Minggu, 12 Juni 2011

MENGAPA KITA GAGAL MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN?

oleh Kholid A. Harras

Dalam sebuah hadist Rasulullahbersabda "Berapa banyak orang yangberpuasa namun ia tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari puasanya tersebutkecuali rasa lapar dan dahaga saja...". Dari keterangan hadist tersebut jelaslah bahwasanya tidak setiap kita yangmelakukan ibadah puasa dapat mengantarkannya meraih derajat taqwa sebagaimana yangmenjadi tujuan dari ibadah shaum ramadhan ini ..

Menurut para ulama, penyebabutama terjadinya kondisi yang paradoksal seperti itu antara lain karena ibadahshaum atau puasa yang banyak dilakukan mengabaikan dua syarat utamanya, yakni penuh keimanan(imanan) serta perhitungan dan kesungguhan (ikhtisaban). Ketika kedua syarattersebut tidak secara sungguh-sungguh diperhatikan maka sudah pasti kita akangagal meraih keutamaan Ramadhan. Berikut sembilan indikator penyebab kita gagal meraih keutamaanRamadhan.

PERTAMA,ketika berpuasa tidak menghalangi dirinya untuk tidak menjaga mulutnya, seperti bergunjing membicarakan keburukanorang lain, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, sertaberdusta. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia.(HR. Bukhari)

KEDUA, ketika target pembacaan Al-Qur'an yang dicanangkan minimal satu kali khatam, tidakterpenuhi selama bulan ramadhan. Kenapa minimal harus dapat mengkhatamkan satukali sepanjang bulan ini? Karena itulah terget minimal pembacaan Al-Qur'an yangdiajarkan oleh Rasulullah SAW. Di bulan ini, pembacaan Al-Qur'an merupakanbentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah tersebutmalam lailatul qadar. Pada bulan ini pula Jibril as biasa mengulang-ulangbacaan Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW. Orang yang berpuasa sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur'anyang lebih baik dari bulan-bulan selainnya.

KETIGA, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yangharam. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekamankedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata,lebih sulit terhapus daripada informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya.Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa danpikiran dari berbagai kotoran. Ini sebabnya Islam mewasiatkan sikap hati-hatidalam menggunakan nikmat mata.

KEEMPAT, ketika malam-malam ramadhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selainRamadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah menganjurkanumatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do'a-do'a tertentu. Ibadahshalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih, merupakan amalibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih,tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga.

KELIMA, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejakpagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan "balas dendam"dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berartinilai pendidikan puasa akan hilang. Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikanbagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawanafsu. Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannyaketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsuyang dihempaskan saat terbuka.

KEENAM, ketika bulan ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah.Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yang palingmurah dan dermawan di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisabernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya.Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.

KETUJUH, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibukdengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untukmemperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan idul fitridengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulanmulia tersebut.Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untukberdiam didalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Merekamemperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan,saat diturunkannya Al-Qur'an. Pada detik-detik terakhir menjelang usainyaramadhan, mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah denganbulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah denganbulan mulia.

KEDELAPAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari"merdeka" dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena inisebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai denganadabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhansebagai beban dan keterkungkungan.

KESEMBILAN, setelah ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjutipada bulan-bulan selanjutnya. Misalnya memelihara kesinambungan puasa sunnah 6hari di bulan Syawal dan puasa-puasa sunah lainnya, shalat malam, membacaAl-Qur'an, ataupun bersedekah dan berinfak.

Amal-amal ibadah satu bulanramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkatkanuntuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraihkeutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikanamal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan di bulan ramadhan.marilah kita perbaiki diri kita di bulan ramadhan ini, dan kita tingkatkankualitas kepribadian kita agar kita mampu meraih keutamaan bulan ramadhan. (KAH)



Tiga Catatan di Akhir Ramadhan

oleh Kholid A. Harras


Ramadan sebentar lagi akan meninggalkan kita. “Madu” ramadhan sudah sampai di tetes terakhir untuk kita nikmati. Minimal minimal ada tiga catatan yang patut kita garisbawahi setelah kita menapaki hari-hari Ramadhan tahun ini. Tentu saja masing-masing kita bisa menambahkan catatan tersebut sesuai hasil perenungan kita masing-masing.

Pertama, seliar apa pun nafsu kita, sesungguhnya ia bisa didewasakan. Momentum Ramadan telah menyediakan tarbiyah khusus buat pengendali nafsu yang bersemayan pada diri manusia. Mungkin pada hari-hari di luar bulan Ramadhan nafsu kerap kali mendiktekita. Di balik tuntutan lapar materi, nafsu bisa mencipta seribu satu dalih agar orang mencuri atau melakukan korupsi. Nafsu jugalah yang kerap mengelabui manusia mengumbar libido syahwat. Dan dibalik tuntutan nafsu ingin istirahat, kerap mengungkung orang menjadi penyantai dan pemalas dan melakukan ibadah.

Lewat Ramadhan Allah SWT Yang Maha Pengasih telah menghadiahi kita dengan kewajiban melaksanakan shaum atau puasa agar setiap muslim bisa mendewasakan nafsu-nafsu duniawinya. Bisa menutup-buka pintu-pintu energinya. Hingga, nafsu tidak lagi seperti anak kecil yang bisa dapat apa pun ketika merengek dan menuntut. Nafsu harus dipaksa. Agar, ia bisa dewasa. Inilah salah satu tarbiyah Rabbaniyah atas kehadiran bulan Ramadhan ini, ia telah memdewasakan nafsu kita.

Kedua, sekotor apa pun jiwa kita, sesungguhnya ia bisa dibersihkan. Selama sebelas bulan, tubuh, jiwa juga indria kita boleh jadi begitu longgar dalam menerima masukan dari luar. Semuanya bisa masuk. Mulai dari yang samar, kotor, bahkan yang beracun sekalipun. Akibatnya, tubuh, jiwa maupun indria kita tidak lagi peka dan mata hati kita pun menjadi buta. Ramadhan telah menyediakan semacam “saringan alami” bagi ketiganya. Karena telah mendapat saringan akan membuat berbagai amaliyah ibadah yang sebelumnya terasa berat menjadi ringan. Bahkan sangat ringan!. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena telah berusaha membersihkan jiwa kita selama sebulan di Ramdhan tahun ini.

Ketiga, sepicik apa pun ego kita, ternyata ia bisa dicerdaskan.Karena ego, orang bisa menganggap kalau dirinyalah yang terbaik. Tak perlu masukan dan sumbang saran. Karena ego pula, orang menjadi tak perlu berjamaah. Ego menghias kepicikan diri menjadi prestasi besar. Ramadhan telah memaksa ego kita untuk tunduk dengan kenyataan. Bahwa, yang ego banggakan ternyata tak sekuat yang dibayangkan.Lewat Ramadhan telah memaksa ego kita untuk melihat kenyataan diri. Bahwa, kita hanyalah seorang hamba, yang harus tunduk dan taan kepada-Nya.

Inilah momentum Ramadan yang begitu mahal. Semoga kita masih diberikan kesempatan oleh Allah bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun hadapan.Amien.

CITRA GURU PADA SINETRON KITA

oleh Kholid A. Harras

Bagaimananakah sosok guru dicitrakan dalam film-film atau sinetron yang setakat ini ditayangkan oleh sebagian besar stasiun televisi kita? Memprihatinkan, mengenaskan, bahkan cenderung terjadi ‘pelecehan’ terhadap profesi yang konon layak “digugu dan ditiru” ini. Supaya pernyataan tersebut tidak dianggap mengada-ada atau dinilai fitnah, berikut penulis akan sajikan sejumlah hujah serta bukti-buktinya.

Sosok peran guru yang banyak dimunculkan pada film atau sinetron dan ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi kita, baik yang berformatkan film televisi (FTV), layar miniseri (LMS) dan sinetron mini seri (SMS). pada umumnya dikaitkan pada cerita-cerita dunia cinta remaja. Mereka pada umumnya juga merupakan para guru yang mengajar di sekolah-sekolah ‘bonafide’ di kota besar, khususnya Jakarta, baik di SMP maupun di SMU. Namun yang harus segera dicatat, kehadiran peran guru dalam seabrek sintron dunia cinta remaja tersebut pada umumnya bukanlah tokoh sentral. Sebaliknya, keberadaan mereka hanya sekadar peran tempelan alias ‘pelengkap penderita’ bagi penggambaran dari gaya hidup para pelajar atau remaja kota besar yang serba wah dan hedonis, yang memang merupakan mainstream dari sinetron-sinetron tersebut.

Walaupun peran minimalis para guru tersebut tidak mewakili fakta yang sesungguhnya, tapi hal itu bukanlah masalah benar. Yang justru menjadi soal adalah bagaimana para pembuat sinetron tersebut selama ini mencitrakan posisi kaum guru dalam sinetron mereka. Jika kita coba cermati secara saksama, maka tampaklah bahwasanya dalam banyak sinetron remaja tersebut para guru pada umumnya selalu digambarkan dalam posisi yang artifisail serta nyaris tanpa wibawa, baik dari sisi penampilan fisik maupun tingkah-paripolahnya.

Sebagai sebuah contoh misalnya pada sinetron Opera SMU dan Amanda. Di situ digambarkan bagaimana dandanan serta penampilan fisik dari tokoh-tokoh ibu guru yang laiknya para tante yang akan pergi ke pesta dansa, dan bukannya sebagai orang yang hendak mengajar di sekolah. Make up dari para ibu guru tersebut tampak habis-habisan: berbedak tebal, berlipstik menyala, memakai pinsil alis, eye shadow, mascara, sampai ber-blush-on segala. Begitu pula busana dan aksesoris yang digunakan pun pada umumnya juga tampak berlebihan.

Rupanya, seperti halnya yang telah menjadi ciri khas pada sinetron-sinetron kita dimana penampilan pemeran wanitanya harus tampak cantik, menarik serta menor, penampilan para ibu guru pun demikian. Dalam sinetron mereka, penampilan ibu guru pun tidak boleh tampak biasa-biasa saja, apalagi kumuh, sekalipun ia baru bangun tidur. Begitu pula penggambaran prilaku mereka, khususnya dalam menghadapi ulah dari para peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar kelas juga pada umumnya nyaris tak tampak kewibawaannya sebagai seorang pendidik.

Dalam salah satu sinetron remaja, digambarkan sang guru meminta muridnya berpidato di depan kelas. Ketika seorang murid berpidato dengan tergagap-gagap, teman-temannya justru melemparinya dengan potongan-potongan kertas yang pasti menjadi sampah di kelas. Bagaimana si guru menghadapi situasi tersebut? Marahkah dia? Oh tidak, sang guru hanya digambarkan menggeleng-gelengkan kepala, cemberut, lalu menyuruh si murid gagap tersebut duduk kembali. Pada episode yang lain, muncul seorang guru yang arogan ketika menghadapi muridnya yang terlambat masuk kelas. Dengan judesnya sang guru mengusir si murid, tanpa perlu bertanya penyebab keterlambatannya.

Betapa tak adanya wibawa guru dalam sinetron juga muncul antara lain lewat adegan di mana murid seenaknya bicara pada sang guru sambil mengolah permen karet di mulutnya! Adegan lainnya, ketika guru memanggil ke ruangannya seorang murid yang melakukan kesalahan, si murid justru menantang mata sang guru. Dengan seenaknya si murid membantah perintah sang guru karena hal itu tak sesuai dengan keinginan hatinya. Adegan in jelas menunjukkan betapa “berkuasanya” si murid yang dalam cerita itu merupakan anak seorang pejabat dan betapa rendahnya wibawa guru tersebut sampai-sampai muridnya bisa seenaknya melecehkannya.

Hal lain yang juga bisa dianggap sebuah pelecehan, yakni bagaimana bebasnya pakaian seragam para murid, baik SMP maupun SMA dalam sinetron-sinetron tersebut. Umumnya murid yang berakting pada sinetron pakaian seragamnya seenaknya sendiri. Misalnya yang laki2 bajunya tidak dimasukan ke dalam celana atau roknya, potongan celana atau roknya tidak sesuai aturan atau menggunakan asesoris yang diluar kepatutan. Hal itu jelas tidak realistis. Mungkin memang ada anak sekolah seperti itu, tetapi mayoritas murid SMU saya yakin tidak seperti apa yang digambarkan dalam sinetron- sinetron tersebut.

Itulah antara lain penggambaran citra dan sosok guru dalam sinetron remaja yang bertebaran di layar kaca kita. Di tengah krisis pada semua segi bangsa ini, realitas dunia sinetron itu seperti menggambarkan krisis etika kita, krisis budi pekerti kita. Tragis memang! ****

SBY, PRESIDEN PERUSAK BAHASA INDONESIA

oleh Kholid A. Harras

Sewaktu SBY menjabat sebagai Menko Polkam dalam Kabinet Gotong Royong era Presiden Megawati, pada perayaan bulan bahasa Oktober 2003 Pusat Bahasa (kini statusnya ditingkatkan menjadi Badan Bahasa Nasional, mengganjarnya sebagai tokoh publik berbahasa Indonesia lisan terbaik.

Salah satu dasar pertimbanganya, karena dalam setiap pidatonya di hadapan publik atau pers SBY akan senantiasa menggunakan bhs.Indonesia yang tertib, runut dan cerdas.Sejak SBY menjadi orang nomor satu di negeri ini, terlebih-lebih setelah dia menyandang gelar doktor, SBY tampaknya sudah tidak lagi istiqomah. Menurut saya, saat ini dia merupakan tokoh publik yang paling buruk dalam menggunakan bahasa Indonesia.

Ingin bukti? Coba saja simak pidatonya pada acara pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/1/2011). Dalam pidatonya tersebut, SBY begitu 'jor-joran' melontarkan istilah-istilah atau kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hanya dalam 30 menit pertama pidatonya, SBY menggelontorkan istilah dalam bahasa Inggris sebanyak 24. kali Padahal, pidato SBY hari ini berdurasi lebih dari satu jam. Jadi dapat dibayangkan akan berapa banyak istilah-istilah bahasa Inggris yang keluar dari mulut presiden kita ini.

Berikut beberapa contoh kutipan Bhs Indonesianya SBY yang banyak disoroti publik tersebut.

"Dalam melakukan evaluasi, kita harus merujuk pada parameterdan ukuran yang jelas. Correct measurement". Selanjutnya SBY mengatakan, "Pemulihan ekonomi untuk menjaga kesejahteraan rakyat, atau dengan bahasa bebas saya katakan minimizing the impact of the global economic crisis.". Menurut SBY, keberhasilan perekonomian Indonesia di tahun 2010 ini mencapai 6 persen lebih. Tak lupa, ungkapan ini juga dia sampaikan dalam bahasa Inggris. "Insya Allah tahun 2010 ini kita bisa mencapai enam persen, close to six percent," ujar Presiden.

Selain itu dalam pidato tsb SBY mengutip kata maupun istilah-istilah dari bahasa Inggris yang fungsinya hanya sebatas penggaya saja, karena dia terlebih dahulu mengutip istilah bhs. Indonesianya. Antara lain “Kita tetapkan sejumlah kebijakan, policies, dan tindakan nyata, actions.” “Menuju sebuah anggaran yang berimbang, balance badget.” “Tetapi, secara umum, in general.” “Yang menyakitkan, yang painful.” “Tapi, kami pemerintah mengatakan, it is achievable, bisa dicapai.”

Atas dasar kenyataan tersebut, saya mengusulkan kepada Badan Bahasa Nasional untuk mencabut kembali gelar SBY sebagai "Tokoh Publik Pengguna Bahasa Indonesia Lisan Terbaik". Kini SBY sudah tidak tepat lagi menyandang gelar tersebut. Bahkan bila perlu, SBY perlu diganjar sebagai presiden pelanggar UU Nomor 24 Tahun 2009 yang mewajibkan pejabat negara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tindakan ini penting dilakukan untuk menjaga harkat dan martabat Badan Bahasa Nasional.

Emansipasi yang Salah Kaprah?

oleh Kholid A. Harras

Banyak wanita saat ini yang kerap mengartikan emansipasi secara salah kaprah sehingga kadang mengorbankan kemulyaan wanita itu sendiri. Ironisnya semua itu kerap dinisbatkan seolah2 sebagai bagian dari perjuangan wanita berhati emas RA Kartini. Padahal kalau kita baca surat2 RA Kartini sebagaimana yang ia tulis kepada sahabat2nya cita-cita beliau (kalau itu disebut emansipasi) sesungguhnya sangat sederhana. Coba kita simak misalnya surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 di bawah ini.

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.

Begitu juga banyak orang yang tidak tahu bahwasanya pikiran-pikiran RA Kartini sesungguhnya merupakan buah dari hasil kekritisannya dalam mempelajari ajaran Islam, khususnya Al-Quran. Kartini syahdan sering berdiskusi dengan para ulama di daerahnya. Antara lain beliau pernah berdialog dengan Kiyai Soleh Darat.

Berikut antara lain dialog antara Kartini dengan Kyai Sholeh Darat

”Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”.

Menurut K.H.Ahmad Chalwani Nawawi, pengasuh Ponpes Al-Nawawiyah Purworejo Jateng dan mantan anggota DPD RI Wakil jawa Tengah, Kartini lantas mengusulkan kepada Kiyai Sholeh Darat untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Konon dari usulan Kartinilah, akhirnya Kiyai Sholeh Darat menjadi orang pertama yang menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Jawa (lihat majalah Mataair edisi VI,2007.)

Kata-kata minazh zhulumaati ilan nuur [Q.S: 2:257] ini sering diulang-ulangnya, dari gelap kepada cahaya. Bagi Kartini, terasa benar pengalaman pribadi tersebut, dari kegelisahan dan pemikiran tak berketentuan kepada pemikiran hidayah.

Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat ”Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Istilah ini yang dalam Bahasa Belanda adalah ”Door Duisternis Tot Licht”, kemudian menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane menjadi ”Habis Gelap Terbitlah Terang”


Wallahu a'lam

Sabtu, 04 September 2010

ISLAM AGAMA SILATURAHIM

Menurut para ulama, Islam merupakan agama yang menjadikan SILATURAHIM (bukan SILATURAHMI sebagaimana yg sering kita dengar banyak dipakai secara salah kaprah oleh masyarakat kita) sebagai hal yang sangat penting sekal, Bahkan ada seorang ulama yang mengatakan SILATURAHIM merupakan jantungnya agama Islam.

Mengapa yang benar itu SILATURAHIM dan bukan SILATURAHMI? Ditinjau secara morfologi atau cabang ilmu Linguistik yang mempelajari tata kata, baik kata SILATURAHIM maupun SILATURAHMI terbentuk dari kata yang sama yaitu SHILAH yang artinya menyambungkan. Yang membedakan keduanya adalah akhiranya. Yang satu kata RAHIM sedangkan yang satu lagi RAHMI. Dalam bahasa Arab, kedua kata ini berbeda artinya. Kata RAHIM artinya kasih sayang (ingat: ALLAH SWT mempunyai sifat Ar Rahim, Yang Maha Penyayang). Sedangkan kata RAHMI mempunyai arti “rasa nyeri yg timbul (dan diderita sang ibu) pada saat melahirkan”. Dengan demikian kata SILATURAHIM = penyambung kasih sayang, sedangkan SILATURAHMI= penghubung uterus (tali pusar yg menghubungkan ibu dan anak). Sangat berbeda sekali maknanya bukan?

Beberpa bukti bahwa Islam merupakan agama SILATURAHIM, misalnya bisa dilihat dari anjuran Rasululloh SAW (minimal) kepada kaum pria agar melakukan sholat berjamaah di masjid. Dengan melakukan sholat berjamaah di masjid akan menciptakan kondisi setiap hari antar sesama muslim dalam suatu kawasan (RT atau RW atau tetangga dekat) saling bertemu melakukan ibadah yg serupa. Karena bisa saling bertema tentunya mereka pun akan berkomunikasi, Jika sering terjalin komunikasi maka ujung2nya hubungan kasih sayang dan kekeluargaan antar sesama mereka.. Saat ada seorang jamaah yang tidak hadir, akan terasa kita akan merasa kehilangan seorang anggota ‘keluarga’, ini artinya dalam diri kita telah tumbuh rasa kasih sayang kepada jamaah ybs.

Pada hari Jum’at, kaum pria mesti menghadiri Jum’atan. Di hari itu, acara SILATURAHIM yang terjadi lebih besar, karena tidak saja tetangga dekat yang hadir, bisa jadi ada saudara dari beda rw yang ikut hadir di masjid. Selain itu, akan banyak hadir tetangga dekat yang jarang kita temui pada saat sholat berjamaah. Dengan demikian, scoop (ruang lingkup) dari SILATURAHIM menjadi lebih besar.

Tingkatan SILATURAHIM yang diajarkan Islam tidak berhenti pada level ini. Masih ada event lain yang mengajak kita untuk MEYAKINI bahwa Islam adalah agama yang SEMPURNA yakni event SHOLAT ‘IED, baik ‘Iedul Fitri ataupun ‘Iedul Adha. Kaum muslimin/muslimat akan berbondong-bondong hadir di satu tempat yang luas, dan bisa menampung ratusan bahkan ribuan umat untuk bertemu dan saling mengenal dan bersilaturahim.

Kemudian tingkatan akhir dari SILATURAHIM yang diajarkan Islam adalah HAJI. Pada musim haji, JUTAAN manusia DARI SELURUH DUNIA BERKUMPUL. Kita akan bertemu dengan saudara muslim dari Amerika, Inggris, Perancis, juga dari Afrika, Mesir, Iran, Soviet, dst dst (tentu saja dengan Arab) dengan keunikan dari masing-masing individu dan kebudayaan mereka. Di saat inilah, akan terasa bahwa betapa Islam adalah agama yang TIDAK MEMBEDA-BEDAKAN RAS, JABATAN, KEDUDUKAN, DST DST. Yang membedakan manusia hanyalah TINGKAT KETAQWAANNYA.

Kamis, 05 Agustus 2010

ARTI DAN TAFSIR TAHNIAH "MARHABAN RAMADHAN"

Menjelang tibanya bulan Ramadhan, di sudut-sudut jalan kita kerap melihat aneka spanduk atau poster yang berisikan tahniah (ucapan selamat) “Marhaban Ramadhan”. Apa sesungguhnya arti dan maksud, serta tafsir dari tahniah tersebut?

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (penerbit Mizan, 1989), dalam bahasa Arab kata ‘marhaban’ berasal dari akar kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”. Dari akar kata tersebut kemudian memunculkan kata "rahiba" yang berarti "selamat datang". Dengan demikian medan semantik kata ‘marhaban’ menggambarkan ucapan penyambutan kepada seorang tamu istimewa yang diterima dengan penuh dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.” Dengan demikian Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya tidak “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita. Sebaliknya, dengan kedatangan bulan yang mulia tersebut kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.

Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak melanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt. Demikian menurut Quraish Shihab, kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah apakah bekal itu? Masih menurut Quraish Shihab, yakni benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara.

Allahuma salimniy min ramadhaany
Wasalim ramadhaana liy
Wasalimhu minny

Kholid A.Harras

Pengikut

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia