GERAKAN KULTURAL
MEMBENDUNG JUAL-BELI GELAR KODIAN
Kholid A.Harras
Ketika fenomena praktik obral jual-beli gelar akademik “kodian” melanda masyarakat dalam sepuluh tahun terakhir ini, selain mengeluh dan menyatakan keprihatinan, apa yang dilakukan oleh univeritas atau dunia perguruan tinggi (PT) kita untuk membendungnya? Jujur saja jawabannya nyaris tak ada. Alih-alih justru banyak di antara mereka yang justru ikut ambil bagian “meramaikannya”.
Memang modusnya tidak senaif dan senekad seperti yang dilakukan oleh lembaga penjual gelar-gelar “aspal” semacam AGU (American Global University), DiLI (Distance Learning Institute) atau AIMS (American Institute of Management Studies) yang dahulunya bernama JIMS (Jakarta Institut of Management Studies). Kabarnya bagi masyarakat yang menginginkan gelar dari lembaga-lembaga tersebut cukup menyerahkan daftar riwayat hidup, fotokopi KTP, pas foto dan tulisan beberapa lembar serta membayar uang administrasi sejumlah beberapa juta rupiah. Bila persyaratan itu bisa dipenuhi, kendati mereka hanya lulus SMP serta tak mampu berbahasa Inggris sekalipun, dalam sekejap akan segera diwisuda dan menyandang gelar kehormatan impiannya, dari mulai MBA, BBA, doktor bahkan profesor.
Cara yang dilakukan oleh sejumlah PTN dan PTS dalam meramaikan dan menangkap fenomena masyarakat yang tengah “mabok” gelar ini masih mengesankan tetap dalam koridor jalur akademik, yakni dengan membuka program pascasarjana “kelas jauh”. Begitu pula program yang ditawarkannya umumnya sebatas strata dua (kebanyakan disiplin ilmu magister manajemen). Namun bagi para pengamat dunia pendidikan tinggi pastilah paham praktik yang sesungguhnya terjadi pada kasus kelas-kelas jauh semacam itu.
Selain persyaratannya amat longgar, seperti boleh diikuti oleh siapa saja yang ijazah S1-nya disiplin ilmu apapun dan tidak tidak terlalu menyaratkan kepemilikan TOFEL kepada pesertanya, juga pada umumnya penyelenggaranya tidak didukung oleh perangkat sistem proses belajar-mengajar jarak jauh sebagaimana lazimnya. Misalnya mereka tidak menggunakan modul seperti yang dilakukan oleh UT (Universitas Terbuka). Begitu pula dengan waktu tempuhnya tidak lebih dari short course sehingga kurang mencerminkan proses individual learning para pesertanya. Waktu tempuh pada proses pendidikan program S2 yang benar dan wajar yang lazimnya berkisar antara 2 hingga 2,5 tahun bisa mereka singkat hanya setengahnya saja. Akibat praktik pascasarjana model "kelas jauh" semacam itu, banyak masyarakat yang meragukan kualitas keilmuan para lulusannya.
Bagaimana dengan upaya dari pihak pemerintah -dalam hal ini Ditjen Dikti Diknas- terhadap praktik jual-beli gelar yang jelas-jelas merupakan proses pembodohan masyarakat tersebut? Dengan alasan belum ada perangkat hukum yang mengaturnya, mereka juga tidak berdaya. Seperti diakui oleh Dirjen Dikti Satryo Soemantri Brojonogoro (Kompas 27 Juli 2001), kewenangan institusinya hanya sebatas memberikan teguran, sedangkan kewenangan hukum menutup lembaga-lembaga “maya” tersebut sepenuhnya berada di tangan kepolisian. Sementara itu pihak Polri juga tidak bisa seenaknya menindaknya secara hukum, baik terhadap lembaga yang memperdagangkan maupun para pengguna aneka gelar “aspal” tersebut, sejauh belum ada pengaduan dari masyarakat yang merasa menjadi korbannya. Selain itu itu kabarnya kepolsian sendiri menghadapi beban psikologis, karena sejumlah nama perwira tinggi Polri dan TNI serta sejumlah pejabat negara kita -termasuk Wapres Hamzah Haz-- menjadi konsumennya.
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang baru saja diputuskan tempo hari telah ada sejumlah pasal yang harapannya akan dapat menertibkan masalah yang sangat melecehkan martabat dunia pendidikan kita ini. Sebagaimana termaktub pada Bab XX pasal 67 ayat (1) dan (4) disebutkan bahwa terhadap para penyelenggara pendidikan gelar-gelar aspal tersebut diancam akan dikenakan sangsi pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Sedangkan terhadap para penggunanya, sebagaimana termaktub pada pasal 68 ayat (2), (3) dan (4) serta pasal 69 ayat (1) dan (2), akan dikenakan sangsi pidana penjara paling lama lima tahuan dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah). Sejauh mana efektivitas pemberlakuan kedua bentuk sanksi tersebut, sejarah masih harus membuktikannya.
Memang di era globalisasi dan demokratisasi namun gaya hidup masyarakatnya masih menggemari feodalisasi, upaya penertiban hukum saja terhadap lembaga-lembaga penjual gelar tersebut menjadi tidak cukup serta tidak akan efektif. Sebab dalam hal ini agaknya berlaku hukum ekonomi permintaan-penawaran; sepanjang masyarakat membutuhkan gelar-gelar tersebut maka lembaga-lembaga penyedianya akan tetap ada. Begitu pula selagi masyarakat kita masih menganggap gelar sebagai sebuah prestise -meskipun dilarang hukum – tetap saja akan banyak orang yang akan mencarinya. Oleh karena itu untuk memberantasnya selain harus dibuat aturan-aturan hukum dan perundangan-undangan yang jelas dan tegas juga perlu dilawan lewat gerakan atau aksi kultural.
Aksi kultural ini bisa dilakukan oleh segenap komponen masyarakat; misalnya oleh organisasi-organisasi profesi, keilmuan, kecendendikiawanan, LSM, lembaga pers, dan juga dunia perguruan tinggi. Bentuknya bisa bermacam-macam; dari mulai himbauan, aksi penolakan, pembuatan aturan hingga melakukan gugatan class action.
Sejumlah organisasi profesi seperti PGRI atau IDI misalnya, secara aktif perlu menertibkan para anggotanya yang menggunakan gelar-gelar aspal semacam itu. Hal yang sama juga selayaknya dilakukan oleh organisasi keilmuan dan kecendikiawanan seperti, ISEI, ISPI, HISKI, MLI, MSI serta oleh ICMI dan PIKI. Bahkan dalam konteks organisasi-organisasi yang mengusung bendera “disiplin keilmuan dan kepakaran” tersebut mereka harus berani memecat para anggotanya yang kedapatan memakai gelar-gelar kodian tersebut. Karena tindakannya itu jelas-jelas telah melanggar dan melecahkan etika dan fatsoen keilmuan dan kepakaran.
Selain itu secara internal mereka juga dapat membuat tata aturan ihwal penggunaan gelar akademik ini. Menurut informasi konon kabarnya dalam lingkup ICMI penulisan gelar akademik hanya boleh dilakukan pada penulisan makalah, artikel di jurnal ilmiah serta saat seseorang tampil menjadi pembicara di forum-forum seminar dan diskusi yang benar-benar memiliki bobot akademis dan ilmiah. Sedangkan di luar konteks itu, seperti dalam surat-menyurat misalnya, tidak mereka lakukan.
Sementara lembaga-lembaga pers dengan kekuasaan yang dimilikinya juga dapat berperan meminimalisir bisnis jual-beli gelar ini. Misalnya kendati dari pemasukan iklan cukup menguntungkan tapi sebaiknya mereka menolak medianya menjadi corong pariwara oleh lembaga-lembaga maya tersebut. Termasuk dalam hal ini menjadi tempat mangkalnya iklan-iklan ucapan selamat kepada para pejabat yang mendapatkan gelar-gelar kodian. Selain itu mereka juga sebaiknya mengambil kebijakan tidak menuliskan gelar dari tokoh dan figur-figur publik dalam pemberitaannya. Sedangkan gerakan kultural yang dapat dilakukan oleh pihak LSM, seperti YLKI dan YLBHI misalnya, mereka dapat mengakomodir dan mewakili masyarakat yang merasa dirugikan dan berniat melakukan gugatan class action, baik terhadap lembaga maupun orang-orang yang menggunakan aneka gelar kodian tersebut.
Gerakan kultural yang dilakukan oleh berbagai elemen di atas mungkin akan menjadi tidak efektif andaikan dunia perguruan tinggi kita lantas hanya sekedar menjadi penonton belaka. Oleh karena itu PTS dan PTN kita, khususnya yang dianggap berada di garda depan, harus juga secara aktif melakukan gerakan kultural untuk membendungya. Salah satu caranya antara lain dengan merekomendasi serta ikut memberikan gelar-gelar akademik kehormatan kepada sejumlah anak bangsa yang memang layak mendapatkannya.
Harus kita akui dalam tradisi perguruan tinggi kita pemberian gelar-gelar akademik kehormatan semacam Dr. HC (honoris causa), baik terhadap anak bangsanya yang memiliki karya monumental dan bermanfaat bagi peradaban masih merupakan hal yang langka. Dalam bidang sastra misalnya, setelah almarhum kritikus H.B Yasin yang mendapatkannya dari UI berpuluh tahun yang lalu baru kemarin sastrawan Taufiq Ismail yang mendapatkannya dari UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Begitu pula dalam bidang jurnalistik, selama negeri ini berdiri baru pimpinan Kompas. Jakob Oetama yang mendapatkan gelar kehormatan tersebut dari UGM beberapa waktu yang lalu.
Akibat sikap bakhil perguruan tinggi kita ini tidak heran jika kondisinya menjadi ironi; sejumlah putra-putra terbaik bangsa kita justru mendapatkan aneka gelar kehormatan dari sejumlah perguruan tinggi bergengsi luar negeri. Almarhum Buya Hamka, pelukis Affandi serta budayawan Soedjatmoko misalnya ketiga tokoh kaliber internasional tersebut masing-masing mendapatkan gelar doktor kehormatan honoris causa-nya dari universitas-universitas terkemuka manca negara. Ke depan “tragedi” semacam ini tentunya tidak boleh lagi terjadi.
Dengan banyaknya perguruan tinggi kita yang pemberikan gelar-gelar kehormatan kepada anak-anak bangsa yang memang pantas menerimanya ini diharapkan akan dapat mengeliminir fenomena maraknya praktik jual-beli gelar yang tidak bertanggungjawab seperti sekarang ini. Selain itu gerakan kultural semacam ini juga merupakan tanggungjawab moral sekaligus sebuah “pendidikan” kepada masyarakat ihwal bagaimana seharusnya kita mengapresiasi dan menghargai prestasi anak bangsa sendiri. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang pandai dan tidak melupakan prestasi terbaik yang berhasil dicapai oleh anak- anak bangsanya? Sungguh apa yang telah dirintis oleh UNY dan UGM itu mendesak untuk segera ditiru oleh sejumlah perguruan tinggi lain di negeri ini.***
Staf Pengajar Universitas Pendidikan Indonesia
Alamat: Jln. Alamanda IX No. 4 Gempolsari Bandung 40215 Tlp. 022-6040942
Selasa, 06 April 2010
SEJUMLAH KESALAHAN ORANGTUA DALAM MENDIDIK ANAK
SEJUMLAH KESALAHAN ORANGTUA DALAM MENDIDIK ANAK
Di samping sekolah dan masyarakat, peran keluarga dalam proses pendidikan anak memegang posisi yang sangat sentral. Hal ini kiranya dapat dipahami, karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam fase pertumbuhannya, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.
Sehubungan hal itu, para ulama Islam banyak memberikan perhatian dan membahas tentang pentingnya pendidikan melalui keluarga. Salah satu ulama besar Islam yang memiliki perhatian besar terhadap hal itu yakni Syaikh Abu Hamid Al Ghazali. Beliau antara lain mengatakan: "Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tetapi, jika dibiasakan dengan kejelekan dan dibiarkan tidak didik sebagaimana binatang ternak, niscaya dia akan menjadi jahat dan binasa".
Selain itu Al-Ghazali juga mengatakan agar para orang tua dapat melaksanakan tugas mendidik anak-anaknya dengan baik, seyogyanya mereka harus membekali diri dengan pengetahuan dan kearifan. Hal itu penting, untuk menghindari kesalahan dan penyimpangan dalam melaksanakan tugas mulia tersebut. Sebab, masih menurut beliau, kerap kali terjadinya praktik-praktik yang salah dalam proses pendidikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya akibat ketidangkalan ilmu yang mereka miliki.
Berikut penulis kutipkan sebagian kesalahan yang syahdan sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya, sebagaimana dikemukakan dalam buku Alwajiz fi At-tarbiyah buah karya Syaikh Muhammad Al-Hasan
Tidak sesuai antara ucapan dengan perbuatan
Ini merupakan kesalahan terpenting, karena anak belajar dari orang tua banyak hal, tetapi ternyata sering bertentangan dengan apa yang telah diajarkannya. Jika para orang tua sering melakukan hal yang semacam ini maka dikahwatirkan akan berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak. Allah mencela perbuatan ini dengan firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan". (QS. 61:3)
Bagaimana anak akan belajar kejujuran misalnya, kalau ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ternyata orang tuanya kerap berdusta? Bagaimana anak akan belajar sifat amanah misalnya, sementara jika ia melihat bapaknya sendiri suka menipu orang lain? Bagaimana anak akan belajar akhlak yang baik bila orang-orang yang ada sekitarnya suka mengejek, berkata jelek dan berakhlak buruk? Untuk itu sifat ini harus dihindari oleh para orang tua dan para pendidik.
Kedua orangtua berseberangan sikap
Kadangkala terjadi saat seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orang tuanya, namun sikap dan penerimaan kedua orang tuanya saling bertolak belakang. Misalnya sikap sang ibu memuji dan mendorongnya, sedangkan sikap sang bapak mengecam dan meminta untuk menghentikannya. Tentu saja sang anak akhirnya menjadi bingung, mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Jika kedua orang tua banyak melakukan hal yang semacam itu caHal ini sangat berbahaya, karena akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya.
Membiarkan anak menjadi budak televisi
Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak, dan media yang paling berbahaya adalah televisi. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dewasa.
Banyak orang tua yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak, fitrah dan pendidikan mereka. Plomery, seorang peneliti media mengatakan: "Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima, tanpa mempertanyakan, segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik … maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu..". Oleh karena itu, anak-anak harus dilindungi dan diawasi dari perangkat yang dapat merusak ini. Hal ini, tidak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika orang tua mempunyai kemauan untuk menjaga akhlak anak-anak mereka dan mempersiapkannya untuk mengemban misi agama dan ummat.
Menyerahkan kepada pembantu atau pengasuh
Kesalahan yang amat serius dan banyak terjadi di masyarakat kita akibat misalnya kesibukan dari kedua orang tua di luar rumah, baik karena faktor pekerjaan maupun mengejar karier, akhirnya menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya kepada orang lain seperti pembantu, atau membawanya ke tempat pengasuhan. Akibatnya anak akan kehilangan kasih sayang ibu yang sangat dibutuhkannya. Hal ini berbahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya, karena anak berkembang tanpa kasih sayang langsung darui dari kedua orang tuanya.
Menampakkan kelemahan
Hal ini banyak terjadi pada ibu-ibu dan kadangkala terjadi pada bapak-bapak. Kita dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata: "Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup menghadapinya. Aku tak tahu, apa yang harus aku perbuat dengannya". Salah satu dampak buruk jika para orang tua sering mengucapkan kata-kata semacam itu maka bisa jadi anak yang mendengarnya akan merasa bangga. Sang anak merasa dengan cara mengganggu ibunya atau bersikap membandel seolah-olah eksistensi dirinya diakui, bahkan kedua orang tuanya merasa ‘takluk’ di hadapannya.
Mengekang anak secara berlebihan
Ada sebahagian orang tua yang karena misalnya takut anaknya mengalami kecelakaan, mereka melakukan tindakan-tindakan yang hiper protektif. Akibatnya mereka tidak memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk bermain, bercanda atau bermain dan bergaul dengan sesamanya. Hal yang semacam itu bukan hanya bertentangan dengan tabiat anak tetapi juga bisa berdampak buruk bagi perkermbangan kesehatan jasmani dan psikologisnya. Mengapa? Karena aktivitas bermain dan bersosialisasi merupakan kebutuhan bagi pertumbuhan anak. Permainan di tempat yang bebas dan luas, misalnya bermain pasir ketika wisata ke tepi pantai bersama teman-temannya, termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan fisik anak dan menjaga kesehatannya. Dengan demikian tidak seharusnya orang tua untuk melarangnya sejauh tidak membahayakan.
Tidak percaya diri
Hal ini banyak terjadi di kalangan bapak-bapak. Padahal ini berpengaruh jelek terhadap masa depan anak dan pandangannya terhadap kehidupan. Karena anak yang terdidik rendah pribadi dan tidak percaya diri akan tumbuh jadi penakut, lemah dan tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan sampai ia menjadi dewasa. Karena itu, seyogianya anak-anak dipersiapkan untuk dapat melaksanakan tugas agama dan dunia.
Demikian antara lain menurut Syaikh Muhammad Al-Hasan beberapa kesalahan yang kerap diperbuat oleh kita selaku orang tua dalam mendidik anak dalam bukunya Alwajiz fi At-tarbiyah. Mudah-mudahan bisa menjadi cermin kita selaku para orang tua ***
Kholid A.Harras
Di samping sekolah dan masyarakat, peran keluarga dalam proses pendidikan anak memegang posisi yang sangat sentral. Hal ini kiranya dapat dipahami, karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam fase pertumbuhannya, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.
Sehubungan hal itu, para ulama Islam banyak memberikan perhatian dan membahas tentang pentingnya pendidikan melalui keluarga. Salah satu ulama besar Islam yang memiliki perhatian besar terhadap hal itu yakni Syaikh Abu Hamid Al Ghazali. Beliau antara lain mengatakan: "Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tetapi, jika dibiasakan dengan kejelekan dan dibiarkan tidak didik sebagaimana binatang ternak, niscaya dia akan menjadi jahat dan binasa".
Selain itu Al-Ghazali juga mengatakan agar para orang tua dapat melaksanakan tugas mendidik anak-anaknya dengan baik, seyogyanya mereka harus membekali diri dengan pengetahuan dan kearifan. Hal itu penting, untuk menghindari kesalahan dan penyimpangan dalam melaksanakan tugas mulia tersebut. Sebab, masih menurut beliau, kerap kali terjadinya praktik-praktik yang salah dalam proses pendidikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya akibat ketidangkalan ilmu yang mereka miliki.
Berikut penulis kutipkan sebagian kesalahan yang syahdan sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya, sebagaimana dikemukakan dalam buku Alwajiz fi At-tarbiyah buah karya Syaikh Muhammad Al-Hasan
Tidak sesuai antara ucapan dengan perbuatan
Ini merupakan kesalahan terpenting, karena anak belajar dari orang tua banyak hal, tetapi ternyata sering bertentangan dengan apa yang telah diajarkannya. Jika para orang tua sering melakukan hal yang semacam ini maka dikahwatirkan akan berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak. Allah mencela perbuatan ini dengan firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan". (QS. 61:3)
Bagaimana anak akan belajar kejujuran misalnya, kalau ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ternyata orang tuanya kerap berdusta? Bagaimana anak akan belajar sifat amanah misalnya, sementara jika ia melihat bapaknya sendiri suka menipu orang lain? Bagaimana anak akan belajar akhlak yang baik bila orang-orang yang ada sekitarnya suka mengejek, berkata jelek dan berakhlak buruk? Untuk itu sifat ini harus dihindari oleh para orang tua dan para pendidik.
Kedua orangtua berseberangan sikap
Kadangkala terjadi saat seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orang tuanya, namun sikap dan penerimaan kedua orang tuanya saling bertolak belakang. Misalnya sikap sang ibu memuji dan mendorongnya, sedangkan sikap sang bapak mengecam dan meminta untuk menghentikannya. Tentu saja sang anak akhirnya menjadi bingung, mana yang benar dan mana yang salah di antara keduanya. Jika kedua orang tua banyak melakukan hal yang semacam itu caHal ini sangat berbahaya, karena akan mengakibatkan anak menjadi bimbang dan segala urusan tidak jelas baginya.
Membiarkan anak menjadi budak televisi
Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak, dan media yang paling berbahaya adalah televisi. Hampir tidak ada rumah yang tidak mempunyai televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap anak maupun orang dewasa.
Banyak orang tua yang tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi. Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak, fitrah dan pendidikan mereka. Plomery, seorang peneliti media mengatakan: "Anak pada umumnya, dan kebanyakan orang dewasa, cenderung menerima, tanpa mempertanyakan, segala informasi yang tampil di film-film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik … maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu..". Oleh karena itu, anak-anak harus dilindungi dan diawasi dari perangkat yang dapat merusak ini. Hal ini, tidak diragukan lagi, bukan sesuatu yang mudah tetapi juga tidak mustahil, jika orang tua mempunyai kemauan untuk menjaga akhlak anak-anak mereka dan mempersiapkannya untuk mengemban misi agama dan ummat.
Menyerahkan kepada pembantu atau pengasuh
Kesalahan yang amat serius dan banyak terjadi di masyarakat kita akibat misalnya kesibukan dari kedua orang tua di luar rumah, baik karena faktor pekerjaan maupun mengejar karier, akhirnya menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya kepada orang lain seperti pembantu, atau membawanya ke tempat pengasuhan. Akibatnya anak akan kehilangan kasih sayang ibu yang sangat dibutuhkannya. Hal ini berbahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya, karena anak berkembang tanpa kasih sayang langsung darui dari kedua orang tuanya.
Menampakkan kelemahan
Hal ini banyak terjadi pada ibu-ibu dan kadangkala terjadi pada bapak-bapak. Kita dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata: "Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup menghadapinya. Aku tak tahu, apa yang harus aku perbuat dengannya". Salah satu dampak buruk jika para orang tua sering mengucapkan kata-kata semacam itu maka bisa jadi anak yang mendengarnya akan merasa bangga. Sang anak merasa dengan cara mengganggu ibunya atau bersikap membandel seolah-olah eksistensi dirinya diakui, bahkan kedua orang tuanya merasa ‘takluk’ di hadapannya.
Mengekang anak secara berlebihan
Ada sebahagian orang tua yang karena misalnya takut anaknya mengalami kecelakaan, mereka melakukan tindakan-tindakan yang hiper protektif. Akibatnya mereka tidak memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk bermain, bercanda atau bermain dan bergaul dengan sesamanya. Hal yang semacam itu bukan hanya bertentangan dengan tabiat anak tetapi juga bisa berdampak buruk bagi perkermbangan kesehatan jasmani dan psikologisnya. Mengapa? Karena aktivitas bermain dan bersosialisasi merupakan kebutuhan bagi pertumbuhan anak. Permainan di tempat yang bebas dan luas, misalnya bermain pasir ketika wisata ke tepi pantai bersama teman-temannya, termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan fisik anak dan menjaga kesehatannya. Dengan demikian tidak seharusnya orang tua untuk melarangnya sejauh tidak membahayakan.
Tidak percaya diri
Hal ini banyak terjadi di kalangan bapak-bapak. Padahal ini berpengaruh jelek terhadap masa depan anak dan pandangannya terhadap kehidupan. Karena anak yang terdidik rendah pribadi dan tidak percaya diri akan tumbuh jadi penakut, lemah dan tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan sampai ia menjadi dewasa. Karena itu, seyogianya anak-anak dipersiapkan untuk dapat melaksanakan tugas agama dan dunia.
Demikian antara lain menurut Syaikh Muhammad Al-Hasan beberapa kesalahan yang kerap diperbuat oleh kita selaku orang tua dalam mendidik anak dalam bukunya Alwajiz fi At-tarbiyah. Mudah-mudahan bisa menjadi cermin kita selaku para orang tua ***
Kholid A.Harras
Jumat, 25 Desember 2009
Modul Pembelajaran Membaca
Kepada teman-teman mahasiswa yang berminat mengunduh modul Pembelajaran Membaca silakan kirim e-mail ke kahar_64@yahoo.com. Saya mohon maaf saat ini modul tersebut belum bisa saya posting pada blog ini. Terimakasih.
Rabu, 16 September 2009
SALAH KAPRAH ARTI IDUL FITRI DAN MINAL AIDIN WAL FAIZIN
Selama ini banyak di antara kita yang salah kaprah dalam memaknai frase ‘Idul Fitri’. Kata ‘Ied’diartikan ‘kembali’ dan kata kata ‘fitri’ karena dianggap berasal dari kata ‘FITHROH’ (dengan ha marbuthoh) yang artinya ‘asal’ atau ‘suci’ atau ‘bersih’. Jadi kata ‘Idul fitri’ diartikan ‘kembali ke asal kita yang bersih/suci’. Argumentasi fiqihnya, krna orang yang berpuasa oleh Allah dijanjikan akan diampuni seluruh dosa-dosanya, sehingga pada tanggal 1 syawal tsb dia ibarat bayi yang suci dari noda dan dosa.
Pemahaman yang semacam itu secara etimologi tidak tepat. Kata ‘fitri’ pada ‘Iedul Fitri’ bukan berasal dari ‘FITHROH’ tetapi dari kata ‘FITHR’ (fathoro-yafthuru-ifthor) yang artinya ‘berbuka’. Jadi frasa ‘Idul fitri’ artinya ‘kembali berbuka’. Maksudnya, kembali seorang yang tadinya berpuasa diperbolehkan melakukan makan-minum di pagi hari pada tanggal 1 Syawal tersebut atau tanda bhwa bln ramadhan tlh berakhir.
Karena salah satu sifat bahasa manasuka, kedua pemaknaan tersebut tentu saja sah dan boleh-boleh aja. Walaupun demikian, kalau direnungkan lebih dalam pemaknaan Idul Fitri versi pertama tersebut (kembali menjadi manusia yang suci) sesungguhnya sangat berat dan spekulatif. Betulkah puasa Ramadhan yang kita lakukan selama satu bulan tersebut diterima oleh Allah SWT, sehingga menggugurkan dosa2 kita dan mengantarkan kita menjadi manusia-manusia yang suci laksana seorang bayi? Padahal Rasulullah saw.menengarai melalui sabdanya, bahwa sungguh betapa banyak orang yang berpuasa –tetapi karena tidak dilakukan dengan keimanan dan perhitungan (ikhtisaban)—maka yang bakal dia peroleh hanyalah rasa lapar dan dahaga saja. Jadi persoalan diterima tidaknya amalan puasa ramadhan seorang hamba benar-benar hanya Allah saja yang mengetahuinya.
Atas dasar karena puasa ramadhan seseorang belum tentu diterima oleh Allah inilah, maka ucapan tahniah atau ucapan selamat yang diajarkan oleh rasulullah saat antarsesama muslim bersua di hari Iedul Fitri yakni ‘Taqobalallahu minna waminka (waminkum), waja’alana minal adin wal faizin”, yang artinya “Semoga Allah menerima amaliyah ramadhan saya dan ramdhan anda/kalian, dengan demikian kita akan menjadi orang yang kembali (kpd agama) dan orang yang berbahagia karena telah beroleh kemenangan”.
Sedangkan pada kebanyakan masyarakat kita tahniah Iedul Fitri minal aidin walfaizin= mohon maaf lahir batin. Selain penerjemahan seperti ini jelas ngawur juga frasa “mohon maaf lahir batin’ juga secara semantic sesungguhnya kabur. Apakah maaf lahir itu? Kata ‘lahir’ dalam bahasa Indonesia ini dipungut dari bahasa Arab ‘al-dhohiru’ yang artinya tampak wujudnya. Sedangkan kata ‘batin’ berasal dari kata ‘al-bathinu’, yang arttinya tidak tampak wujudnya. Jadi jika merunut arti semantiknya pernyataan ‘mohon maaf lahir dan batin’ berarti mohon maaf atas kesalahan yang tampak maupun yang tidak tampak. Benarkah demikian? ( Jadi diandaikan seolah-olah orang yang kita mintai maafnya itu peramal/ paranormal yang bisa memihat yang tampak dan yang tidakj tampak hehe…). Bukankah akan lebih pas jika kita memohon maaf itu atas kesalahan-kesalan yang disengaja atau yang mungkin tidak disengaja? Ini lebih manusiawi sekaligus rasional
Menurut saya boleh jadi akibat pemahaman-pemahan yang keliru inilah sesungguhnya pangkal mula mengapa ritual Idul Fitri dalam kantong memori umat Islam di negeri ini dan sekitarnya dipersepsi sebagai kegiatan budaya yang wajahnya seperti kita lihat saat ini; memunculkan terjadinya perpindahan manusia secara besar-besaran dari kota ke desa yang disebut mudik, tradisi sungkeman, tradisi halal bihalal dan sejenisnya.. Padahal andai saja pengartian Idul Fitri itu pada yang kedua , yakni ‘kembali berbuka’ mungkin persoalanya akan jauh lebih sederhana dan kedatangan hari raya Idul Fitri tidak harus menjadi perhelatan budaya kolosal seperti sekarang ini. Wallahu a’lam. (Kholid A.Harras)
Awas Kesalahan Penulisan
1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar berdasarkan penulisan kaidah fonologis
2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasarkan EYD
3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf “dzal” dalam abjad arab
4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”
5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”, seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”
Mengapa hal ini perlu diperhatikan? Karena kesalahan penulisan abjad juga berarti berimplikasi pada pemaknaan yang juga bisa salah. Seperti dalam bahasa inggris, antara Look dan Lock beda maknanya bukan? Padahal perbedaanya disebabkan oleh salah satu huruf saja..
Pemahaman yang semacam itu secara etimologi tidak tepat. Kata ‘fitri’ pada ‘Iedul Fitri’ bukan berasal dari ‘FITHROH’ tetapi dari kata ‘FITHR’ (fathoro-yafthuru-ifthor) yang artinya ‘berbuka’. Jadi frasa ‘Idul fitri’ artinya ‘kembali berbuka’. Maksudnya, kembali seorang yang tadinya berpuasa diperbolehkan melakukan makan-minum di pagi hari pada tanggal 1 Syawal tersebut atau tanda bhwa bln ramadhan tlh berakhir.
Karena salah satu sifat bahasa manasuka, kedua pemaknaan tersebut tentu saja sah dan boleh-boleh aja. Walaupun demikian, kalau direnungkan lebih dalam pemaknaan Idul Fitri versi pertama tersebut (kembali menjadi manusia yang suci) sesungguhnya sangat berat dan spekulatif. Betulkah puasa Ramadhan yang kita lakukan selama satu bulan tersebut diterima oleh Allah SWT, sehingga menggugurkan dosa2 kita dan mengantarkan kita menjadi manusia-manusia yang suci laksana seorang bayi? Padahal Rasulullah saw.menengarai melalui sabdanya, bahwa sungguh betapa banyak orang yang berpuasa –tetapi karena tidak dilakukan dengan keimanan dan perhitungan (ikhtisaban)—maka yang bakal dia peroleh hanyalah rasa lapar dan dahaga saja. Jadi persoalan diterima tidaknya amalan puasa ramadhan seorang hamba benar-benar hanya Allah saja yang mengetahuinya.
Atas dasar karena puasa ramadhan seseorang belum tentu diterima oleh Allah inilah, maka ucapan tahniah atau ucapan selamat yang diajarkan oleh rasulullah saat antarsesama muslim bersua di hari Iedul Fitri yakni ‘Taqobalallahu minna waminka (waminkum), waja’alana minal adin wal faizin”, yang artinya “Semoga Allah menerima amaliyah ramadhan saya dan ramdhan anda/kalian, dengan demikian kita akan menjadi orang yang kembali (kpd agama) dan orang yang berbahagia karena telah beroleh kemenangan”.
Sedangkan pada kebanyakan masyarakat kita tahniah Iedul Fitri minal aidin walfaizin= mohon maaf lahir batin. Selain penerjemahan seperti ini jelas ngawur juga frasa “mohon maaf lahir batin’ juga secara semantic sesungguhnya kabur. Apakah maaf lahir itu? Kata ‘lahir’ dalam bahasa Indonesia ini dipungut dari bahasa Arab ‘al-dhohiru’ yang artinya tampak wujudnya. Sedangkan kata ‘batin’ berasal dari kata ‘al-bathinu’, yang arttinya tidak tampak wujudnya. Jadi jika merunut arti semantiknya pernyataan ‘mohon maaf lahir dan batin’ berarti mohon maaf atas kesalahan yang tampak maupun yang tidak tampak. Benarkah demikian? ( Jadi diandaikan seolah-olah orang yang kita mintai maafnya itu peramal/ paranormal yang bisa memihat yang tampak dan yang tidakj tampak hehe…). Bukankah akan lebih pas jika kita memohon maaf itu atas kesalahan-kesalan yang disengaja atau yang mungkin tidak disengaja? Ini lebih manusiawi sekaligus rasional
Menurut saya boleh jadi akibat pemahaman-pemahan yang keliru inilah sesungguhnya pangkal mula mengapa ritual Idul Fitri dalam kantong memori umat Islam di negeri ini dan sekitarnya dipersepsi sebagai kegiatan budaya yang wajahnya seperti kita lihat saat ini; memunculkan terjadinya perpindahan manusia secara besar-besaran dari kota ke desa yang disebut mudik, tradisi sungkeman, tradisi halal bihalal dan sejenisnya.. Padahal andai saja pengartian Idul Fitri itu pada yang kedua , yakni ‘kembali berbuka’ mungkin persoalanya akan jauh lebih sederhana dan kedatangan hari raya Idul Fitri tidak harus menjadi perhelatan budaya kolosal seperti sekarang ini. Wallahu a’lam. (Kholid A.Harras)
Awas Kesalahan Penulisan
1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar berdasarkan penulisan kaidah fonologis
2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasarkan EYD
3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf “dzal” dalam abjad arab
4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”
5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”, seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”
Mengapa hal ini perlu diperhatikan? Karena kesalahan penulisan abjad juga berarti berimplikasi pada pemaknaan yang juga bisa salah. Seperti dalam bahasa inggris, antara Look dan Lock beda maknanya bukan? Padahal perbedaanya disebabkan oleh salah satu huruf saja..
Sabtu, 12 September 2009
Doa di Penghujung Ramadhan
Ya Allah, sebentar lagi Ramadhanmu akan berakhir
Terima kasih atas kesempatan dan berbagai nikmat yang telah Engkau berikan
sehingga hamba dapat menjalankannya sesuai titah-Mu
Ya Allah, jika dalam pandanganMu puasa hamba tidak sempurna
maka sempurnakanlah
Jika hati dan panca indera hamba tidak ikut berpuasa dan menjalaninya kurang ikhlas mohon dimaafkan
Ya Allah, izinkan hamba medapatkan kesempatan lagi untuk bertemu
dengan ramadhanMu di tahun-tahun hadapan.
Namun jika ini akan menjadi Ramadhan yg terakhir bagi hamba,
jadikanlah amaliyah ramadhan ini sebagai sebaik2 amalan
untuk menjadi bekal hamba menjumpaiMu
dan Engkau berkenan menjadikan hamba kembali menjadi fitrah..
Amiiiiin
Terima kasih atas kesempatan dan berbagai nikmat yang telah Engkau berikan
sehingga hamba dapat menjalankannya sesuai titah-Mu
Ya Allah, jika dalam pandanganMu puasa hamba tidak sempurna
maka sempurnakanlah
Jika hati dan panca indera hamba tidak ikut berpuasa dan menjalaninya kurang ikhlas mohon dimaafkan
Ya Allah, izinkan hamba medapatkan kesempatan lagi untuk bertemu
dengan ramadhanMu di tahun-tahun hadapan.
Namun jika ini akan menjadi Ramadhan yg terakhir bagi hamba,
jadikanlah amaliyah ramadhan ini sebagai sebaik2 amalan
untuk menjadi bekal hamba menjumpaiMu
dan Engkau berkenan menjadikan hamba kembali menjadi fitrah..
Amiiiiin
Selasa, 25 Agustus 2009
Apa Kata Kyai Apa Kata Politisi tentang Ramadhan
Di bawah ini ada sebuah tulisan dari K.H.A.Mustofa Bisri yang menurut saya sangat layak untuk dibaca dan direnungkan isinya oleh kita semua.
Apa Kata Kyai Apa Kata Politisi
RAMADAN YA RAMADAN
Oleh: A. Mustofa Bisri
"Mustofa, Ramadan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan kepadamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata untuk-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya." (A. Mustofa Bisri dalam Nasihat Ramadan buat A. Mustofa Bisri)
Gegap-gempita menyambut kedatangan Ramadan dan hiruk-pikuk kaum muslimin menjalani Ramadan, di satu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama, khususnya di negeri ini. Namun, di lain pihak, bisa sebagai bahan perenungan kita semua, terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita.
Lihatlah, bagaimana repotnya pemerintah mengoordinasikan pihak-pihak yang diajak bersama-sama menghitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal Ramadan. Bahkan, tahun ini masyarakat umum pun dilibatkan dalam kegiatan rukyah.
Lihatlah spanduk-spanduk menyambut kedatangan Ramadan yang terpampang di seantero jalan. Lihatlah kesibukan para produser dan insan-insan pertelevisian serta para pemilik PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadan.
Lihatlah ingar-bingar masjid-masjid dan musala serta meriahnya acara buka bersama di mana-mana. Lihatlah kepedulian instansi-instansi, termasuk kepolisian, yang dengan serius berusaha menghormati Ramadan. Luar biasa.
Pendek kata pada Ramadan ini, Indonesia seolah-olah menjadi milik kaum muslimin. Lautan, daratan, dan udara boleh dikata dikuasai kaum muslimin. Subahanallah! kata Ilham dan ustad-ustad dengan takjub.
Fenomena ini bisa kita saksikan setiap tahun. Setiap Ramadan. Hanya pada Ramadan. Inilah acara rutin tahunan kita selama ini.
Seakan-akan kita hanya menunggu datang dan perginya Ramadan, lalu setelah itu kembali kepada kesibukan lain yang biasa kita lakukan di sebelas bulan yang lain. Seakan-akan kita menghormati Ramadan hanya pada Ramadan. Kita berpuasa, menahan diri, hanya pada Ramadan. Termasuk berakrab-akrab dengan keluarga pun hanya pada Ramadan.
Itu pun -kehidupan Ramadan yang seperti itu-masih menyisakan sekian tanda tanya bagi mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keridaan Tuhan mereka. Tanda tanya itu antara lain, di manakah posisi Allah dalam diri kita di tengah-tengah kesibukan kita yang khas itu?
Seberapa murnikah niat kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah kita? Atau seberapa jauh dorongan nafsu yang samar menyusupi keinginan kita mendapatkan rida Allah?
Dengan perenungan yang agak dalam, kita mungkin akan menyadari bahwa nafsu begitu halus tersembunyi di dalam diri kita, sering berimpitan dengan kehendak mendapatkan rida Allah. Kita berzikir atau membaca Quran, misalnya, tentulah dengan kehendak ingin mendapatkan rida-Nya. Namun, bersamaan dengan itu, sering tanpa kita sadari nafsu justru mendorong kita untuk berlebih-lebihan, sehingga kehendak yang mulia itu malah melenceng melanggar anggar-anggar-Nya.
Kita berzikir atau membaca Quran tidak lagi murni bagi Allah Yang Mahadekat, tapi kita keraskan suara kita sedemikian rupa seolah-olah kita sedang menyeru orang tuli.
Bahkan, di negeri ini, kebiasaan berzikir, membaca Quran, dan sebagainya, dengan pengeras suara sudah merupakan hal jamak lumrah. Tak ada seorang kiai pun yang memperingatkannya.
Saya sendiri pernah menyinggung masalah kemaruk pengeras suara ini, di koran ini. Besoknya ada penelepon yang marah-marah, "MUI saja, Gus Dur saja, tidak mempersoalkan, kok sampeyan mempersoalkan!" Saya mempersoalkan hal ini justru karena MUI dan Gus Dur tidak terang-terangan mempersoalkannya, jawab saya ketika itu.
Biasanya orang yang membenarkan zikir dsb dengan pengeras suara beralasan bahwa itu merupakan syi’ar. Saya tidak tahu apakah maksud mereka dengan syi’ar itu?
Apakah Rasulullah SAW yang melarang berzikir keras-keras itu tidak mengerti syi’ar? Apakah para sahabat, Imam Syafi’i dan ulama-ulama besar yang mengecam zikir dengan suara keras itu tidak mengerti syi’ar?
Lagi pula apakah, karena kita merasa besar, lalu kita merasa merdeka dan menafikan hak mereka yang lain -sekecil apa pun- untuk tidak diganggu dengan suara-suara keras?
Kehendak untuk diterima amal kita sering juga disusupi nafsu yang samar, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima tanpa mengindahkan hak orang lain untuk berkehendak diterima amalnya. Bahkan, sering karena kita terlalu ingin mendapatkan rida Allah, lalu kita mempersetankan hak orang lain untuk menjadi hamba-Nya sesuai kemampuannya.
Tengoklah mereka yang karena ingin menghormati Ramadan, lalu ingin memaksakan para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib melaksanakan puasa pada Ramadan. Di sana ada musafir-musafir yang diperkenankan tidak puasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang malah tidak boleh berpuasa. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum beragama secara batiniah. Dengan demikian, Ramadan tidak begitu saja berlalu sebagaimana momen-momen rutin lain yang tidak membekas.
Apalagi justru menjadikan kita hamba-hamba yang bangga diri terhadap kebesaran semu kita. Selamat berpuasa Ramadan!
Semoga Allah mengampuni kekurangan-kekurangan kita dan menerima amal ibadah kita. Amin.
KH Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul
Sumber: Jawa Pos dotcom
Apa Kata Kyai Apa Kata Politisi
RAMADAN YA RAMADAN
Oleh: A. Mustofa Bisri
"Mustofa, Ramadan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan kepadamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata untuk-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya." (A. Mustofa Bisri dalam Nasihat Ramadan buat A. Mustofa Bisri)
Gegap-gempita menyambut kedatangan Ramadan dan hiruk-pikuk kaum muslimin menjalani Ramadan, di satu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama, khususnya di negeri ini. Namun, di lain pihak, bisa sebagai bahan perenungan kita semua, terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita.
Lihatlah, bagaimana repotnya pemerintah mengoordinasikan pihak-pihak yang diajak bersama-sama menghitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal Ramadan. Bahkan, tahun ini masyarakat umum pun dilibatkan dalam kegiatan rukyah.
Lihatlah spanduk-spanduk menyambut kedatangan Ramadan yang terpampang di seantero jalan. Lihatlah kesibukan para produser dan insan-insan pertelevisian serta para pemilik PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadan.
Lihatlah ingar-bingar masjid-masjid dan musala serta meriahnya acara buka bersama di mana-mana. Lihatlah kepedulian instansi-instansi, termasuk kepolisian, yang dengan serius berusaha menghormati Ramadan. Luar biasa.
Pendek kata pada Ramadan ini, Indonesia seolah-olah menjadi milik kaum muslimin. Lautan, daratan, dan udara boleh dikata dikuasai kaum muslimin. Subahanallah! kata Ilham dan ustad-ustad dengan takjub.
Fenomena ini bisa kita saksikan setiap tahun. Setiap Ramadan. Hanya pada Ramadan. Inilah acara rutin tahunan kita selama ini.
Seakan-akan kita hanya menunggu datang dan perginya Ramadan, lalu setelah itu kembali kepada kesibukan lain yang biasa kita lakukan di sebelas bulan yang lain. Seakan-akan kita menghormati Ramadan hanya pada Ramadan. Kita berpuasa, menahan diri, hanya pada Ramadan. Termasuk berakrab-akrab dengan keluarga pun hanya pada Ramadan.
Itu pun -kehidupan Ramadan yang seperti itu-masih menyisakan sekian tanda tanya bagi mereka yang benar-benar ingin mendapatkan keridaan Tuhan mereka. Tanda tanya itu antara lain, di manakah posisi Allah dalam diri kita di tengah-tengah kesibukan kita yang khas itu?
Seberapa murnikah niat kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah kita? Atau seberapa jauh dorongan nafsu yang samar menyusupi keinginan kita mendapatkan rida Allah?
Dengan perenungan yang agak dalam, kita mungkin akan menyadari bahwa nafsu begitu halus tersembunyi di dalam diri kita, sering berimpitan dengan kehendak mendapatkan rida Allah. Kita berzikir atau membaca Quran, misalnya, tentulah dengan kehendak ingin mendapatkan rida-Nya. Namun, bersamaan dengan itu, sering tanpa kita sadari nafsu justru mendorong kita untuk berlebih-lebihan, sehingga kehendak yang mulia itu malah melenceng melanggar anggar-anggar-Nya.
Kita berzikir atau membaca Quran tidak lagi murni bagi Allah Yang Mahadekat, tapi kita keraskan suara kita sedemikian rupa seolah-olah kita sedang menyeru orang tuli.
Bahkan, di negeri ini, kebiasaan berzikir, membaca Quran, dan sebagainya, dengan pengeras suara sudah merupakan hal jamak lumrah. Tak ada seorang kiai pun yang memperingatkannya.
Saya sendiri pernah menyinggung masalah kemaruk pengeras suara ini, di koran ini. Besoknya ada penelepon yang marah-marah, "MUI saja, Gus Dur saja, tidak mempersoalkan, kok sampeyan mempersoalkan!" Saya mempersoalkan hal ini justru karena MUI dan Gus Dur tidak terang-terangan mempersoalkannya, jawab saya ketika itu.
Biasanya orang yang membenarkan zikir dsb dengan pengeras suara beralasan bahwa itu merupakan syi’ar. Saya tidak tahu apakah maksud mereka dengan syi’ar itu?
Apakah Rasulullah SAW yang melarang berzikir keras-keras itu tidak mengerti syi’ar? Apakah para sahabat, Imam Syafi’i dan ulama-ulama besar yang mengecam zikir dengan suara keras itu tidak mengerti syi’ar?
Lagi pula apakah, karena kita merasa besar, lalu kita merasa merdeka dan menafikan hak mereka yang lain -sekecil apa pun- untuk tidak diganggu dengan suara-suara keras?
Kehendak untuk diterima amal kita sering juga disusupi nafsu yang samar, lalu kita menjadi egois; ingin agar amal kita sendiri yang diterima tanpa mengindahkan hak orang lain untuk berkehendak diterima amalnya. Bahkan, sering karena kita terlalu ingin mendapatkan rida Allah, lalu kita mempersetankan hak orang lain untuk menjadi hamba-Nya sesuai kemampuannya.
Tengoklah mereka yang karena ingin menghormati Ramadan, lalu ingin memaksakan para pemilik warung untuk menutup warung. Mereka lupa bahwa tidak semua orang muslim wajib melaksanakan puasa pada Ramadan. Di sana ada musafir-musafir yang diperkenankan tidak puasa dan perempuan-perempuan yang datang bulan yang malah tidak boleh berpuasa. Maraknya kehidupan beragama secara lahiriah seharusnya diikuti dengan maraknya spiritualitas kaum beragama secara batiniah. Dengan demikian, Ramadan tidak begitu saja berlalu sebagaimana momen-momen rutin lain yang tidak membekas.
Apalagi justru menjadikan kita hamba-hamba yang bangga diri terhadap kebesaran semu kita. Selamat berpuasa Ramadan!
Semoga Allah mengampuni kekurangan-kekurangan kita dan menerima amal ibadah kita. Amin.
KH Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul
Sumber: Jawa Pos dotcom
Kamis, 06 Agustus 2009
Berpuasalah Secara Benar..
Assalamulaikum Wr.Wb....
Saat matahari mulai tenggelam pada sore hari Jum'at 21 Agustus nanti, insya Allah kita akan memasuki penghulu dari segala bulan: Ramadhan yang agung. Dari hati yang dalam saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pembaca blog ini, atas segala khilaf dan kesalahan yang mungkin pernah saya dan keluarga perbuat.
Mudah-mudahan kita semua dapat mengisi hari-hari Ramadhan kita dengan iman dan penuh kesungguhan dan perhitungan (ikhtisaban). Dengan demikian insya Allah kita bersama-sama dapat menggapai derajat taqwa sebagaimana yang dijanjikan-Nya. Amien.
Bersaumlah maka kamu akan sehat (Hadist). Di bawah ini ada tulisan yang membahas bagaimana tips-tips supaya shaum kita sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh hadist tersebut. Tulisan ini saya ambil dari KCM, edisi Jumat, 24 Oktober 2003. Semoga bermanfaat!
Wassalamulaikum Wr.Wb.
Kholid Harras & Keluarga
Berpuasalah Secara Benar..!
Begitu adzan Maghrib berkumandang, tangan Herry (nama samaran, 32) langsung menyambar segelas es teh manis. Sekali tenggak, habis. Giliran semangkuk kolak pisang hanya dalam beberapa sendok, licin tandas. Wajah staf marketing sebuah perusahaan jamu ini agak sumringah setelah kerongkongannya dibilas segelas es blewah. ’’Seharian empat kali presentasi, ancur gua!’’ keluh ayah seorang balita ini, apalagi ia dalam keadaan berpuasa. Lima menit istirahat, pria tambun berbobot 89 kilogram ini siap melahap sepiring nasi dengan gundukan lauk pauk di sana sini. Seperempat jam kemudian, tuntas sudah. Herry duduk bersandar, wajahnya berkeringat. Sambil mengendapkan rasa kenyang, sebatang rokok berkepulan di antara jari kanannya.
Perubahan waktu makan
Herry bukan satu-satunya. Sepanjang bulan Ramadhan banyak orang yang mengubah perilaku makannya, terutama saat berbuka puasa dan makan sahur. Padahal, menurut Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A., berpuasa sebenarnya hanya mengganti waktu makan. Dalam sehari kita biasa makan besar dua kali, makan siang dan makan malam. Sedangkan selama Bulan Ramadhan, makan besar tetap dua kali, yakni sahur dan buka puasa.Yang berbeda, lanjut Eva, pada yang berpuasa pemasukan cairannya berubah. Biasanya, cairan tubuh ada terus-menerus, karena kita pun minum beberapa kali dalam satu hari, dengan jumlah 1,5 - 2 liter air. Sedang saat berpuasa frekuensi minum terbatas. Sebagian orang berpendapat, "Malas ah, malam-malam makan, masih ngantuk", lalu akhirnya tidak makan sahur. Dokter asal Aceh itu menyayangkan tindakan mengabaikan makan sahur. Selain ada pahalanya, makan sahur tetap harus dilakukan, sebab selama 13 jam kita berpuasa kita harus memiliki cadangan energi. Kalau tidak, tentu berdampak terhadap kesehatan. Sahur dan buka sebaiknya tetap dilakukan sesuai aturan, karena secara gastrointestinal (berhubungan dengan lambung dan usus) puasa hanyalah perubahan waktu makan. Volume makan pun tetap saja harus dikontrol, jangan berlebihan.
Jangan Langsung Tidur dan Perhatikan Jeda Setelah Berbuka dan Sahur
Kesalahan kebanyakan di antara kita, sesudah sahur atau buka puasa, shalat sebentar, lalu tidur. Padahal, seharusnya tidak demikian, tidak boleh langsung tidur sehabis makan. Tunggu minimal setengah jam, saran Eva. Ia menganjurkan, makan sahur dilakukan mendekati waktu Subuh, agar sesudah shalat tidak tidur lagi. Jadi, bukan santap sahur pukul 02.00, lalu tidur lagi. Alasannya, sewaktu tidur tubuh menjadi sangat rileks, sehingga gerakan usus lambat sekali, sedangkan kita makan sampai perut penuh. Jadi, metabolisme pencernaan terganggu, karena makanan terus-menerus berada di dalam usus. Seandainya peraturan yang sudah digariskan sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W. diikuti, menurut Eva, itu sudah bagus. Perut yang biasanya terus-menerus terisi, saat berpuasa agak diubah sistem pencernaannya, tidak bekerja keras tiga kali sehari, tetapi dua kali.
Ada pendapat, berpuasa itu amat penting dilakukan, sebab memberi kesempatan pada semua organ dalam tubuh untuk beristirahat. Saat berpuasa, sistem pencernaan dibebaskan dari tugas, sehingga tubuh punya waktu untuk melakukan pembersihan. Tubuh pun memerlukan pembersihan dari racun-racun yang terkumpul dari makanan yang tidak tercerna, asam urat, polusi, pestisida pada makanan, dan lain-lain.
Balita jangan dipaksa
Selama berpuasa, pada hemat Eva, tidak ada masalah dalam hal kecukupan gizi. Hanya, ia menyesalkan banyaknya orangtua yang mengharuskan anak-anak balita berpuasa. "Sebaiknya, balita jangan terlalu dipaksa berpuasa karena ia masih dalam fase pertumbuhan," saran Eva. Namun, setelah usia enam tahun diperbolehkan, karena pada usia itu pertumbuhannya sudah melambat, sehingga kebutuhan makanan pun tidak terlalu banyak.
Ada yang mencobakan puasa setengah hari, itu bagus karena si anak menjalani proses adaptasi. Susahnya, ada orangtua yang bangga anaknya puasa satu hari penuh, padahal baru usia empat tahun. Pada keadaan seperti itu dikhawatirkan ada ancaman kekurangan gizi. Pasalnya, kebiasaan anak untuk tidak makan siang sepanjang bulan Ramadhan, terkadang berlanjut meskipun bulan Ramadhan sudah lewat. Sementara itu sang orangtua tenang-tenang saja, menilai si anak sudah biasa puasa. Tahu-tahu, si anak ambruk, kekurangan gizi.
Bagaimana dengan hikmah puasa yang coba diajarkan pada balita? "Hikmah puasa adalah menahan diri, tapi ada cara menahan diri untuk balita." Eva pun menyitir ajaran Imam al Ghazali tentang mendidik anak. Dikatakan, anak tidak boleh makan terlalu banyak. Memang benar, jika terlalu banyak makan, sebagian besar darah larinya ke usus, untuk mencerna dan menyerap makanan. Sedangkan darah yang ke otak berkurang, sehingga keseimbangan jadi terganggu.
Biasanya memang pertama-tama darah larinya ke otak, termasuk oksigen. Otak manusia beratnya hanya satu persen dari berat tubuh, tetapi ia menggunakan 20% dari seluruh oksigen dibutuhkan. Otak memang pengguna terbesar, selanjutnya adalah gastrointestinal, usus. Karenanya, orangtua suka menasihati, sehabis makan jangan langsung belajar, karena nanti supply darah ke otak berkurang, sehingga badannya kurang fit untuk belajar.
Jangan pikir makanan
Bagi penderita maag, adakah kiat khusus untuk berpuasa? Eva memilah dulu gradasi penyakit si penderita, sebab penyakit maag bervariasi antara yang ringan hingga berat. Karena sifatnya individual, maka harus dilihat kasusnya. Ada orang yang sakit maag karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas. "Kalau ia berpuasa tentunya tidak makan pedas ’kan? Jadi tidak ada rangsangan yang menimbulkan sakit maag," imbuh Eva.
Ada juga orang yang sakit maagnya sudah parah. Eva menganjurkan, dicoba puasa dulu, dengan sistem setengah hari. Jadi, seperti orang disapih. Jika langsung tidak makan, pengeluaran asam lambungnya berlangsung cepat. "Kalau kita tidak makan, baru memikirkan makanan saja, kadang-kadang asam lambung sudah keluar." Makanya, orang berpuasa tidak boleh memikirkan makanan, nanti asam lambungnya keluar, perut pun perih, jadi laparlah.
Penderita diabetes pun - apalagi yang sudah tergantung pada insulin - harus hati-hati, bahkan bila perlu diatur kembali. Misalnya, melakukan penyuntikannya sesudah berbuka puasa. Yang sehari harus tiga kali suntik, itu sebaiknya jangan berpuasa. "Tapi kalau hipertensi tidak apa-apa. Malah kalau ia berpuasa, tidak mikir-mikir makanan, stresnya berkurang," nasehat Eva.
Jangan sembarang suplemen
Lemas selama berpuasa, demikian yang diderita umumnya orang yang berpuasa. Hal itu karena sumber energi kita paling banyak dari karbohidrat. Memang, orang Indonesia 60% makanannya mengandung karbohidrat. Sedangkan karbohidrat itu kerjanya sebentar, 3 - 4 jam habis. Kalau kita cukup punya cadangan, biasanya disimpan di lever (hati), namanya glikogen. Nah, saat kita berpuasa, cadangan itu diambil. Jika cadangan glikogen kita cukup, stamina kita cukup bagus.
Pada orang-orang tertentu, yang cadangan glikogennya rendah, akan merasa mengantuk dan lemas. Saran Eva, ketika sahur konsumsi agak banyak makanan berlemak tinggi, agar pengosongan lambungnya agak lambat. Jadi, ia tidak mudah lapar. "Kalau bisa protein dan lemaknya ditambah, karbohidratnya dikurangi. Jadi, jangan terlalu manis-manis," petuah Eva. Hindari pula makanan merangsang, karena dapat mengiritasi lambung, lambung pun jadi sakit.
Untuk yang terbiasa mengonsumsi vitamin dan suplemen untuk mempertahankan energi dan vitalitas selama berpuasa, Eva sempat mewanti-wanti. "Hati-hati minum vitamin, karena pada orang tertentu justru bikin lapar terus. Saya anjurkan jangan minum vitamin saat sahur. Kalau vitamin C tidak apa-apa, tapi ada orang yang bila minum B kompleks dia akan lapar terus," kata Eva. Untuk itu, menurut Eva, saat buka puasa, tetap utamakan makan sayur dan buah. Itu karena kita tetap harus mengonsumsi serat sebanyak 20 - 35 g per hari. Manfaatnya, agar terhindar dari gangguan pencernaan, seperti buang air besar tidak lancar, keras, tidak setiap hari, dan timbul rasa tidak nyaman di perut.
Jangan pula langsung makan banyak, sebagaimana kawan kita Herry, karena lambung bisa kaget. Selain itu, bisa-bisa bukannya berkurang, berat badan malah bertambah setelah puasa, sebagaimana dikeluhkan banyak orang. Saat berbuka bisa dihidangkan teh manis hangat, jangan es atau makanan pedas karena lambung masih kosong. Jadi, lambung perlu diadaptasikan dulu, baru setengah jam kemudian makan besar. Demikian pula saat sahur, tidak dianjurkan makan terlalu banyak, karena empat jam kemudian lambung akan kosong. Prinsipnya, puasa mengubah waktu makan. Minum banyak boleh, jumlah 1,5 - 2 liter harus terpenuhi selama buka dan sahur.
Eva mengajak kita mengambil hikmah terbesar puasa Ramadhan, yakni menahan diri. Kita juga bisa ikut merasakan lapar dan dahaga, yang biasa dialami kaum dhuafa. Dengan begitu, akan tumbuh rasa empati terhadap kaum papa. (Intisari)
TIPS Agar Tetap Segar Selama Puasa..!
KETIKA berpuasa, bahan makanan yang masuk (intake) berbeda dengan energi yang dikeluarkan (outtake) selama beraktivitas. Itu sebabnya, selama menjalankan ibadah puasa, kesehatan pun harus dijaga. Untuk itu, perlu diperhatikan pengaturan makan dan minum pada saat sahur atau berbuka puasa, agar tubuh tetap segar dan bugar sepanjang hari selama berpuasa. Pada saat berpuasa bahan makanan penghasil energi utama seperti karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan protein yang masuk ke tubuh kita tidaklah sebanyak hari-hari biasa. Untuk itu ada kiat-kiat khusus agar tubuh tetap segar dan fit selama berpuasa.
Agar kondisi tetap prima kendati tengah berpuasa, simak tips kesehatan di bawah ini.
•Jangan lupa selalu mengkonsumsi makanan bergizi baik pada saat sahur atau berbuka puasa. Walau menu sederhana, yang penting mengandung lima unsur gizi lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
•Upayakan untuk mencegah dehidrasi tubuh dengan banyak minum air putih pada malam hari. Hal ini penting dilakukan, karena pada siang hari aktivitas kita cenderung banyak mengeluarkan keringat baik di ruangan terbuka atau ber-AC.
•Pada saat berbuka, awali buka puasa Anda dengan makanan atau minuman hangat dan manis seperti kolak, setup, ataupun minuman manis lainnya. Tapi ingat, jangan mengkonsumsi minuman yang mengandung soda, karena dapat menimbulkan akibat buruk bagi perut Anda.
•Jangan langsung minum air dingin atau es, sebaliknya biasakanlah berbuka dengan minuman yang hangat. Perut yang kosong bisa menjadi kembung, bila Anda langsung berbuka puasa dengan air dingin, karena asam lambung dalam tubuh kita akan terbentuk semakin banyak.
•Kemudian beristirahatlah kurang lebih satu jam sebelum menyantap hidangan berbuka yang telah dihidangkan. Tujuannya untuk memberikan keseimbangan terlebih dahulu pada pencernaan kita. Ingat, jangan mengkonsumsi makanan berlebihan dan makanan asinan.
•Berbuka puasa hendaknya dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru agar lambung tidak "kaget". Dengan demikian kerja lambung tidak terlampau berat. Untuk meringankan kerja pencernaan, kunyah makanan dengan baik.
•Agar Anda mampu menahan rasa lapar, perbanyaklah mengkonsumsi jenis makanan berserat yang banyak terdapat dalam sayur dan buah. Tubuh kita memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna makanan yang banyak mengandung serat.
•Selain memperbanyak makanan berserat dan makanan yang mengandung protein, sebaiknya Anda juga menyediakan jenis makanan yang mengandung vitamin dan mineral serta makanan tambahan agar tubuh tetap segar bugar sepanjang hari.
•Vitamin yang penting dikonsumsi setiap hari adalah vitamin A, B, dan C. Tapi kalau
Anda sudah makan buah berwarna kuning atau merah, sayur berwarna hijau tua, kacang-kacangan, maka tak perlu khawatir kekurangan vitamin tersebut.
•Bagi penderita sakit lambung makanan yang sebaiknya dihindari adalah ketan, mie, daging berlemak, ikan dan daging yang diawetkan, sayuran mentah, sayuran berserat, minuman yang mengandung soda, dan bumbu yang tajam (cuka, cabai, asam). Jenis makanan tersebut bisa menimbulkan gas yang berpengaruh meningkatkan produksi asam lambung.
•Bagi mereka yang berat badannya melebihi berat badan ideal, sebaiknya selama berpuasa pun tetap menghindari makanan yang tinggi kolesterolnya, misalnya lemak hewan, margarin, mentega. Selain itu, sebaiknya Anda menghindari makanan yang manis-manis, seperti dodol, sirup, cokelat, kue tar, es krim. "Selain lebih banyak mengkonsumsi sayur, buah, dan daging tanpa lemak, pengolahan makanannya pun sebaiknya jangan digoreng."
•Sedang bagi mereka yang terlalu kurus, selama berpuasa sebaiknya menambah porsi susunya dan menghindari makanan yang sulit dicerna seperti sayuran berserat kasar daun singkong, daun pepaya).
•Bagi mereka yang berusia lanjut, aturlah pola makan saat berbuka puasa juga secara bertahap. Makanlah jumlah yang lebih sedikit, namun dilakukan beberapa kali.
Selamat menjalankan ibadah Ramadhan!
Langganan:
Postingan (Atom)