitu berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata mulia yang menyiratkan kata yang isi, pesan, cara serta tujuannya selalu baik, terpuji, penuh hormat, mencerminkan akhlak terpuji dan mulia. Kemudian keenam, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;qaulan layyina&lt;/span&gt;, (Q.S. 20 Thaha: 44), yaitu berkomunikasi dengan sikap yang lemah-lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam prinsip yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran di atas, selain menunjukkan keagungan Allah, juga merupakan acuan untuk mengetahui bagaimana kita seharusnya melakukan trasanksi berkomunikasi. Jika enam prinsip berbahasa tersebut diterapkan secara konsisten, insya Allah setiap trasaksi komunikasi antarmanusia  di mana saja dan kapan saja akan senantiasa berjalan dengan baik,  serta pada gilirannya akan membuahkan ketentraman. Hal itu sesuai dengan apa yang diisyaratkan Nabi lewat  ungkapannya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Muslim yang baik adalah jika Muslim lain merasa tenteram dari perkataan dan perbuatannya" &lt;/span&gt;(As-Suyuti, 1983). Dan jika ternyata  kita belum (tidak?)  mampu menggunakan bahasa yang semacam itu, bersikap diam itu jauh lebih baik. Demikian  kata sebuah hadist Nabi pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wawallahu a’lam bishawab&lt;/span&gt; ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-701827001598388257?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/701827001598388257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=701827001598388257' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/701827001598388257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/701827001598388257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/05/konsep-kesantunan-berbahasa-menurut-al.html' title='KONSEP KESANTUNAN BERBAHASA  MENURUT Al-QURAN'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-3396977705109837843</id><published>2010-04-06T03:48:00.001-07:00</published><updated>2010-04-06T03:55:09.438-07:00</updated><title type='text'>Menyoal rendahnya Kreativitas pada Dunia Pendidikan Kita</title><content type='html'>Kreativitas merupakan istilah yang  sudah sangat akrab di kalangan  para guru dan pendidik di negeri ini. Hal itu kiranya dapat dipahami, karena kreativitas  merupakan sebuah terminologi penting dalam dunia pendidikan dan pengajaran serta pengembangan SDM. Meskipun demikian, jika ditanyakan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan kreativitas, terlebih bagaimana kiat-kiat menumbuhkan kreativitas dalam konteks pembelajaran di sekolah, penulis tidak yakin akan semua  guru dan pendidik  dapat menjelaskanya, terlebih telah mempraktikannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konon akibat dari kurangnya perhatian terhadap masalah ini, hingga saat ini kreativitas masih merupakan barang langka di lingkungan dunia pendidikan kita, baik di lingkungan guru maupun para siswa. Contoh langkanya kreativitas guru misalnya dapat dilihat dari masih rendahnya kuantitas partisipasi dan keterlibatan mereka dalam berbagai even  kreativitas  yang banyak digelar, baik di lingkungan  Depdiknas maupun non-Depdiknas. Sekedar menyebut contoh, menurut informasi partisipasi guru Bahasa Indonesia SMA dan sederajat yang mengikuti LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra) dan LMCP (Lomba Menulis Cerita Pendek) yang diadakan oleh Dikdasmen setiap tahun rata-rata hanya diikuti oleh sekira 200-an orang guru saja. Padahal jumlah guru bahasa Indonesia yang mengajar di SMA dan sederajat (SMK dan MA), baik negeri maupun swasta di negeri ini telah mencapai ribuan orang. Gambaran yang sama juga terjadi pada kelompok guru pelajaran lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana dengan kreativitas dari para siswa kita? Tampaknya telah berlaku hukum sebab-akibat. Kreativitas dari para siswa kita pun pada umumnya dinilai masih sangat rendah,  serta tertinggal jauh jika dibandingkan dengan para siswa dari negara-negara lain. Sekedar sebuah gambaran, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Hans Jellen dari Universitas Utah AS dan Klaus Urban dari Universitas Hannover Jerman pada Agustus 1987 terhadap anak-anak Indonesia yang  berusia 10 tahun (dengan sampel 50 anak-anak di Jakarta), menunjukkan bahwa tingkat kreativitas anak-anak Indonesia berada di urutan terakhir dari 8 negara yang menjadi sampel penelitian tersebut. Adapun urutan peringkatnya sebagai berikut (dari yang tertinggi sampai yang terendah): Filipina, AS, Inggris, Jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu, dan Indonesia (Drs. Dedi Djunaedi, Pikiran Rakyat,10 Januari 2005). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan kreativitas itu? Roger B. Yepsen Jr. (1996) mengatakan bahwa kreativitas merupakan kapasitas untuk membuat hal yang baru Menurut Mihaly Csikszentmihalyi (1996) bahwa orang yang kreatif adalah orang yang berpikir atau bertindak mengubah suatu ranah atau menetapkan suatu ranah baru (Drs. Dedi Djunaedi, Pikiran Rakyat,10 Januari 2005). Berdasarkan kedua pernyataan tersebut istilah kreativitas digunakan untuk mengacu pada kemampuan individu dengan mengandalkan potensi dan kemahiran yang dimilikinya  untuk menghasilkan gagasan baru dan wawasan yang segar yang sangat bernilai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakupan wilayah kreativitas tidak hanya terbatas pada perbuatan yang sifatnya kerja fisik. Kemampuan untuk menjadi seorang penyimak  yang baik, yang mendengarkan gagasan yang datang dari dunia luar dan dari dalam diri sendiri atau dari alam bawah sadar juga merupakan wilayah kreativitas. Dengan demikian kreativitas kreativitas lebih tepat didefinisikan sebagai suatu pengalaman seorang individu untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas dirinya secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan juga alam lingkungan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli psikologi hingga saat ini masih belum ada kata sepakat mengenai faktor-faktor apa yang melandasi kebutuhan dan motif dasar yang dimiliki manusia untuk berkreasi. Meskipun demikian, mereka sepakat bahwasanya ada imbalan dan penghargaan nyata yang dapat diamati dapat diidentifikasikan sebagai motif manusia untuk berkreasi. Selain itu berdasarkan penelitian juga terungkap bahwa manusia biasanya melakukan kreasi karena didorong oleh adanya kebutuhan dasar, seperti: keamanan, cinta, dan penghargaan. Mereka juga termotivasi untuk berkreasi oleh lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup yang lebih menyenangkan, kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan hidup, dan kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk memunculkan gagasan kreatif dirinya. Namun sebelum saya mengemukakan teknik-teknik tersebut,  yang harus dipahami oleh kita bahwasanya teknik-teknik pengembangan kreativitas itu dalam berbagai tingkatan keseluruhannya sebenarnya bertumpu  pada pengembangan  sejumlah gagasan sebagai suatu cara untuk memperoleh gagasan yang baik dan kreatif. Dengan demikian langkah pertama untuk memunculkan lahirnya sebuah kreativitas ialah dengan memunculkan sebanyak mungkin gagasan atau pendapat, baik yang berasal dari diri sendiri maupun orang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua  teknik yang bisa kita pakai untuk menghimpun gagasan. Pertama adalah teknik brainstorming. Teknik brainstorming mungkin merupakan cara yang terbanyak digunakan, tetapi juga merupakan teknik pemecahan kreatif yang tidak banyak dipahami. Banyak orang mempergunakan istilah brainstorming untuk mengacu pada suatu proses yang menghasilkan suatu gagasan baru, atau menggunakan istilah tersebut untuk mengacu pada suatu kumpulan proses pemecahan masalah. Sebenarnya teknik brainstorming adalah kegiatan yang menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik. Kegiatan tersebut mendorong timbulnya banyak gagasan, termasuk gagasan yang menyimpang liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan gagasan yang lebih baik dan kreatif. Teknik ini cenderung menghasilkan gagasan baru yang orisinal untuk menambah jumlah gagasan konvensional yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua teknik sinektik. Analogi telah lama digunakan sebagai salah satu alat bantu bagi proses penyusunan secara kreatif. Sinektik merupakan suatu metode atau proses yang menggunakan metafora dan analogi untuk menghasilkan gagasan kreatif atau wawasan segar ke dalam permasalahan. Guna menghentikan kebiasaan lama serta gagasan usang dan untuk memperkenalkan suasana rileks ke dalam proses penggalian ide, maka proses sinektik mencoba membuat yang "asing" menjadi "akrab" dan juga sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan sejumlah hambatan yang biasanya menjadi kendala dalam menumbuhkan kreativitas menurut Julia Cameron dan Mark Bryan (2000) adalah sebagai berikut. Akibat faktor kebiasaan, ketidak mampuan memenej waktu, akibat dibanjiri  masalah, bersikap seolah-olah tidak ada masalah, takut gagal, bersikap instan (ingin jawabannya saat itu juga), memiliki sikap mental yang  sulit diarahkan, serta takut mendapat kritik  dari orang lain terhadap apa  yang dikerjakannya. Orang yang tidak mampu mengatasi kendala-kendala tersebut akan sulit menumbuhkan potensi kreatif yang dimilikinya. Oleh karena langkah pertama dan utama untuk melenjitkan kreativitas kita atasi terlebih dahulu kendala-kendala tersebut. Tidak mudang memang, tetapi kita harus mencobanya. *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-3396977705109837843?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/3396977705109837843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=3396977705109837843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/3396977705109837843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/3396977705109837843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/04/menyoal-rendahnya-kreativitas-pada.html' title='Menyoal rendahnya Kreativitas pada Dunia Pendidikan Kita'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-2401618811050096004</id><published>2010-04-06T03:02:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T03:03:14.887-07:00</updated><title type='text'>SERBUAN GSM</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sementara itu anak-anak kita&lt;br /&gt;Enam puluh juta banyaknya&lt;br /&gt;Dihantam kekerasan pornografi&lt;br /&gt;Dua ratus ribu website syahwat, &lt;br /&gt;Novel dan komik cabul&lt;br /&gt;Dua puluh juta keping VCD biru&lt;br /&gt;Akibatnya anak SMP yang menontonnya&lt;br /&gt;Memperkosa anak SD&lt;br /&gt;Pergi ke PSK&lt;br /&gt;Dan mereka ini tidak dilindungi&lt;br /&gt;Generasi ini tidak dilindungi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin setiap orang tua yang peduli terhadap masa depan anak-anaknya, pasti perasaannya akan dibuat campur aduk antara  prihatin, miris, galau, gusar, takut, sedih saat membaca kutipan bait puisi Taufiq Ismail yang berjudul ’’Gerakan Syahwat Merdeka’’ (GSM) di atas. Ya, lewat puisi yang aslinya cukup panjang itu, tokoh sastrawan angkatan 66 tersebut menggambarkan dua kondisi paradoksal yang kini  sangat menggalaukan hati dan perasaan kita. Yakni bagaimana dahsyatnya serbuan gelombang GSM, yang saat ini tengah mengepung dan memprovokasi generasi muda bangsa ini di satu sisi, dan di sisi lain kita sebagai bangsa dinilai nyaris tidak melakukan upaya apa-apa untuk membendungnya. Alih-alih --dengan mengatasnamakan  kebebasan HAM--, ada sebagian kelompok masyarakat yang justru sangat lantang melakukan penolakan  terhadap upaya untuk meminimalisir GSM (misalnya penentangan terhadap konsep RUU APP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era globalisasi saat ini serbuan kecabulan GSM, baik berupa pornografi maupun pornoaksi memang sudah sangat luar bisa. Begitu juga sikap tidak perduli kita sudah sangat kelewatan. Mengutip tamsil sosiolog AS sebagaimana dikatakan Taufiq Ismail  pada Pidato Kebudayaan di forum Akademi Jakarta  akhir tahun 2006 yang lalu :  ‘’bagaikan gelombang tsunami yang tingginya 30 meter dan  kita melawannya dengan hanya dengan dua telapak tangan saja’’.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, sekedar ilustrasi syahdan jumlah situs porno yang bertaburan di dunia internet saat ini telah menjapai sekira 4,2 juta buah. Dan yang membuat kita mengelus dada, seratus ribu situs porno berasal dari Indonesia. Sementara itu negeri ini merupakan tempat bercokolnya berbagai industri VCD/DVD porno bajakan  terbesar di dunia. Dengan hanya mengeluarkan uang beberapa lembar ribuan saja  para pelajar dan anak-anak muda kita dapat membelinya di mana-mana tempat dengan sangat mudahnya. Begitu juga dengan terbitan koran dan majalah  cabul tanpa risih diperjual-belikan orang laiknya surat kabar dan majalah biasa.  Dan yang membuat kita mengelus dada,  terhadap kondisi yang menggalaukan tersebut nyaris semua komponen bangsa: pemerintah, politisi, masyarakat, termasuk dunia pendidikan, seolah-olah diam seribu basa. Tak ada kesungguhan kita  untuk menangkalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat meruah dan massifnya GSM dan sikap diam kita, tidak heran jika  menurut keterangan beberapa hasil survey banyak para pelajar dan generasi muda kita yang menjadi korbannya. Sebagai gambaran, berdasarkan hasil survei Center for Human Resources Studies and Devlopment FISIP Unair, Surabaya, terhadap 300 responden remaja usia 15-19 tahun dilaporkan sebanyak  56,5 persen remaja pria di kota itu pernah melihat film porno dan 18,4 persen remaja putri pernah membaca buku porno. Sedangkan  dari survei Yayasan Kita dan Buah Hati terhadap 1.705 responden di Jadebotabek pada 2005, dilaporkan lebih dari 80 persen anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi. Usia murid kelas 4-6 itu mayoritas (25 persen), mendapatkan materi pornografi melalui handphone, situs pornografi di internet (20 persen), dan majalah serta film/VCD/DVD (masing-masing 12 persen) (Kompas, 19 Mei 2006).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian seperti sudah menjadi pengetahuan  kita bersama, bahwa terdapat  kausalitas antara GSM sebagai pemicu terjadinya berbagai penyimpangan prilaku seks para pelajar atau generasi muda. Sebagai salah satu bukti, menurut hasil suvey BKKBN pada tahun 2002 terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat, dilaporkan  sebanyak 39,65 persen pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fakta-fakta  yang menggalaukan di atas semestinya semua komponen bangsa ini segera menyadarinya, untuk selanjutnya melakukan berbagai upaya antisipasi dan langkah-langkah nyata melakukan pembendungan. Tentunya  sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimilikinya. Kepada para orang tua dan juga barisan pendidik misalnya, tidak boleh lagi sungkan membukakan  ruang diskusi atau dialog  secara proporsional dan edukatif dengan putra-putrinya atau para peserta didiknya ihwal berbagai dampak negatif serbuan GSM ini. Saya percaya, lewat jalan dialog dan diskusi secara edukatif akan lebih mudah dalam memberikan pemahaman dan pengertian sekaligus membentengi mereka dari serbuan GSM ini, khususnya pada tataran anak-anak usia  SMP dan SMA. Di sekolah upaya ini bisa dilakukan baik secara formal di sela-sela PBM di dalam kelas maupun secara informal di luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pemerintah harus segera melakukan pemblokiran terhadap berbagai situs porno di internet, sebagaimana yang dilakukan oleh sejumlah negara tetangga, Singapura, Malaysia maupun Korea Selatan. Kalau mereka bisa kenapa kita tidak? Kemudian pemerintah juga harus melakukan tindakan tegas dan memberikan sangsi hukum yang berat terhadap para produsen, pengedar serta pembeli VCD/DVD porno bajakan yang belum cukup umur. Hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap berbagai penerbitan majalah dan tabloid yang isinya hanya sekedar mengumbar syahwat dan tidak ada nilai edukatifnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepada semua komponen bangsa, khususnya kepada siapa saja yang memproduksi maupun yang mengedarkan berbagai media kecabulan (pornografi dan pornografi) dalam berbagai modusnya, saya sepakat dengan himbauan  Taufiq Ismail, yakni untuk segera menguji rasa malunya. Caranya sederhana saja, yakni bagaimana seandainya yang dipampang dalam berbagai media pornografi atau prilaku pornoaksi itu merupakan orang-orang dekat keluarganya. Misalnya ibunya, istri atau suaminya, atau anak-anaknya. Mereka akan tega dan merasa malu tidak? Kalau jawabannya ya, maka segera hentikan. Jika tidak, silakan teruskan. Dan kita pasti akan sepakat, jika ada orang yang memberikan pilihan yang kedua itu, pastilah dia  orang yang tidak waras! *** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;br /&gt;Penulis adalah pensyarah pada FPBS Universitas Pendidikan Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-2401618811050096004?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/2401618811050096004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=2401618811050096004' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/2401618811050096004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/2401618811050096004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/04/serbuan-gsm.html' title='SERBUAN GSM'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-7814509913995936651</id><published>2010-04-06T02:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T03:00:57.087-07:00</updated><title type='text'>TAWURAN PELAJAR  DAN BUKU SASTRA</title><content type='html'>Aksi tawuran  antarpelajar, khususnya yang terjadi di kota-kota besar di negeri ini  semakin mencemaskan kita. Betapa tidak. Di Jakarta misalnya, hari Sabtu telah ditetapkan oleh sebagian pelajarnya sebagai  Hartanas: Hari Tawuran Nasional. Oleh karenanya jangan heran jika di setiap Sabtu Jakarta terjadi hingga beberapa tawuran pelajar di tempat yang berbeda-beda. Celakanya, seperti sering diwartakan harian ini, prilaku destruktif para pelajar ibukota tersebut  kini mulai ditiru oleh teman-temannya di  berbagai belahan daerah lainnya di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tentu saja kerugian akibat prilaku destruktif para pelajar tersebut  cukup banyak, baik harta-benda  hingga  nyawa sia-sia. Menurut data Polda Metro Jaya, akibat  seringnya tawuran pelajar di ibukota ini setiap tahun puluhan  pelajar harus dibawa ke rumah sakit. Beberapa di antaranya menemui ajalnya. Sedangkan kurugian materi kalau dihitung hingga mencapai ratusan juta rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor apakah yang telah menyebabkan sebagian pelajar kita gampang sekali  berprilaku  brutal? Mengapa hati dan jiwa anak-anak muda  pewaris masa depan negeri ini   seolah nyaris tidak menyisakan kelembutan sedikit pun? Sebaliknya  hanya karena hal-hal sepele mereka menjadi sangat gampang terbakar  amarahnya, seraya menabuh genderang perang antarsesamanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis terhadap perkara itu  sangat  beragam, bergantung  dari  sudut tinjauannya masing-masing. Misalnya  menurut temuan Tim Pokja Diknas yang mengkaji masalah tersebut  beberapa tahun yang lalu,  aksi tawuran antarpelajar merupakan  gejala tingkah laku kolektif yang dipicu  oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik secara sosio-psikologis  maupun sosio-kriminologis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sosio-psikologis masa remaja merupakan masa pencarian jati diri sekaligus eksistensinya ingin diakui. Namun sayangnya apa yang mereka persepsikan eksistensi tersebut tidak selamanya merupakan hal-hal yang positif. Sebaliknya justru hal-hal yang negatif (karena hal yang semacam itu lebih mudah mendapatkan perhatian). Salah satu di antaranya yakni aksi tawuran itu. Sedangkan dilihat dari sosio-kriminologis terjadinya budaya desstruktif tersebut  sebagai dampak dari semakin meruncingnya budaya kekerasan yang melanda masyarakat kita,  baik  pada  kalangan masyarakat bawah (secara fisik) maupun pada  kalangan  masyarkat atas atau elit politik kita (lewat berbagai pernyataan keras mereka). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa hubungannya antara tawuran pelajar dan buku sastra sebagaimana yang menjadi judul tulisan ini? Jika  pertanyaan ini kita ajukan kepada sastrawan Dr.Taufiq Ismail,  dengan tegas beliau akan menyatakan bahwa keduanya memiliki hubungan  yang sangat  erat. Menurutnya,  salah satu faktor yang turut pemicu maraknya tawuran pelajar di negeri ini akibat mereka tidak membaca buku-buku sastra. Berikut dasar-dasar yang menjadi asumsi penulis kumpulan puisi Malu  Aku Jadi Orang Indonesia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Taufiq Ismail,  dalam karya sastra, baik prosa, puisi, maupun drama,  digambarkan secara lebih kongkret ihwal  bagaimana   prilaku, watak dan  karakter manusia, baik yang baik maupun yang jahat,  dalam latar  kehidupan ini.  Dengan demikian dengan membaca sastra berarti kita bertemu dengan bermacam-macam orang dengan bermacam-macam masalahnya. Bahkan kita juga bertemu dengan orang-orang yang tidak ingin kita temui dalam kehidupan nyata serta masalah yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;Selain itu, sastra dalam banyak hal memberi peluang kepada kita untuk mengalami posisi orang lain. Melalui membaca sastra, seseorang dapat menjalani posisi sebagai ulama, penjahat, pejuang, penghianat, pecinta, pecundang, konglomerat, koruptor, pemerkosa dan sebagainya. Dari pengalaman menjalani hidup yang berbagai-bagai dengan bermacam-macam situasi, tantangan, dan masalahnya, pembaca sastra akan mudah berempati kepada nasib manusia dalam berbagai macam masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, karya sastra --lewat energi kata yang membangunnya-- pada dasarnya merupakan ‘rekaman’ terhadap peristiwa-peristiwa kebudayaan yang telah terjadi, bahkan yang bakal terjadi ke depan. Kata-kata yang diciptakan oleh para sastrawan memiliki  aspek dokumenter yang dapat menembus ruang dan waktu, melebihi aspek-aspek kebudayaan yang lain. Melalui kualitas hubungan paradigmatis, sistem tanda dan sistem simbol, kata-kata yang mereka ciptakan akan membentuk citra tentang dunia tertentu, sebagai dunia yang baru, yang sarat dengan nilai-nilai kebenaran maupun kejujuran yang bersifat universal. Jadi bukan hanya sebatas kaidah normatif seperti yang diajarkan dalam pelajaran PPKn atau atau pelajaran sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan tersebut jelaslah, dengan membaca karya-karya sastra yang baik pembaca diajak berhadapan dan mengalami secara langsung kategori moral dan sosial dengan segala parodi dan ironinya. Di sisi lain, ruang yang tersedia dalam karya sastra juga  membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis  dan pribadi yang bijaksana, karena pengalaman membaca sastra telah membawanya bertemu dengan berbagai macam tema dan latar karakter, maupun ideologi. Dengan demikian,  dengan mengapresiasi buku-buku sastra sesungguhnya akan dapat mendekatkan kita  pada nilai-nilai  kearifan, kebaikan  sekaligus kecendikiaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya keberadaan warisan budaya  yang berisikan pelajaran  nilai-nilai luhur tersebut  saat ini nyaris dipinggirkan dalam dunia pendidikan kita. Kegiatan membaca  dan mengapresiasi karya sastra merupakan barang langka dalam dunia persekolahan kita.  Kalaupun sastra  diajarkan dalam kurikulum sekolah kita hanya  barang tempelan serta diajarkan oleh para gurunya dengan sangat teoretis, seperti penjelasan ihwal nama-nama angkatan,  nama-nama pengarang dan judul bukunya  serta hal-hal  yang serupa dengan itu yang dianggap bakal keluar dalam soal-soal UN atau SPMB.  Selain itu yang namanya buku-buku karya sastra, baik karya sastrawan kita apalagi karya sastrawan mancanegeara, baik ragam maupun jumlahnya, pada umumnya juga masih merupakan barang langka di berbagai perpustakaan persekolahan negeri ini. Oleh karena itu tidak heran jika para pelajar tamatan SMP dan SMA/SMK kita banyak yang belum pernah mempunyai pengalaman membaca dan mengapresiasi sebuah buku karya sastra satu pun  tamat, apalagi hingga mengulanginya hingga beberapa kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah,  tidak  buku-buku karya sastra sudah tidak lagi dibaca oleh para pelajar  kita, bahkan oleh sebagian besar gurunya, sebaliknya  yang secara masif mereka saksikan di sekililingnya fenomena  dan budaya kekerasan , baik  yang secara  kasat mata di depan hidungnya atau lewat tayangan TV  seperti smack-down itu, masih anehkah jika  pada gilirannya mereka akan juga menerapkan budaya kekerasan  dalam menyelesaikan berbagai persoalan  keseharian mereka? Untuk ikut mengatasi tawuran antarpelajar kita yang kian hari kian tak terkendali di negeri ini, mungkin ada baiknya  jika saran Taufiq Ismail itu dikaji secara sungguh-sungguh untuk kemudian dijadikan salah satu kebijakan oleh  Depdiknas, juga oleh para orang tua di negeri ini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-7814509913995936651?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/7814509913995936651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=7814509913995936651' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7814509913995936651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7814509913995936651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/04/tawuran-pelajar-dan-buku-sastra.html' title='TAWURAN PELAJAR  DAN BUKU SASTRA'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-7318072238153300959</id><published>2010-04-06T02:53:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T02:55:42.472-07:00</updated><title type='text'>MAFIA PROYEK BUKU TEKS  DI TAHUN AJARAN BARU</title><content type='html'>Sebagaimana diberitakan media massa, untuk menyukseskan  pemberlakuan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) secara menyeluruh pada semua level jenjang pendidikan kita yang mulai efektif mulai tahun ajaran baru ini, pemerintah telah mengalokasikan dana sebanyak  3,175 trilyun kepada pihak sekolah untuk membeli buku teks  atau  pelajaran  yang nantinya  akan dipinjamkan (?)  secara gratis kepada para siswa. Pola penyediaan buku-buku teks yang tersebut yakni dengan memanfaatkan sistem manajemen berbasis sekolah. Sedangkan anggarannya bisa berasal dari tiga alokasi, yakni DAU (Dana Alokasi Umum), DAK (Dana Alokasi Khusus), serta dari alokasi block grant, yang besarnya telah ditentukan (konon untuk SD, baik negeri maupun swasta masing-masing sebanyak Rp 4 juta rupiah). &lt;br /&gt;Dalam proses pemilihan, penentuan serta pembelian buku buku teks tersebut pihak sekolah tidak boleh seenaknya sendiri, tapi harus melibatkan Komite Sekolah serta  harus merujuk pada buku-buku teks yang telah direkomendasikan oleh pihak Pusbuk (Pusat Perbukuan). Sebagai cacatan, pada tahun 2003 yang lalu Pusbuk baru  menstandardisasi buku-buku pelajaran pokok untuk jenjang SD/madrasah ibtidaiyah (MI). Itu pun baru mencakup empat mata pelajaran: Matematika, Bahasa Indonesia, Sains, dan Pengetahuan Sosial. Sedangkan untuk jenjang  SMP dan SMA  proses penilaian dan penyeleksiannya baru dimulai pertengahan bulan Juni ini.  Itu pun baru terbatas hanya untuk bidang studi Matematika, Bahasa/Sastra Indonesia, dan Bahasa Inggris. Dengan adanya kebijakan seperti itu, selain sekolah bisa memilih buku yang  berkualitas sesuai dengan keinginan pihak sekolah, juga harapannya setiap siswa dipastikan mendapat buku-buku teks wajib di setiap tingkat pendidikannya tanpa harus membebani lagi keuangan orang tuanya.&lt;br /&gt;Di tengah keterpurukan kondisi ekonomi masyarakat kita seperti sekarang ini  kita tentunya menyambut baik kebijakan pemerintah menyuplai buku-buku pelajaran gratis yang berkualitas ke sekolah. Sebab sebagimana dikemukakan oleh para pakar pendidikan peran buku teks atau buku  pelajaran memegang peran yang cukup penting dalam kegiatan belajar-mengajar, karena ia merupakan salah satu  sarana untuk mengomunikasikan ilmu pengetahuan. Oleh karena  ketersediaan buku-buku teks atau buku pelajaran yang baik, baik dalam kualitas maupun kuantitas akan sangat besar perannya  dalam menunjang keberhasilan  KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).   &lt;br /&gt;Persoalannya sekarang, bagaimana menyukseskan political will  pemerintah tersebut di lapangan nanti? Karena seperti telah menjadi pengetahuan bersama, selama ini  upaya pengadaan buku teks dalam perspektif dunia pendidikan di negeri ini  lebih banyak dilihat dari sisi kepentingan bisnis, baik oleh penentu anggaran, penerbit, maupun pelaku pendidikan,  dari mulai para pejabat di lingkungan Diknas, kepala sekolah dan para guru, dan bukan  dalam perspektif yang lebih mulia, yakni sebagai sarana mewariskan pengetahuan dan ajaran dari generasi ke generasi. Oleh karena itu tidak heran jika dalam praktiknya  upaya mewujudkan tersedianya buku-buku  teks yang  berkualitas dan gratis di sekolah lebih banyak merupakan sebuah impian ketimbang kenyataan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kebijakan Diknas menyuplai buku-buku pelajaran atau buku teks ke sekolah-sekolah bukan merupakan hal baru. Sejak tahun 1990-an upaya semacam ini  sudah dilakukan lewat proyek pengadaan buku pelajaran sekolah. Saat itu hampir semua mata pelajaran pokok yang diajarkan di semua jenjang persekolahan kita, termasuk sekolah-sekolah kejuruan, secara bertahap diupayakan pengadaannya. Bahkan pada jenjang SD, semua mata pelajaran yang diajarkan, kecuali muatan lokal, buku-buku teksnya telah diproyekkan semua. Selain itu sejak tahun 1980-an Diknas juga secara rutin mengadakan tender pengadaan buku-buku bacaan penunjang, baik untuk siswa maupun untuk guru, untuk mengisi perpustakaan sekolah yang ada di seluruh Indonesia yang jumlahnya telah mencapai ribuan judul. Lewat proyek-proyek pengadaan buku sekolah tersebut semula diharapkan tercapai keseimbangan antara jumlah buku teks dengan jumlah siswa yang ada (1:1). Dengan begitu, selain akan sangat menunjang proses belajar-mengajar juga akan ikut membantu meringankan beban para orang tua. &lt;br /&gt;Namun seperti kita semua tahu, cita-cita luhur nan mulia tersebut ternyata hanya tertulis dalam proposal proyek. Dalam praktiknya keberadaan buku teks gratis di sekolah-sekolah kita hanya sekedar impian belaka. Padahal dana yang dikeluarkan untuk pengadaan buku-buku teks tersebut jumlahnya mencapai trilyunan rupiah, baik dari APBN dalam bentuk rupiah murni maupun dari pinjaman lembaga donor semacam World Bank (Bank Dunia) dalam bentuk dollar AS. Besarnya dana tersebut dapat dimaklumi, karena konon kabarnya untuk menyediakan satu jenis buku teks mata pelajaran saja, biayanya tak kurang dari 70-an milyar rupiah!. &lt;br /&gt;Mengapa semua itu terjadi? Jawabnya apalagi kalau bukan akibat merajalelanya praktik-praktik KKN serta lemahnya pengawasan. Atau dalam bahasa seorang rekan penulis yang telah banyak berkecimpung di dunia perbukuan, penyebab kegagalan proyek pengadaan buku sekolah di masa Orba (dan juga masih terjadi hingga saat ini) akibat bercokol kuatnya “mafia” perbukuan di lingkungan orang-orang Depdiknas sendiri.&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, menurut surat edaran Mendikbud tanggal 8 Mei 1987 tentang tugas Pusat Perbukuan (Pusbuk), seharusnya proses pengadaan buku (mulai dari seleksi hingga tendernya) ditangani secara terpadu oleh lembaga ini. Namun karena banyak oknum orang di lingkungan Dikdasmen Diknas (waktu itu bernama Direktorat Sarana Dikbud) sebagai “pemilik” proyek ingin ikut kecipratan fulus (baca: komisi dari penerbit pemenang tender) peran Pusbuk saat itu hanya sekedar pelengkap penderita saja.&lt;br /&gt;Dalam praktiknya, dari mulai proses seleksi hingga tender pengadaan buku-buku teks sekolah yang saat itu mengusung bendera Kurikulum 1994 tersebut, nyaris semuanya dilakukan oleh Direktorat Sarana (kini statusnya telah direstrukturisasi). Selain itu seperti dikeluhkan oleh Ketua Pusat IKAPI), Makfudin Wirya Atmaja (Kompas 23/4 2003), proses tender terhadap buku-buku teks tersebut dinilai tidak pernah transparan. Selama ini ujar Makfudin, pengadaan buku teks pelajaran dimonopoli oleh pihak Balai Pustaka yang merupakan badan penerbitan milik pemerintah sendiri, sehingga selain tidak sehat juga telah menuai kecemburuan para penerbit swasta. &lt;br /&gt;Di samping itu, karena kerangkanya proyek, kerap kali buku-buku teks tersebut dibuat secara instan dan asal jadi saja. Padahal seperti dikemukakan Chaedar Alwasilah (Pikiran Rakyat 10/9 2002), sebuah buku teks supaya dapat tampil dengan mantap dan dapat dipertanggungjawabkan mutu keilmiahannya, haruslah digarap lewat proses dan urutan langkah profesional; dimulai dari penulisan naskah, telaah dan revisi naskah, uji coba (try out) di lapangan, evaluasi hasil uji coba, revisi naskah berdasar hasil evaluasi, baru kemudian diproduksi secara massal. Pada tahap evaluasi tersebut mencakup dokumentasi kesan guru dan siswa sewaktu menggunakan buku teks tersebut. Karena dibuat secara “kilat”, jelas buku-buku teks tersebut pada umumnya mengabaikan tahap-tahap tersebut. &lt;br /&gt;Hal lain yang juga memprihatinkan penulisnya pun kerapkali pula bukan orang-orang yang betul-betul pakar di bidang penulisan buku ajar (tidak semua pakar mampu menjadi penulis buku ajar -pen). Begitu pula penggarapannya pun umumnya dilakukan secara single fighter. Padahal kembali merujuk pendapat Chaedar Alwasilah, buku teks yang baik merupakan hasil sinerji sejumlah otak: penulis, editor, ilustrator, pakar kurikulum, pakar pendidikan bahasa, jago-jago multimedia, sejumlah konsultan dan peneliti, serta penerbit yang profesional. &lt;br /&gt;Akibat rangkaian dari “keburukan” di atas --seperti bisa diduga-- baik kualitas (isi dan penampilan wujudnya) maupun kuantitas (tiras dan persebarannya ke sekolah-sekolah) dari buku-buku teks proyek tersebut yang tidak sesuai dengan harapan. Sekedar sebuah contoh kasus misalnya, menurut hasil penelitian Sri Winarti,dkk.(Pusat Bahasa,1997) diketahui bahwa dilihat dari segi bahasa (struktur dan ejaannya) dari buku-buku teks IPA dan IPS di kelas VI SD yang dihasilkan oleh berbagai penerbit (termasuk terbitan Balai pustaka yang merupakan buku paket hasil proyek-pen) banyak yang memprihatinkan. Misalnya kalimat-kalimatnya banyak yang rancu serta ejaannya berantakan. &lt;br /&gt;Begitu pula mengenai isi dan konsep penyajian dari buku-buku tersebut. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Widiarsih (Universitas Terbuka,2000), ternyata dari empat buah buku IPA kelas VI SD yang ia kaji hampir semuanya (termasuk buku yang berjudul Alam Sekitar Kita yang merupakan hasil proyek-pen) tidak secara maksimal mampu mengekspresikan IPA sebagai inkuiri. Dengan demikian menurutnya sesungguhnya buku-buku tersebut sesungguhnya masih belum layak digunakan sebagai buku ajar IPA di SD. &lt;br /&gt;Kemudian akibat adanya praktik KKN jumlah dari buku-buku teks tersebut kerap mengalami penyunatan (karena penerbit pemenang tender pengadaan buku sengaja hanya mencetak di bawah kewajiban seharusnya). Begitu pula distribusinya pun menjadi tidak merata. Juga tidak setiap sekolah menerima buku tersebut sebagaimana yang telah dijatahkan. Oleh karena itu tidak heran jika menurut sebuah hasil survei tentang ketersediaan buku teks di sekolah (Kompas, 8/4 2003) hasilnya menunjukkan persentase ketersediaannya hanya 20 persen saja. Artinya, satu set buku teks digunakan untuk lima siswa. Padahal, semula harapan pemerintah dari memprogramkan tersebut, rasio ketersediaan satu buku teks wajib untuk satu siswa. &lt;br /&gt;Kedua kondisi sebagaimana digambarkan tersebut pada gilirannya kerap dijadikan alasan pembenaran oleh sebagian oknum guru atau kepala sekolah untuk tidak menggunakan buku-buku yang dihasilkan oleh pemerintah tersebut. Kemudian dengan alasan agar terjadi keseragaman, mereka meminta kepada para siswanya untuk menggunakan buku-buku teks terbitan swasta tertentu yang jumlah nyaris tak terbatas serta kualitasnya banyak yang lebih baik. Akibatnya, kembali para orang tua harus merogoh koceknya dalam-dalam untuk membeli buku-buku teks bagi anak-anaknya setiap kali datang tahun ajaran baru. &lt;br /&gt;Selain akibat faktor-faktor sebagaimana dikemukakan di atas, hal lain yang juga diduga kuat ikut serta membuat program buku gratis seolah sulit diwujudkan di sekolah-sekolah kita, yakni akibat adanya sebagian oknum guru dan kepala sekolah serta para pejabat Diknas, baik di tingkat kecamatan maupun di atasnya (umumnya berupa surat sakti yang ditunjukkan kepada pihak-pihak sekolah yang berada di daerah kekuasaannya) yang tergiur oleh iming-iming rabat besar serta berbagai hadiah yang pada umumnya dijanjikan oleh para penerbit buku swasta. &lt;br /&gt;Hal yang semacam itu sebenarnya sudah bukan lagi rahasia. Seperti kita semua tahu hampir semua penerbit pada umumnya minimal memberikan potongan rabat 30 persen kepada pemasarannya. Bahkan menurut penuturan seorang rekan guru tidak sedikit yang mengobralnya sampai dengan 40 persen ditambah bonus aneka hadiah jika mereka mampu memasarkan hingga mencapai jumlah eksemplar tertentu. Jadi bisa dibayangkan jika seorang guru misalnya mampu memasarkan 300 eksemplar buku teks yang harganya lima belas ribu, maka keuntungan yang bisa mereka kantongi sebesar satu juta tigaratus lima puluh ribu rupiah: sebuah profit sampingan yang jumlahnya mungkin jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji yang mereka terima setiap bulannya. Akibat mentalitas sebagian oknum guru atau kepala sekolah yang seperti ini, kendati misalnya jumlah buku-buku paket yang didistribusikan oleh pemerintah ke sekolah cukup memadai kerap tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. &lt;br /&gt;Sebenarnya krtik pedas terhadap praktik-praktik tidak terpuji yang dilakukan oleh sebagian guru atau sekolah menjual paksa buku-buku terbitan swasta kepada para peserta didiknya ini telah banyak disuarakan oleh masyarakat. Sebab dengan adanya praktik semacam itu selain akan menjadi beban berat para orangtua, juga telah membuat guru terjebak melakukan bisnis yang tidak jarang akan mengganggu konsentrasinya mengajar (karena boleh jadi waktu mengajar mereka banyak tersita untuk mengumpulkan uang angsuran dari murid-muridnya). &lt;br /&gt;Bahwa keberadaan buku-buku teks memiliki kedudukan yang cukup vital dalam mengusung proses KBM yang baik, rasanya kita semua sepakat. Namun selain buku masih ada sejumlah komponen lain yang juga ikut menentukan keberhasilan suatu proses KBM, seperti kurikulum maupun metode pembelajaran. Akan tetapi banyak pakar pendidikan yang percaya, semua komponen tersebut pun sesungguhnya kembali menjadi tidak bermakna manakala guru sebagaima man behind the gun-nya tidak profesional. Di hadapan guru yang profesional betapapun jeleknya konsep kurikulum atau mutu dan minimnya buku-buku teks, tetap ia akan mampu menggelar KBM yang baik di kelas. Namun tidak demikian sebaliknya. Dengan demikian betapapun baiknya sebuah konsep pelajaran sesungguhnya ia tidak akan pernah mampu menggantikan kedudukan seorang guru yang profesional. Jadi mengapa harus terpaku pada buku semata?****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah pensyarah pada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-7318072238153300959?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/7318072238153300959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=7318072238153300959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7318072238153300959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7318072238153300959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/04/mafia-proyek-buku-teks-di-tahun-ajaran.html' title='MAFIA PROYEK BUKU TEKS  DI TAHUN AJARAN BARU'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-8231928152562455498</id><published>2010-04-06T02:48:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T02:50:47.872-07:00</updated><title type='text'>GERAKAN KULTURAL MEMBENDUNG JUAL-BELI GELAR KODIAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;GERAKAN KULTURAL &lt;br /&gt;MEMBENDUNG JUAL-BELI  GELAR KODIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika fenomena praktik obral jual-beli gelar akademik “kodian” melanda masyarakat dalam sepuluh tahun terakhir ini, selain mengeluh dan menyatakan keprihatinan,  apa yang dilakukan oleh univeritas atau dunia perguruan tinggi (PT) kita untuk membendungnya? Jujur saja jawabannya nyaris tak ada.  Alih-alih justru banyak di antara mereka yang justru ikut ambil bagian “meramaikannya”. &lt;br /&gt;Memang modusnya  tidak senaif dan senekad seperti yang dilakukan oleh lembaga penjual gelar-gelar “aspal” semacam AGU (American Global University), DiLI (Distance Learning Institute) atau AIMS (American Institute of Management Studies) yang dahulunya bernama JIMS (Jakarta Institut of Management Studies). Kabarnya bagi  masyarakat yang menginginkan gelar dari lembaga-lembaga tersebut cukup  menyerahkan  daftar riwayat hidup, fotokopi KTP, pas foto dan  tulisan beberapa lembar serta membayar uang administrasi sejumlah beberapa juta rupiah. Bila persyaratan itu bisa dipenuhi, kendati mereka hanya lulus SMP serta tak mampu berbahasa Inggris sekalipun, dalam sekejap akan segera diwisuda dan menyandang gelar kehormatan impiannya,  dari mulai MBA, BBA, doktor bahkan profesor. &lt;br /&gt;Cara  yang dilakukan oleh  sejumlah  PTN dan PTS dalam meramaikan dan menangkap fenomena  masyarakat yang tengah “mabok” gelar ini  masih mengesankan  tetap dalam koridor  jalur akademik, yakni dengan membuka  program pascasarjana “kelas jauh”. Begitu pula program yang ditawarkannya umumnya sebatas  strata dua  (kebanyakan disiplin ilmu magister manajemen). Namun  bagi para pengamat dunia pendidikan tinggi pastilah  paham praktik yang sesungguhnya terjadi pada kasus kelas-kelas jauh semacam itu. &lt;br /&gt;Selain persyaratannya amat longgar,  seperti  boleh diikuti oleh siapa saja  yang ijazah S1-nya disiplin ilmu apapun dan  tidak tidak terlalu menyaratkan kepemilikan TOFEL kepada  pesertanya, juga pada umumnya penyelenggaranya tidak didukung oleh perangkat sistem proses belajar-mengajar jarak jauh sebagaimana lazimnya. Misalnya mereka tidak menggunakan modul seperti  yang dilakukan oleh UT (Universitas Terbuka). Begitu pula dengan waktu tempuhnya tidak lebih dari  short course  sehingga kurang mencerminkan proses individual learning  para pesertanya. Waktu tempuh pada proses pendidikan program S2  yang benar dan wajar yang  lazimnya berkisar antara 2 hingga 2,5 tahun  bisa mereka singkat hanya setengahnya saja. Akibat praktik pascasarjana model "kelas jauh" semacam itu,  banyak masyarakat yang meragukan kualitas keilmuan para  lulusannya. &lt;br /&gt;Bagaimana dengan upaya dari  pihak pemerintah -dalam hal ini Ditjen Dikti Diknas- terhadap praktik  jual-beli gelar yang jelas-jelas merupakan proses pembodohan masyarakat tersebut? Dengan alasan  belum ada perangkat hukum yang mengaturnya, mereka juga tidak berdaya. Seperti diakui oleh Dirjen Dikti Satryo Soemantri Brojonogoro (Kompas 27 Juli 2001),  kewenangan institusinya hanya sebatas memberikan  teguran, sedangkan kewenangan hukum menutup lembaga-lembaga “maya”  tersebut sepenuhnya berada di tangan kepolisian. Sementara itu  pihak Polri juga tidak bisa seenaknya menindaknya secara hukum, baik terhadap lembaga yang memperdagangkan maupun para pengguna aneka gelar “aspal” tersebut, sejauh belum ada pengaduan dari masyarakat yang merasa menjadi korbannya.  Selain itu itu kabarnya kepolsian sendiri  menghadapi beban psikologis,  karena sejumlah nama perwira tinggi Polri dan TNI serta  sejumlah pejabat negara kita -termasuk Wapres Hamzah Haz-- menjadi konsumennya. &lt;br /&gt; Dalam  Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang baru saja diputuskan tempo hari telah ada sejumlah pasal yang harapannya akan dapat menertibkan masalah yang sangat melecehkan martabat dunia pendidikan kita ini. Sebagaimana termaktub pada Bab XX pasal 67 ayat (1) dan (4) disebutkan bahwa terhadap para penyelenggara pendidikan gelar-gelar aspal tersebut diancam akan dikenakan sangsi  pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Sedangkan terhadap para penggunanya, sebagaimana termaktub pada pasal 68  ayat (2), (3) dan (4) serta pasal 69 ayat (1) dan (2), akan dikenakan sangsi pidana penjara paling lama lima tahuan dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah). Sejauh mana  efektivitas  pemberlakuan kedua bentuk sanksi tersebut,  sejarah masih harus membuktikannya.&lt;br /&gt;Memang di era globalisasi dan demokratisasi namun  gaya hidup masyarakatnya masih menggemari feodalisasi, upaya penertiban hukum saja terhadap lembaga-lembaga penjual gelar tersebut  menjadi tidak cukup serta tidak akan  efektif.  Sebab dalam hal ini agaknya  berlaku hukum ekonomi permintaan-penawaran; sepanjang masyarakat membutuhkan gelar-gelar tersebut  maka lembaga-lembaga penyedianya akan tetap ada.  Begitu pula selagi masyarakat kita masih menganggap gelar sebagai sebuah prestise -meskipun dilarang hukum – tetap saja akan banyak orang yang akan mencarinya. Oleh karena itu untuk memberantasnya selain harus dibuat aturan-aturan hukum dan perundangan-undangan yang jelas dan tegas juga perlu dilawan lewat gerakan atau aksi  kultural.&lt;br /&gt;Aksi kultural ini bisa  dilakukan oleh segenap komponen masyarakat; misalnya oleh organisasi-organisasi profesi, keilmuan, kecendendikiawanan, LSM,  lembaga pers, dan juga dunia perguruan tinggi. Bentuknya bisa bermacam-macam; dari mulai himbauan,  aksi penolakan, pembuatan aturan  hingga  melakukan gugatan class action.&lt;br /&gt;Sejumlah organisasi profesi seperti PGRI atau IDI misalnya,  secara aktif perlu menertibkan para anggotanya yang menggunakan gelar-gelar aspal semacam itu. Hal yang sama juga selayaknya dilakukan oleh organisasi keilmuan dan kecendikiawanan seperti, ISEI, ISPI, HISKI, MLI, MSI serta oleh ICMI dan PIKI. Bahkan dalam konteks organisasi-organisasi  yang mengusung bendera “disiplin keilmuan dan kepakaran” tersebut mereka harus berani memecat para anggotanya yang kedapatan memakai gelar-gelar kodian  tersebut. Karena tindakannya itu jelas-jelas telah melanggar dan  melecahkan  etika dan fatsoen keilmuan dan kepakaran.    &lt;br /&gt;Selain itu secara internal  mereka juga dapat membuat tata aturan ihwal penggunaan gelar akademik ini. Menurut informasi  konon kabarnya dalam lingkup ICMI  penulisan gelar akademik hanya boleh dilakukan pada penulisan makalah, artikel di jurnal ilmiah  serta saat seseorang tampil menjadi pembicara di forum-forum  seminar dan diskusi yang benar-benar memiliki bobot akademis dan ilmiah. Sedangkan di luar konteks itu, seperti dalam surat-menyurat misalnya, tidak mereka lakukan.&lt;br /&gt;Sementara lembaga-lembaga pers dengan kekuasaan yang dimilikinya juga dapat berperan meminimalisir bisnis jual-beli gelar ini. Misalnya kendati dari pemasukan iklan cukup menguntungkan tapi sebaiknya mereka menolak medianya menjadi corong pariwara oleh lembaga-lembaga maya tersebut. Termasuk dalam hal ini menjadi tempat mangkalnya iklan-iklan ucapan selamat kepada para pejabat yang mendapatkan gelar-gelar kodian. Selain itu mereka juga sebaiknya mengambil kebijakan  tidak menuliskan gelar  dari tokoh dan figur-figur publik dalam pemberitaannya.  Sedangkan gerakan kultural yang dapat dilakukan oleh pihak LSM, seperti YLKI dan YLBHI misalnya, mereka dapat  mengakomodir dan mewakili  masyarakat  yang merasa dirugikan dan berniat melakukan gugatan class action, baik terhadap lembaga maupun  orang-orang yang  menggunakan aneka gelar kodian tersebut.&lt;br /&gt;Gerakan kultural yang dilakukan oleh berbagai elemen di atas mungkin akan menjadi tidak efektif andaikan dunia perguruan tinggi kita  lantas hanya sekedar menjadi penonton belaka. Oleh karena itu PTS dan PTN kita,  khususnya yang dianggap berada di garda depan,  harus juga secara aktif melakukan gerakan kultural untuk membendungya. Salah satu caranya antara lain dengan   merekomendasi serta ikut memberikan gelar-gelar akademik kehormatan  kepada sejumlah anak bangsa  yang memang layak mendapatkannya.&lt;br /&gt;Harus kita akui dalam tradisi perguruan tinggi kita pemberian gelar-gelar akademik kehormatan semacam Dr. HC (honoris causa),  baik terhadap anak bangsanya yang memiliki karya monumental dan bermanfaat bagi peradaban masih merupakan hal yang langka.  Dalam bidang sastra misalnya, setelah almarhum kritikus H.B Yasin yang mendapatkannya dari UI berpuluh tahun yang lalu baru kemarin sastrawan Taufiq Ismail yang mendapatkannya  dari UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Begitu pula dalam bidang jurnalistik, selama negeri ini berdiri baru pimpinan Kompas. Jakob Oetama yang mendapatkan gelar kehormatan tersebut  dari UGM  beberapa waktu   yang lalu.&lt;br /&gt;Akibat sikap bakhil perguruan tinggi kita ini tidak heran jika kondisinya menjadi ironi; sejumlah putra-putra terbaik bangsa kita justru mendapatkan aneka gelar kehormatan dari sejumlah perguruan tinggi bergengsi luar negeri. Almarhum Buya Hamka, pelukis Affandi serta  budayawan Soedjatmoko misalnya ketiga tokoh kaliber internasional tersebut masing-masing mendapatkan  gelar doktor kehormatan honoris causa-nya dari universitas-universitas terkemuka manca negara. Ke depan “tragedi” semacam ini tentunya  tidak boleh lagi terjadi.&lt;br /&gt;Dengan banyaknya perguruan tinggi kita yang pemberikan gelar-gelar kehormatan kepada  anak-anak bangsa yang  memang pantas menerimanya ini  diharapkan akan dapat mengeliminir fenomena maraknya praktik jual-beli gelar yang tidak bertanggungjawab seperti sekarang ini. Selain itu  gerakan kultural semacam ini juga merupakan tanggungjawab moral sekaligus sebuah “pendidikan” kepada masyarakat ihwal bagaimana seharusnya kita mengapresiasi dan menghargai prestasi anak bangsa sendiri.  Bukankah bangsa yang besar  adalah bangsa yang pandai  dan tidak  melupakan prestasi terbaik yang berhasil dicapai oleh anak- anak bangsanya?  Sungguh apa yang telah dirintis oleh UNY dan UGM itu mendesak untuk segera ditiru oleh sejumlah perguruan tinggi lain di negeri ini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf Pengajar Universitas Pendidikan Indonesia&lt;br /&gt;Alamat: Jln. Alamanda IX No. 4 Gempolsari Bandung 40215 Tlp. 022-6040942&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-8231928152562455498?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/8231928152562455498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=8231928152562455498' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8231928152562455498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8231928152562455498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/04/gerakan-kultural-membendung-jual-beli.html' title='GERAKAN KULTURAL MEMBENDUNG JUAL-BELI GELAR KODIAN'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-1285518779883511980</id><published>2010-04-06T02:37:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T02:43:26.757-07:00</updated><title type='text'>SEJUMLAH KESALAHAN ORANGTUA DALAM MENDIDIK ANAK</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEJUMLAH KESALAHAN ORANGTUA DALAM MENDIDIK ANAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping sekolah dan masyarakat, peran keluarga dalam proses pendidikan anak memegang posisi yang sangat sentral. Hal ini kiranya dapat dipahami, karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam fase pertumbuhannya, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan hal itu, para ulama Islam banyak memberikan perhatian dan membahas tentang pentingnya pendidikan melalui keluarga. Salah satu ulama besar Islam yang memiliki perhatian besar terhadap hal itu yakni Syaikh Abu Hamid Al Ghazali. Beliau antara lain mengatakan: "Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tetapi, jika dibiasakan dengan kejelekan dan dibiarkan tidak didik sebagaimana binatang ternak, niscaya dia akan menjadi jahat dan binasa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Al-Ghazali juga mengatakan agar para orang tua dapat melaksanakan tugas mendidik anak-anaknya dengan baik, seyogyanya mereka harus membekali diri dengan pengetahuan dan kearifan. Hal itu penting, untuk menghindari kesalahan dan penyimpangan dalam melaksanakan tugas mulia tersebut. Sebab, masih menurut beliau, kerap kali terjadinya praktik-praktik yang salah dalam proses pendidikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya akibat ketidangkalan ilmu yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut penulis kutipkan  sebagian kesalahan yang syahdan sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya, sebagaimana dikemukakan dalam buku Alwajiz fi At-tarbiyah buah karya  Syaikh Muhammad Al-Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sesuai antara ucapan dengan perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan kesalahan terpenting, karena anak belajar dari orang tua banyak hal, tetapi ternyata sering bertentangan dengan apa yang telah diajarkannya. Jika para orang tua sering melakukan hal yang semacam ini maka dikahwatirkan akan  berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak. Allah mencela perbuatan ini dengan firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan". (QS. 61:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana anak akan belajar kejujuran misalnya, kalau ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ternyata orang tuanya kerap berdusta? Bagaimana anak akan belajar sifat amanah misalnya, sementara jika ia melihat bapaknya sendiri  suka menipu orang lain? Bagaimana anak akan belajar akhlak yang baik bila orang-orang  yang ada  sekitarnya suka mengejek, berkata jelek dan berakhlak buruk? Untuk itu sifat ini harus dihindari oleh para orang tua dan para pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orangtua  berseberangan sikap &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala terjadi saat seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orang tuanya, namun sikap dan penerimaan kedua orang tuanya saling bertolak belakang. Misalnya sikap sang ibu memuji dan mendorongnya, sedangkan sikap sang bapak mengecam dan meminta untuk menghentikannya. Tentu saja sang anak akhirnya menjadi bingung, mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Jika kedua orang tua banyak melakukan hal yang semacam itu caHal ini sangat berbahaya, karena akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membiarkan anak menjadi budak  televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak, dan media yang paling berbahaya adalah televisi. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tua yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak, fitrah dan pendidikan mereka. Plomery, seorang peneliti media mengatakan: "Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima, tanpa mempertanyakan, segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik … maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu..". Oleh karena itu, anak-anak harus dilindungi dan diawasi dari perangkat yang dapat merusak ini. Hal ini, tidak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika orang tua mempunyai kemauan untuk menjaga akhlak anak-anak mereka dan mempersiapkannya untuk mengemban misi agama dan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyerahkan  kepada pembantu atau pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan yang amat serius dan banyak terjadi di masyarakat kita akibat misalnya kesibukan dari kedua orang tua di luar rumah, baik karena faktor pekerjaan maupun mengejar karier, akhirnya menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya kepada orang lain seperti pembantu, atau membawanya ke tempat pengasuhan. Akibatnya anak akan kehilangan kasih sayang ibu yang sangat dibutuhkannya. Hal ini berbahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya, karena anak berkembang tanpa kasih sayang langsung darui dari kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menampakkan kelemahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini banyak terjadi pada ibu-ibu dan kadangkala terjadi pada bapak-bapak. Kita dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata: "Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup menghadapinya. Aku tak tahu, apa yang harus aku perbuat dengannya". Salah satu dampak buruk jika para orang tua sering mengucapkan kata-kata semacam itu maka bisa jadi anak yang mendengarnya akan merasa bangga. Sang anak merasa dengan cara  mengganggu ibunya atau bersikap  membandel seolah-olah eksistensi dirinya diakui, bahkan kedua orang tuanya merasa ‘takluk’ di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengekang anak secara berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebahagian orang tua yang karena misalnya takut anaknya mengalami kecelakaan, mereka  melakukan tindakan-tindakan yang hiper protektif. Akibatnya mereka tidak memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk bermain, bercanda atau bermain dan bergaul dengan sesamanya. Hal yang semacam itu bukan hanya bertentangan dengan tabiat anak tetapi juga bisa berdampak buruk bagi perkermbangan kesehatan jasmani dan psikologisnya. Mengapa? Karena aktivitas bermain dan bersosialisasi merupakan kebutuhan  bagi pertumbuhan anak. Permainan di tempat yang bebas dan luas, misalnya  bermain pasir ketika wisata ke tepi pantai bersama teman-temannya, termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan fisik anak dan menjaga kesehatannya. Dengan demikian tidak seharusnya orang tua untuk melarangnya sejauh tidak membahayakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak percaya diri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini banyak terjadi di kalangan bapak-bapak. Padahal ini berpengaruh jelek terhadap masa depan anak dan pandangannya terhadap kehidupan. Karena anak yang terdidik rendah pribadi dan tidak percaya diri akan tumbuh jadi penakut, lemah dan tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan sampai ia menjadi dewasa. Karena itu, seyogianya anak-anak dipersiapkan untuk dapat melaksanakan tugas agama dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian antara lain menurut Syaikh Muhammad Al-Hasan beberapa kesalahan yang  kerap diperbuat oleh kita selaku orang tua dalam mendidik anak dalam bukunya Alwajiz fi At-tarbiyah. Mudah-mudahan bisa menjadi cermin kita selaku para orang tua ***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kholid A.Harras&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-1285518779883511980?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/1285518779883511980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=1285518779883511980' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1285518779883511980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1285518779883511980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2010/04/sejumlah-kesalahan-orangtua-dalam.html' title='SEJUMLAH KESALAHAN ORANGTUA DALAM MENDIDIK ANAK'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-827254453759436161</id><published>2009-12-25T01:11:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T01:17:35.844-08:00</updated><title type='text'>Modul Pembelajaran Membaca</title><content type='html'>Kepada teman-teman mahasiswa yang berminat mengunduh modul Pembelajaran Membaca silakan kirim e-mail ke kahar_64@yahoo.com. Saya mohon maaf saat ini modul tersebut belum bisa saya posting pada blog ini. Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-827254453759436161?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/827254453759436161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=827254453759436161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/827254453759436161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/827254453759436161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/12/modul-pembelajaran-membaca.html' title='Modul Pembelajaran Membaca'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-6245195890461787463</id><published>2009-09-16T17:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T18:03:21.585-07:00</updated><title type='text'>SALAH KAPRAH ARTI IDUL FITRI DAN MINAL AIDIN WAL FAIZIN</title><content type='html'>Selama ini banyak di antara kita yang salah kaprah dalam memaknai frase ‘Idul Fitri’. Kata ‘Ied’diartikan ‘kembali’ dan kata kata ‘fitri’ karena dianggap berasal dari kata ‘FITHROH’ (dengan ha marbuthoh) yang artinya ‘asal’ atau ‘suci’ atau ‘bersih’. Jadi kata ‘Idul fitri’ diartikan ‘kembali ke asal kita yang bersih/suci’. Argumentasi fiqihnya, krna orang yang berpuasa oleh Allah dijanjikan akan diampuni seluruh dosa-dosanya, sehingga pada tanggal 1 syawal tsb dia ibarat bayi yang suci dari noda dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang semacam itu secara etimologi tidak tepat. Kata ‘fitri’ pada ‘Iedul Fitri’ bukan berasal dari ‘FITHROH’ tetapi dari kata ‘FITHR’ (fathoro-yafthuru-ifthor) yang artinya ‘berbuka’. Jadi frasa ‘Idul fitri’ artinya ‘kembali berbuka’. Maksudnya, kembali seorang yang tadinya berpuasa diperbolehkan melakukan makan-minum di pagi hari pada tanggal 1 Syawal tersebut atau tanda bhwa bln ramadhan tlh berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena salah satu sifat bahasa manasuka, kedua pemaknaan tersebut tentu saja sah dan boleh-boleh aja. Walaupun demikian, kalau direnungkan lebih dalam pemaknaan Idul Fitri versi pertama tersebut (kembali menjadi manusia yang suci) sesungguhnya sangat berat dan spekulatif. Betulkah puasa Ramadhan yang kita lakukan selama satu bulan tersebut diterima oleh Allah SWT, sehingga menggugurkan dosa2 kita dan mengantarkan kita menjadi manusia-manusia yang suci laksana seorang bayi? Padahal Rasulullah saw.menengarai melalui sabdanya, bahwa sungguh betapa banyak orang yang berpuasa –tetapi karena tidak dilakukan dengan keimanan dan perhitungan (ikhtisaban)—maka yang bakal dia peroleh hanyalah rasa lapar dan dahaga saja. Jadi persoalan diterima tidaknya amalan puasa ramadhan seorang hamba benar-benar hanya Allah saja yang mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar karena puasa ramadhan seseorang belum tentu diterima oleh Allah inilah, maka ucapan tahniah atau ucapan selamat yang diajarkan oleh rasulullah saat antarsesama muslim bersua di hari Iedul Fitri yakni ‘Taqobalallahu minna waminka (waminkum), waja’alana minal adin wal faizin”, yang artinya “Semoga Allah menerima amaliyah ramadhan saya dan ramdhan anda/kalian, dengan demikian kita akan menjadi orang yang kembali (kpd agama) dan orang yang berbahagia karena telah beroleh kemenangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada kebanyakan masyarakat kita tahniah Iedul Fitri minal aidin walfaizin= mohon maaf lahir batin. Selain penerjemahan seperti ini jelas ngawur juga frasa “mohon maaf lahir batin’ juga secara semantic sesungguhnya kabur. Apakah maaf lahir itu? Kata ‘lahir’ dalam bahasa Indonesia ini dipungut dari bahasa Arab ‘al-dhohiru’ yang artinya tampak wujudnya. Sedangkan kata ‘batin’ berasal dari kata ‘al-bathinu’, yang arttinya tidak tampak wujudnya. Jadi jika merunut arti semantiknya pernyataan ‘mohon maaf lahir dan batin’ berarti mohon maaf atas kesalahan yang tampak maupun yang tidak tampak. Benarkah demikian? ( Jadi diandaikan seolah-olah orang yang kita mintai maafnya itu peramal/ paranormal yang bisa memihat yang tampak dan yang tidakj tampak hehe…). Bukankah akan lebih pas jika kita memohon maaf itu atas kesalahan-kesalan yang disengaja atau yang mungkin tidak disengaja? Ini lebih manusiawi sekaligus rasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya boleh jadi akibat pemahaman-pemahan yang keliru inilah sesungguhnya pangkal mula mengapa ritual Idul Fitri dalam kantong memori umat Islam di negeri ini dan sekitarnya dipersepsi sebagai kegiatan budaya yang wajahnya seperti kita lihat saat ini; memunculkan terjadinya perpindahan manusia secara besar-besaran dari kota ke desa yang disebut mudik, tradisi sungkeman, tradisi halal bihalal dan sejenisnya.. Padahal andai saja pengartian Idul Fitri itu pada yang kedua , yakni ‘kembali berbuka’ mungkin persoalanya akan jauh lebih sederhana dan kedatangan hari raya Idul Fitri tidak harus menjadi perhelatan budaya kolosal seperti sekarang ini. Wallahu a’lam. (Kholid A.Harras)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas Kesalahan Penulisan&lt;br /&gt;1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar berdasarkan penulisan kaidah fonologis&lt;br /&gt;2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasarkan EYD&lt;br /&gt;3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf “dzal” dalam abjad arab&lt;br /&gt;4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”&lt;br /&gt;5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”, seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal ini perlu diperhatikan? Karena kesalahan penulisan abjad juga berarti berimplikasi pada pemaknaan yang juga bisa salah. Seperti dalam bahasa inggris, antara Look dan Lock beda maknanya bukan? Padahal perbedaanya disebabkan oleh salah satu huruf saja..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-6245195890461787463?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/6245195890461787463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=6245195890461787463' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/6245195890461787463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/6245195890461787463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/09/salah-kaprah-arti-idul-fitri-dan-minal.html' title='SALAH KAPRAH ARTI IDUL FITRI DAN MINAL AIDIN WAL FAIZIN'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-3204174933515753521</id><published>2009-09-12T21:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T21:38:12.145-07:00</updated><title type='text'>Doa di Penghujung Ramadhan</title><content type='html'>Ya Allah, sebentar lagi  Ramadhanmu akan berakhir&lt;br /&gt;Terima kasih  atas kesempatan dan berbagai  nikmat yang telah Engkau berikan &lt;br /&gt;sehingga hamba dapat menjalankannya sesuai titah-Mu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jika dalam pandanganMu puasa hamba tidak sempurna &lt;br /&gt;maka sempurnakanlah&lt;br /&gt;Jika hati dan panca indera hamba tidak ikut berpuasa dan menjalaninya kurang ikhlas  mohon dimaafkan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, izinkan hamba medapatkan kesempatan lagi untuk bertemu &lt;br /&gt;dengan ramadhanMu di tahun-tahun hadapan. &lt;br /&gt;Namun jika ini akan menjadi Ramadhan yg terakhir bagi hamba,&lt;br /&gt;jadikanlah amaliyah ramadhan ini  sebagai sebaik2 amalan &lt;br /&gt;untuk menjadi bekal hamba menjumpaiMu &lt;br /&gt;dan Engkau berkenan menjadikan hamba kembali menjadi fitrah.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amiiiiin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-3204174933515753521?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/3204174933515753521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=3204174933515753521' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/3204174933515753521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/3204174933515753521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/09/doa-di-penghujung-ramadhan.html' title='Doa di Penghujung Ramadhan'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-8271065840049133863</id><published>2009-08-25T21:49:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T21:52:59.290-07:00</updated><title type='text'>Apa Kata Kyai Apa Kata Politisi tentang Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di bawah ini ada sebuah tulisan dari K.H.A.Mustofa Bisri yang menurut saya sangat layak untuk dibaca dan direnungkan isinya oleh kita semua.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Kata Kyai Apa Kata Politisi&lt;br /&gt;RAMADAN YA RAMADAN&lt;br /&gt;Oleh: A. Mustofa Bisri&lt;br /&gt;"Mustofa, Ramadan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan kepadamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata untuk-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya." (A. Mustofa Bisri dalam Nasihat Ramadan buat A. Mustofa Bisri)&lt;br /&gt;Gegap-gempita menyambut kedatangan Ramadan dan hiruk-pikuk kaum muslimin menjalani Ramadan, di satu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama, khususnya di negeri ini. Namun, di lain pihak, bisa sebagai bahan perenungan kita semua, terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita.&lt;br /&gt;Lihatlah, bagaimana repotnya pemerintah mengoordinasikan pihak-pihak yang diajak bersama-sama menghitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal Ramadan. Bahkan, tahun ini masyarakat umum pun dilibatkan dalam kegiatan rukyah.&lt;br /&gt;Lihatlah spanduk-spanduk menyambut kedatangan Ramadan yang terpampang di seantero jalan. Lihatlah kesibukan para produser dan insan-insan pertelevisian serta para pemilik PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadan.&lt;br /&gt;Lihatlah ingar-bingar masjid-masjid dan musala serta meriahnya acara buka bersama di mana-mana. Lihatlah kepedulian instansi-instansi, termasuk kepolisian, yang dengan serius berusaha menghormati Ramadan. Luar biasa.&lt;br /&gt;Pendek kata pada Ramadan ini, Indonesia seolah-olah menjadi milik kaum muslimin. Lautan, daratan, dan udara boleh dikata dikuasai kaum muslimin. Subahanallah! kata Ilham dan ustad-ustad dengan takjub.&lt;br /&gt;Fenomena ini bisa kita saksikan setiap tahun. Setiap Ramadan. Hanya pada Ramadan. Inilah acara rutin tahunan kita selama ini.&lt;br /&gt;Seakan-akan kita hanya menunggu datang dan perginya Ramadan, lalu setelah itu kembali kepada kesibukan lain yang biasa kita lakukan di sebelas bulan yang lain. Seakan-akan kita menghormati Ramadan hanya pada Ramadan. Kita berpuasa, menahan diri, hanya pada Ramadan. Termasuk berakrab-akrab dengan keluarga pun hanya pada Ramadan.&lt;br /&gt;Itu pun -kehidupan Ramadan yang seperti itu-masih menyisakan sekian tanda tanya bagi mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keridaan Tuhan mereka. Tanda tanya itu antara lain, di manakah posisi Allah dalam diri kita di tengah-tengah kesibukan kita yang khas itu?&lt;br /&gt;Seberapa murnikah niat kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah kita? Atau seberapa jauh dorongan nafsu yang samar menyusupi keinginan kita mendapatkan rida Allah?&lt;br /&gt;Dengan perenungan yang agak dalam, kita mungkin akan menyadari bahwa nafsu begitu halus tersembunyi di dalam diri kita, sering berimpitan dengan kehendak mendapatkan rida Allah. Kita berzikir atau membaca Quran, misalnya, tentulah dengan kehendak ingin mendapatkan rida-Nya. Namun, bersamaan dengan itu, sering tanpa kita sadari nafsu justru mendorong kita untuk berlebih-lebihan, sehingga kehendak yang mulia itu malah melenceng melanggar anggar-anggar-Nya.&lt;br /&gt;Kita berzikir atau membaca Quran tidak lagi murni bagi Allah Yang Mahadekat, tapi kita keraskan suara kita sedemikian rupa seolah-olah kita sedang menyeru orang tuli.&lt;br /&gt;Bahkan, di negeri ini, kebiasaan berzikir, membaca Quran, dan sebagainya, dengan pengeras suara sudah merupakan hal jamak lumrah. Tak ada seorang kiai pun yang memperingatkannya.&lt;br /&gt;Saya sendiri pernah menyinggung masalah kemaruk pengeras suara ini, di koran ini. Besoknya ada penelepon yang marah-marah, "MUI saja, Gus Dur saja, tidak mempersoalkan, kok sampeyan mempersoalkan!" Saya mempersoalkan hal ini justru karena MUI dan Gus Dur tidak terang-terangan mempersoalkannya, jawab saya ketika itu.&lt;br /&gt;Biasanya orang yang membenarkan zikir dsb dengan pengeras suara beralasan bahwa itu merupakan syi’ar. Saya tidak tahu apakah maksud mereka dengan syi’ar itu?&lt;br /&gt;Apakah Rasulullah SAW yang melarang berzikir keras-keras itu tidak mengerti syi’ar? Apakah para sahabat, Imam Syafi’i dan ulama-ulama besar yang mengecam zikir dengan suara keras itu tidak mengerti syi’ar?&lt;br /&gt;Lagi pula apakah, karena kita merasa besar, lalu kita merasa merdeka dan menafikan hak mereka yang lain -sekecil apa pun- untuk tidak diganggu dengan suara-suara keras?&lt;br /&gt;Kehendak untuk diterima amal kita sering juga disusupi nafsu yang samar, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima tanpa mengindahkan hak orang lain untuk berkehendak diterima amalnya. Bahkan, sering karena kita terlalu ingin mendapatkan rida Allah, lalu kita mempersetankan hak orang lain untuk menjadi hamba-Nya sesuai kemampuannya.&lt;br /&gt;Tengoklah mereka yang karena ingin menghormati Ramadan, lalu ingin memaksakan para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib melaksanakan puasa pada Ramadan. Di sana ada musafir-musafir yang diperkenankan tidak puasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang malah tidak boleh berpuasa. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum beragama secara batiniah. Dengan demikian, Ramadan tidak begitu saja berlalu sebagaimana momen-momen rutin lain yang tidak membekas.&lt;br /&gt;Apalagi justru menjadikan kita hamba-hamba yang bangga diri terhadap kebesaran semu kita. Selamat berpuasa Ramadan!&lt;br /&gt;Semoga Allah mengampuni kekurangan-kekurangan kita dan menerima amal ibadah kita. Amin.&lt;br /&gt;KH Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul &lt;br /&gt;Sumber: Jawa Pos dotcom&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-8271065840049133863?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/8271065840049133863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=8271065840049133863' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8271065840049133863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8271065840049133863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/08/apa-kata-kyai-apa-kata-politisi-tentang.html' title='Apa Kata Kyai Apa Kata Politisi tentang Ramadhan'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-288970969347215286</id><published>2009-08-06T20:12:00.003-07:00</published><updated>2009-08-06T20:34:31.915-07:00</updated><title type='text'>Berpuasalah Secara Benar..</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamulaikum Wr.Wb....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat matahari mulai tenggelam pada sore hari Jum'at 21 Agustus nanti, insya Allah  kita akan memasuki penghulu dari segala bulan: Ramadhan yang agung. Dari hati yang dalam saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pembaca blog ini, atas segala khilaf dan kesalahan yang mungkin pernah saya  dan keluarga perbuat. &lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita semua dapat mengisi hari-hari Ramadhan kita dengan iman dan penuh kesungguhan dan perhitungan (ikhtisaban). Dengan demikian insya Allah kita bersama-sama dapat menggapai derajat taqwa sebagaimana yang dijanjikan-Nya. Amien.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bersaumlah maka kamu akan sehat (Hadist).  Di bawah ini ada tulisan yang membahas bagaimana tips-tips supaya shaum kita sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh hadist tersebut.  Tulisan ini saya ambil dari KCM, edisi Jumat, 24 Oktober 2003.  Semoga bermanfaat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamulaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid Harras &amp; Keluarga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berpuasalah Secara Benar..!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu adzan Maghrib berkumandang, tangan Herry (nama samaran, 32) langsung menyambar segelas es teh manis. Sekali tenggak, habis. Giliran semangkuk kolak pisang hanya dalam beberapa sendok, licin tandas. Wajah staf marketing sebuah perusahaan jamu ini agak sumringah setelah kerongkongannya dibilas segelas es blewah. ’’Seharian empat kali presentasi, ancur gua!’’ keluh ayah seorang balita ini, apalagi ia dalam keadaan berpuasa. Lima menit istirahat, pria tambun berbobot 89 kilogram ini siap melahap sepiring nasi dengan gundukan lauk pauk di sana sini. Seperempat jam kemudian, tuntas sudah. Herry duduk bersandar, wajahnya berkeringat. Sambil mengendapkan rasa kenyang, sebatang rokok berkepulan di antara jari kanannya. &lt;br /&gt;Perubahan waktu makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herry bukan satu-satunya. Sepanjang bulan Ramadhan banyak orang yang mengubah perilaku makannya, terutama saat berbuka puasa dan makan sahur. Padahal, menurut Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A., berpuasa sebenarnya hanya mengganti waktu makan. Dalam sehari kita biasa makan besar dua kali, makan siang dan makan malam. Sedangkan selama Bulan Ramadhan, makan besar tetap dua kali, yakni sahur dan buka puasa.Yang berbeda, lanjut Eva, pada yang berpuasa pemasukan cairannya berubah. Biasanya, cairan tubuh ada terus-menerus, karena kita pun minum beberapa kali dalam satu hari, dengan jumlah 1,5 - 2 liter air. Sedang saat berpuasa frekuensi minum terbatas. Sebagian orang berpendapat, "Malas ah, malam-malam makan, masih ngantuk", lalu akhirnya tidak makan sahur. Dokter asal Aceh itu menyayangkan tindakan mengabaikan makan sahur. Selain ada pahalanya, makan sahur tetap harus dilakukan, sebab selama 13 jam kita berpuasa kita harus memiliki cadangan energi. Kalau tidak, tentu berdampak terhadap kesehatan. Sahur dan buka sebaiknya tetap dilakukan sesuai aturan, karena secara gastrointestinal (berhubungan dengan lambung dan usus) puasa hanyalah perubahan waktu makan. Volume makan pun tetap saja harus dikontrol, jangan berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Langsung Tidur dan Perhatikan Jeda Setelah Berbuka dan Sahur&lt;br /&gt;Kesalahan kebanyakan di antara kita, sesudah sahur atau buka puasa, shalat sebentar, lalu tidur. Padahal, seharusnya tidak demikian, tidak boleh langsung tidur sehabis makan. Tunggu minimal setengah jam, saran Eva. Ia menganjurkan, makan sahur dilakukan mendekati waktu Subuh, agar sesudah shalat tidak tidur lagi. Jadi, bukan santap sahur pukul 02.00, lalu tidur lagi. Alasannya, sewaktu tidur tubuh menjadi sangat rileks, sehingga gerakan usus lambat sekali, sedangkan kita makan sampai perut penuh. Jadi, metabolisme pencernaan terganggu, karena makanan terus-menerus berada di dalam usus. Seandainya peraturan yang sudah digariskan sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W. diikuti, menurut Eva, itu sudah bagus. Perut yang biasanya terus-menerus terisi, saat berpuasa agak diubah sistem pencernaannya, tidak bekerja keras tiga kali sehari, tetapi dua kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pendapat, berpuasa itu amat penting dilakukan, sebab memberi kesempatan pada semua organ dalam tubuh untuk beristirahat. Saat berpuasa, sistem pencernaan dibebaskan dari tugas, sehingga tubuh punya waktu untuk melakukan pembersihan. Tubuh pun memerlukan pembersihan dari racun-racun yang terkumpul dari makanan yang tidak tercerna, asam urat, polusi, pestisida pada makanan, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Balita jangan dipaksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berpuasa, pada hemat Eva, tidak ada masalah dalam hal kecukupan gizi. Hanya, ia menyesalkan banyaknya orangtua yang mengharuskan anak-anak balita berpuasa. "Sebaiknya, balita jangan terlalu dipaksa berpuasa karena ia masih dalam fase pertumbuhan," saran Eva. Namun, setelah usia enam tahun diperbolehkan, karena pada usia itu pertumbuhannya sudah melambat, sehingga kebutuhan makanan pun tidak terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mencobakan puasa setengah hari, itu bagus karena si anak menjalani proses adaptasi. Susahnya, ada orangtua yang bangga anaknya puasa satu hari penuh, padahal baru usia empat tahun. Pada keadaan seperti itu dikhawatirkan ada ancaman kekurangan gizi. Pasalnya, kebiasaan anak untuk tidak makan siang sepanjang bulan Ramadhan, terkadang berlanjut meskipun bulan Ramadhan sudah lewat. Sementara itu sang orangtua tenang-tenang saja, menilai si anak sudah biasa puasa. Tahu-tahu, si anak ambruk, kekurangan gizi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan hikmah puasa yang coba diajarkan pada balita? "Hikmah puasa adalah menahan diri, tapi ada cara menahan diri untuk balita." Eva pun menyitir ajaran Imam al Ghazali tentang mendidik anak. Dikatakan, anak tidak boleh makan terlalu banyak. Memang benar, jika terlalu banyak makan, sebagian besar darah larinya ke usus, untuk mencerna dan menyerap makanan. Sedangkan darah yang ke otak berkurang, sehingga keseimbangan jadi terganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya memang pertama-tama darah larinya ke otak, termasuk oksigen. Otak manusia beratnya hanya satu persen dari berat tubuh, tetapi ia menggunakan 20% dari seluruh oksigen dibutuhkan. Otak memang pengguna terbesar, selanjutnya adalah gastrointestinal, usus. Karenanya, orangtua suka menasihati, sehabis makan jangan langsung belajar, karena nanti supply darah ke otak berkurang, sehingga badannya kurang fit untuk belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pikir makanan&lt;br /&gt;Bagi penderita maag, adakah kiat khusus untuk berpuasa? Eva memilah dulu gradasi penyakit si penderita, sebab penyakit maag bervariasi antara yang ringan hingga berat. Karena sifatnya individual, maka harus dilihat kasusnya. Ada orang yang sakit maag karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas. "Kalau ia berpuasa tentunya tidak makan pedas ’kan? Jadi tidak ada rangsangan yang menimbulkan sakit maag," imbuh Eva. &lt;br /&gt;Ada juga orang yang sakit maagnya sudah parah. Eva menganjurkan, dicoba puasa dulu, dengan sistem setengah hari. Jadi, seperti orang disapih. Jika langsung tidak makan, pengeluaran asam lambungnya berlangsung cepat. "Kalau kita tidak makan, baru memikirkan makanan saja, kadang-kadang asam lambung sudah keluar." Makanya, orang berpuasa tidak boleh memikirkan makanan, nanti asam lambungnya keluar, perut pun perih, jadi laparlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita diabetes pun - apalagi yang sudah tergantung pada insulin - harus hati-hati, bahkan bila perlu diatur kembali. Misalnya, melakukan penyuntikannya sesudah berbuka puasa. Yang sehari harus tiga kali suntik, itu sebaiknya jangan berpuasa. "Tapi kalau hipertensi tidak apa-apa. Malah kalau ia berpuasa, tidak mikir-mikir makanan, stresnya berkurang," nasehat Eva. &lt;br /&gt;Jangan sembarang suplemen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemas selama berpuasa, demikian yang diderita umumnya orang yang berpuasa. Hal itu karena sumber energi kita paling banyak dari karbohidrat. Memang, orang Indonesia 60% makanannya mengandung karbohidrat. Sedangkan karbohidrat itu kerjanya sebentar, 3 - 4 jam habis. Kalau kita cukup punya cadangan, biasanya disimpan di lever (hati), namanya glikogen. Nah, saat kita berpuasa, cadangan itu diambil. Jika cadangan glikogen kita cukup, stamina kita cukup bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada orang-orang tertentu, yang cadangan glikogennya rendah, akan merasa mengantuk dan lemas. Saran Eva, ketika sahur konsumsi agak banyak makanan berlemak tinggi, agar pengosongan lambungnya agak lambat. Jadi, ia tidak mudah lapar. "Kalau bisa protein dan lemaknya ditambah, karbohidratnya dikurangi. Jadi, jangan terlalu manis-manis," petuah Eva. Hindari pula makanan merangsang, karena dapat mengiritasi lambung, lambung pun jadi sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang terbiasa mengonsumsi vitamin dan suplemen untuk mempertahankan energi dan vitalitas selama berpuasa, Eva sempat mewanti-wanti. "Hati-hati minum vitamin, karena pada orang tertentu justru bikin lapar terus. Saya anjurkan jangan minum vitamin saat sahur. Kalau vitamin C tidak apa-apa, tapi ada orang yang bila minum B kompleks dia akan lapar terus," kata Eva. Untuk itu, menurut Eva, saat buka puasa, tetap utamakan makan sayur dan buah. Itu karena kita tetap harus mengonsumsi serat sebanyak 20 - 35 g per hari. Manfaatnya, agar terhindar dari gangguan pencernaan, seperti buang air besar tidak lancar, keras, tidak setiap hari, dan timbul rasa tidak nyaman di perut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pula langsung makan banyak, sebagaimana kawan kita Herry, karena lambung bisa kaget. Selain itu, bisa-bisa bukannya berkurang, berat badan malah bertambah setelah puasa, sebagaimana dikeluhkan banyak orang. Saat berbuka bisa dihidangkan teh manis hangat, jangan es atau makanan pedas karena lambung masih kosong. Jadi, lambung perlu diadaptasikan dulu, baru setengah jam kemudian makan besar. Demikian pula saat sahur, tidak dianjurkan makan terlalu banyak, karena empat jam kemudian lambung akan kosong. Prinsipnya, puasa mengubah waktu makan. Minum banyak boleh, jumlah 1,5 - 2 liter harus terpenuhi selama buka dan sahur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva mengajak kita mengambil hikmah terbesar puasa Ramadhan, yakni menahan diri. Kita juga bisa ikut merasakan lapar dan dahaga, yang biasa dialami kaum dhuafa. Dengan begitu, akan tumbuh rasa empati terhadap kaum papa. (Intisari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;TIPS Agar Tetap Segar Selama Puasa..!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA berpuasa, bahan makanan yang masuk (intake) berbeda dengan energi yang dikeluarkan (outtake) selama beraktivitas. Itu sebabnya, selama menjalankan ibadah puasa, kesehatan pun harus dijaga. Untuk itu, perlu diperhatikan pengaturan makan dan minum pada saat sahur atau berbuka puasa, agar tubuh tetap segar dan bugar sepanjang hari selama berpuasa. Pada saat berpuasa bahan makanan penghasil energi utama seperti karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan protein yang masuk ke tubuh kita tidaklah sebanyak hari-hari biasa. Untuk itu ada kiat-kiat khusus agar tubuh tetap segar dan fit selama berpuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kondisi tetap prima kendati tengah berpuasa, simak tips kesehatan di bawah ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;•Jangan lupa selalu mengkonsumsi makanan bergizi baik pada saat sahur atau berbuka  puasa. Walau menu sederhana, yang penting mengandung lima unsur gizi lengkap  seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Upayakan untuk mencegah dehidrasi tubuh dengan banyak minum air putih pada malam hari. Hal ini penting dilakukan, karena pada siang hari aktivitas kita cenderung banyak mengeluarkan keringat baik di ruangan terbuka atau ber-AC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Pada saat berbuka, awali buka puasa Anda dengan makanan atau minuman hangat dan manis seperti kolak, setup, ataupun minuman manis lainnya. Tapi ingat, jangan mengkonsumsi minuman yang mengandung soda, karena dapat menimbulkan akibat buruk bagi perut Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Jangan langsung minum air dingin atau es, sebaliknya biasakanlah berbuka dengan minuman yang hangat. Perut yang kosong bisa menjadi kembung, bila Anda langsung berbuka puasa dengan air dingin, karena asam lambung dalam tubuh kita akan terbentuk semakin banyak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Kemudian beristirahatlah kurang lebih satu jam sebelum menyantap hidangan berbuka yang telah dihidangkan. Tujuannya untuk memberikan keseimbangan terlebih dahulu pada pencernaan kita. Ingat, jangan mengkonsumsi makanan berlebihan dan makanan asinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Berbuka puasa hendaknya dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru agar lambung tidak "kaget". Dengan demikian kerja lambung tidak terlampau berat. Untuk meringankan kerja pencernaan, kunyah makanan dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Agar Anda mampu menahan rasa lapar, perbanyaklah mengkonsumsi jenis makanan berserat yang banyak terdapat dalam sayur dan buah. Tubuh kita memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna makanan yang banyak mengandung serat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Selain memperbanyak makanan berserat dan makanan yang mengandung protein, sebaiknya Anda juga menyediakan jenis makanan yang mengandung vitamin dan mineral serta makanan tambahan agar tubuh tetap segar bugar sepanjang hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Vitamin yang penting dikonsumsi setiap hari adalah vitamin A, B, dan C. Tapi kalau &lt;br /&gt;Anda sudah makan buah berwarna kuning atau merah, sayur berwarna hijau tua, kacang-kacangan, maka tak perlu khawatir kekurangan vitamin tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Bagi penderita sakit lambung makanan yang sebaiknya dihindari adalah ketan, mie, daging berlemak, ikan dan daging yang diawetkan, sayuran mentah, sayuran berserat, minuman yang mengandung soda, dan bumbu yang tajam (cuka, cabai, asam). Jenis makanan tersebut bisa menimbulkan gas yang berpengaruh meningkatkan produksi asam lambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Bagi mereka yang berat badannya melebihi berat badan ideal, sebaiknya selama berpuasa pun tetap menghindari makanan yang tinggi kolesterolnya, misalnya lemak hewan, margarin, mentega. Selain itu, sebaiknya Anda menghindari makanan yang manis-manis, seperti dodol, sirup, cokelat, kue tar, es krim. "Selain lebih banyak mengkonsumsi sayur, buah, dan daging tanpa lemak, pengolahan makanannya pun sebaiknya jangan digoreng." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Sedang bagi mereka yang terlalu kurus, selama berpuasa sebaiknya menambah porsi susunya dan menghindari makanan yang sulit dicerna seperti sayuran berserat kasar daun singkong, daun pepaya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Bagi mereka yang berusia lanjut, aturlah pola makan saat berbuka puasa juga secara bertahap. Makanlah jumlah yang lebih sedikit, namun dilakukan beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjalankan ibadah Ramadhan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-288970969347215286?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/288970969347215286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=288970969347215286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/288970969347215286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/288970969347215286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/08/berpuasalah-secara-benar.html' title='Berpuasalah Secara Benar..'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-1472143346523634588</id><published>2009-06-03T17:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T17:15:57.964-07:00</updated><title type='text'>Tumbuhkan Minat Baca Masyarakat</title><content type='html'>Kompas, Kamis, 18 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhkan Minat Baca Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 8 April 2005 Bupati Indramayu H Irianto MS Syafiuddin mendapat penghargaan tingkat nasional dari Serikat Penerbit Surat Kabar. Kang Yance demikian panggilan akrab Bupati Indramayu ini dinilai sebagai kepala daerah yang memiliki kepedulian yang sangat besar dalam mendorong minat baca masyarakatnya. Untuk sektor pendidikan Bupati Yance telah mengalokasikan anggaran APBD yang cukup besar, yakni 38,7 persen. Dengan alokasi anggaran sebesar itu Pemerintah Daerah Indramayu memiliki energi yang cukup untuk melakukan berbagai terobosan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya, termasuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas perpustakaan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun lalu kondisi Perpustakaan Pemda Indramayu betul- betul sangat memprihatinkan. Gedungnya sangat kumuh dan tidak terurus. Koleksi bukunya sangat terbatas. Jika saat itu kita bermaksud mencari buku-buku sastra misalnya, bersiap-siaplah untuk kecewa. Dengan kondisi seperti itu, data jumlah rata-rata pengunjungnya setiap hari dapat dihitung dengan jari tangan saja. Namun, kini berkat suntikan dana yang mencukupi, kondisi Perpustakaan Pemda Indramayu benar-benar telah berubah total. Gedungnya cukup representatif, dilengkapi fasilitas AC, serta koleksi buku-buku yang dimilikinya pun sudah cukup lengkap (tentunya untuk ukuran sebuah perpustakaan daerah tingkat kabupaten).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula manajemen pengelolaan dan pelayanannya sudah profesional serta menerapkan sistem komputerisasi. Dengan kondisi yang seperti itu, kini setiap harinya Perpustakaan Pemda Indramayu selalu ramai dikunjungi, khususnya oleh para pelajar dan mahasiswa. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pihak pengelola perpustakaan melakukan berbagai terobosan inovatif. Secara berkala di selasar gedungnya diselenggarakan pameran buku. Pihak pengelola mengundang para penerbit atau distributor buku seperti Toko Buku Gramedia untuk menggelar pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat terobosan semacam itu, fungsi perpustakaan tidak hanya sebatas tempat peminjaman buku, tetapi juga menjadi area bagi masyarakat mendapatkan buku-buku terbitan terbaru. Lewat terobosan semacam itu, mereka juga mencoba mendekatkan masyarakat dengan dunia perpustakaan. Selanjutnya, berkat sokongan dana yang memadai, kini keberadaan armada perpustakaan keliling mampu beroperasi lebih baik. Secara berkala armada yang berjumlah tiga unit itu mengelilingi kota-kota kecamatan dan desa guna memberikan pelayanan kepada masyarakat. Memang jumlahnya masih terlampau sedikit untuk menjangkau wilayah Indramayu yang cukup luas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya lainnya, Pemda Indramayu juga mendirikan pos-pos baca. Kebijakan mendirikan pos-pos baca sampai tingkat desa ini, sejauh pengamatan penulis, agaknya belum dilakukan oleh pemda kabupaten lain di Jawa Barat. Kiat lainnya, secara proaktif Kang Yance juga terus berupaya mendekati kalangan dunia usaha swasta serta BUMN, khususnya yang ada di wilayahnya, untuk ikut serta membantu mendirikan rumah-rumah baca di wilayah Indramayu. Salah satu hasilnya, pada tanggal 1 Maret 2004 melalui PUKK-PKBL (Program Kemitraan Bina Lingkungan) PT Pertamina UP VI Balongan telah mendirikan sebuah rumah baca yang berlokasi di SDN Balongan III, tepatnya di Blok Kesambi, Desa/Kecamatan Balongan. Rumah baca tersebut dilengkapi komputer, jaringan internet, serta ribuan buku. Kemudian dalam upayanya membina minat baca masyarakatnya Bupati Yance juga bekerja sama dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, pers maupun LSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum banyak Di tengah gonjang-ganjing politik dan sosial serta keterpurukan ekonomi yang terus mendera bangsa, kebijakan yang dilakukan Bupati Yance dalam mendorong minat baca masyarakatnya lewat upaya nyata meningkatkan kuantitas maupun kualitas perpustakaan di daerahnya layak diberikan catatan tersendiri karena belum banyak pemda lain yang melakukannya. Padahal, banyak temuan hasil penelitian menyebutkan bahwa salah satu kendala terbesar yang kita hadapi dalam menumbuhkan minat baca (reading habit) di negeri ini, antara lain akibat masih sangat minimnya sarana perpustakaan yang tersedia di masyarakat. Sebagai gambaran, menurut data Perpustakaan Nasional, konon dari sekitar 70.000 desa dan 9.000 kecamatan yang ada di Indonesia, tak lebih dari setengah persen sudah memiliki perpustakaan standar. Adapun dari sekitar 316 kabupaten, baru 70 persen yang memiliki perpustakaan standar. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah? Ternyata masih belum beranjak dari kata memprihatinkan. Dari sekitar 200.000 SD, diperkirakan cuma satu persen saja yang memiliki perpustakaan standar. Sementara dari sekitar 70.000 unit SLTP, hanya 36 persen yang memiliki perpustakaan standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, dari sekitar 14.000 unit SLTA, hanya 54 persen saja yang mempunyai perpustakaan standar. Sementara di perguruan tinggi yang notabene merupakan centre of excellence, dari sekitar 4.000 perguruan tinggi yang kita miliki, hanya 60 persen saja yang memiliki perpustakaan standar. Sebagai gambaran, menurut data UNESCO misalnya, konon dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia yang belum bisa membaca atau dikategorikan illiterate jumlahnya masih sekitar 34,5 persen. Artinya, cuma 65,5 persen saja yang sudah melek huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jumlah tersebut sebagian besar dari mereka termasuk dalam kategori kelompok aliterate, yakni mereka bisa membaca, tetapi memilih untuk tidak menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari tradisi hidupnya. Sementara itu, masyarakat kita yang berkategori literate, yakni yang telah menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari kebudayaan hidupnya, menurut sebuah hasil penelitian, jumlahnya tidak sampai 10 persen dari populasi bangsa ini. Bandingkan misalnya dengan kondisi Malaysia, di mana jumlah masyarakat melek huruf yang mencapai 86,4 persen dan sudah berkategori literate telah mencapai 50 persen. Tidak sederhana Upaya menghadirkan minat baca seseorang, terlebih menjadikannya sebagai bagian dari tradisi masyarakat atau bangsa memang bukan persoalan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, sebagaimana dikemukakan dalam banyak literatur, faktor-faktor yang menggayuti minat baca ini memang cukup kompleks. Selain bergayut dengan aneka faktor psikologis, juga bergayut dengan faktor-faktor yang turut memengaruhi minat baca ini. Maka, pengupayaannya tidak dapat hanya bertumpu pada salah satu faktor saja dan mengabaikan faktor lainnya, misalnya hanya mengandal- kan institusi persekolahan formal belaka. Keluarga, masyarakat, dan terlebih pihak pemerintah mutlak dituntut peran sertanya secara nyata. Tanpa peran serta mereka, mengharapkan masyarakat dan bangsa ini berbudaya membaca hanya akan menjadi sebuah utopia saja. Kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Kang Yance merupakan contoh dari wujud peran pemerintah dimaksud. Apa yang dilakukan oleh Bupati Indramayu ini seyogianya dapat ditiru oleh para bupati atau wali kota di daerah-daerah lainnya dalam upaya mendorong minat dan kegemaran membaca masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHOLID A HARRAS Penulis dan pensyarah pada FPBS Universitas Pendidikan Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-1472143346523634588?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/1472143346523634588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=1472143346523634588' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1472143346523634588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1472143346523634588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/06/tumbuhkan-minat-baca-masyarakat.html' title='Tumbuhkan Minat Baca Masyarakat'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-7363356519366446625</id><published>2009-05-12T06:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T07:08:14.544-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAYAHBU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAYAHBU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAYAHBU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Normal (Web)"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} h1 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 1 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:1; 	font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Arial","sans-serif"; 	color:black; 	mso-font-kerning:0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold;} h4 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 4 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:4; 	font-size:14.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Arial","sans-serif"; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal; 	mso-bidi-font-style:italic;} h5 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 5 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:5; 	font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal;} p 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.Heading1Char 	{mso-style-name:"Heading 1 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 1"; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Arial","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Arial; 	mso-hansi-font-family:Arial; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	color:black; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold;} span.Heading4Char 	{mso-style-name:"Heading 4 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 4"; 	mso-ansi-font-size:14.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Arial","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Arial; 	mso-hansi-font-family:Arial; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal; 	mso-bidi-font-style:italic;} span.Heading5Char 	{mso-style-name:"Heading 5 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 5"; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:595.35pt 842.0pt; 	margin:85.05pt 70.9pt 89.6pt 85.05pt; 	mso-header-margin:0in; 	mso-footer-margin:0in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;h4 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;MEMBACA DAN TRADISI PENDIDIKAN KITA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:18;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h5&gt;&lt;h5 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kholid A.Harras&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Boleh jadi masih belum banyak masyarakat kita, termasuk dari kalangan para&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidik di negeri ini, yang mengetahui bahwa pada setiap tanggal 8 September telah ditetapkan oleh Unesco&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt; sebagai hari “Membaca Internasional” (&lt;i&gt;International Literacy Day&lt;/i&gt;). Padahal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pencanangan hari membaca internasional tersebut telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun lalu (tahun 2004 ini untuk yang ke-40 kalinya).Memang untuk peringatan hari membaca ini, jangankan yang levelnya internasional, bahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nasional saja (yang jatuh pada setiap tanggal 17 Mei), masih banyak masyarakat dan para pendidik kita yang tidak mengetahuinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;Di tengah gonjang-ganjing politik dan sosial serta keterpurukan ekonomi yang terus mendera bangsa saat ini, boleh jadi &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;bagi sebagian besar bangsa ini persoalan membaca atau literasi ini masih belum &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;dipandang sebagai masalah besar. Oleh karena itu harap maklum saja jika ekspos&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenainya nyaris tidak terdengar, termasuk dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalangan media massa. Padahal kalau kita membaca data-data ihwal bagaimana gambaran kemampuan dan minat membaca &lt;i&gt;(reading habit)&lt;/i&gt; dari bangsa ini sungguh sangat memprihatinkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;Menurut data Unesco misalnya, konon dari sekira 220 juta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penduduk Indonesia &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang belum bisa membaca atau dikatagorikan &lt;i&gt;illiterat&lt;/i&gt; jumlahnya masih sekira 34,5 persen. Artinya cuma 65,5 persen saja yang sudah mampu melek huruf.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari jumlah tersebut sebagian besar mereka termasuk ke dalam katagori kelompok &lt;i&gt;aliterat&lt;/i&gt;, yakni mereka bisa membaca tetapi memilih untuk tidak menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari tradisi hidupnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan masyarakat kita yang berkatagori &lt;i&gt;literat&lt;/i&gt;, yakni yang telah menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari kebudayaan hidupnya, menurut sebuah hasil penelitian, jumlahnya tidak sampai 10 persen dari populasi bangsa ini. Bandingkan misalnya dengan kondisi Malaysia, di mana jumlah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat yang sudah melek hurufnya telah mencapai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;86,4 persen yang sudah berkatagori literatnya telah mencapai 50 persen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Selain kondisi minat bacanya yang masih sangat memprihatinkan, kemampuan membaca dari para peserta didik kita juga juga pada umumnya masih sangat menyedihkan. Sebagaimana diinformasikan oleh hasil penelitian Tim &lt;i&gt;Program of International Student Assessment (PISA)&lt;/i&gt; Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;, 4/7 2003)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyebutkan bahwa kemampuan membaca anak-anak Indonesia yang berusia 15 tahun (SLTP/SMU/SMK) berada di urutan 39 dari 41 negara. Sekitar 37,6 persen dari mereka hanya bisa membaca saja tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan saja. Artinya, masih banyak anak-anak kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sesungguhnya tidak mempunyai bekal hidup untuk bisa belajar mandiri karena kemampuannya untuk menyerap pengetahuan melalui bahan bacaan masih sangat rendah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Tulisan ini akan menyoroti seputar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;minat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau budaya baca &lt;i&gt;(reading habit).&lt;/i&gt; Masalah yang ingin diurai adalah sejumlah hipotesis mengapa minat dan budaya baca bangsa ini masih juga belum beranjak dari kata “memprihatinkan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;color:black;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;color:black;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;color:black;"  lang="IN"&gt;Tentang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Minat Baca&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Harus diakui minat baca bagi sebagian besar bangsa kita masih merupakan sebuah persoalan. Aktivitas membaca buku serta berbagai jenis bacaan lainnya masih belum menjadi bagian dari budaya masyarakat negeri ini. Indikator&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang biasanya dijadikan tolok ukurnya antara lain rendahnya jumlah penerbitan buku yang dihasilkan oleh para penerbit serta sepinya masyarakat kita mengunjungi perpustakaan. Konon di negeri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berpenduduk hampir 2020 juta jiwa ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;setiap tahunnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya ada 12 judul baru untuk setiap sejuta penduduknya. Padahal di negara-negara berkembang lainnya sebanyak 55 judul. Sedangkan di negara-negara maju sebanyak 513 judul buku baru setahun untuk setiap sejuta penduduknya. Begitu pula dengan jumlah tiras surat kabar/majalah yang berhasil diterbitkannya, di negeri ini jumlahnya hanya untuk 2,8 persen dari penduduknya. Padahal menurut standar Unesco, di negara berkembang yakni sebanyak 10 persen dan di negara-negara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maju di atas 30 persen. Kemudian di negeri ini pun &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;sebuah buku terbitan domestik dengan tingkat penjualan di atas 75 ribu eksemplar dalam setahun, sudah dianggap larismanis alias buku dengan predikat &lt;i&gt;bestseller&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padahal di negara-negara lain ukurannya harus di atas jutaan eksemplar. Sebagai contoh misalnya buku-bukunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;J.K.Rawling. Konon bukunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terbit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada 21 Juni tahun lalu, &lt;i&gt;Harry Potter and the Order of the Phoenix&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cetakan perdana berjumlah 6,8 juta eksemplar!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Begitu pula dengan aktivitas bangsa ini dalam mengunjungi tempat-tempat galeri ilmu. Menurut Pimpinan Perpustakaan Nasional, Hernandono, konon jumlah penduduk Indonesia yang mau mengunjungi perpustakaan hanya satu persen saja. Memang harus diakui secara umum kondisi perpustakaan di negeri ini, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan sekolah masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat jauh dari memadai. Seorang teman dengan nada kelakar menggambarkannya “lebih luas gedung serta lebih banyak rak bukunya dibandingkan dengan jumlah buku yang dimilikinya”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Masih menurut data Perpusnas (&lt;i style=""&gt;Republika&lt;/i&gt;, 21 Mei 2000), konon dari sekitar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;70.000 desa dan 9.000 kecamatan yang ada di Indonesia, tak lebih dari setengah persen yang sudah memiliki perpustakaan standar. Sedangkan dari sekitar 316 Daerah Tingkat II yang memiliki baru 70 persen yang memiliki perpustakaan standar. Bagaiamana dengan perpustakaan sekolah? Ternyata masih belum beranjak dari kata memprihatinkan. Dari sekitar 200.000 jumlah SD kita, diperkirakan cuma satu persen yang memiliki perpustakaan standar. Sedangkan dari sekitar 70.000 unit SLTP, hanya 36 persen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memenuhi standar. Dan dari sekitar 14.000 unit SLTA, hanya 54 persen saja yang mempunyai perpustakaan standar. Sementara di perguruan tinggi yang &lt;i&gt;nota bene&lt;/i&gt; merupakan &lt;i&gt;centre of excelence&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari sekitar 4.000 PT yang kita miliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;60 persen saja yang memiliki perpustakaan standar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Sejumlah Hipotesis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;Ada sejumlah hipotesis yang kerap dimunculkan para pendidik serta pengamat ihwal rendahnya minat baca bangsa ini. Salah satunya misalnya menyatakan penyebab rendahnya minat baca bangsa ini karena tradisi kelisasnan &lt;i&gt;(orality)&lt;/i&gt; masih merupakan &lt;i&gt;bottle neck&lt;/i&gt; dalam kantong memori linguistik mereka. Seperti kita tahu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara historis-kultural masyarakat kita mengantongi warisan budaya lisan yang hampir memfosil. Hampir berabad-abad lamanya prilaku komunikasi masyarakat kita lebih banyak berlangsung dalam tataran lisan yang serba melisan (omong-dengar) ketimbang tradisi baca-tulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;Tradisi literasi sendiri konon baru dikenal secara terbatas oleh bangsa kita mulai sekitar paruh abad VIII, sebagai akibat persentuhannya dengan agama serta kebudayaan Hindu, Budha kemudian Islam. Itu pun hanya terbatas pada sekelompok kecil masyarakat tertentu, yakni pada kalngan elit istana serta kaum agamawan. Kemudian pada sekitar paruh abad XIX aktivitas baca-tulis tersebut mulai dikenal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(juga masih secara terbatas) pada sebagian besar masyarakat elit priyayi sebagai akibat didirikannya lembaga persekolahan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pengejawantahan dari &lt;i&gt;politic etic&lt;/i&gt;-nya. Kemudian baru setelah bangsa ini merdeka mendirikan persekolahan kegiatan membaca dan menulis mulai menyentuh secara lebih luas pada masyarakat umum.Namun belum lagi berkembang penuh dan merasuk budaya baca ini, sudah datang pula teknologi informasi baru yang lebih menggoda. Mulanya adalah radio, televisi, dan kini yang paling mutakhir adalah Internet. Akibat gempuran budaya ini meminjam istilah Taufik Abdullah, telah membuta corak baru tradisi lisan &lt;i style=""&gt;(new kind of orality), &lt;/i&gt;atau, dalam istilah Ignas Kleden, kelisanan sekunder &lt;i style=""&gt;(secondary orality). &lt;/i&gt;Dalam tradisi baru lisan atau kelisanan sekunder ini kemampuan baca dan tulis tidak begitu dibutuhkan lagi, karena sumber informasi lebih bersifat audio-visual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia mengalami lompatan dari kelisanan primer ke kelisanan sekunder, dengan melangkahi budaya baca-tulis. Karena corak lama tradisi lisan belum terkikis benar oleh budaya baca-tulis, maka tawaran corak baru tradisi lisan yang disuguhkan media informasi elektronik, utamanya televisi, jauh lebih "merangsang" dan memiliki daya tarik yang lebih kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;color:black;"   lang="IN"&gt;Jadi perkenalan masyarakat kita dengan kegiatan membaca dan menulis memang masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belum lama. Padahal untuk mengubah tradisi lisan menuju tradisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;literasi membutuhkan waktu yang lama. Konon masyarakat Eropa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membutuhkan waktu kurang lebih dua abad lamanya untuk mengubah masyarakatnya dari budaya lisan menuju budaya literasi, yakni dimulai dari jaman renesans yang kemudian dilanjutkan jaman industrialisasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Begitu pula dengan proses terbentuknya tradisi literasi masyarakat Jepang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;konon membutuhkan waktu hampir satu abad lamanya, yakni dimulai sejak pencangan Restorasi Meiji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Hipotesis lainnya –ini yang cukup menarik sekaligus ironis--&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penyebab rendahnya aktivitas litearsi masyarakat kita karena kehadiran lembaga-lembaga persekolahan formal kita yang seharusnya merupakan institusi penjebol dominasi tradisi lisan ternyata dalam praktiknya disinyalir justru berbalik menjadi penguat semakin suburnya tradisi tersebut. Dengan perkataan lain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sistem persekolahan kita masih belum berhasil membentuk masyarakat yang literat (berkebudayaan baca-tulis), tetapi baru sekedar mampu menghasilkan masyarakat yang aliterat, yakni masyarakat yang bisa membaca dan menulis, tetapi tidak menjadikan kedua hal itu sebagai bagian dari tradsi hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Mengapa gambarannya paradok semacam itu? Ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Pertama, dunia persekolahan kita dianggap masih belum memberikan peluang yang cukup bagi hadirnya tradisi literasi. Sebagaimana kita ketahui hampier semua aktivitas para peserta didik kita bersekolah dari mulai TK hingga PT semuanya nyaris berjalanan dalam bentangan kelisasnan. Interaksi maupun proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh para guru di dalam kelas misalnya, pada umumnya lebih banyak berlangsung dalam tataran yang serba melisan( guru bicara dan siswa atau mahasiswa menyimak) tinimbang dalam tataran keberaksaraan. Masih sangat sedikit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru yang secara sungguh-sungguh menjadikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aktivitas membaca&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buku dan menulis sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sumber acuan atau sebagai frame of reference pembelajarannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Sehubungan dengan kondisi tersebut kembali ada sebuah anekdot yang mengatakan bahwa untuk dapat sukses belajar di lembaga-lembaga pendidikan ini, termasuk di PT sekalipun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak usah si murid atau mahasiswa memiliki kemahiran membaca yang mumpuni serta banyak membaca, apalagi memiliki banyak buku. Tetapi cukup rajin datang ke sekolah atau kampus kemudian menjadi pendengar yang baik saja. Sebab bukankah transfer ilmu yang dilakukan oleh sang guru atau dosen pun bukan bersumber dari dari buku melainkan dari omongan-omongannya yang disampaikan secara lisan? Jadi dengarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saja baik-baik semua yang diomongkan oleh guru atau dosen tersebut, pasti tidak akan jauh dari sekitar yang diomongkannya di dalam kelas itulah hal-hal yang akan ditanyakannya ketika ujian. Selain itu untuk menjawab soal-soal ujian pun juga tidak harus banyak membaca. Sebab bukankah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jenis soal-soal yang diberikan pun pada umumnya lebih banyak berupa pilihan ganda &lt;i&gt;(multiple choice)&lt;/i&gt; yang alternatif jawaban-jawabannya sudah tersedia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: arial;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: arial;font-size:100%;"  lang="IN"&gt;Sejauh mana kebenaran dari hipotesis-hipotesis tersebut, tentunya masih harus dibuktikan lewat penelitian. Yang pasti, upaya menghadirkan minat baca seseorang, terlebih menjadikannya sebagai bagian dari tradisi masyarakat atau bangsa memang bukan persoalan sederhana. Sebab sebagaimana dikemukakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam banyak literatur, faktor-faktor yang menggayuti minat membaca ini memang cukup kompleks. Selain berhubungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan faktor-faktor psikologis, juga bergayut dengan faktor-faktor sosiologis, bahkan politis. Oleh karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kompleksnya faktor-faktor yang turut mempengaruhi minat baca ini, maka pengupayaannya tidak dapat hanya bertumpu pada salah satu faktor saja dan mengupayakan faktor lainnya. Misalnya hanya mengandalkan instutusi persekolahan formal atau pada pemerintah saja. Keluarga dan masyarakat juga mutlak dituntut peran sertanya. Tanpa peran serta mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengharapkan masyarakat dan bangsa ini berbudaya membaca hanya akan menjadi sebuah utopia saja.****&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-7363356519366446625?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/7363356519366446625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=7363356519366446625' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7363356519366446625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7363356519366446625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-1467512754697677595</id><published>2009-04-28T09:21:00.000-07:00</published><updated>2009-04-28T09:28:39.183-07:00</updated><title type='text'>KOMIK: ANTARA MANFAAT &amp; MADHARAT</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KOMIK: ANTARA MANFAAT DAN MADARAT  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh Kholid A.Harras&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hingga saat ini di mata sebagian besar orang tua, para pendidik, serta  kaum moralis kita,  jenis bacaan berbentuk komik tampaknya masih dianggap sebangun dengan  buku-buku roman picisan; sebuah  bacaan yang dinilai lebih banyak mendatangkan  madarat tinimbang manfaat. Oleh karenanya,  tidak heran jika  kebanyakan  mereka bukan hanya akan menunjukan sikap yang kurang bersahabat  terhadap jenis bacaan ini. Mereka  akan berupaya sekuat daya menjauhkannya dari jangkauan anak-anaknya atau peserta didiknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di  lingkungan keluarga misalnya, banyak orang tua yang  akan  menghardik anak-anaknya yang ketahuan membaca, apalagi sampai menjadi kolektor bacaan komik. Sedangkan di lingkungan sekolah banyak para guru tak segan-segan akan  melakukan perampasan  terhadap siswanya yang kedapatan membawa jenis bacaan ini ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengenai bagaimana perlakuan protektif sekolah terhadap bacaan komik, ada cerita yang cukup tragik seperti ini.  Seorang rekan penulis  yang bertugas di salah satu SLTP di Bandung mengatakan bahwa salah satu cara untuk menseterilkan lingkungan sekolah tempat dia bertugas  dari jenis  bacaan cerita bergambar ini, Kepala Sekolahnya kerap menugasi para guru  untuk melakukan razia  tas sekolah  para siswa. Mereka yang ketahuan membawa buku komik, selain bukunya disita  juga orang tua siswa tersebut akan dipanggil  pihak sekolah  untuk diberikan peringatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Marcel Bonneff (1998), seorang peneliti komik Indonesia asal Perancis, sejak pertama  kemunculannya  komik  memang telah menjadi sasaran kritik dan tundingan  para orang tua serta  ahli-ahli pendidikan. Salah satu alasannya,  karena  komik dianggap sebagai jenis bacaan yang tidak memberikan  nilai-nilai  pendidikan serta  gagasan-gagasan yang ada di dalamnya dianggap dapat membahayakan perkembangan para pembacanya. Selain itu bacaan komik juga kerap dituduh mengganggu kegiatan belajar anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain alasan-alasan di atas, karakteristik komik  yang lebih banyak didominasi oleh unsur visual (gambar)  tinimbang unsur teks naratif, --sehingga dinilai sebagai bacaan yang kurang memberi tantangan pada pengembangan daya imajinasi/fantasi kepada para pembacanya yang  kebanyakan anak-anak--  juga  dijadikan  hujah oleh mereka yang bersikap protektif terhadapnya. Begitu pula tindakan yang digambarkan dalam sebagian komik yang  menampilkan adegan-adegan agresif (keras dan brutal), bahkan tidak jarang  mempertontonkan hal-hal yang porno atau tabu -- sehingga kerap menyertakan ragam bahasa yang naif dan kotor (seperti sumpah-serapah, makian, hujatan  atau kata-kata keji lainnya) --  menurut mereka dianggap potensial merangsang anak untuk menirunya. Sebagai catatan, atas dasar asumsi semua jalan ceritanya dianggap  “baik”, di masa lalu  semua buku   komik harus mendapatkan rekomendasi dari pihak Seksi Bina Budaya POLRI. Keterangan rekomendasi tersebut umumnya dicantumkan pada bagian sampul dalam atau pada salah satu gambarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fenomena persepsi negatif dan sikap memusuhi komik yang dilakukan oleh para orang tua dan para pendidik kita sebenarnya bukan hanya terjadi  di negara kita saja. Menurut  Marcel Bonneff, antara tahun 1950-an hingga 1960-an di Perancis sendiri –sebuah negara yang saat ini telah menjadi kiblat perkomikan dunia-- fenomena semacam itu pernah menggenjala. Dan baru sekitar tahun 1970-an setelah sejumlah  lembaga, seperti Societe d’ Etude et de Recherches des Litteratures dessinees (Masyarakat Pengkaji dan Peneliti Sastra Bergambar) melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan membela keberadaannya serta beberapa pihak universitas menyelenggarakan kuliah “Sejarah dan Estetika Komik”, keberadaan komik mendapat tempat yang layak, baik di lingkungan para akademisi  maupun  masyarakat Perancis pada umumnya..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Gambaran  buruk terhadap pengaruh bacaan komik tentu saja tidak semuanya disepakati oleh para pakar. Cukup banyak  di antaranya yang  menilai komik bukan merupakan bacaan yang membahayakan sehingga harus dijauhkan dari anak-anak. Seperti dinyatakan oleh psikolog Heny Supolo Sitepu (Media Indonesia, 24 Januari 1998), komik tidak berbahaya dan tidak merusak minat baca anak-anak. Bahkan sebaliknya, menurutnya komik dapat memperkaya kecerdasan visual serta mengembangkan daya imajinasi  mereka. Heny memberikan ilustrasi,  ketika seorang anak tengah membaca komik dia  tidak hanya melihat gambaran visualnya atau  teksnya saja, tetapi juga dia memperhatikan detil gambarnya. Misalnya bagaimana karakter dan mimik dari para tokohnya, latar belakang gambar dan jalan ceritanya dan seterusnya.. Hal-hal tersebut, menurut Heny, dapat  memperkaya pengetahuan dan mendorong anak-anak belajar mencocokan antara  latar belakang  dengan kejadian yang dipaparkan dalam cerita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pendapat senada Heny juga dikemukakan oleh Rahayu S.Hidayat, ketua Lembaga Kajian Komik Indonesia. (Media Indonesia, 24 Januari 1998). Menurut salah seorang staf pengajar pada Fakultas Sastra UI ini, walau bagaimanapun komik, karena keunggulan visualnya serta tokoh-tokohnya cenderung menghibur, merupakan  dunia yang lekat dengan anak-anak. Sejauh diperlakukan dalam batas-batas yang wajar, komik sebenarnya cukup positif dalam  menumbuhkan minat membaca pada anak-anak, khususnya pada anak-anak yang belum dapat membaca huruf atau usia pra sekolah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitu pula pendapat Seto Mulyadi (Femina  No.29/XXIII 27 Juli-2 Agustus 1995). Menurutnya, bagi anak-anak yang belum dapat membaca di mana pada umumnya imajinasi mereka masih sangat terbatas, bacaan komik akan dapat membantu memvisualisasikan imajinasi mereka itu. Kak Seto juga menambahkan bagi anak-anak usia belajar dan tengah dalam perkembangan mental dan intelegensia serta kreativitasnya, membaca komik, seperti halnya menonton televisi, jika dilakukan  dengan kadar secukupnya  dan dengan fungsi sekedar untuk hiburan atau syukur jika untuk memperoleh informasi, sesungguhnya tidak usah begitu dikhawatirkan.  Meskipun demikian psikolog yang dikenal dekat dengan dunia anak ini  buru-buru menambahkan bahwa sebaiknya begitu anak dianggap lancar membaca, orang tua sebaiknya mulai memperkenalkan  mereka pada buku teks (termasuk buku cerita), kemudian perlahan-lahan mulai ‘menyapih’-nya dari buku-buku bergambar atau komik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengenai bahasa yang digunakan dalam komik, Marcel Bonneff memberi catatan bahwa sesungguhnya bahasa komik sangat bervariasi dan kaya, karena  memiliki sejumlah  fungsi khas yang tidak terdapat dalam jenis bacaan non-komik. Pertama, fungsi bahasa unntuk memberikan komentar lakuan (action). Kedua, fungsi bahasa dalam dialog yang repliknya  ditempatkan dalam balon (atau di samping), yang mengungkapkan  sekaligus monolog batin. Ketiga  fungsi bahasa untuk  mengungkapkan perasaan (interjection), yang juga ditaruh dalam  balon yang terkadang seperti gelembung meledak. Kemudian keempat  fungsi bunyi-bunyian. Dengan demikian dengan  membaca komik  secara tidak disadari anak akan dikenalkan dengan aneka fungsi bahasa atau  bentuk-bentuk kalimat (kalimat langsung-tidak langsung, kalimat berita, kalimat tanya dan sejenisnya).   &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain sebagai alat penyebaran bahasa Indonesia Bahasa Indonesia komik mempunyai peranan yang positif dalam mengembangkan kebiasaan membaca. Bahkan ujar  Bonneff, bagi anak-anak yang putus sekolah, komik merupakan wahana utama untuk tetap berhubungan dengan bahasa tulis. Berdasarkan hal-hal yang disebutkan tersebut peneliti komik ini merekomendasikan bahwasanya buku- buku  bacaan  komik  bukan hanya baik untuk dibaca oleh anak-anak pra sekolah tetapi juga dapat menjadi  salah satu media pengajaran  yang efektif yang dapat digunakan oleh para guru bahasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari uraian di atas tampaklah  betapa hingga saat ini  keberadaan bacaan komik, khususnya yang menyangkut dampak yang ditimbulkan  pada pembacanya, masih menjadi sebuah perdebatan. Persoalannya sekarang sebagai orang tua atau pendidik  ke kubu manakah kita seharusnya berpihak? Pilihannya tentu akan berpulang pada diri kita masing-masing. Meskipun demikian sebelum  kita menentukan sikap ada baiknya  jika kita mempertimbangkan realitas  berikut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut informasi masyarakat Jepang yang terkenal sangat hobi membaca itu pada umumnya adalah penggemar berat bacaan komik. Saking gandrungnya masyarakat negeri Sakura ini terhadap jenis bacaan ini hingga  hampir 50% industri perbukuan mereka dikuasai oleh buku-buku berjenis komik. Bahkan saat ini ada semacam  kecenderungan baru dalam industri perbukuan di negeri ini, semua hal yang menyangkut kehidupan mereka, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik  hingga petunjuk cara masak-memasak dibuat dalam bentuk  buku komik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buku-buku serial komik semacam Doraemon, Sailor Moon, Dragon Ball, Candy-Candy, atau Krayon Sinchan yang saat ini sudah diterjemahkan  dalam berbagai bahasa serta telah dibuatkan serial animasinya, di Jepang bukan hanya digemari oleh kalangan anak-anak tetapi juga oleh para orang dewasanya. Bahkan mengenai serial komik Krayon Sinchan yang saat ini ramai  dipersoalkan oleh masyarakat kita karena dianggap adegan-adegannya dinilai banyak  yang vulgar serta menjurus ke arah pornografi, walaupun tokoh utamanya anak-anak, namun sejatinya di Jepang sendiri komik tersebut merupakan  komiknya kalangan orang dewasa. Jadi seperti serial kartun Burt Simpson, walaupun salah satu tokohnya anak-anak tetapi serial tersebut sesungguhnya bukan diperuntukkan untuk kalangan anak-anak, setidaknya yang kurang dari  usia 12 tahun.  Dengan demikian  wajar saja jika di dalam serial Krayon Sinchan  terdapat sejumlah adegan yang  ramai diributkan itu,  serta  salah kita sendiri jika serial animasinya disuguhkan kepada anak-anak.  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian, seperti dilaporkan  dalam buku Jepang Dewasa Ini (1996), di negara tersebut terdapat sebuah majalah mingguan komik yang mempunyai sirkulasi sebanyak 4 juta eksemplar  lebih  setiap kali terbit. Dan yang cukup mencengangkan, mereka yang menginginkannya harus pesan terlebih dahulu kepada para agen atau toko buku. Kegandrungan anak-anak Jepang melahap jenis bacaan komik  ternyata tidak membuat  mereka menjadi rusak minat bacanya atau terganggu aktivitas belajarnya. Setidaknya hingga setakat ini penulis belum menemukan hasil-hasil penelitian yang menyatakan hal  yang dikhawatirkan itu. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sementara di Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Dian Rohaeni lewat skripsinya yang berjudul “Bacaan Anak-anak Bercorak Komik: Analisis Deskriptif atas Minat Baca Anak-anak pada Komik Elex Media Komputindo” (FSUI,1995), antara lain menyatakan sebanyak 91,5 % dari responden penelitiannya (100 anak-anak)  dapat dikatagorikan  sebagai  kelompok komik-mania  atau  penggemar berat bacaan komik. Dan yang lebih penting lagi  Dian Rohaeni juga tidak menemukan  fakta bahwa anak-anak yang menggemari jenis bacaan komik  tersebut hancur minat bacanya terhadap bacaan non-komik. Kegemaran mereka membaca komik umumnya beriringan dengan kegemaran membaca buku-buku non-komik, termasuk buku-buku pelajaran. Kemudian aktivitas belajar anak-anak penggemar bacaan komik tersebut juga  sama sekali  tidak terganggu, apalagi menjadi  amburadul  karenanya. ****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-1467512754697677595?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/1467512754697677595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=1467512754697677595' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1467512754697677595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/1467512754697677595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/04/komik-antara-manfaat-madharat.html' title='KOMIK: ANTARA MANFAAT &amp; MADHARAT'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-8254642502474325668</id><published>2009-04-10T01:59:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T02:08:05.201-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>MENYOAL KESANTUNAN BERBAHASA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;MENYOAL KESANTUNAN BERBAHASA&lt;br /&gt; POLITISI KITA&lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesantunan berbahasa para anggota DPR kembali menjadi sorotan publik. Seperti diberitakan sejumlah media massa, dalam rapat dengar antara Komisi VII DPR dan jajaran direksi baru Pertamina, 10 Februari 2009 lalu, salah seorang anggota Komisi VII DPR,  Effendi MS Simbolon, melontarkan pernyataan  yang dinilai sangat jumawa serta melanggar etika dalam sebuah komunikasi politik. Dalam rapat dengarpendapat tersebut politisi dari fraksi PDIP itu mengatakan bahwa Dirut  Pertamina, Karen Agustiawan, masih perlu belajar, belum saatnya menjabat posisi tersebut. Selain itu Effendi Simbolon juga menyetarakan direksi Pertamina tersebut dengan Satpam. Tentu saja Karen amat terpukul dengan pernyataan yang dianggap telah melecehkan dirinya itu. Matanya berkaca- kaca ketika meninggalkan ruang sidang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun tahun yang lalu (17/2 2005),  kejadian yang mirip  dialami oleh  jajaran direksi Pertamina tersebut juga terjadi pada jajaran Kejaksaan Agung. Dalam rapat gabungan Komisi II dan III dengan jajaran Kejakgung berlangsung cukup “panas” dan tegang,  serta  akhirnya tidak bisa dilanjutkan. Gara-garanya  salah seorang anggota Komisi III, Anhar SE, melontarkan ungkapan yang dinilai menyinggung jajaran korp adhiyaksa tersebut, yakni “ustaz di kampung maling' terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh pihak kejaksaan. Karuan saja pentamsilan Anhar,S.E tersebut telah membuat jajaran kajati yang ikut serta dalam rapat tersebut tersinggung berat.  Dalam rapat dengar pendapat itu Kajati Aceh, Andi Amir Ahmad, diusir oleh Teras Narang yang mernjadi pimpinan sidang saat itu karena dinilai telah bereaksi berlebihan. Untuk meredakan ketegangan, akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak melanjutkannya.&lt;br /&gt;                                                   ***&lt;br /&gt;Dalam konteks negara demokrasi terjadinya perdebatan “panas”  di dalam gedung  DPR/MPR serta DPRD,sesungguhnya merupakan sesuatu yang sah dan wajar.Terlebih jika substansinya menyangkut hajat hidup masyarakat banyak, maka perdebatan yang panas semacam itu merupakan sebuah keharusan. Namun  dalam banyak kasus, sayangnya pemicu terjadinya berbagai perdebatan panas tersebut bukan karena persoalan substansi, tetapi lebih dikarenakan akibat mereka tidak tertib dalam menggunakan bahasa serta  kurang piawai dalam beretorika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mungkin masih segar dalam ingatan kita saat Gus Dur menjadi presiden. Ketika itu  banyak anggota DPR/MPR yang merasa tersinggung berat gara-gara Gus Dur dinilai  banyak melontarkan ungkapan-ungkapan yang tidak sepantasnya keluar dari mulut seorang presiden. Misalnya, karena Gus Dur menilai anggota DPR terlalu banyak omong yang tidak perlu dan ribut terus,  lantas menyatakan “anggota DPR kok seperti  taman kanak-kanak”. Atau ungkapan khasnya  “begitu saja kok repot” saat menanggapi berbagai persoalan krusial bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tentu saja dalam konteks sebuah transaksi  komunikasi formal yang memiliki  derajat hubungan institusi kesetaraan (eksekutif-legislatif) ungkapan-ungkapan Gus Dur  terhadap anggota DPR/MPR semacam itu  telah melanggar rambu-rambu fatsoen berkomunikasi. Atau dalam  kajian pragmatik bahasa,  pernyataan semacam itu  dianggap  telah melanggar sejumlah maksim kerjasama dan maksim kesantunan. Begitu pula dalam melihat ketersinggungan jajaran direksi Pertamina terhadap pernyataan Effendi Simbolon tersebut sesungguhnya dapat dijelaskan dengan menggunakan pisau analisis pragmatik  kerjasama dan kesantunan yang akan diuraikan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip Kerjasama dan Kesantunan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam melakukan transaksi komunikasi dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya,  agar hal itu dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan sasaran yang dituju maka bahasa yang digunakan haruslah tertib. Secara  sederhana penggunaan bahasa yang tertib ditandai serta direalisasikan lewat ketepatan penerapan dua hal. Pertama,  ketepatan penerapan berbagai kaidah bahasa sebagai sistem simbol, yang mencakup bidang fonologi, gramatikal,  leksikal, dan semantik Kedua, ketepatan penerapan berbagai kaidah penggunaan satuan lingual dalam praktik komunikasi, yang  dalam kajian pragmatik, menyangkut prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan. Ibarat dua sisi dari sekeping mata uang dalam praktiknya antara kedua kaidah tersebut tidak bisa dipisahkan, sebaliknya   saling baku peran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Grice (1975) mengemukakan bahwa prinsip kerja sama dalam penggunaan bahasa yang tertib itu  direalisasikan dengan memperhatikan empat maksim, yaitu maksim kuantitas,  maksim kualitas,  maksim relevansi, dan maksim cara. Penjelasan masing-masing maksim tersebut sebagai berikut. Maksim kuantitas menghendaki agar dalam melakukan tindak tutur, setiap partisipan memberikan informasi yang cukup, yakni sebanyak yang diperlukan oleh  mitra tuturnya.  Maksim kualitas mengikat setiap partisipan untuk menyampaikan hal yang benar kepada mitra tuturnya.  Maksim relevansi mengikat setiap partisipan memberikan kontribusi (informasi) yang relevan dengan hal atau topik yang sedang dibicarakan. Maksim cara mengikat setiap partisipan untuk mengungkapkan informasi secara benar, langsung, tidak kabur, tidak taksa, dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan penggunaan bahasa yang tertib dari segi kesantunan dapat ditandai dengan menggunakan teori “nosi muka” (face notion).  Istilah “muka” ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog sosial, Goffman (1967). Dia  mengatakan bahwa  muka itu rawan terhadap ancaman muka. Kerena itu, setiap orang yang terlibat dalam sebuah transaksi komunikasi, wajib menjaga muka mitra tuturnya untuk menghindari akibat kehilangan muka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Gagasan Goffman ini kemudian mempengaruhi pemikiran yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson (1978, 1987) yang menyatakan bahwa untuk melakukan transaksi komunikasi yang santun, setiap orang harus memperhatikan dua jenis keinginan dan dua jenis muka yang dimiliki oleh setiap orang yang terlibat dalam transaksi dimaksud, yaitu keinginan positif dan keinginan negatif, sebagai realisasi dari kepemilikan muka positif dan muka  negatif.  Oleh karena itu, ada sejumlah strategi yang harus diperhatikan agar kedua muka  dan keinginan tersebut tidak terganggu atau mengalami keterancaman  muka. Adapun hal yang harus dijadikan pertimbangan, yakni  jarak sosial antara penutur dan mitra tutur, besaran kekuasaan antara penutur dan mitra tutur, dan status relatif jenis tindak tutur yang dilakukan penutur dalam budaya komunikasi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Leech (1982) prinsip kesantunan itu direalisasikan melalaui enam maksim,  yakni  maksim kearifan,  maksim kedermawanan,  maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Adapun penjelasan maksim-maksim tersebut yakni sebagai berikut.Maksim kearifan mengikat partisipan untuk meminimalkan kerugian bagi orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain.  Maksim kedermawanan mengikat partisipan untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri dan meminimalkan kerugian bagi orang lain. Maksim pujian mengikat partisipan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Maksim kerendahan hati mengikat partisipan untuk memaksimalkan ketidakhormatan kepada diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat kepada diri sendiri. Maksim kesepakatan mengikat setiap partisipan untuk memaksimalkan kesepakatan antarpartisipan dan meminimalkan ketidaksepakatan antarpartisipan. Maksim simpati mengikat partisipan untuk memaksimalkan  rasa simpati dan meminimalkan  rasa antipati terhadap mitra tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam melakukan setiap transaksi komunikasi, baik dalam posisi sebagai petur maupun mitra tutur hendaknya memperhatikan betul prinsip-prinsip maksim di atas. Sebab jika dilanggar maka dapat dipastikan akan menimbulkan terjadinya ketidakharmonisan komunikasi, bahkan kegagalan komunikasi  dengan berbagai dampak buruknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai contoh analisis kasus misalnya. Ungkapan yang dikemukakan oleh Anhar terhadap Jaksa Agung Abdurahman Saleh  yang berbunyi, ''Jangan sampai  Saudara Jaksa Agung  menjadi ustaz di kampung maling'', antara lain dapat dinilai telah melanggar prinsip kerjasama pada maksim cara, di mana menurut maksim ini  mengharuskan  setiap partisipan dalam transaksi komunikasi untuk mengungkapkan informasi secara benar, langsung, tidak kabur, tidak taksa, dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penggunaan istilah  “ustaz” yang memiliki medan semantik dan citra positif  yang  dihadapkan secara berlawanan dengan   istilah  “kampung maling”  yang memiliki medan semantik dan citra negatif oleh Anhar terhadap sosok   Abdurahman Saleh,  selain  telah menjadikan substansi pesan informasi yang ingin disampaikannya menjadi kabur tetapi juga taksa alias menimbulkan  berbagai penafsiran. Selain itu  dalam konteks hubungan komunikasi institusi yang memiliki derajat kesetaraan kedua istilah tersebut  dapat dirasakan sebagai  hal yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan pada prinsip kesantunan  ungkapan Anhar semacam itu dipandang telah melanggar maksim pujian, di mana menurut maksim ini  mengikat partisipan untuk memaksimumkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimumkan rasa tidak hormat kepada orang lain, serta maksim simpati yang mengikat partisipan untuk memaksimalkan  rasa simpati dan meminimalkan rasa antipati terhadap mitra tuturnya.  Dengan menggunakan istilah “ustaz’ dan “kampung maling” sebagai petutur Anhar dinilai telah mengakibatkan Abdurahman saleh dan teman-temannya  sebagai mitranya  tuturnya yang nota bene memiliki jarak sosial, besaran kekuasaan serta status  yang seharusnya sama dalam budaya komunikasi tersebut (karena  yang satu mewakili institusi DPR dan yang satu mewakili institusi pemerintah) merasa terancam kehilangan muka. Ingat bahwa rapat kerja tersebut diliput oleh ratusan wartawan dan disiarkan secara langsung oleh sebuah stasiun TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesantunan dalam masyarakat Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lewat penelitian disertasinya Aminudin Aziz  (2000), mencoba merumuskan prinsip kesantunan berbahasa dalam masyarakat Indonesia  yang dia sebut dengan ‘The Principle of Mutual Consideration’ (PMC) atau Prinsip Saling Tenggang Rasa. Prinsip PMC ini  dalam transaksi komunikasi menuntut penutur dan mitra tutur untuk menaati dan bertindak dalam kerangka norma kepatutan. Artinya, dalam transaksi komunikasi setiap orang harus menempatkan diri dalam posisinya masing-masing secara benar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Prinsip PMC ini  beroperasi melalui sejumlah nilai dan sub-prinsip. Pertama, prinsip “daya luka  dan daya sanjung”. Artinya, sebuah ekspresi bahasa memiliki potensi bahwa ia akan mampu membuat seseorang merasa terlukai atau  sebaliknya tersanjung dibahagiakan. Oleh karena itu berhati-hatilah ketika kita menggunakan bahasa kepada orang lain, termasuk tentu saja dalam menggunakan tata istilahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedua, prinsip “berbagi rasa”. Artinya, mitra tutur kita memiliki perasaan sebagaimana layaknya kita sendiri. Oleh karena itu ketika bertutur menggunakan ekspresi bahasa, pertimbangkanlah perasaan mitra tutur itu sebagaimana layaknya kita mempertimbangkan perasaan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketiga, prinsip “kesan pertama”. Artinya, penilaian mitra tutur kita terhadap tingkat kesantunan berbahasa kita pada dasarnya ditentukan oleh kesan pertama yang dia dapatkan tentang prilaku berbahasa kita ketika dia berkomunikasi dengan kita untuk pertama kalinya. Oleh karena itu, tunjukkanlah bahwa kita punya niat baik untuk bekerjasama dan berkomuniksi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keempat, prinsip “keberlanjutan”. Artinya, keberlanjutan hubungan kita dengan mitra tutur pada masa yang akan datang, pada dasarnya ditentukan oleh cara kita bertransaksi melalui komunikasi pada saat ini. Oleh karena itu upayakan agar kita bisa membangun rasa saling percaya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika Prinsip PMC digunakan sebagai pisau analisis dalam membedah kasus  ungkapan  “ustaz di kampung maling’ di atas, maka  sebagai petutur Anhar dianggap telah melanggar hampir semua prinsip tersebut terhadap mitra tuturnya, yakni Jaksa Agung Abdurahman Saleh beserta jajarannya. Oleh karena itu wajar jika pada akhirnya transaksi komunikasi yang kemudian berlangsung mengalami ketidakharmonisan. Bahkan memunculkan reaksi-reaksi balik yang cukup keras, sebagaimana diperlihatkan oleh Jaksa Agung Muda Pengawasan, Ahmad Lopa, dan Kajati Aceh, Andi Amir Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Aminudin Aziz, atas dasar nilai-nilai dan sub-prinsip tersebut  supaya transaksi komunikasi berjalan dalam koridor kesantunan berbahasa, baik petutur maupun mitra tutur  disarankan  agar memperhatinkan kedua prinsip berikut. Pertama, terhadap mitra tutur kita, pergunakanlah bahasa yang kita  sendiri pasti akan senang mendengarnya apabila bahasa itu digunakan orang lain kepada kita; dan sebaliknya. Kedua, terhadap mitra tutur kita, janganlah menggunakan bahasa yang kita  sendiri pasti tidak akan menyukainya apabila bahasa tersebut digunakan orang lain kepada kita.&lt;br /&gt;                                                 ***&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui  bersama, fungsi bahasa bukan hanya sebatas alat penyampai pesan semata, tetapi bahasa juga merupakan alat berfikir, alat bernalar, alat berasa, dan bahkan alat berbudaya. Dengan demikian bahasa yang digunakan oleh seseorang sesungguhnya akan mencerminkan kemampuannya dalam befikir, bernalar, berasa, serta berbudaya. Artinya pula,  bahasa yang digunakan seseorang sesungguhnya dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengukur sejauh mana tingkat kecendikiaan dan tingkat keberadaban dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;alam tataran praktik komunikasi kecendikiaan dan keberadaban tersebut antara lain ditandai lewat penggunakan bahasa yang tertib. Sedangkan berbahasa  yang tertib itu bukan hanya harus merujuk atau sesuai dengan kaidah-kaidah linguistik sebagai sistem simbol semata, tetapi juga harus merujuk dan sesuai dengan kaidah kaidah prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan sebagaimana telah diurai di atas. Nah  oleh karena itu wahai para  para elit politik negeri ini,  karena Anda semua adalah orang-orang pilihan sekaligus  memiliki tingkat kecendikiaan dan keberadaban yang mumpuni,  maka dalam melakukan transaksi komunikasi gunakanlah bahasa yang tertib.  Dan jika Anda belum (tidak?)  mampu menggunakan bahasa yang semacam itu, bersikap diam itu jauh lebih baik. Demikian  kata sebuah hadist nabi ***&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;                                           (Penulis pensyarah di FPBS Universitas Pendidikan Indonesia) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-8254642502474325668?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/8254642502474325668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=8254642502474325668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8254642502474325668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8254642502474325668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/04/menyoal-kesantunan-berbahasa.html' title='MENYOAL KESANTUNAN BERBAHASA'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-2883444898972383560</id><published>2009-03-23T03:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T03:57:27.467-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'></title><content type='html'>Renungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; MELEPAS KEPERGIAN RAMADHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebanyakan kita yang pada umumnya merasa gembira serta menampakkan wajah sumringah saat menghadapi hari-hari terakhir Ramadhan, syahdan apa yang diperlihatkan oleh para sahabat Rasulullah justru sebaliknya. Di saat-saat semacam itu justru mereka pada umumnya akan lebih banyak menunjukkan wajah yang sedih serta hati yang gundah-gulana. Mengapa? Berikut antara lain yang menjadi alasan-alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mereka agaknya sungguh memahami dan menghayati benar serta benar-benar memahami dan menghayati atas sejumlah kekayaan kandungan hikmah bulan tersebut dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Seperti kita tahu Ramadhan bukan hanya merupakan bulan yang penuh dengan taburan hikmah, berkah, serta rahmat dan ampunan-Nya, tetapi ia juga merupakan hari-hari di mana Allah melipatgandakan nilai pahala bagi setiap kebajikan yang dilakukan serta menyediakan sebuah malam keberkahan (laitul qadr) yang nilainya lebih utama dibandingkan dengan seribu bulan. Nah, jika bulan yang sarat dengan keunggulan tersebut kini akan segera meninggalkannya ?padahal di tahun depan tidak ada jaminan sama sekali dari Allah apakah mereka masih diberi kesempatan untuk menikmatinya lagi-- wajarlah jika mereka menanggung kesedihan hati yang dalam. Oleh karena itu bagaikan orang yang masih dilanda rasa lapar dan di hadapannya tersedia semua makanan dan minuman yang lezat dan enak namun waktu yang&lt;br /&gt;diberikan untuk menikmatinya tinggal beberapa menit lagi, di sisa-sisa penghujung Ramadhan dengan penuh kesungguhan mereka akan berusaha sekuat daya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amaliyah ibadahnya. Seperti dalam hal tadarus Al-Quran, qiyamulail, serta bagi mereka yang mampu dalam mengeluarkan infak, sadaqah, serta menyantuni fakir-miskin. Selain itu, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw., pada sepuluh hari terakhir mereka akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan i?tikaf di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penyebab kesedihan serta kegundahgulanaan mereka karena khawatir andai seluruh bentuk amaliyah Ramadhannya tidak ada nilainya dalam pandangan Allah. Kualitas shaum mereka khawatir sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah hanyalah sekadar beroleh ?rasa haus dan lapar saja?. Begitu pula tadarus Al-Quran, qiyamulail, infak-sodaqohnya, mereka cemas --karena misalnya tercemari oleh unsur-unsur riya, takabur, dan sombong-- tidak ada nilainya sama sekali di mata Allah. Mereka sadar betul seandainya hal- hal yang sedemikian itu menghinggapi mereka, maka madrasah Ramadhan yang bertujuan untuk membentuk manusia taqwa sebagaimana yang dikehendaki dalam surat Al-Baqarah 183 pastilah akan jauh dari jangkauan Atas dasar kedua alasan di atas, syahdan pada setiap malam penghabisan Ramadhan Ali bin Abi Thalib r.a. sambil menampakkan wajah yang cemas serta berlinangan air mata menyampaikan pertanyaan-pernyata an retoris seperti ini: ?Wahai dapatkah kiranya aku mengetahui siapakah&lt;br /&gt;gerangan orang yang telah pasti diterima amalan puasanya, supaya aku dapat mengucapkan selamat berbahagia kepadanya? Dan siapakah orang-orang yang bernasib malang, karena tidak diterima puasanya oleh Allah, supaya aku dapat menghibur hatinya??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga dilakukan oleh sahabat Ibnu Ma?sud dengan pernyataannya: ?Wahai saudaraku yang telah pasti diterima amaliyah puasanya, selamat dan berbahagialah dirimu. Dan wahai saudaraku yang yang ditolak amaliyah puasanya, aku turut berdoa semoga Allah akan menutup bencana yang akan menimpa dirimu?. Menurut para ulama atas dasar semacam itu pula maka menjadi dapat dimengerti jika tahniah (ucapan selamat) yang biasanya dilakukan oleh para sahabat saat bertemu dengan sesamanya saat berhari raya Idul Fitri, berupa saling menyampaikan doa: Taqabbala lahu minna waminka (minkum), yang artinya ?semoga Allah berkenan menerima (amaliyah Ramadhan) diriku dan dirimu?. Dan bukan ucapan: minal aidin wal faizin (yang artinya ?semoga kita menjadi orang yang kembali? tapi kerap disalahkaprahkan oleh sebagian kita menjadi ?mohon maaf lahir bathin?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula saat memasuki hari 1 Syawal (lebaran), cara-cara para sahabat Rasulullah bertakbir, takhmid dan tahlil --karena ruhani mereka ada dalam atmosfir sebagaimana digambarkan itu? lebih banyak dilakukan dengan penuh rasa penghayatan, tawadhu, serta jauh dari sikap arogan dan hingar-bingar. Dan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulllah ucapan takbir, takhmid dan tahlil tersebut lebih banyak mereka lakukan saat mereka menuju ke tanah lapang untuk sholat Idul Fitri. Begitulah contoh yang diperlihatkan oleh para sahabat yang mulia kepada kita dalam melepas kepergian bulan Ramadhan dan menyambut kedatangan hari kemenangan. Sungguh, seandainya saja cara-cara para sahabat Rasulullah tersebut kita jadikan pedoman, niscaya setiap kali kita menghadapi hari-hari terakhir bulan Ramadhan kita tidak perlu melihat kumpulan manusia yang berjejalan mentawafi pasar dan pusat-pusat perbelanjaan, atau menyaksikan lautan orang di terminal-terminal bis dan stasiun kereta, serta kemacetan pada&lt;br /&gt;hampir seluruh ruasan jalan. Begitu pula saat tibanya malam 1 Syawal kita tidak perlu melihat lagi sebagian kaum muslimin melakukan aktivitas takbiran dengan cara-cara yang dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan orang lain dan mengesankan sebuah kearoganan. Seperti melakukan konvoi takbir keliling semalam suntuk dengan menggunakan alat pengeras suara sambil menabuhi bedug yang tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri memang merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri dan dan dirayakan, khususnya bagi mereka yang berhasil melakukannya ibadah Ramadhannya penuh dengan kesungguhan dan perhitungan (ihtisaaban) . Akan tetapi perayaannya harus senantiasa tetap berada dalam koridor ajaran Al-Quran dan sunnah Nabawiyyah dan bukan dengan melakukan hal aneh-aneh, sehingga dapat mencoreng wajah Islam yang damai, ramah serta dan menawarkan kesejukan bagi semesta alam (rahmatan lilalamin).&lt;br /&gt;                                   Kholid A.Harras&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-2883444898972383560?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/2883444898972383560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=2883444898972383560' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/2883444898972383560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/2883444898972383560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/03/renungan-melepas-kepergian-ramadhan.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-3733967391075750638</id><published>2009-03-23T03:44:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T03:46:49.708-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;pre&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: arial;"&gt;Gerakan Budaya Tolak Gelar Kodian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh KHOLID A. HARRAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KETIKA fenomena praktik obral jual beli gelar akademik&lt;br /&gt;"kodian" melanda masyarakat dalam sepuluh tahun&lt;br /&gt;terakhir ini, selain mengeluh dan menyatakan&lt;br /&gt;keprihatinan, apa yang dilakukan oleh universitas atau&lt;br /&gt;dunia perguruan tinggi (PT) kita untuk membendungnya?&lt;br /&gt;Jujur saja jawabannya nyaris tak ada. Alih-alih banyak&lt;br /&gt;di antara mereka yang justru ikut ambil bagian&lt;br /&gt;"meramaikannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang modusnya tidak senaif dan senekat seperti yang&lt;br /&gt;dilakukan oleh PT penjual gelar-gelar "aspal" yang&lt;br /&gt;menurut surat-surat edaran dari Direktur Jenderal&lt;br /&gt;Pendidikan Tinggi Depdiknas No. 2014/D/T/2002 tanggal&lt;br /&gt;23 September 2002 dan surat pengumuman Dirjen&lt;br /&gt;Pendidikan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional Nomor&lt;br /&gt;444/D/T/2005 tertanggal 4 Februari 2005 jumlahnya&lt;br /&gt;mencapai puluhan itu. Sejumlah PT itu antara lain&lt;br /&gt;Harvard International University, World Association&lt;br /&gt;University and Colleges, American World University,&lt;br /&gt;Northern California Global University, Edtracon&lt;br /&gt;International Institute, Institute of Business &amp;amp;&lt;br /&gt;Management "Global, American Management University,&lt;br /&gt;American Global University, American International&lt;br /&gt;Institute of Management and Technology, Jakarta&lt;br /&gt;Institute of Management Studies (JIMS), Distance&lt;br /&gt;Learning Institute (DLI), AIMS School of Business Law,&lt;br /&gt;Washington International Institute, American Institute&lt;br /&gt;of Management Studies, International Distance Learning&lt;br /&gt;Program (IDLP), San Pedro College of Business&lt;br /&gt;Administration Kennedy Western University, University&lt;br /&gt;of Barkeley, Barkeley International University,&lt;br /&gt;American Genesco University, Chicago International&lt;br /&gt;University, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya, masyarakat yang menginginkan gelar dari&lt;br /&gt;lembaga-lembaga tersebut cukup menyerahkan daftar&lt;br /&gt;riwayat hidup, fotokopi KTP, pas foto dan tulisan&lt;br /&gt;beberapa lembar serta membayar uang administrasi&lt;br /&gt;sejumlah beberapa puluh juta rupiah. Bila persyaratan&lt;br /&gt;itu bisa dipenuhi, kendati mereka hanya lulus SMP&lt;br /&gt;serta tak mampu berbahasa Inggris sekalipun, dalam&lt;br /&gt;sekejap akan segera diwisuda dan menyandang gelar&lt;br /&gt;kehormatan impiannya, dari mulai M.B.A., B.B.A.,&lt;br /&gt;doktor bahkan profesor. Sebagai kasus, menurut&lt;br /&gt;penyelidikan Mabes Polri terhadap Institut Management&lt;br /&gt;Global Indonesia (IMGI), sejak 31 Oktober 1999 sampai&lt;br /&gt;25 September 2000 PT Maya yang memiliki cabang di 53&lt;br /&gt;kota di tanah air tersebut sedikitnya telah memberikan&lt;br /&gt;ijazah aspal kepada 2.685 orang. Ke-2.685 orang itu&lt;br /&gt;memiliki gelar profesor sebanyak 38 orang, Ph.D. (66&lt;br /&gt;orang), M.Sc. (305), B.B.A. (641), M.B.A. (570),&lt;br /&gt;M.M.A. (10), D.B.A. (7), M.B.C. (2), B.A. (1) dan B.Sc&lt;br /&gt;.(5). Sebagian di antaranya merupakan pejabat negara,&lt;br /&gt;dan bahkan aparat perwira polisi juga ada (Antara&lt;br /&gt;29/8/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan mereka, yang dilakukan oleh sejumlah&lt;br /&gt;PTN dan PTS dalam meramaikan dan menangkap fenomena&lt;br /&gt;masyarakat yang tengah "mabok" gelar ini masih&lt;br /&gt;mengesankan tetap dalam koridor jalur akademik, yakni&lt;br /&gt;dengan membuka program pascasarjana "kelas jauh".&lt;br /&gt;Begitu pula program yang ditawarkannya umumnya sebatas&lt;br /&gt;strata dua (kebanyakan disiplin ilmu magister&lt;br /&gt;manajemen). Namun para pengamat dunia pendidikan&lt;br /&gt;tinggi pastilah paham praktik yang sesungguhnya&lt;br /&gt;terjadi pada kasus kelas-kelas jauh semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain persyaratannya amat longgar, seperti boleh&lt;br /&gt;diikuti oleh siapa saja yang ijazah S-1nya disiplin&lt;br /&gt;ilmu apapun dan tidak terlalu mensyaratkan kepemilikan&lt;br /&gt;TOEFL kepada pesertanya, juga pada umumnya&lt;br /&gt;penyelenggaraannya tidak didukung oleh perangkat&lt;br /&gt;sistem proses belajar-mengajar jarak jauh sebagaimana&lt;br /&gt;lazimnya. Misalnya mereka tidak menggunakan modul&lt;br /&gt;seperti yang dilakukan oleh UT (Universitas Terbuka).&lt;br /&gt;Begitu pula dengan waktu tempuhnya tidak lebih dari&lt;br /&gt;short course (kursus singkat) sehingga kurang&lt;br /&gt;mencerminkan proses individual learning para&lt;br /&gt;pesertanya. Waktu tempuh pada proses pendidikan&lt;br /&gt;program S-2 yang benar dan wajar yang lazimnya&lt;br /&gt;berkisar antara 2 hingga 2,5 tahun bisa mereka singkat&lt;br /&gt;hanya setengahnya saja. Akibat praktik pascasarjana&lt;br /&gt;model "kelas jauh" semacam itu, banyak masyarakat yang&lt;br /&gt;meragukan kualitas keilmuan para lulusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan upaya dari pihak pemerintah - dalam&lt;br /&gt;hal ini Dirjen Diknas - terhadap praktik jual beli&lt;br /&gt;gelar yang jelas-jelas merupakan proses pembodohan&lt;br /&gt;masyarakat tersebut? Dengan alasan belum ada perangkat&lt;br /&gt;hukum yang mengaturnya, mereka juga tidak berdaya.&lt;br /&gt;Setakat ini yang dapat mereka lakukan hanya sebatas&lt;br /&gt;mengimbau atau menegur, karena kewenangan institusinya&lt;br /&gt;hanya sebatas memberikan teguran, sedangkan kewenangan&lt;br /&gt;hukum menutup lembaga-lembaga "maya" tersebut&lt;br /&gt;sepenuhnya berada di tangan kepolisian. Sementara ini&lt;br /&gt;pihak Polri juga tidak bisa seenaknya menindaknya&lt;br /&gt;secara hukum, baik terhadap lembaga yang&lt;br /&gt;memperdagangkan maupun para pengguna aneka gelar&lt;br /&gt;"aspal" tersebut, sejauh belum ada pengaduan dari&lt;br /&gt;masyarakat yang merasa menjadi korbannya. Selain itu&lt;br /&gt;kabarnya kepolisian sendiri menghadapi beban&lt;br /&gt;psikologis, karena sejumlah nama perwira tinggi Polri&lt;br /&gt;dan TNI serta sejumlah pejabat negara kita juga&lt;br /&gt;menjadi konsumen dari PT "maya" tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU&lt;br /&gt;Sisdiknas) memang telah ada sejumlah pasal yang&lt;br /&gt;harapannya akan dapat menertibkan masalah yang sangat&lt;br /&gt;melecehkan martabat dunia pendidikan kita ini.&lt;br /&gt;Sebagaimana termaktub pada Bab XX pasal 67 ayat (1)&lt;br /&gt;dan (4) disebutkan bahwa terhadap para penyelenggara&lt;br /&gt;pendidikan gelar-gelar aspal tersebut diancam akan&lt;br /&gt;dikenakan sangsi pidana penjara selama sepuluh tahun&lt;br /&gt;dan/atau pidana denda paling banyak Rp&lt;br /&gt;1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Sedangkan&lt;br /&gt;terhadap para penggunanya, sebagaimana termaktub pada&lt;br /&gt;pasal 68 ayat (2), (3) dan (4) serta pasal 69 ayat (1)&lt;br /&gt;dan (2), akan dikenakan sanksi pidana penjara paling&lt;br /&gt;lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp&lt;br /&gt;500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Sejauh mana&lt;br /&gt;efektivitas pemberlakuan kedua bentuk sanksi tersebut,&lt;br /&gt;sejarah masih harus membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang di era globalisasi dan demokratisasi namun gaya&lt;br /&gt;hidup masyarakatnya masih menggemari feodalisasi,&lt;br /&gt;upaya penertiban hukum saja terhadap lembaga-lembaga&lt;br /&gt;penjual gelar tersebut menjadi tidak cukup serta tidak&lt;br /&gt;akan efektif. Sebab dalam hal ini agaknya berlaku&lt;br /&gt;hukum ekonomi permintaan-penawaran; sepanjang&lt;br /&gt;masyarakat membutuhkan gelar-gelar tersebut maka&lt;br /&gt;lembaga-lembaga penyedianya akan tetap ada. Begitu&lt;br /&gt;pula selagi masyarakat kita masih menganggap gelar&lt;br /&gt;sebagai sebuah prestise - meskipun dilarang hukum -&lt;br /&gt;tetap saja akan banyak orang yang akan mencarinya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu untuk memberantasnya selain harus&lt;br /&gt;dibuat aturan-aturan hukum dan perundang-undangan yang&lt;br /&gt;jelas dan tegas juga perlu dilawan lewat gerakan atau&lt;br /&gt;aksi kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi kultural ini bisa dilakukan oleh segenap komponen&lt;br /&gt;masyarakat; misalnya oleh organisasi-organisasi&lt;br /&gt;profesi, keilmuan, kecendekiawanan, LSM, lembaga pers,&lt;br /&gt;dan juga dunia perguruan tinggi. Bentuknya bisa&lt;br /&gt;bermacam-macam; dari mulai imbauan, aksi penolakan,&lt;br /&gt;pembuatan aturan hingga melakukan gugatan (class&lt;br /&gt;action).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah organisasi profesi seperti PGRI atau IDI&lt;br /&gt;misalnya, secara aktif perlu menertibkan para&lt;br /&gt;anggotanya yang menggunakan gelar-gelar aspal semacam&lt;br /&gt;itu. Hal yang sama juga selayaknya dilakukan oleh&lt;br /&gt;organisasi keilmuan dan kecendekiawanan seperti, ISEI,&lt;br /&gt;ISPI, HISKI, MLI, MSI serta oleh ICMI dan PIKI. Bahkan&lt;br /&gt;dalam konteks organisasi-organisasi yang mengusung&lt;br /&gt;bendera "disiplin keilmuan dan kepakaran" tersebut&lt;br /&gt;mereka harus berani memecat para anggotanya yang&lt;br /&gt;kedapatan memakai gelar-gelar kodian tersebut. Karena&lt;br /&gt;tindakannya itu jelas-jelas telah melanggar dan&lt;br /&gt;melecehkan etika dan fatsoen keilmuan dan kepakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara lembaga-lembaga pers dengan kekuasaan yang&lt;br /&gt;dimilikinya juga dapat berperan meminimalisasi bisnis&lt;br /&gt;jual beli gelar ini. Misalnya, kendati dari pemasukan&lt;br /&gt;iklan cukup menguntungkan, sebaiknya pers menolak&lt;br /&gt;menjadi corong pariwara oleh lembaga-lembaga maya&lt;br /&gt;tersebut. Termasuk dalam hal ini menjadi tempat&lt;br /&gt;mangkalnya iklan-iklan ucapan selamat kepada para&lt;br /&gt;pejabat yang mendapatkan gelar-gelar kodian. Selain&lt;br /&gt;itu mereka juga sebaiknya mengambil kebijakan tidak&lt;br /&gt;menuliskan gelar dari tokoh dan figur-figur publik&lt;br /&gt;dalam pemberitaannya. Sedangkan gerakan kultural yang&lt;br /&gt;dapat dilakukan oleh pihak LSM, seperti YLKI dan YLBHI&lt;br /&gt;misalnya, mereka dapat mengakomodasi dan mewakili&lt;br /&gt;masyarakat yang merasa dirugikan dan berniat melakukan&lt;br /&gt;gugatan, baik terhadap lembaga maupun orang-orang yang&lt;br /&gt;menggunakan aneka gelar kodian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan kultural yang dilakukan oleh berbagai elemen&lt;br /&gt;di atas mungkin akan menjadi tidak efektif andaikan&lt;br /&gt;dunia perguruan tinggi kita lantas sekadar menjadi&lt;br /&gt;penonton. Oleh karena itu PTS dan PTN kita, khususnya&lt;br /&gt;yang dianggap berada di garda depan, harus juga secara&lt;br /&gt;aktif melakukan gerakan kultural untuk membendungnya.&lt;br /&gt;Salah satu caranya antara lain dengan merekomendasi&lt;br /&gt;serta ikut memberikan gelar-gelar akademik kehormatan&lt;br /&gt;kepada sejumlah anak bangsa yang memang layak&lt;br /&gt;mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kita akui dalam tradisi perguruan tinggi kita&lt;br /&gt;pemberian gelar-gelar akademik kehormatan semacam Dr.&lt;br /&gt;H.C (honoris causa), baik terhadap anak bangsanya yang&lt;br /&gt;memiliki karya monumental dan bermanfaat bagi&lt;br /&gt;peradaban masih merupakan hal yang langka. Dalam&lt;br /&gt;bidang sastra misalnya, setelah almarhum kritikus HB&lt;br /&gt;Yasin yang mendapatkannya dari UI berpuluh tahun yang&lt;br /&gt;lalu baru sastrawan Taufiq Ismail yang mendapatkannya&lt;br /&gt;dari UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Begitu pula&lt;br /&gt;dalam bidang jurnalistik, selama negeri ini berdiri,&lt;br /&gt;baru pimpinan Kompas Jakob Oetama yang mendapatkan&lt;br /&gt;gelar kehormatan tersebut dari UGM beberapa tahun yang&lt;br /&gt;lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat sikap "bakhil" perguruan tinggi kita ini tidak&lt;br /&gt;heran jika kondisinya menjadi ironi; sejumlah&lt;br /&gt;putra-putra terbaik bangsa kita justru mendapatkan&lt;br /&gt;aneka gelar kehormatan dari sejumlah perguruan tinggi&lt;br /&gt;bergengsi luar negeri. Almarhum Buya Hamka, pelukis&lt;br /&gt;Affandi serta budayawan Soedjatmoko misalnya ketiga&lt;br /&gt;tokoh kaliber internasional tersebut masing-masing&lt;br /&gt;mendapatkan gelar doktor kehormatan honoris causa-nya&lt;br /&gt;dari universitas-universitas terkemuka mancanegara. Ke&lt;br /&gt;depan "tragedi" semacam ini tentunya tidak boleh lagi&lt;br /&gt;terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyaknya perguruan tinggi kita yang memberikan&lt;br /&gt;gelar-gelar kehormatan kepada anak-anak bangsa yang&lt;br /&gt;memang pantas menerimanya ini diharapkan akan dapat&lt;br /&gt;mengeliminasi fenomena maraknya praktik jual-beli&lt;br /&gt;gelar yang tidak bertanggung jawab seperti sekarang&lt;br /&gt;ini. Selain itu gerakan kultural semacam ini juga&lt;br /&gt;merupakan tanggung jawab moral sekaligus sebuah&lt;br /&gt;"pendidikan" kepada masyarakat ihwal bagaimana&lt;br /&gt;seharusnya kita mengapresiasi dan menghargai prestasi&lt;br /&gt;anak bangsa sendiri. Bukankah bangsa yang besar adalah&lt;br /&gt;bangsa yang pandai dan tidak melupakan prestasi&lt;br /&gt;terbaik yang berhasil dicapai oleh anak-anak&lt;br /&gt;bangsanya?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, staf pengajar Universitas Pendidikan&lt;br /&gt;Indonesia, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-3733967391075750638?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/3733967391075750638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=3733967391075750638' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/3733967391075750638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/3733967391075750638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/03/gerakan-budaya-tolak-gelar-kodian-oleh.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-8903670321680547702</id><published>2009-03-23T03:35:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T03:44:02.898-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'></title><content type='html'>Republika, Date: Sat, 26 Oct 2002 15:25:24 +0700&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Utang Khalifah Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Oleh : Kholid A Harras&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepulang sekolah, putra Khalifah Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu. Dia bercerita bahwa teman-temannya selalu mengolok-olok karena bajunya paling kumal di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ayah, Umar memahami kesedihan anaknya itu. Tetapi, dia   tak berdaya karena gajinya sebagai amirul mukminin hanya bisa mencukupi kebutuhan paling primer. Setelah berpikir lama, Umar menulis surat ke bendaharawan negara. Dia mengajukan pinjaman utang empat dirham dengan  potongan gaji sebagai jaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama suratnya dibalas. Isinya kira-kira seperti ini: ''Saya dapat meluluskan pinjaman Anda sebesar empat dirham, dengan memotong gaji Anda bulan depan sebagai jaminannya. Namun, sebelumnya tolong Anda jawab terlebih dahulu pertanyaan berikut dengan jujur: ''apakah Anda dapat  memastikan akan hidup sampai bulan depan?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca surat itu, Umar menggigil, matanya berkunang-kunang.  Ia tersungkur bersujud seraya mengucap istighfar, memohon ampunan Allah. Umar lalu menulis surat kembali kepada bendaharawan negara. Dia berterima kasih telah diingatkan serta membatalkan niatnya berutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu, dia memanggil putranya dan berkata, ''Wahai anakku, ayahmu tidak dapat memperhitungkan umurnya walaupun hanya sejam ke depan. Ayahmu juga tidak ingin mewariskan utang kepadamu. Sudah terlalu banyak hal yang harus ayahmu  pertanggungjawabkan ke hadapan Allah di akhirat nanti. Karena itu, ayah membatalkan niat meminjam uang untuk membeli baju barumu. Jadi, besok berangkatlah kamu ke sekolah dengan menggunakan bajumu yang biasa.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Salah satu pendidikan yang dapat dipetik dari kisah Umar ini, antara lain,  hendaknya kita berhati-hati dan takut untuk berutang. Terlebih jika  hal itu hanya sekadar untuk memenuhi prestise dan bukan dalam rangka menunjang kegiatan muamalat yang produktif. Rasulullah saw mengingatkan, ''Jauhilah utang karena utang itu hanya membuat kamu gundah di malam hari&lt;br /&gt;dan terhina di siang hari.'' (HR Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para pakar ekonomi, salah satu faktor penyebab sulitnya  perekonomian bangsa ini kembali bangkit dari keterpurukannya adalah  karena kebijakan pembangunan ekonomi kita, baik pada masa lalu maupun masa  sekarang, lebih banyak bersandar pada utang. Akibatnya, sekarang  kita terhina di siang hari, dan gundah gulana di malam hari.  Belum lunas utang lama, kita sudah beriba-iba untuk mendapatkan utang baru, begitu seterusnya. Konyolnya, utang itu lebih banyak diarahkan untuk membiayai proyek-proyek prestisius ketimbang proyek-proyek produktif  untuk hajat hidup masyarakat banyak. Wajar jika kini makin sempurnalah penderitaan bangsa kita..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-8903670321680547702?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/8903670321680547702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=8903670321680547702' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8903670321680547702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8903670321680547702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/03/republika-date-sat-26-oct-2002-152524.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-5070054172333056239</id><published>2009-03-23T03:29:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T03:33:26.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membaca'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="400"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: justify;" width="100%"&gt;&lt;div class="date"&gt;Isola Pos Online, 08 Jun 2005, 14:24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-weight: bold;" class="title"&gt;Minat Baca Kita Rendah?&lt;/div&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td style="text-align: justify;" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin di antara kita hanya sedikit yang mengetahui bahwa tanggal 17 Mei, merupakan hari baca nasional,” ungkap Kholid A. Harras, dosen mata kuliah membaca Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, tentang hari membaca yang diperingati pada 17 Mei yang telah lalu. Padahal, konon, membaca merupakan ciri berbudayanya suatu bangsa, karena dengan membaca kita akan lebih mengetahui segala. Tapi konon pula, seperti yang diamini Kholid, minat baca bangsa kita sangat rendah. Tak terkecuali mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyebabnya sangat kompleks,” ujarnya. Lalu Kholid menuturkan satu-satunya. “Pertama, jumlah penerbitan yang beroperasi di Indonesia masih rendah, jika dibandingkan dengan negara lain.” Di samping itu, tuturnya, menurut penelitian, bangsa ini terbagi kedalam tiga kategori besar, yaitu iliterat (kategori yang buta hurup), aliterat (kategori melek hurup, tetapi malas untuk membaca), literat (kategori yang membudayakan membaca). “Nah, mahasiwa kita termasuk kategori aliterat, karena bangsa kita lebih sering menjadi pendengar (budaya oral),” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Kholid menunjuk pola belajar sekolah formal yang masih berpusat pada guru. “Sewaktu di sekolah lanjutan tingkat atas (SMA) atau tingkat pertama (SMP), siswa dicekoki dengan ucapan–ucapan guru tanpa ada inisiatif untuk mengkaji dan mencari dari berbagai buku.” Budaya tersebut berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi. “Buku tidak dijadikan basis dasar sebagai pembelajaran,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Fitria Ambarina, Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI menunjuk sedikitnya pengunjung perpustakaan sebagai indikasi rendahnya minat baca. Dwi mencontohkan, ketika presentasi, kebanyakan mahasiswa tiadak menguasai bahan dan sumber dalam makalah yang mereka buat relatif sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orin, mahasiswa UPI lain menyatakan alasannya malas membaca. “Bukunya tebal-tebal, kepalanya saya jadi pusing.” Dengan jujur Orin mengaku dirinya lebih tertarik membeli baju dan kosmetik daripada membeli buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melihat fenomena di atas, tugas kitalah untuk mengampanyekan minat baca terhadap seluruh lapisan masyarakat, “ucap Kholid. Salah satu caranya, menurut Kholid, adalah dengan mencontoh keijakan yang dilakukan oleh Bupati Indramayu . Langkah-langkah yang dilakukannya yaitu menyediakan pos baca di setiap kecamatan hingga ke desa-desa, mengoperasikan perpustakaan keliling, dan terakhir, menyediakan koran-koran disudut kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penentu kebijakan, Kholid tak lupa menyinggung peran keluarga. “Selayaknya orang tua menyediakan buku bacaan yang sesuai dengan minat dan kesukaan anak,” katanya. Atmosfir membaca yang kondusif juga tak kalah penting. Untuk kalangan mahasiwa, cara yang sederhana adalah mengajak teman mencari buku, dan meminjamkan buku kepada teman-teman. Pertanyaannya, maukah kita memulainya dari sekarang? &lt;b&gt;[Nazla]&lt;/b&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-5070054172333056239?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/5070054172333056239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=5070054172333056239' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/5070054172333056239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/5070054172333056239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/03/08-jun-2005-1424-minat-baca-kita-rendah.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-8428815164126550535</id><published>2009-03-23T03:25:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T03:29:34.066-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan Hidup'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="95%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;color:#cc0000;"&gt;&lt;b&gt;KOMPAS JABAR, Kamis, 23 Maret 2006      &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td height="6"&gt;&lt;spacer type="block" height="6"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td bgcolor="#8f8f8f" height="1"&gt;&lt;spacer type="block" height="1"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td height="15"&gt;&lt;spacer type="block" height="15"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td&gt;      &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mengatasi Krisis Air Bersih di Wilayah Bandung&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Ironis, tidak masuk akal jika diberitakan masyarakat di wilayah Bandung (Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Cimahi) mengalami krisis air bersih. Alam yang mengitari wilayah ini tingkat curah hujannya tinggi, sekitar 2.000 mm/tahun. Selain itu, wilayah ini berupa cekungan yang memiliki banyak sungai. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Namun, fakta menunjukkan hampir sepanjang tahun masyarakat didera krisis air bersih. Seperti masyarakat perkotaan lainnya, andalan utama sebagian besar masyarakat Kota Bandung untuk mendapatkan air bersih sehari-hari berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sejak zaman kolonial Belanda hingga pertengahan tahun 1970-an, PDAM Kota Bandung mampu memenuhi seluruh kebutuhan air bersih warga kotanya. Bahkan, pasokan air bersih dari PDAM dapat dinikmati hampir semua warga kota terus-menerus selama 24 jam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Namun, masa-masa indah itu tinggal kenangan. Seiring semakin tingginya tingkat pertumbuhan penduduk serta pesatnya perluasan kota, PDAM Kota Bandung kini hanya mampu melayani 53 persen saja dari kebutuhan air bersih penduduknya. Itu pun dengan kualitas pelayanan yang jauh dari memadai. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penyebab ketidakmampuan PDAM Kota Bandung memenuhi kebutuhan air bersih warganya adalah penurunan debit air baku ke bak-bak penampungan dan pengolahan air PDAM yang hanya sekitar 2.200 liter/detik saja. Dari sejumlah sumur bor artesis 5-30 liter/detik. Rendahnya kontribusi dari sumur-sumur bor artesis yang dimiliki PDAM karena jumlahnya yang terus menerus menurun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Upaya penyelamatan  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Untuk mengatasi masalah air bersih itu, para pengambil kebijakan di wilayah Bandung harus membuat tata aturan dan perangkat hukumnya (rule of law), kemudian menegakkan aturan main yang sudah ada yang berkait, baik langsung maupun tidak langsung dengan persoalan sumber daya air. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Misalnya, perda yang telah dikeluarkan oleh Pemkot Bandung menyebutkan maksimal 60 persen dari lahan yang ada boleh didirikan bangunan, sedangkan sisanya 40 persen harus dibiarkan menjadi ruang terbuka supaya masih ada lahan untuk penghijauan dan tempat air meresap ke dalam tanah. Aturan ini harus diterapkan konsisten. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Begitu pula masing-masing pemkot yang ada di wilayah Bandung juga harus melakukan tindakan hukum yang tegas kepada yang melanggar perda mengenai peruntukan ruang terbuka hijau (RTH), yang terdapat di wilayahnya masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Hal yang sama juga dikenakan kepada pelanggar Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/1993, yang mengatur sempadan sungai di perkotaan selebar 15- 20 meter, serta kepada pelaku industri yang melanggar perda yang mengatur proses pembuangan limbah industri. Masyarakat yang seenaknya membuang limah ke sungai pun harus ditindak tegas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Sekarang ini pemanfaatan maupun pengamanan sumber daya air di berbagai daerah kerap kali masih dilihat secara administratif. Belum tercipta sebuah kebijakan yang koordinatif, dan lintas sektoral. Bahkan dengan berlakunya otonomi daerah, daerah seolah berlomba- lomba mengelola sumber daya air semata-mata sebagai potensi mengeruk pendapatan asli daerah (PAD). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Kerja sama antarinstansi atau antarsektor dalam menangani persoalan sumber daya air masih dilakukansendiri-sendiri. Misalnya, air sungai ditangani Departemen Kimpraswil atau Pekerjaan Umum, air tanah ditangani Biro Tata Lingkungan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal), air minum oleh PDAM, sedangkan daerah aliran sungai dikelola Departemen Kehutanan. Antar- sesama mereka seolah tidak mau tahu, dan memunculkan egonya masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Upaya-upaya lain yang perlu dilakukan dalam menyelamatkan krisis air bersih di Kota Bandung adalah segera merealisasikan gerakan hemat air (GHA), yang selama ini lebih banyak diperlakukan sekadar slogan. GHA telah dicanangkan sejak Oktober 1994, namun hingga kini hanya sekadar wacana. Untuk merealisasikannya dibutuhkan keteladanan, termasuk dari jajaran pejabat maupun para stakeholder Kota Bandung. Selain itu, yang juga perlu dilakukan dalam merealisasikan GHA adalah melibatkan secara pro-aktif dunia pendidikan, dari tingkat terendah hingga tertinggi, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini sangat penting. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Berdasarkan pencatatan penduduk tahun 2000, jumlah penduduk Bandung yang saat ini berusia 5-24 tahun tercatat 746.073 jiwa, atau sekitar 39,1 persen dari total penduduk ibu kota Provinsi Jawa Barat ini. Hampir setengah dari penduduk Kota Bandung saat ini berstatus pelajar atau mahasiswa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Jika pembudayaan GHA diterapkan secara sungguh-sungguh di semua lapisan jenjang pendidikan, budaya perilaku GHA diharapkan juga akan menjadi tradisi dari para peserta didik saat mereka dewasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;KHOLID A HARRAS Staf Pengajar FPBS Universitas Pendidikan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-8428815164126550535?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/8428815164126550535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=8428815164126550535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8428815164126550535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/8428815164126550535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/03/kompas-jabar-kamis-23-maret-2006.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-7748373642386255703</id><published>2009-03-23T03:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T03:35:29.460-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membaca'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="95%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="right"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:78%;"  &gt;&lt;b&gt;KOMPAS JABAR, Kamis, 18 Mei 2006      &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td height="6"&gt;&lt;spacer type="block" height="6"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td bgcolor="#8f8f8f" height="1"&gt;&lt;spacer type="block" height="1"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td height="15"&gt;&lt;spacer type="block" height="15"&gt;&lt;/td&gt;                         &lt;/tr&gt;                         &lt;tr&gt;                            &lt;td&gt;      &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tumbuhkan Minat Baca Masyarakat&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Pada 8 April 2005 Bupati Indramayu H Irianto MS Syafiuddin mendapat penghargaan tingkat nasional dari Serikat Penerbit Surat Kabar. Kang Yance demikian panggilan akrab Bupati Indramayu ini dinilai sebagai kepala daerah yang memiliki kepedulian yang sangat besar dalam mendorong minat baca masyarakatnya. Untuk sektor pendidikan Bupati Yance telah mengalokasikan anggaran APBD yang cukup besar, yakni 38,7 persen. Dengan alokasi anggaran sebesar itu Pemerintah Daerah Indramayu memiliki energi yang cukup untuk melakukan berbagai terobosan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya, termasuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas perpustakaan yang dimilikinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sepuluh tahun lalu kondisi Perpustakaan Pemda Indramayu betul- betul sangat memprihatinkan. Gedungnya sangat kumuh dan tidak terurus. Koleksi bukunya sangat terbatas. Jika saat itu kita bermaksud mencari buku-buku sastra misalnya, bersiap-siaplah untuk kecewa. Dengan kondisi seperti itu, data jumlah rata-rata pengunjungnya setiap hari dapat dihitung dengan jari tangan saja. Namun, kini berkat suntikan dana yang mencukupi, kondisi Perpustakaan Pemda Indramayu benar-benar telah berubah total. Gedungnya cukup representatif, dilengkapi fasilitas AC, serta koleksi buku-buku yang dimilikinya pun sudah cukup lengkap (tentunya untuk ukuran sebuah perpustakaan daerah tingkat kabupaten). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Begitu pula manajemen pengelolaan dan pelayanannya sudah profesional serta menerapkan sistem komputerisasi. Dengan kondisi yang seperti itu, kini setiap harinya Perpustakaan Pemda Indramayu selalu ramai dikunjungi, khususnya oleh para pelajar dan mahasiswa. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pihak pengelola perpustakaan melakukan berbagai terobosan inovatif. Secara berkala di selasar gedungnya diselenggarakan pameran buku. Pihak pengelola mengundang para penerbit atau distributor buku seperti Toko Buku Gramedia untuk menggelar pameran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Lewat terobosan semacam itu, fungsi perpustakaan tidak hanya sebatas tempat peminjaman buku, tetapi juga menjadi area bagi masyarakat mendapatkan buku-buku terbitan terbaru. Lewat terobosan semacam itu, mereka juga mencoba mendekatkan masyarakat dengan dunia perpustakaan. Selanjutnya, berkat sokongan dana yang memadai, kini keberadaan armada perpustakaan keliling mampu beroperasi lebih baik. Secara berkala armada yang berjumlah tiga unit itu mengelilingi kota-kota kecamatan dan desa guna memberikan pelayanan kepada masyarakat. Memang jumlahnya masih terlampau sedikit untuk menjangkau wilayah Indramayu yang cukup luas itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Upaya lainnya, Pemda Indramayu juga mendirikan pos-pos baca. Kebijakan mendirikan pos-pos baca sampai tingkat desa ini, sejauh pengamatan penulis, agaknya belum dilakukan oleh pemda kabupaten lain di Jawa Barat. Kiat lainnya, secara proaktif Kang Yance juga terus berupaya mendekati kalangan dunia usaha swasta serta BUMN, khususnya yang ada di wilayahnya, untuk ikut serta membantu mendirikan rumah-rumah baca di wilayah Indramayu. Salah satu hasilnya, pada tanggal 1 Maret 2004 melalui PUKK-PKBL (Program Kemitraan Bina Lingkungan) PT Pertamina UP VI Balongan telah mendirikan sebuah rumah baca yang berlokasi di SDN Balongan III, tepatnya di Blok Kesambi, Desa/Kecamatan Balongan. Rumah baca tersebut dilengkapi komputer, jaringan internet, serta ribuan buku. Kemudian dalam upayanya membina minat baca masyarakatnya Bupati Yance juga bekerja sama dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, pers maupun LSM. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Belum banyak Di tengah gonjang-ganjing politik dan sosial serta keterpurukan ekonomi yang terus mendera bangsa, kebijakan yang dilakukan Bupati Yance dalam mendorong minat baca masyarakatnya lewat upaya nyata meningkatkan kuantitas maupun kualitas perpustakaan di daerahnya layak diberikan catatan tersendiri karena belum banyak pemda lain yang melakukannya. Padahal, banyak temuan hasil penelitian menyebutkan bahwa salah satu kendala terbesar yang kita hadapi dalam menumbuhkan minat baca (reading habit) di negeri ini, antara lain akibat masih sangat minimnya sarana perpustakaan yang tersedia di masyarakat. Sebagai gambaran, menurut data Perpustakaan Nasional, konon dari sekitar 70.000 desa dan 9.000 kecamatan yang ada di Indonesia, tak lebih dari setengah persen sudah memiliki perpustakaan standar. Adapun dari sekitar 316 kabupaten, baru 70 persen yang memiliki perpustakaan standar. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah? Ternyata masih belum beranjak dari kata memprihatinkan. Dari sekitar 200.000 SD, diperkirakan cuma satu persen saja yang memiliki perpustakaan standar. Sementara dari sekitar 70.000 unit SLTP, hanya 36 persen yang memiliki perpustakaan standar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Dan, dari sekitar 14.000 unit SLTA, hanya 54 persen saja yang mempunyai perpustakaan standar. Sementara di perguruan tinggi yang notabene merupakan centre of excellence, dari sekitar 4.000 perguruan tinggi yang kita miliki, hanya 60 persen saja yang memiliki perpustakaan standar. Sebagai gambaran, menurut data UNESCO misalnya, konon dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia yang belum bisa membaca atau dikategorikan illiterate jumlahnya masih sekitar 34,5 persen. Artinya, cuma 65,5 persen saja yang sudah melek huruf. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Dari jumlah tersebut sebagian besar dari mereka termasuk dalam kategori kelompok aliterate, yakni mereka bisa membaca, tetapi memilih untuk tidak menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari tradisi hidupnya. Sementara itu, masyarakat kita yang berkategori literate, yakni yang telah menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari kebudayaan hidupnya, menurut sebuah hasil penelitian, jumlahnya tidak sampai 10 persen dari populasi bangsa ini. Bandingkan misalnya dengan kondisi Malaysia, di mana jumlah masyarakat melek huruf yang mencapai 86,4 persen dan sudah berkategori literate telah mencapai 50 persen. Tidak sederhana Upaya menghadirkan minat baca seseorang, terlebih menjadikannya sebagai bagian dari tradisi masyarakat atau bangsa memang bukan persoalan sederhana. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sebab, sebagaimana dikemukakan dalam banyak literatur, faktor-faktor yang menggayuti minat baca ini memang cukup kompleks. Selain bergayut dengan aneka faktor psikologis, juga bergayut dengan faktor-faktor yang turut memengaruhi minat baca ini. Maka, pengupayaannya tidak dapat hanya bertumpu pada salah satu faktor saja dan mengabaikan faktor lainnya, misalnya hanya mengandal- kan institusi persekolahan formal belaka. Keluarga, masyarakat, dan terlebih pihak pemerintah mutlak dituntut peran sertanya secara nyata. Tanpa peran serta mereka, mengharapkan masyarakat dan bangsa ini berbudaya membaca hanya akan menjadi sebuah utopia saja. Kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Kang Yance merupakan contoh dari wujud peran pemerintah dimaksud. Apa yang dilakukan oleh Bupati Indramayu ini seyogianya dapat ditiru oleh para bupati atau wali kota di daerah-daerah lainnya dalam upaya mendorong minat dan kegemaran membaca masyarakatnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;KHOLID A HARRAS &lt;em&gt;Penulis dan pensyarah pada FPBS Universitas Pendidikan Indonesia&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-7748373642386255703?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/7748373642386255703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=7748373642386255703' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7748373642386255703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/7748373642386255703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/03/kompas-jabar-kamis-18-mei-2006.html' title=''/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2719219659807863079.post-4871438282435670259</id><published>2009-03-17T22:54:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T23:07:17.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik'/><title type='text'>Handout  Dasar-dasar Jurnalistik (1)</title><content type='html'>Handout 1&lt;br /&gt;MODAL MENULIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Ia setengah benar. Yang benar seluruhnya: menulis itu gampang kalau punya modal. Apa modalnya? Banyak.  Tapi sedikit juga bisa, asal punya kemauan menggebu-gebu.  Yang penting, Anda tergolong “kutu buku” alias gila membaca. Yang penting, Anda mau rajin berlatih curat coret apa saja, sesuai getar nurani dan gejolak pikiran Anda. Yang penting, Anda teliti, peduli dengan hal-hal kecil, dan mau berepot-repot mengurusi titi koma, huruf kapital, dan tanda tanya, serta tetek bengek urusan ejaan lainnya.  Yang penting, Anda jujur dan berjiwa merdeka. Yang lebih penting lagi: Anda punya “sesuatu” yang ingin Anda tuliskan.&lt;br /&gt;Nah, sekarang kita mulai dengan pelajaran pertama: Kemauan besar.  Bagaimana menumbuhkannya dan memupuknya? Yakini bahwa menulis adalah pekerjaan mulia. Anda bisa beramal saleh dengan menulis. Juga berda’wah dan merintis jalan ke surga. Untuk kepentingan duniawi, menulis adalah pekerjaan yang dapat menghasilkan uang yang cukup untuk menghidupi anak-istri, asal dilakoni dengan sungguh-sungguh dan profesional. Menulis juga dapat mengantarkan orang menjadi terkenal dan dihormati.&lt;br /&gt;Anda tentu tahu, di samping seorang ulama terkemuka, Hamka adalah seorang penulis yang karya-karyanya sangat diminati oleh masyarakat luas dan  luar biasa produktifnya: dari mulai menulis novel monumental seperti Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya Kapal van Der Wijk hingga Tafsir Al Azhar yang tiga puluh jilid itu. Sayid Qutb dan Hasan Al Banna bukan sekadar aktivis Ikhwanul Muslimin yang paling berkeringat dalam kerja da’wah sepanjang hayatnya, tapi juga mereka adalah penulis ulung yang fasih dan produktif. Amien Rais dikenal sebagai seorang kolumnis yang jernih dan produktif, di samping seorang ilmuwan dan politikus terpandang.&lt;br /&gt;Begitulah. Kerja menulis dapat menjadi jembatan untuk sukses di berbagai bidang. Juga dapat menjadi tumpuan dan pilihan dalam menjalani karier kehidupan. Dan yang lebih membahagiakan: Anda memiliki kesempatan yang sangat terbuka dan luas untuk bersilaturahmi dengan khalayak yang nyaris tak terbatas. Artinya, bila tiba saatnya suatu hari nanti Anda dipanggil Yang Maha Kuasa untuk menghadap ke haribaan-Nya, Insya Allah, yang mendoakan, yang menyolatkan, dan yang mengantarkan jasad Anda ke kuburan akan berjubel dan berduyun-duyun.&lt;br /&gt;Punya kemauan besar saja tentu tak cukup. Untuk menjadi seorang penulis yang “kaya” dan produktif, Anda harus mahir dan banyak membaca. Mahir membaca, artinya, Anda tahu persis tata tertib membaca. Kapan dan bagaimana cara berburu bahan bacaan; kapan dan bagaimana cara membaca cepat; kapan dan bagaimana cara membaca kritis; kapan dan bagaimana Anda harus membuat catatan bacaan. Pokoknya, Anda harus betul-betul “mabok bacaan”, apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Donna Norton (1996) di Amerika Serikat, para jurnalis dan penulis profesional rata-rata menghabiskan waktunya enam jam untuk membaca dalam sehari semalam.  Dalam enam jam itu, minimal mereka membaca 12 koran harian, 8 majalah mingguan, 4 majalah bulanan, 2 makalah laporan penelitian, dan satu bab dari sebuah buku keluaran terbaru. Belum lagi ditambah dengan alokasi satu jam sebagai tambahan aktivitas membaca untuk mengakses internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Tunjukkan kemahiran Anda dalam hal menulis, 30 menit)&lt;br /&gt;(a)    Coba, deh, tuliskan, sungguh-sungguhkah Anda ingin menjadi seorang penulis profesional? Lengkapi jawaban Anda dengan alasan yang rasional dan (boleh juga sedikit bumbu) emosional! (Ditulis dalam tiga paragraf. Setiap paragraf minimal tiga kalimat. Setiap kalimat minimal tiga kata, maksimal tiga belas kata).&lt;br /&gt;(b)   Apaya-upaya apa saja yang akan Anda lakukan untuk meraih predikat “penulis profesional” itu? Kegiatan harian? Kegiatan mingguan? Kegiatan bulanan? Kegiatan tahunan? (Ditulis dalam lima paragraf. Setiap paragraf minimal tiga kalimat. Setiap kalimat minimal tiga kata, maksimal tiga belas kata).&lt;br /&gt;(c)    Siapa penulis yang menjadi idola Anda? Mengapa dia? Berikan alasan yang cukup! (Ditulis dalam satu paragraf., yang terdiri atas minimal lima kalimat. Setiap kalimat minimal tiga kata, maksimal tiga belas kata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria untuk menilai berita adalah:&lt;br /&gt;ü Apakah ada sesuatu yang baru?&lt;br /&gt;ü Apakah ada hal yang luar biasa?&lt;br /&gt;ü Apakah penting atau menarik?&lt;br /&gt;ü Apakah menyangkut kehidupan manusia?&lt;br /&gt;DARI MANA DATANGNYA BERITA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ü Konflik&lt;br /&gt;ü Bencana dan Tragedi&lt;br /&gt;ü Pembangunan dan Perkembangan&lt;br /&gt;ü Kejahatan&lt;br /&gt;ü Uang&lt;br /&gt;ü Perlawanan Kaum Tertindas&lt;br /&gt;ü Agama&lt;br /&gt;ü Selebritis&lt;br /&gt;ü Kesehatan&lt;br /&gt;ü Seks&lt;br /&gt;ü Cuaca&lt;br /&gt;ü Makanan dan Minuman&lt;br /&gt;ü Hiburan&lt;br /&gt;ü Olahraga dan Seni&lt;br /&gt;ü Kemanusiaan&lt;br /&gt;ü ?&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout  3&lt;br /&gt;KERANGKA TULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat selembar peta di tangan seorang pengembara, kerangka tulisan berfungsi sebagai “petunjuk jalan” bagi seorang penulis. Dari mana ia harus mulai melangkah dan masuk, tikungan dan tanjakan mana saja yang harus dijelajahi, dan akhirnya ia harus menentukan, puncak mana yang akan digapainya. Itulah tamsil kerangka tulisan: yakni, suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu tulisan yang akan digarap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping urutan rencana kerja, sebuah kerangka tulisan juga memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus dirinci dan dikembangkan. Kerangka tulisan menjamin suatu penyusunan yang logis dan teratur, serta memungkinkan seorang penulis membedakan gagasan-gagasan utama dari gagasan-gagasan tambahan.  Namun, pada dasarnya, sebuah kerangka tulisan harus fleksibel. Ia boleh berubah di tengah jalan, asal tetap berpedoman kepada tujuan yang hendak dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan kerangka tulisan boleh hanya membentang di kepala, asal Anda punya “daya rinci dan daya kendali” yang luar biasa. Yang aman dan nyaman, jika kerangka tulisan itu Anda coretkan dalam selembar kertas. Di samping mudah mengontrolnya, juga enak menggelindingkannya, serta Anda akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kegunaan lain membuat kerangka tulisan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a)    Agar gagasan tulisan jelas dan tersusun secara teratur. Dalam kerangka tulisan yang baik, selalu ada ungkapan gagasan pokok secara sekilas, yang kemudian dirinci dengan beberapa gagasan penjelas. Dengan demikian, karena diungkapkan secara tertulis, Anda dapat segera menilai, apakah gagasan pokok dan rinciannya itu sudah jelas dan tersusun logis&lt;br /&gt;(b)   Agar mudah menggarap klimaks yang beragam. Anda harus maklum, setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Klimaks itu bukan hanya ada di akhir tulisan, tapi juga di bagian-bagian tertentu dari tulisan itu. Nah, supaya pembaca dapat terpikat terus-menerus menuju klimaks utama, maka susunan bagian-bagian tertentu harus diatur pula, sesuai dengan klimaks yang hendak diraihnya.&lt;br /&gt;(c)    Agar terhindar dari pengulangan topik yang tidak perlu. Ada kemungkinan suatu bagian tulisan perlu dibicarakan dua kali atau lebih. Kalau bentuk dan teknik penyajiannya sama, hal itu kerap membosankan. Apalagi jika terjadi semacam “inkonsistensi” atau pernyataan yang satu sama lain bertentangan. Dengan adanya kerangka tulisan, kemungkinan buruk dan memalukan itu akan terhindarkan.&lt;br /&gt;(d)    Agar mudah mencari bahan pendukung. Dengan membuat perincian dalam kerangka tulisan, Anda dapat dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan suatu pernyataan/gagasan.  Juga Anda lebih terjamin untuk tidak berbuat keliru dalam penempatan data/fakta atau  ilustrasi/contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, suatu kerangka tulisan yang baik dibuat melalui proses yang berulang. Sebagai penulis pemula, Anda jangan terlalu cepat puas dengan kerangka tulisan pertama. Kemungkinannya, setelah Anda pertimbangkan dari  berbagai segi dan telah Anda diskusikan dengan teman sejawat yang paham akan topik yang hendak Anda tulis, kerangka tulisan pertama itu harus direvisi. Dan itu sesuatu yang lumrah. Bahkan wajib, agar kerangka tulisan Anda betul-betul matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah panduan pokok, agar Anda tidak tersesat dalam menyusun kerangka tulisan.&lt;br /&gt;(a)    Rumuskan topik tertentu berdasarkan tujuan yang akan dicapai melalui tulisan itu. Topik yang baik untuk menyusun kerangka tulisan harus berbentuk “pengungkapan maksud” atau tesis.&lt;br /&gt;(b)   Pastikan, ada masalah apa saja di balik topik yang hendak Anda tulis itu. Ungkapkan secara rinci berupa sub-sub topik dan gambarkan secara operasional (terukur secara kualitatif dan kuantitatif).&lt;br /&gt;(c)    Sejauh mana signifikansi (kemaknawian) topik dan masalah itu bagi segmen pembaca Anda.  Rumuskan dengan jelas dan terarah.&lt;br /&gt;(d)   Periksa topik dan sub-sub topik itu dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pertama, apakah semua sub-topik yang tercatat mempunyai pertalian (relevansi) langsung dengan topik utama/tesis? Jika kurang relevan, coret sub topik itu dari kerangka tulisan.&lt;br /&gt;Kedua, apakah sub-sub topik yang tersisa masih bisa dirumuskan dengan cara yang berlainan, yang lebih jelas dan tajam?  Jika bisa, lakukan!&lt;br /&gt;Ketiga, apakah sub-sub topik yang tersisa itu kedudukannya sederajat, atau ada sub topik yang sebenarnya merupakan bawahan atau perincian dari sub topik lain.  Jika ada, masukkan sub topik bawahan itu ke dalam sub topik yang lebih sederajat.&lt;br /&gt;Keempat,  Jika terlalu banyak sub topik yang sederajat, cari sub topik atasannya yang bisa membawahi semua sub topik yang sederajat itu.&lt;br /&gt;(e)    Pilih, Anda mau pakai pola susunan macam apa? Kronologis? Perbandingan? Topikal?  Spasial? Opini-penalaran? Masalah-pemecahannya? Atau, secara alur berpikir, Anda mau pakai pola induktif, deduktif, gabungan, atau prismatis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas&lt;br /&gt;1.      Pilih satu salah tulisan yang terdapat pada sebuah majalah edisi berapa saja. Lalu tebak dan tentukan, kira-kira kerangka tulisannya bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK/TESIS/MAKSUD TULISAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;………………………………………………………………………………………(cukup satu kalimat dalam bentuk proposisi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH dan SUBTOPIK&lt;br /&gt;………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;(Masalah cukup dalam satu kalimat tanya, sedangkan subtopik sesuai apa adanya dalam teks)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIGNIFIKANSI/KEMAKNAWIAN&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;(cukup satu kalimat dalam bentuk pernyataan harapan, misalnya dimulai dengan “agar pembaca…”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POLA TULISAN&lt;br /&gt;(  ) Kronologis  ( ) Perbandingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(  ) Topikal  ( )  Spasial  ( ) Opini-Penalaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( )  Induktif  ( ) Deduktif  ( ) Gabungan  ( ) Prismatis&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;(Biasanya jarang hanya satu pola, jadi Anda sangat boleh pilih lebih dari satu)&lt;br /&gt;2.      Anda sudah punya gagasan/bahan baku untuk menulis? Buatlah kerangka tulisan Anda berdasarkan kisi-kisi di  atas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 4&lt;br /&gt;MASIH KERANGKA TULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya  ini sangat penting. Jadi dibahas rada berkepanjangan. Lagi pula, membiasakan bikin kerangka tulisan itu tak mudah. Kebanyakan penulis, terutama para pemula, kerap terlalu percaya diri bahwa dirinya “mampu menulis” tanpa harus berepot-repot bikin kerangka segala. Sikap angkuh begitu bisa tak salah. Namun, ingat. Setiap orang yang mengaku profesional di bidangnya selalu bekerja atas dasar “:sistem”, bukan sekadar atas dorongan “syahwat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung kerangka tulisan merupakan salah satu komponen dari sistem menulis, maka yakinilah bahwa dengan membuat kerangka tulisan terlebih dulu, kerja menulis Anda akan lebih cepat dan sistematis serta hasilnya biasanya akan lebih bagus. Lihat saja, penulis dan wartawan senior sekaliber Rosihan Anwar masih berendah hati mau berepot-repot menyusun kerangka sebelum ngebut menulis dengan mesin tik tuanya.  Bahkan George Fridman, redaktur senior The Washington Post, haram menerima tulisan staf redaksinya yang tidak diawali dengan langkah membuat dan mengkonsultasikan kerangka tulisannya. Begitu pentingnya membuat sebuah kerangka tulisan sebagai salah satu tahap dalam perencanaan sebuah tulisan, maka seorang Arswendo Atmowiloto menyebutnya sebagai “sebuah blueprint yang menandakan bahwa sebuah tulisan telah diproses 75%”. Jadi, dengan kerangka di tangan, hanya tinggal selangkah lagi untuk menyelesaikan sebuah tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Anda, model kerangka tulisan begini yang ditawarkan (boleh dimodifikasi sesuai kebutuhan dan selera):&lt;br /&gt;A.                Tuliskan, peristiwa apa yang mendorong Anda mau menulis?&lt;br /&gt;Jawabannya boleh gara-gara Anda membaca sebuah berita di koran pagi atau lebih seru lagi kalau Anda mendengar, menyaksikan, mengalami, dan mengamatinya langsung.&lt;br /&gt;B.                 Tentukan, kira-kira peristiwa (A) itu enaknya dan tepatnya dipayungi oleh topik apa? Tuliskan saja dalam sebuah kalimat yang mengandung proposisi, boleh berisi tema atau cuma sudut pandang.&lt;br /&gt;C.                 Ajukan, ada masalah apa sih di balik peristiwa dan topik itu? Bikin saja dalam sebuah kalimat tanya yang berisi gugatan.&lt;br /&gt;D.                Lalu pastikan, apa perlunya bagi pembaca jika Anda menuliskan semuanya itu? Ini biasanya disebut signifikansi atau kemaknawian sebuah tulisan.&lt;br /&gt;E.                 Dari situ, baru bikin rincian: sub-sub topik apa saja yang akan Anda tulis. Bagian pembukanya apa, tengahnya apa, dan akan diakhiri dengan muatan apa.  Boleh juga membuat rincian berdasarkan jumlah paragraf yang hendak Anda tulis. Itu lebih bagus, karena akan langsung membimbing Anda dalam membangun paragraf. Di sini sekaligus juga tentukan, pola tulisan macam apa yang hendak Anda buat?&lt;br /&gt;F.                  Akhirnya sub-sub topik itu harus diperiksa secara cermat dan akurat, apakah bahan baku yang tersedia cukup memadai untuk mengembangkannya. Bila bahan baku dinilai kurang atau tidak ada sama sekali, segera cari, bisa lewat reportase atau kajian dokumen. Yang pasti, kerangka tulisan yang Anda buat harus sejalan dengan bahan baku yang tersedia. Ingat, Anda sedang menulis berita atau artikel, bukan sedang menulis puisi atau cerpen yang modalnya cukup dengan imajinasi.&lt;br /&gt;G.                Dari A s.d. D sebut saja sebagai “usulan tulisan”. Sedangkan dari E s.d. F boleh disebut “kisi-kisi tulisan”. Keduanya itu berada di bawah payung “kerangka tulisan”. Semuanya itu cuma merek saja, agar mudah memilah-milah dan jelas identitasnya.  Yang penting, Anda selalu menyadari, bahwa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik perlu tahapan perencanaan yang tertib.  Itu saja.&lt;br /&gt;H.                Contoh:&lt;br /&gt;(1)                           Peristiwa:      (a) Soeharto diadili&lt;br /&gt;(b) Gus Dur Belepotan Aib&lt;br /&gt;(tulis secara lengkap berdasarkan rumus 5W + 1 H)&lt;br /&gt;(2)                           Topik: Ketidakseriusan  pemerintahan Gus Dur dalam mengadili kasus-kasus KKN, terutama yang berkaitan dengan dosa-dosa Soeharto dan kroninya.&lt;br /&gt;(Harus terukur secara kuantitatif dan kualitatif)&lt;br /&gt;(3)                           Masalah: Apakah pengadilan Soeharto hanya sandiwara? (Dalam bentuk pertanyaan yang tajam dan menggugat, tapi tetap terukur secara kuantitatif dan kualitatif/bisa dicek kebenarannya pada peristiwa).&lt;br /&gt;(4)                           Signifikansi: Agar pembaca tak mudah tertipu oleh jurus-jurus palsu para politisi dalam upaya menegakkan hukum.&lt;br /&gt;(5)                           Pola tulisan: kronologis, opini-penalaran, gabungan.&lt;br /&gt;(6)                           Sub-sub topik:&lt;br /&gt;-                                              Pembukaan: 1 – 3 paragraf (hotnews-menggugah)&lt;br /&gt;-                                              Bodi    : 5 – 20 paragraf (data-opini publik-analisis)&lt;br /&gt;-                                              Penutup           : 1 – 3 paragraf (penilaian-opini media)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Latihan&lt;br /&gt;A.                Coba bikin sebuah “usulan tulisan” yang Anda proyeksikan untuk dimuat di PR.&lt;br /&gt;B.                 Coba bikin sebuah “kisi-kisi tulisan” yang Anda proyeksikan untuk dimuat di PR.&lt;br /&gt;C.                 Mari kita diskusikan, sejauh mana peluang kerangka tulisan Anda memenuhi kelayakan untuk  PR.&lt;br /&gt;2.      Lembar Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    USULAN TULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)               Peristiwa:………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;(2)               Sumber…………………………………………………………….&lt;br /&gt;(3)               Topik………………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;(4)               Masalah……………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;(5)               Signifikansi……………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     KISI-KISI TULISAN&lt;br /&gt;(1)   Pola tulisan:………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)   Subtopik:    ………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan:……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodi:………………………………………………………………………………………..………………………………………………………………………………………….…………………………………………………………………………………………...…………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….……………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup:…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 4&lt;br /&gt;MASIH KERANGKA TULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya  ini sangat penting. Jadi dibahas rada berkepanjangan. Lagi pula, membiasakan bikin kerangka tulisan itu tak mudah. Kebanyakan penulis, terutama para pemula, kerap terlalu percaya diri bahwa dirinya “mampu menulis” tanpa harus berepot-repot bikin kerangka segala. Sikap angkuh begitu bisa tak salah. Namun, ingat. Setiap orang yang mengaku profesional di bidangnya selalu bekerja atas dasar “:sistem”, bukan sekadar atas dorongan “syahwat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung kerangka tulisan merupakan salah satu komponen dari sistem menulis, maka yakinilah bahwa dengan membuat kerangka tulisan terlebih dulu, kerja menulis Anda akan lebih cepat dan sistematis serta hasilnya biasanya akan lebih bagus. Lihat saja, penulis dan wartawan senior sekaliber Rosihan Anwar masih berendah hati mau berepot-repot menyusun kerangka sebelum ngebut menulis dengan mesin tik tuanya.  Bahkan George Fridman, redaktur senior The Washington Post, haram menerima tulisan staf redaksinya yang tidak diawali dengan langkah membuat dan mengkonsultasikan kerangka tulisannya. Begitu pentingnya membuat sebuah kerangka tulisan sebagai salah satu tahap dalam perencanaan sebuah tulisan, maka seorang Arswendo Atmowiloto menyebutnya sebagai “sebuah blueprint yang menandakan bahwa sebuah tulisan telah diproses 75%”. Jadi, dengan kerangka di tangan, hanya tinggal selangkah lagi untuk menyelesaikan sebuah tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Untuk Anda, model kerangka tulisan begini yang ditawarkan (boleh dimodifikasi sesuai kebutuhan dan selera):&lt;br /&gt;Tuliskan, peristiwa apa yang mendorong Anda mau menulis?&lt;br /&gt;Jawabannya boleh gara-gara Anda membaca sebuah berita di koran pagi atau lebih seru lagi kalau Anda mendengar, menyaksikan, mengalami, dan mengamatinya langsung.&lt;br /&gt;Tentukan, kira-kira peristiwa (A) itu enaknya dan tepatnya dipayungi oleh topik apa? Tuliskan saja dalam sebuah kalimat yang mengandung proposisi, boleh berisi tema atau cuma sudut pandang.&lt;br /&gt;Ajukan, ada masalah apa sih di balik peristiwa dan topik itu? Bikin saja dalam sebuah kalimat tanya yang berisi gugatan.&lt;br /&gt;Lalu pastikan, apa perlunya bagi pembaca jika Anda menuliskan semuanya itu? Ini biasanya disebut signifikansi atau kemaknawian sebuah tulisan.&lt;br /&gt;Dari situ, baru bikin rincian: sub-sub topik apa saja yang akan Anda tulis. Bagian pembukanya apa, tengahnya apa, dan akan diakhiri dengan muatan apa.  Boleh juga membuat rincian berdasarkan jumlah paragraf yang hendak Anda tulis. Itu lebih bagus, karena akan langsung membimbing Anda dalam membangun paragraf. Di sini sekaligus juga tentukan, pola tulisan macam apa yang hendak Anda buat?&lt;br /&gt;Akhirnya sub-sub topik itu harus diperiksa secara cermat dan akurat, apakah bahan baku yang tersedia cukup memadai untuk mengembangkannya. Bila bahan baku dinilai kurang atau tidak ada sama sekali, segera cari, bisa lewat reportase atau kajian dokumen. Yang pasti, kerangka tulisan yang Anda buat harus sejalan dengan bahan baku yang tersedia. Ingat, Anda sedang menulis berita atau artikel, bukan sedang menulis puisi atau cerpen yang modalnya cukup dengan imajinasi.&lt;br /&gt;Dari A s.d. D sebut saja sebagai “usulan tulisan”. Sedangkan dari E s.d. F boleh disebut “kisi-kisi tulisan”. Keduanya itu berada di bawah payung “kerangka tulisan”. Semuanya itu cuma merek saja, agar mudah memilah-milah dan jelas identitasnya.  Yang penting, Anda selalu menyadari, bahwa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik perlu tahapan perencanaan yang tertib.  Itu saja.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Peristiwa: (a) Soeharto diadili&lt;br /&gt;(b) SBY  Belepotan Aib&lt;br /&gt;(tulis secara lengkap berdasarkan rumus 5W + 1 H)&lt;br /&gt;Topik: Ketidakseriusan  pemerintahan SBY dalam mengadili kasus-kasus KKN, terutama yang berkaitan dengan dosa-dosa Soeharto dan kroninya.&lt;br /&gt;(Harus terukur secara kuantitatif dan kualitatif)&lt;br /&gt;Masalah: Apakah pengadilan Soeharto hanya sandiwara? (Dalam bentuk pertanyaan yang tajam dan menggugat, tapi tetap terukur secara kuantitatif dan kualitatif/bisa dicek kebenarannya pada peristiwa).&lt;br /&gt;Signifikansi: Agar pembaca tak mudah tertipu oleh jurus-jurus palsu para politisi dalam upaya menegakkan hukum.&lt;br /&gt;Pola tulisan: kronologis, opini-penalaran, gabungan.&lt;br /&gt;Sub-sub topik:&lt;br /&gt;Pembukaan: 1 – 3 paragraf (hotnews-menggugah)&lt;br /&gt;Bodi    : 5 – 20 paragraf (data-opini publik-analisis)&lt;br /&gt;Penutup           : 1 – 3 paragraf (penilaian-opini media)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout  5&lt;br /&gt;ANALISIS BERITA:&lt;br /&gt;MENULIS BERITA ATAS DASAR FAKTA, DAN LOGIKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis berita adalah suatu bentuk ragam jurnalistik yang tidak sekadar berusaha mengambarkan fakta-fakta berdasarkan peristiwa tertentu, tetapi lebih jauh dan dalam lagi: berusaha mempengaruhi sikap dan pendapat pembaca, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulisnya.   Itulah yang disebut “analisis berita”: rumit, panjang, berliku, berat, dan padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa rumit? Karena  fakta yang menjadi bahan baku untuk analisis berita bukan sesuatu yang sederhana dan lumrah, tetapi mesti yang dahsyat, langka, dan diperkirakan akan menjadi momentum sejarah yang penting bagi kehidupan umat. Mengapa panjang dan beriku? Karena fakta yang menjadi bahan baku untuk analisis berita bukan sekadar dijajakan secara sekilas, tetapi digali latar belakangnya, dikorek detailnya, dan dibentangkan kemungkinan-kemungkinan ke depannya. Mengapa berat? Karena fakta yang menjadi bahan baku untuk analisis berita dicoba dicari kebermaknaannya dalam spektrum yang lebih luas dan dalam. Untuk itu diperlukan semacam “teori ilmiah” dan “landasan Ayat” tertentu sebagai pisau analisisnya. Mengapa padat? Karena karya tulis apapun memang tidak boleh bertele-tele. Jadi, melalui analisis berita, seorang jurnalis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah fakta-fakta itu bermakna “historis” atau sekadar peristiwa biasa saja. Analisis berita merupakan puncak yang paling tinggi dalam olah jurnalistik.  Ia bukan cuma butuh dukungan kecanggihan kerja liputan, juga diperlukan ketajaman visi dan keluasan wawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar sebuah tulisan yang masuk kategori “analisis berita” adalah berpikir kritis dan logis.  Untuk itu, ia harus bertolak dari fakta-fakta yang ada dan tersedia.  Fakta-fakta itu kemudian diolah sedemikian rupa agar jelas dan meyakinkan bagi pembaca.  Sebab itu, penulis analisis berita harus cermat meneliti apakah semua fakta yang akan dipergunakan itu benar dan relatif lengkap. Juga harus dicek, sejauh mana relevansinya dengan maksud yang hendak diungkapkan. Dengan fakta yang benar dan relatif lengkap, penulis analisis berita dapat merangkaikan suatu penuturan yang logis menuju kepada suatu kesimpulan yang tajam dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika kurang cermat menganalisis kebenaran dan kelengkapan fakta-fakta, seluruh proses analisis akan gagal dan ngawur. Jadi, sesungguhnya, problem pertama dalam kerja menulis analisis berita adalah menyangkut bidang penalaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penalaran adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan.  Ibaratnya sebuah bangunan, maka fakta-fakta itu dapat disamakan dengan batubata, batukali, semen, dan sejenisnya. Sedangkan proses penalaran itu sendiri dapat disamakan dengan bagan atau arsitektur untuk membangun gedung tersebut.  Jadi, penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulanm yang logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penalaran bukan saja dapat dilakukan dengan mempergunakan fakta-fakta yang masih polos, tetapi dapat juga dilakukan dengan mempergunakan fakta-fakta yang telah dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang berbentuk pendapat atau kesimpulan. Kalimat-kalimat semacam ini, dalam kaitannya dengan proses berpikir dalam rangka menulis analisis berita, lazim disebut proposisi, yakni: pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung di dalamnya. Jadi, sebuah proposisi dapat dibenarkan jika terdapat bahan-bahan atau fakta-fakta untuk membuktikannya. Sebaliknya, sebuah proposisi dapat disangkal atau ditolak jika terdapat fakta-fakta yang menentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PERISTIWA – SEBAB – DAMPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menulis analisis berita, jangan lupa posisi, bahwa Anda seorang wartawan, bukan ilmuwan atau politisi atau demonstran atau kiai. Jadi, bukalah tulisan Anda dengan narasi dan deskripsi peristiwa. Jangan sekali-kali Anda mengawali tulisan dengan teori, dalil, atau hal-hal yang beraroma “pikiran”.  Seorang jurnalis memang pada dasarnya merupakan sosok “manusia bebas”, tetapi bukan berarti boleh nyelonong ke sana kemari menabrak dan mengacak-acak  serta merecoki profesi orang lain.Bahwa Anda kemudian melakukan analisisnya juga terhadap suatu peristiwa, itu bukan berarti Anda jagoan berteori untuk bidang apa saja, tetapi analisis yang Anda lakukan sebatas mengacu kepada hukum-hukum logika yang umum dan keluasan wawasan yang Anda miliki.  Makanya, dalam analisis berita, narasi dan deskripsi peristiwa itu kemudian diikuti dengan “sebab-sebab terjadinya peristiwa itu” atau boleh juga semacam latar belakangnya (something behind news), yang bersumber dari kerja liputan mendalam dan investigasi serta ketajaman logika dan keluasan wawasan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup sampai di situ. Yang lebih penting lagi, dalam analisis berita, Anda harus mampu memperkirakan sejauh mana dampak peristiwa itu dalam konteks ruang dan waktu.  Artinya, apakah peristiwa pembakaran tempat-tempat maksiat itu misalnya akan berdampak positif  terhadap lingkungan moral sekitar, baik hari ini atau di masa depan. Untuk itu, yang diperlukan bukan sekadar keenceran otak dan ketajaman logika, tetapi juga  “pengetahuan teoretis” tentang peristiwa yang Anda tulis itu. Khusus untuk Anda sebagai jurnalis muslim, perlu menu tambahan yang berupa “keakraban Anda bergaul dengan Ayat”. Jadi, sesunguhnya, salah satu rumus menulis analisis berita itu sederhana, yaitu: PERISTIWA – SEBAB – DAMPAK. Rumus itulah yang harus dijadikan pedoman dalam membuat kerangka tulisan analisis berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LATIHAN&lt;br /&gt;1.      Dalam sepekan ini, tentukan minimal 3 topik analisis berita. Boleh berdasarkan bacaan, lobi, atau reportase langsung.&lt;br /&gt;2.      Buat kerangka perencanaan liputan dan penulisannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout  6&lt;br /&gt;BAGAIMANA JURUS MEMBUKA TULISAN ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ungkapan klise sangat dikenal di kalangan penulis, bahwa "paragraf pembuka adalah sebuah mukjizat". Sesungguhnya  dalam kenyataannya tak sepersis itu, namun ungkapan itu perlu dicerna dalam konteks: betapa pentingnya keberadaan kalimat/paragraf pembuka dalam sebuah tulisan dan betapa tak selalu mudah untuk memunculkannya. Coba cek dengan pengalaman pribadi Anda sendiri, bisa jadi ungkapan dan proposisi itu terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;            Baiklah. Itu tak penting. Yang lebih harus Anda perhatikan adalah kenyataan bahwa daya pikat dan kekuatan sebuah tulisan sangat bergantung pada sejauh mana kualitas kalimat/paragraf pembukanya. Maksudnya begini: orang tidak bakal ujug-ujug nengok kamar tamu, kamar tidur, atau wc, sebelum memandang dan menginjak teras sebuah rumah. Artinya, kesan dan penilaian pembaca terhadap sebuah tulisan bermula dari kalimat/paragraf pembuka, setelah baca judul  tentunya.  Begitu kalimat/paragraf pembuka menarik minat dan menggelitik hati, insya Allah, pembaca akan terus berlanjut memamah kalimat-kalimat/paragraf-paragraf berikutnya. Sebaliknya, jika kalimat/paragraf pembuka dirasakan biasa-biasa saja atau bahkan menjengkelkan dan memuakkan, pembaca yang jujur dan berselera akan segera menghentikan proses membacanya.  Buat apa repot-repot baca tulisan yang penampilan pertamanya saja sudah menunjukkan cacat bawaan dan berkesan kurang menghormati pembaca yang cerdas dan budiman.&lt;br /&gt;            Lebih dari itu, pembaca sekarang memang cenderung kian kritis dan manja. Kritis dalam arti, mereka hanya membaca tulisan yang betul-betul mereka perlukan. Manja dalam arti, tulisan yang diperlukannya itu harus dikemas dengan selera tertentu yang layak dinikmati. Jadi, sebagai penulis, Anda tak cukup hanya menyajikan informasi yang betul-betul dibutuhkan oleh segmen pembaca media Anda, tapi lebih dari itu: Anda pun dituntut  untuk mengemasnya dalam bantuk tulisan yang mengundang greget dan menggelar daya pikat.&lt;br /&gt;            Kembali ke soal kalimat/paragraf pembuka dalam sebuah tulisan, paling tidak ada 23 jenis bukaan yang dikenal dan lazim dipergunakan para penulis profesional untuk berbagai bidang.  Namun, berhubung Anda wartawan dan bekerja di sebuah media tulis dwimingguan, tak semua jenis bukaan itu Anda perlukan. Sebagai seorang jurnalis, yang harus menjadi kredo utama Anda dalam menulis kalimat/paragraf pembuka adalah:  Bukalah tulisan Anda dengan PERISTIWA.   Jenis bukaan inilah yang menduduki peringkat tertinggi dalam tulisan jurnalistik.  Sebagaimana Anda maklum, yang namanya PERISTIWA dalam kaidah jurnalistik terangkum dalam rumus 5W + 1H (what, where, why, when, who + how). Jadi Anda boleh memilih salah satu atau lebih dari muatan rumus itu untuk dijadikan kalimat pembuka, sesuai dengan relevansi dan urgensi sebuah topik tulisan.   &lt;br /&gt;            Mari kita diskusikan penggalan-penggalan kalimat pembuka berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Menunjukkan fakta tempat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pasar tanahabang, Jakarta Pusat, salah satu sentra ekonomi tempat tumbuhnya para preman, kutipan liar kepada para pedagang masih berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh, darah mengalir begitu mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Menggambarkan fakta orang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Abdul Rohim, 31 tahun, ditanam sebatas dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan anak muda berwajah bercahaya, berjenggot, bersorban, dan mengenakan baju jubah warna putih, berkumpul di Kampung Munjul, Desa Kayumanis, Bogor.&lt;br /&gt;(3) Membandingkan fakta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Abdurahman Wahid memiliki tiga juru bicara, jumlah yang tidak dipunyai oleh presiden-presiden sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyali Prayogo pangestu ternyata tak sebesar orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan pertandingan tinju, pertarungan politik sekarang ini sudah sampai ronde-ronde terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Menunjukkan fakta kegiatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sweeping buku yang dianggap kiri dilarang oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pria lemah syahwat, kini ada menu baru pengganti cula badak: daging ikan lumba-lumba rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Menggambarkan fakta suasana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi tak beranjak dari Wisma Hing Puri Bima sakti Batutulis, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung menggelayut di wajah sophie Gustafson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang rapat kerja DPR itu sudah berpendingan, tapi Wiranto terlihat gerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang persegi yang berdinding tiga terdiri dari kain putih itu terkesan apik dan mencekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Menceritakan fakta kronologis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jafar Umar Thalib tidak menyangka perjalanannya dari Yogyakarta menuju Makassar, awal Mei lalu, harus berakhir di Jakarta -- di sel sempit tahanan polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Menjelaskan fakta sejarah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunisme sudah bangkrut di Rusia bersama tumbangnya sejumlah patung Lenin dan Stalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada persamaan dalam sejarah kepresidenan di republik ini, barangkali itu adalah dalam perkara kegamangan untuk berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan Maret tahun 2000, Uganda dikejutkan aksi bunuh diri massal para pengikut Sekte "Gerakan Restorasi Sepuluh Perintah Allah" yang dipimpin oleh Joseph Kibweteree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8) Menunjukkan fakta perspektif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masanya nanti, bulan hanya bisa dilihat dari daratan Asia dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Digelarnya SI MPR nampaknya sudah keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9) Kutipan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Erap must resign now!" Itulah sebaris pesan lewat short message service (SMS), yang sempat ngetrend di kalangan pengguna ponsel Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Hate Israel adalah salah satu tembang dari album penyanyi pop Mesir, Shaaban Abdel Rehim, , yang kini sering berkumandang di beberapa stasiun radio Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad (Tempo, 20 Mei 20001) tentang hukum rajam, sungguh mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 7&lt;br /&gt;WAWAWANCARA&lt;br /&gt;A.    Pengertian&lt;br /&gt;Wawancara, yang merupakan topik pelatihan ini, adalah satu jenis percakapan yang khas, yang lazim dipergunakan untuk menggali informasi.  Percakapan yang berlangsung dalam wawancara biasanya berupa tanya jawab. Wawancara sering diasosiasikan dengan pekerjaan kewartawanan untuk keperluan penulisan berita atau feature yang disiarkan dalam media massa. Wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan, misalnya, penelitian atau penerimaan pegawai. Wawancara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah yang biasa dilakukan di dunia jurnalistik. Berbeda dengan ngobrol, dalam dunia jurnalistik, wawancara bertujuan pasti: menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Berbeda dengan penyidik atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapi membujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukannya.&lt;br /&gt; Bingham dan Moore (1924: 3) mendefinisikan wawancara sebagai "Suatu percakapan berdasarkan suatu maksud". Definisi wawancara yang lain yang lebih rinci dikemukakan oleh Stewart dan Cash (1988:3), yakni "Suatu proses komunikasi diadik, relasional, dengan tujuan yang serius dan ditetapkan terlebih dulu yang dirancang untuk mempertukarkan perilaku dan melibatkan tanya jawab". Kata "serius" dalam definisi tersebut dapat mengundang persoalan manakala dikonfirmasikan dengan fakta bahwa sekarang ini banyak acara wawancara di televisi yang berbentuk hiburan yang populer (misalnya, berbagai acara talkshow), meskipun tetap dikemas dengan topik yang serius.&lt;br /&gt;Apapun bentuk dan tujuannya, pewawancara biasanya menggunakan satu dari dua pendekatan: yang baku dan tidak baku. Menurut Tubbs dan Moss (1996:42),  wawancara baku terdiri dari seperangkat pertanyaan yang dipegang teguh pewawancara dan tidak boleh menyimpang dari daftar pertanyaan yang telah ditetapkan itu, sedangkan wawancara tidak baku memungkinkan pewawancara dan juga responden memperoleh keleluasaan. Dalam kenyataannya, wawancara baku juga membolehkan sedikit kebebasan untuk bertanya sedikit menyimpang dari daftar pertanyaan yang telah ditetapkan; sebagaimana wawancara tidak baku juga tidak memberikan keleluasaan yang mutlak untuk bertanya atau menjawab seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     Bentuk-bentuk Pertanyaan dalam Wawancara&lt;br /&gt;Wawancara pada dasarnya adalah suatu dialog yang memungkinkan suatu pihak, pewawancara, membimbing arah percakapan melalui serangkaian pertanyaan. Seorang pewawancara yang terampil biasanya sangat menguasai seni bertanya. Ia merespons setiap jawaban yang diterimanya dengan memodifikasi pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Karena itulah,  Tubbs dan Moss (1996:43) mengidentifikasi beberapa kategori pertanyaan, yang masing-masing berpasangan secara diametral. yaitu: pertanyaan terbuka &gt;&lt;&gt;&lt;&gt;&lt; pertanyaan netral.&lt;br /&gt;   Pertanyaan terbuka biasanya menyerupai pertanyaan esei dalam ujian; ia tidak membatasi panjangnya jawaban responden. Ia juga memberi responden lebih banyak keleluasaan untuk menafsirkan topik yang akan dibicarakan. Contoh pertanyaan terbuka adalah,&lt;br /&gt;(1)         maukah Anda menceritakan pengalaman kerja Anda?&lt;br /&gt;(2)         Bagaimanakah perasaan Anda mengenai perkawinan Anda yang gagal itu?&lt;br /&gt;            Keuntungan-keuntungan pertanyaan terbuka menurut Tubbs dan Moss (1996:43-44) adalah: ia memungkinkan responden menyampaikan informasi yang ia anggap penting; ia memungkinkan pewawancara mengetahui kekurangpahaman responden dalam suatu bidang; ia memungkinkan responden menyatakan perasaannya, prasangka yang mungkin ada, dan stereotip mengenai suatu isu; dan memungkinkan pewawancara mengetahui keterampilan responden dalam berkomunikasi. Adapun Kerugian pertanyaan terbuka menurut Weaver (1985) adalah bahwa ia memerlukan banyak waktu dan mungkin membatasi kemajuan wawancara, dan oleh karena itu mengurangi jumlah topik yang bisa dibahas.&lt;br /&gt;      Pertanyaan tertutup bersifat lebih spesifik dan biasanya membutuhkan jawaban yang lebih pendek dan lebih langsung (Tubbs dan Moss, 1996:44). Inilah contoh-contoh pertanyaan tertutup:&lt;br /&gt;(3)   Berapa tahun Anda telah bekerja dalam bidang jurnalistik ini?&lt;br /&gt;(4)   Aspek apa dalam perkawinan Anda yang dirasakan sangat menyulitkan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tertutup juga dapat membatasi responden agar hanya menjawab berdasarkan pilihan terbatas, misalnya ya atau tidak, benar atau salah, setuju atau tidak setuju. Contohnya:&lt;br /&gt;(5)   Maukah Anda bekerja untuk sebuah perusahaan kecil?&lt;br /&gt;(6)   Apakah Anda merasa bahagia dalam perkawinan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal urutan penggunaannya, pertanyaan terbuka biasanya lebih banyak digunakan di bagian awal wawancara, sedangkan pertanyaan tertutup kerap digunakan untuk lebih memusatkan percakapan ketika wawancara sedang berlangsung. Moffatt (1979:83) menyebut pendekatan dalam hal urutan wawancara itu sebagai "urutan corong (the funnel sequence) dan melukiskannya dalam bentuk gambar seperti berikut.&lt;br /&gt;Pertanyaan tertutup mempunyai keuntungan-keuntungan berikut: lebih banyak pertanyaan dapat ditanyakan dalam banyak bidang dan memerlukan waktu lebih sedikit dibandingkan dengan pertanyaan terbuka; pewawancara dapat membimbing dan mengatur wawancara dengan terkendali; dan pertanyaan tertutup sering lebih mudah dan kurang mengancam bagi responden sehingga cenderung melegakan responden. Kerugian-kerugian pertanyaan tertutup meliputi: ia memberi sedikit informasi mengenai isu yang ditanyakan, dan ia dapat menutup bidang-bidang yang mungkin berharga untuk diketahui oleh pewawancara dalam usahanya untuk menyimpulkan dan/atau membuat keputusan mengenai responden.&lt;br /&gt;Bentuk pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan primer dan pertanyaan sekunder. Menurut  Tubbs dan Moss (1996:45),  pertanyaan primer memperkenalkan sebuah topik baru dalam wawancara. Contoh (1), (2), (3), (4), (5), dan (6) di atas  dapat dijadikan contoh-contoh pertanyaan primer.  Adapun pertanyaan sekunder, yang lazim juga disebut pertanyaan menyelidik, adalah bentuk pertanyaan untuk menyusul pertanyaan primer dan dimaksudkan untuk meminta penjabaran dari responden. Ucapan-ucapan seperti, "Oh, begitu. Dapatkah Anda menceritakan lebih jauh lagi?" atau "mengapa Anda tidak teruskan?" cenderung memancing komentar lebih jauh mengenai pernyataan sebelumnya. Jeda pendek dapat juga memancing reaksi yang sama, yang memungkinkan responden menyatakan pikirannya lebih lengkap. Contoh-contoh lain pertanyaan sekunder adalah:&lt;br /&gt;(7)         Teruskan!&lt;br /&gt;(8)         Ceritakan lebih jauh lagi!&lt;br /&gt;(9)         Uh huh?&lt;br /&gt;(10)     Mengapa?&lt;br /&gt;(11)     Mengapa tidak?&lt;br /&gt;(12)     Apa yang Anda maksudkan?&lt;br /&gt;(13)     Dapatkah Anda menjabarkannya?&lt;br /&gt;(14)     Dapatkah Anda menambahkan lagi?&lt;br /&gt;(15)     Apakah Anda punya alasan-alasan lain?&lt;br /&gt;(16)     Apa sebabnya?&lt;br /&gt;Pertanyaan sekunder yang dimaksudkan untuk menyelidiki lebih jauh mempunyai keuntungan dalam arti bahwa ia secara signifikan menambah jumlah informasi yang diperoleh dari responden. Pertanyaan susulan itu memungkinkan responden  menambah penjelasan sebanyak yang ia inginkan. Kerugian terbesarnya adalah bahwa ia dapat membuat responden defensif. Selain itu,  responden mungkin tidak suka diselidiki lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;Bentuk pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan netral dan pertanyaan menggiring. Menurut Tubbs dan Moss (1996:46), pertanyaan  netral adalah pertanyaan yang tidak secara eksplisit atau implisit menyarankan jawaban yang diinginkan, sedangkan pertanyaan menggiring adalah sebaliknya.  Stewart dan Cash (1988)  menunjukkan  adanya perbedaan arah antara pertanyaan netral dan pertanyaan menggiring dalam contoh-contoh pertanyaan berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Netral                                            &lt;br /&gt;(17a) Apakah Anda menyukai pekerjaan ini? &lt;br /&gt;(18a) Apakah Anda ikut kami?                         &lt;br /&gt;(19a) Bagaimana sikap Anda terhadap Serikat Pekerja?                                            &lt;br /&gt;(20a)  Bagaimana pendapat Anda mengenai peraturan pajak yang baru?                              &lt;br /&gt;Pertanyaan Menggiring&lt;br /&gt;(17b) Anda menyukai pekerjaan ini, kan?&lt;br /&gt;(18b) Anda ikut kami, kan?   &lt;br /&gt;(19b) Apakah Anda menentang   Serikat Pekerja seperti&lt;br /&gt;          kebanyakan pekerja yang lain?&lt;br /&gt;(20b) Tidakkah Anda berpendapat, Peraturan pajak yang baru itu&lt;br /&gt;          tidak adil buat para petani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Bentuk-bentuk Jawaban dalam Wawancara&lt;br /&gt;Terlepas dari pertanyaan yang diajukan, pewawancara tidak pernah sepenuhnya yakin dapat memperoleh jawaban memadai dan berkualitas sebagaimana yang diinginkan. Hal itu terjadi, Menurut Tubbs dan Moss (1996:49), karena wawancara adalah proses yang dinamik, bukan peristiwa yang sepenuhnya dapat diprogram dan dikendalikan. Karena itu pula, maka bentuk-bentuk jawaban dalam wawancara secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori: jawaban yang memadai dan jawaban yang tidak memadai.  Mengenai jawaban yang memadai, Tubbs dan Moss tak mempersoalkannya lebih jauh. Yang penting, menurut keduanya, adalah identifikasi tentang jawaban yang tidak memadai yang dapat mengganggu jalannya wawancara dan pada guliran berikutnya dapat menggagalkan tujuan wawancara.&lt;br /&gt;   Tubbs dan Moss (1996:49-51) mencatat adanya enam bentuk jawaban dalam wawancara yang dapat dikategorikan sebagai "tidak memadai", yaitu: tidak ada jawaban, jawaban parsial, jawaban tidak relevan, jawaban tidak cermat, dan jawaban terlalu verbal.&lt;br /&gt;   Bentuk Jawaban Tidak Ada Jawaban. Dalam suatu wawancara, adakalanya responden tidak memberikan jawaban sama sekali dengan cara berdiam diri atau menolak menjawab dengan mengatakan, misalnya, " "Saya tidak bersedia mengatakan hal itu".  Menghadapi bentuk jawaban yang "tidak ada jawaban" itu,  pewawancara yang berpengalaman biasanya segera mengalihkan pertanyaan dengan topik lain atau topik tetap sama tetapi cara mengajukan pertanyaannya yang diubah.&lt;br /&gt;Bentuk Jawaban Parsial. Jika responden hanya menjawab bagian tertentu dari pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara dan oleh karenanya pewawancara menganggap jawaban respondennya itu tidak lengkap, maka itu artinya si responden memberikan jawaban yang parsial. Pewawancara yang berpengalaman biasanya akan mengulangi bagian pertanyaan yang belum dijawab atau meninjau kembali kejelasan dan relevansi pertanyaan yang diajukan.&lt;br /&gt;Bentuk Jawaban Tidak Relevan. Bereaksi secara layak terhadap jawaban yang tidak relevan lebih rumit karena ada dua alasan mengapa responden menjawab demikian.  Ia mungkin tidak sepenuhnya memahami pertanyaan atau mungkin sengaja tidak ingin menjawabnya. Menurut Stubbs dan Moss (1996:50),  politisi tampaknya sering secara sengaja menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tidak relevan.&lt;br /&gt;Bentuk Jawaban Tidak Cermat. Sering seorang responden yang tidak ingin mengungkapkan informasi lalu memberikan jawaban yang tidak cermat, terutama bila penyampaian kebenaran akan merugikannya atau memalukannya. Sayangnya, jawaban yang tidak cermat sering sulit dideteksi pewawancara, terutama dalam wawancara awal. Padahal kecermatan informasi yang diterima pewawancara ditentukan antara lain oleh motivasi responden. Orang yang merasa terancam oleh wawancara lebih terdorong untuk memberikan data sesuai dengan harapan pewawancara. Orang kadang-kadang menjawab secara tidak cermat untuk menjaga tingkat status sosialnya atau untuk memperoleh status sosial yang lebih tinggi. Dalam penelitian Lansing dan Blood (1964) ditemukan fakta, bahwa orang-orang yang berpenghasilan tinggi suka melebih-lebihkan frekuensi bepergian dengan pesawat terbang dan mengecil-ngecilkan pinjaman uang yang diperoleh untuk membeli mobil.&lt;br /&gt;Bentuk Jawaban Terlalu Verbal. Responden yang memberi jawaban yang terlalu verbal berarti memberikan informasi lebih daripada yang ingin diketahui pewawancara. Kadang-kadang jawaban yang panjang mengandung banyak informasi yang tidak relevan. Jawaban yang terlalu verbal akan membatasi informasi yang ingin diketahui pewawancara dalam waktu yang tersedia. Pewawancara yang berpengalaman biasanya berusaha secara taktis membimbing responden agar kembali menjawab inti pertanyaan, dan untuk itu pewawancara dapat mengajukan lebih banyak pertanyaan tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Struktur Wawancara&lt;br /&gt;Sebuah wawancara yang baik, menurut Tubbs dan Moss (1996:52-55), harus mempunyai struktur yang jelas, paling tidak terdiri atas: pembukaan, batang tubuh, dan penutupan.&lt;br /&gt;Pembukaan Wawancara. Wilson dan Goodall (1991:53) mengemukakan tiga tujuan yang saling berhubungan dalam pembukaan wawancara: (1) untuk membuat responden merasa disambut dan santai; (2) memberi responden perasaan bahwa kedatangannya bermanfaat; dan (3) membahas beberapa topik utama yang akan ditanyakan. &lt;br /&gt;Batang Tubuh Wawancara. Kahn dan Cannell (1968) menganjurkan agar batang tubuh wawancara itu diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang langsung berkaitan dengan topik utama wawancara, dengan teknik penyajian berdasarkan urutan corong (lihat Gambar:1). Pewawancara mulai dengan pertanyaan yang luas dan secara bertahap diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik.&lt;br /&gt;Kesimpulan Wawancara. Menurut Tubbs dan Moss (1996:54-55), hampir setiap wawancara yang baik memanfaatkan ringkasan wawancara sebagai kesimpulan suatu wawancara. Ringkasan itu bisa berkisar tentang pernyataan singkat hingga berupa tinjauan topik-topik yang didiskusikan.  Kemungkinan adanya kesimpulan yang tidak menyenangkan atau kurang memuaskan sangat berkaitan dengan keterampilan pewawancara dalam menutup dan membuat kesimpulan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARADIGMA PELIPUTAN DAN PENULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan Peliputan/Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari peliputan/penulisan berita berdasarkan paradigma kritis adalah untuk mengkritik dan mentransformasi hubungan sosial yang timpang.  Reporter/redaktur melakukan kerja jurnalistik berdasarkan pada penguatan masyarakat, terutama masyarakat bawah. Oleh karena itu, tujuan dari peliputan/penulisan kritis adalah mengubah dunia yang timpang, yang banyak didominasi oleh kekuasaan yang menindas kelompok bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan peliputan/penulisan kritis tersebut tentu saja berbeda dengan tujuan peliputan/penulisan positivistik. Dalam paradigma positivistik, peliputan/penulisan dimaksudkan untuk mengadakan eksplanasi, membuat prediksi, dan melakukan kontrol. Dunia dibayangkan sebagai sesuatu yang netral dan dipandang penuh dengan misteri, sehingga harus digambarkan dan dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Realitas Peliputan/Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pandangan positivistik, diandaikan ada realitas yang nyata yang berlaku universal dan diatur dengan kaidah-kaidah tertentu. Di sini diandaikan ada realitas yang berada di luar reporter/redaktur, dan karena itu tugas seorang reporter/redaktur adalah menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan realitas tersebut.  Sebaliknya dalam pandangan paradigma kritis, tidak ada realitas yang benar-benar nyata, karena realitas yang muncul sebenarnya semu yang terbentuk bukan melalui proses alami, tetapi oleh proses sejarah dan kekuatan sosial, politik, dan ekonomi.&lt;br /&gt;Berbeda dengan pandangan positivistik, paradigma kritis memahami realitas bukan dibentuk oleh alam (nature), bukan alami, tetapi dibentuk oleh manusia. Ini tidak berarti setiap orang membentuk realitasnya sendiri-sendiri, tetapi orang yang berada dalam kelompok dominanlah yang menciptakan realitas, dengan memanipulasi, mengkondisikan orang lain agar mempunyai penafsiran dan pemaknaan seperti yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;Dalam pandangan kritis, realitas bukan ada dalam suatu tatanan (order), tetapi berada dalam suatu konflik, ketegangan, dan kontradiksi yang berjalan terus-menerus yang diakibatkan oleh dunia yang berubah secara konstan. Hal ini berbeda dengan pandangan positivistik yang memahami realitas sebagai sesuatu yang ajeg, teratur, dan tersusun.&lt;br /&gt;Contoh: liputan/tulisan tentang mogok kerja buruh. Dalam tradisi peliputan/penulisan positivistik, peliputan/penulisan terutama dilihat dalam level mikro, seperti apa tuntutan dan jenis tuntutan.  Akan tetapi, kalau kita melakukan peliputan/penulisan dalam level paradigma kritis, analisis berita akan diangkat ke level yang lebih makro. Misalnya, dengan mempertanyakan, kenapa media lebih banyak memberitakan keburukan buruh dibandingkan dengan keburukan pengusaha? Mengapa mogok buruh lebih banyak diberitakan dibandingkan dengan upah minim yang diberikan oleh pengusaha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Fokus Liputan/Tulisan&lt;br /&gt;Pada pendekatan positivistik diandaikan ada realitas yang bersifat objektif, sesuatu yang berada di luar diri reporter/redaktur. Oleh karena itu, reporter/redaktur harus membuat jarak sejauh mungkin dengan objek yang ingin diliputnya/ditulisnya. Sebaliknya, dalam pandangan kritis hubungan antara reporter/redaktur dengan realitas yang diliputnya/ditulisnya selalu dijembatani oleh nilai-nilai tertentu.&lt;br /&gt;Karena titik perhatiannya pada realitas yang dianggap ada dan netral, maka dalam tradisi peliputan/penulisan positivistik, penyuntingan diarahkan untuk menemukan ada atau tidak ada bias dengan meneliti sumber berita, pihak-pihak yang diwawancarai, bobot penulisan, dan kecenderungan pemberitaan.  Kalau ada kekeliruan atau bias, penjelasan umumnya juga ditekankan dengan mencari sumber-sumber kesalahan yang mungkin ada: waktu yang terbatas bagi reporter, keterbatasan ruang dan kekeliruan redaktur, dan sebaginya.  Hal inilah yang membedakannya dengan pendekatan kritis.  Penempatan sumber berita yang menonjol dibandingkan dengan sumber lain, menempatkan wawancara seorang tokoh lebih besar dari tokoh lain, liputan yang hanya satu sisi dan merugikan pihak lain, tidak berimbang dan secara nyta memihak satu kelompok tidaklah dianggap sebagai kekeliruan dan bias, tetapi dianggap memang itulah praktik yang semestinya dijalankan oleh wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Posisi Reporter/Redaktur/Media&lt;br /&gt;Salah satu sifat paradigma kritis adalah pandangan yang menyatakan bahwa reporter/redaktur bukanlah subjek yang bebas nilai ketika memandang subjek liputan. Paradigma kritis menolak pandangan positivistik yang memandang reporter/redaktur sebagai subjek yang netral dan bebas nilai. Liputan/tulisan berita yang sifatnya kritis umumnya beranjak dari pandangan atau nilai tertentu yang diyakini sebagai ideologinya reporter/redaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Cara Peliputan/Penulisan&lt;br /&gt;Paradigma kritis mendasarkan diri pada penafsiran reporter/redaktur atas peristiwa.  Paradigma kritis lebih ke penafsiran karena dengan penafsiran kita dapatkan dunia dalam, masuk menyelami peristiwa, dan meningkap makna yang yang ada di baliknya.  Hal ini tidak terdapat dalam paradigma positivistik, yang bergerak pada apa yang terlihat dalam peristiwa sehingga makna dalam atau "sesuatu" di balik peristiwa tidak terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 9&lt;br /&gt;STRUKTUR BERITA (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Tematik&lt;br /&gt;Elemen topik/tematik menunjuk pada gagasan inti, ide induk, konsep dominan suatu berita. yang penting dipahami di sini adalah pandangan bahwa ketika wartawan meliput suatu peristiwa dan memandang suatu masalah selalu didasarkan pada suatu mental/pikiran tertentu.  Kognisi atau mental ini secara jelas dapat dilihat dari topik yang dimunculkan dalam berita.  Karena topik di sini dipahami sebagai mental atau kognisi wartawan, tidak mengherankan jika semua elemen dalam berita mengacu dan mendukung topik dalam berita.  Elemen ini dipandang sebagai bagian dari strategi yang dipakai oleh wartawan untuk mendukung topik yang ingin dia tekankan dalam pemberitaan.  Peristiwa yang sama bisa jadi dipahami secara berbeda oleh wartawan yang berbeda, dan ini dapat diamati dari topik suatu pemberitaan.  Sebuah demonstrasi misalnya, bisa menghasilkan pandangan yang berbeda. Ada yang memaknai demonstrasi sebagai kekerasaan publik, ada juga yang menyebutnya sebagai kebrutalan polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Skematik&lt;br /&gt;Meskipun mempunyai bentuk dan skema yang beragam, berita umumnya secara hipotetik mempunyai dua kategori skema besar. Pertama,  summary, yang umumnya ditandai dengan dua elemen, yakni judul dan lead.  Elemen skema ini merupakan elemen yang dipandang paling penting. Judul dan lead umumnya menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh wartawan dalam pemberitaannya. Lead ini umumnya sebagai pengantar ringkasan apa yang ingin dikatakan sebelum masuk ke dalam isi berita secara lengkap. Kedua, story, yakni isi berita secara keseluruhan. Isi berita ini secara hipotetik juga mempunyai dua subkategori. Yang pertama berupa situasi, yakni proses atau jalannya peristiwa, sedangkan yang kedua berupa komentar yang ditampilkan dalam teks.  Jadi, kalau dalam berita mengenai demonstrasi, isi berita umumnya terdiri atas laporan dan tulisan wartawan mengenai proses jalannya demonstrasi (apa yang dilihat di lapangan), juga komentar pihak-pihak yang terlibat, komentar mahasiswa mengenai tuntutan yang diajukan, polisi yang menjaga demonstrasi, atau pun ahli dan pejabat mengenai apa yang dilakukan oleh mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep skematik di atas dapat dijadikan strategi oleh wartawan untuk mendukung topik tertentu yang ingin disampaikan dengan cara menyusun bagian-bagian dengan urutan tertentu.  Skematik memberikan tekanan mana yang didahulukan dan bagian mana yang bisa belakangan. Ini merupakan bagian dari strategi untuk memanipulasi atau bahkan untuk menyembunyikan informasi penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Latar&lt;br /&gt;Latar merupakan bagian berita yang dapat mempengaruhi arti dan maksud yang ingin ditampilkan kepada khalayak pembaca.  Latar yang dipilih menentukan ke arah mana pandangan khalayak pembaca hendak dibawa sekaligus dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam teks berita.  Ini merupakan cerminan ideologis wartawan dan media.  Misalnya ada berita mengenai penting tidaknya gerakan mahasiswa. Bagi yang setuju gerakan mahasiswa, latar yang dipakai adalah keberhasilan berbagai gerakan mahasiswa. Sebaliknya, yang tidak setuju gerakan mahasiswa akan memakai latar berbagai kerusuhan selama terjadinya demonstrasi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita diskusikan contoh berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Latar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko-toko milik pengusaha Cina rusak dibakar dan dijarah massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko-toko milik pengusaha Cina rusak  dibakar dan dijarah massa. Ini bentuk protes dari orang-orang miskin. Selama bertahun-tahun pengusaha Cina menguasai dan memonopoli usaha dari hulu sampai hilir. Monopoli ini bahkan didukung oleh pemerintah yang melindungi dan tidak membatasi perluasan usaha para pengusaha Cina tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko-toko milik pengusaha Cina rusak dibakar dan dijarah massa.  Sudah berulangkali penjarahan ini dilakukan dan korbannya selalu pengusaha Cina. Penjarahan ini mulai marak setelah Peristiwa Mei dua tahun silam, dan sejak saat itu seolah menjadi trend. Pemerintah dan aparat keamanan tidak ada tanda-tanda mencegah apalagi menindak para penjarah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tambah paham dan mahir, sebagai Pe-eR, coba cari di media yang Anda baca contoh berita tanpa latar dan yang berlatar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Latar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;…………………………………………………………………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 10&lt;br /&gt;STRUKTUR BERITA (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Detil&lt;br /&gt;Elemen berita yang menyangkut detil berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seorang jurnalis.  Ini berangkat dari asumsi bahwa setiap komunikator akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan dirinya atau yang sekiranya mendukung citra yang baik tentang dirinya.  Sebaliknya, ia akan menampilkan informasi dalam jumlah sedikit (bahkan kalau perlu tidak disampaikan) kalau hal itu merugikan kedudukannya. Pada kenyataannya, informasi yang menguntungkan komunikator, bukan hanya ditampilkan secara berlebih tetapi juga dengan detil yang lengkap, kalau perlu dengan didukung oleh data-data.  Detil yang lengkap dan panjang lebar merupakan penonjolan yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak.  Detil yang lengkap itu akan dihilangkan kalau berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut kelemahan atau kegagalan dirinya.  Singkat kata, hal yang menguntungkan komunikator (dalam konteks ini bisa jurnalis sendiri sebagai pribadi dan/atau media sebagai lembaga) akan diuraikan secara detil dan terperinci, sebaliknya fakta yang tidak menguntungkan, detil informasi akan dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen detil merupakan strategi bagaimana wartawan mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Sikap atau wacana yang dikembangkan oleh wartawan kadangkala tidak perlu disampaikan secara terbuka, tetapi dari detil bagian mana yang dikembangkan dan mana yang diberitakan dengan detil yang besar, akan menggambarkan bagaimana apa dan bagaimana wacana yang dikembangkan oleh media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memahami konsep detil di atas, mari kita diskusikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Detil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam demonstrasi menentang RUU PKB kemarin, terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Mentrokan terjadi setelah mahasiswa yang ingin berjalan menuju gedung DPR dihalau oleh aparat keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam demonstrasi menantang RUU PKB kemarin, terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Mahasiswa yang berdemonstrasi tampaknya sadar bakal terjadi bentrokan. Mereka memperlengkapi diri dengan pentungan, rotan, ketapel, bahkan bom molotov. Sebuah bom molotov yang dilempar demonstran sempat mengenai aparat keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam demonstrasi menentang RUU PKB kemarin, terjadi bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Polisi sendiri bertindak tegas bahkan cenderung keras menghadapi aksi demonstrasi tyersebut. Berkali-kali pukulan dihantamkan dan gas air mata disemburkan oleh aparat keamanan agar mahasiswa membubarkan diri. Seorang mahasiswa sempat terkapar tak sadarkan diri akibat pukulan aparat keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam kalimat pertama, peristiwa bentrok demonstrasi itu tidak diuraikan secara detil.  Kalimat itu hanya menjelaskan telah terjadi bentrokan ketika mahasiswa demonstran berusaha mendekati gedung DPR.  Pada kalimat kedua dan ketiga ada detil yang menguraikan terjadinya bentrokan tersebut. Pertanyaannya adalahg, pihak mana yang diuraikan dengan detil yang panjang? Detil yang diuraikan tersebut positif atau negatif terhadap pihak yang diberitakan? Dan apa akibatnya bagi pemahaman dan pemaknaan khalayak? Dalam kalimat kedua, misalnya, yang diuraikan dengan detil panjang adalah  mengenai usaha kekerasan yang sudah dirancang oleh mahasiswa sebelum demonstrasi digelar. Dengan pola penulisan semacam itu, posisi mahasiswa menjadi tidak legitimate, seakan mahasiswa yang memulai bentrok dan sebagai pihak yang bersalah. Sebaliknya, dalam kalimat ketiga, detil yang diuraikan adalah mengenai tindakan kekerasan aparat keamanan, sehingga makna yang ditekankan adalah bentrokan itu disebabkan oleh sikap represi aparat keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Maksud&lt;br /&gt;Elemen berita yang menyangkut maksud hampir sama dengan elemen detil.  Dalam detil, informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan dengan detil yang panjang.  Elemen maksud melihat informasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas.  Sebaliknya, informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit, dan tersembunyi.  Tujuan akhirnya adalah publik hanya disajikan informasi yang menguntungkan komunikator.  Informasi yang menguntungkan disajikan secara jelas, dengan kata-kata yang tegas, dan penunjuk langsung pada fakta. Sementara itu, informasi yang merugikan disajikan dengan kata tersamar, eufemistik, dab berbelit-belit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks media, elemen maksud menunjukkan bagaimana secara implisit dan tersembunyi wartawan menggunakan praktik bahasa tertentu untuk menonjolkan basis kebenarannya dan secara implisit pula menyingkirkan versi kebenaran lain.  Juga sebaliknya, bagaimana secara eksplisit wartawan menggunakan praktik bahasa tertentu untuk menonjolkan basis kebenarannya dan secara eksplisit pula menyingkirkan versi kebenaran lain. Untuk itu, mari kita diskusikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implisit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendarat di Timor Timur, interfet langsung melakukan operasi militer, di antaranya dengan melakukan penggeladahan, penahanan, penodongan, dan membekuk orang yang dicurigai sebagai milisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplisit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendarat di Timor Timur, interfet langsung melakukan operasi militer, di antara dengan melakukan penggeladahan, penahanan, penodongan, dan membekuk milisi yang dicurigai membuat kekacauan. Tindakan interfet ini sesuai dengan mandat yang diberikan oleh PBB untuk melakukan segala cara demi terciptanya perdamaian di Timor Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat pertama digambarkan tindakan yang dilakukan oleh Interfet, termasuk membekuk melakukan penahanan, penodongan, dan penggeladahan terhadap orang yang dipandang mengganggu.  Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, kenapa Interfet melakukan itu dan wewenang apa yang dipunyai Interfet tidak diuraikan secara eksplisit.  Dalam kalimat kedua secara eksplisit ditegaskan bahwa apa yang dilakukan Interfet sesuai dengan wewenang yang dipunyainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tambah paham dan mahir, sebagai Pe-eR, coba cari di media yang Anda baca contoh berita yang ber-detil dan tidak ber-detil, juga berita yang ber-maksud implisit dan ber-maksud eksplisit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Detil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implisit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eskplisit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout 11&lt;br /&gt;Struktur Berita (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Koherensi&lt;br /&gt;Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata atau kalimat dalam teks.  Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren.  Dengan demikian, fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan ketika seseorang menghubungkannya.  Proposisi " demonstrasi mahasiswa" dan " nilai tukar rupiah melemah" adalah dua buah fakta yang berlainan.  Bagaimana dua fakta  itu digabung dalam satu pernyataan yang berhubungan atau tidak berhubungan? Perhatikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata hubung "dan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi mahasiswa marak dan nilai tukar rupiah melemah. Di mana-mana mahasiswa turun ke jalan. Kemarin, nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp 8.500 per US$. Ini nilai tukar rupiah terendah dalam sebulan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata hubung "akibat"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya demonstrasi mahasiswa mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah. Kemarin nilai tukar rupiah mencapai Rp 8.500 per US$. Ini nilai tukar rupiah yang terendah dalam sebulan terakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua buah proposisi itu menjadi berhubungan sebab akibat ketika ia dihubungkan dengan kata hubung "mengakibatkan" sebagaimana tampak pada contoh di atas.  Dua buah kalimat itu menjadi tidak berhubungan secara sebab akibat ketika dipakai kata "dan"  sebagaimana tampak contoh di atas, sehingga proposisi satu tidak menjelaskan proposisi lain atau menjadi penyebab proposisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koherensi merupakan elemen wacana untuk melihat bagaimana seseorang secara strategis menggunakan wacana untuk menjelaskan suatu fakta atau peristiwa. Apakah peristiwa itu dipandang saling terpisah, berhubungan, atau malah sebab akibat. Pilihan-pilihan mana yang diambil ditentukan oleh sejauh mana kepentingan komunikator terhadap peristiwa tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koherensi ini secara mudah dapat diamati di antaranya dari kata hubung (konjungsi) yang dipakai untuk menghubungkan fakta.  Apakah dua kalimat dipandang sebagai hubungan kausal (sebab akibat), hubungan keadaan, waktu, kondisi, dan sebagainya.  Misalnya pernyataan, "Lima mahasiswa Trisakti tewas akibat bentrok dengan aparat keamanan". Di sini ada dua kalimat, yaitu  "mahasiswa yang tewas, dan "mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan".  Kedua kalimat tersebut dihubungkan sebagai sebab akibat (ditandai dengan kata hubung "akibat").  Kalimat itu akan mempunyai makna lain ketika dihubungkan dengan anak kalimat lain seperti, "Mahasiswa bentrok dengan aparat keamanan dan 5 mahasiswa Trisakti tewas" -- ini mengesankan bahwa terbunuhnya mahasiswa Trisakti tersebut bukan semata-mata kesalahan aparat keamanan.  Jadi, kata hubung (konjungsi)  yang dipakai (dan, akibat, tetapi, lalu, karena, meskipun) menyebabkan makna yang berlainan ketika hendak menghubungkan kalimat.  Koherensi memberi kesan kepada khalayak bagaimana dua fakta diabstraksikan dan dihubungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koherensi juga merupakan elemen yang menggambarkan bagaimana peristiwa dihubungkan atau dipandang saling terpisah oleh wartawan. Misalnya ada peristiwa pengumuman status tersangka terhadap Soeharto oleh Kejaksaan Agung, sementara di Ambon konflik pecah kembali setelah sebelumnya sempat dalam kondisi damai.  Kalau wartawan menganggap dua peristiwa itu terpisah, maka dua peristiwa itu akan diberitakan secara berbeda. Kalau dua peristiwa itu dianggap sebagai berhubungan, umumnya diletakkan dalam satu item berita lalu wartawan mencoba menghubungkannya dan mengabstraksikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam teori menulis berita, paling tidak ada tiga jenis koherensi: kondisional, pembeda, dan pengingkaran.  Koherensi kondisional di antaranya ditandai dengan pemakaian anak kalimat sebagai penjelas yang dihubungkan dengan kata hubung "yang" atau " di mana".  Perhatikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa koherensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim PSSI akhirnya tidak jadi dikirim ke Asian Games.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan koherensi negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim PSSI, yang akhir-akhir ini selalu kalah dalam pertandingan internasional, akhirnya tidak jadi dikirim ke Asian Games.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan koherensi positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim PSSI, yang diharapkan masyarakat bisa bertanding di Asian games, akhirnya diputuskan tidak jadi dikirim ke Asian Games.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kalimat "yang selalu kalah dalam pertandingan internasional", bukan hanya  berfungsi sebagai penjelas tetapi juga memberi makna ejekan terhadap PSSI. Selain itu, dengan melekatkan anak kalimat tersebut seolah mengkomunikasikan kepada publik bahwa sudah sewajarnya PSSI tidak dikirim ke Asian Games karena prestasinya sangat buruk.  Namun, di sisi lain, kehadiran anak kalimat penjelas "yang diharapkan masyarakat bisa bertanding di Asian games" dapat memberikan citra positif sebagaimana tampak pada contoh di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penjelas, ada tidaknya anak kalimat itu tidak mempengaruhi arti kalimat. Kalimat itu tidak akan berubah artinya kalau anak kalimatnya dihilangkan.  Akan tetapi, koherensi kondisonal ini dapat menjadi penjelas yang bagus mengenai bagaimana maksud tersembunyi diekspresikan dalam kalimat.  Koherensi jenis ini dalam banyak hal sering kali menggambarkan kepada kita bagaimana sikap wartawan atas peristiwa, kelompok, atau seseorang yang ditulis.  Bagaimana sikap tersebut dilekatkan dan tanpa disadari menggiring pembaca pada pemahaman atau pemaknaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau koherensi kondisional berhubungan dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa dihubungkan/dijelaskan, maka koherensi pembeda berhubungan dengan pertanyaan bagaimana dua peristiwa atau fakta itu hendak dibedakan. Dua buah peristiwa dapat dibuat seolah-olah saling bertentangan dan berseberangan (contrast) dengan menggunakan koherensi pembeda ini.  Perhatikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Koherensi&lt;br /&gt;Pembeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Habibie, kran kebebasan pers telah dibuka lebar-lebar. Kebbebasan pers ini dilanjutkan oleh pemerintahan Gus Dur, hanya sayangnya dicoreng oleh peristiwa pendudukan Banser atas Jawa Pos yang menyebabkan koran tersebut tidak bisa terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai Koherensi&lt;br /&gt;Pembeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan pemerintahan Habibie, kebebasan pers di era Gus Dur mengalami kemunduran. Pada masa Gus Dur terjadi peristiwa pendudukan Banser atas Jawa Pos yang menyebabkan koran tersebut tidak bisa terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek pemakaian koherensi pembeda ini bermacam-macam. Akan tetapi, yang terlihat nyata adalah bagaimana pemaknaan yang diterima oleh khalayak berbeda.  Hal penting yang harus diperhatikan penulis berita adalah:  apa efek dari perbandingan tersebut, apakah membuat suatu fakta menjadi lebih baik atau justru bertambah buruk.  Dalam kasus contoh di atas, pemakaian koherensi pembeda menyebabkan fakta menjadi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berikutnya adalah elemen koherensi pengingkaran. Elemen ini adalah bentuk praktik wacana yang menggambarkan bagaimana wartawan menyembunyikan apa yang ingin diekspresikan secara implisit.  Dalam arti yang umum,  adanya koherensi pengingkaran menunjukkan seolah wartawan menyetujui sesuatu, padahal ia tidak setuju dengan memberikan argumentasi atau fakta yang menyangkal persetujuannya itu.  Perhatikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Pengingkaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunisme di banyak negara sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pengingkaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunisme sewaktu-waktu dapat hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai Pengingkaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang komunisme di banyak negara sudah mati, tetapi sewaktu-waktu dapat hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan contoh di atas, dapat dinyatakan bahwa pengingkaran adalah sebuah elemen di mana wartawan bisa mengungkapnan sikap atau ekspresinya  secara tersembunyi. Umumnya pengingkaran dilakukan di akhir tulisan, di mana wartawan sebelumnya menampilkan pendapat umum terlebih dahulu, lalu pendapat pribadi disajikan sesudahnya.  Perhatikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengingkaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak pengusaha Cina yang brengsek, tetapi ada juga pengusaha yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengingkaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak pengusaha Cina yang baik, tetapi ada juga yang brengsek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Anda lebih paham dan trampil dalam menulis berita yang berkoherensi secara kondisional, pembeda, dan pengingkaran, kutiplah contoh-contoh dari Media Anda yang Anda anggap tepat dan bagus serta sesuai dengan konsep-konsep koherensi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Koherensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai Koherensi Positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai Koherensi Negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Koherensi Pembeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai Koherensi Pembeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Pengingkaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai Pengingkaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handout Matakuliah&lt;br /&gt;DASAR-DASAR JURNALISTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholid A.Harras&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2719219659807863079-4871438282435670259?l=kholidaharras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kholidaharras.blogspot.com/feeds/4871438282435670259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2719219659807863079&amp;postID=4871438282435670259' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/4871438282435670259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2719219659807863079/posts/default/4871438282435670259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kholidaharras.blogspot.com/2009/03/jurnalistik.html' title='Handout  Dasar-dasar Jurnalistik (1)'/><author><name>Kholid A.Harras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17327135106708867326</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4LwivsF1E70/SbeI_B0tDkI/AAAAAAAAAA4/0aEx64jO6qw/S220/Copy+of+DSC00025.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
