Senin, 23 Maret 2009

KOMPAS JABAR, Kamis, 18 Mei 2006

Tumbuhkan Minat Baca Masyarakat

Pada 8 April 2005 Bupati Indramayu H Irianto MS Syafiuddin mendapat penghargaan tingkat nasional dari Serikat Penerbit Surat Kabar. Kang Yance demikian panggilan akrab Bupati Indramayu ini dinilai sebagai kepala daerah yang memiliki kepedulian yang sangat besar dalam mendorong minat baca masyarakatnya. Untuk sektor pendidikan Bupati Yance telah mengalokasikan anggaran APBD yang cukup besar, yakni 38,7 persen. Dengan alokasi anggaran sebesar itu Pemerintah Daerah Indramayu memiliki energi yang cukup untuk melakukan berbagai terobosan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya, termasuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas perpustakaan yang dimilikinya.

Sepuluh tahun lalu kondisi Perpustakaan Pemda Indramayu betul- betul sangat memprihatinkan. Gedungnya sangat kumuh dan tidak terurus. Koleksi bukunya sangat terbatas. Jika saat itu kita bermaksud mencari buku-buku sastra misalnya, bersiap-siaplah untuk kecewa. Dengan kondisi seperti itu, data jumlah rata-rata pengunjungnya setiap hari dapat dihitung dengan jari tangan saja. Namun, kini berkat suntikan dana yang mencukupi, kondisi Perpustakaan Pemda Indramayu benar-benar telah berubah total. Gedungnya cukup representatif, dilengkapi fasilitas AC, serta koleksi buku-buku yang dimilikinya pun sudah cukup lengkap (tentunya untuk ukuran sebuah perpustakaan daerah tingkat kabupaten).

Begitu pula manajemen pengelolaan dan pelayanannya sudah profesional serta menerapkan sistem komputerisasi. Dengan kondisi yang seperti itu, kini setiap harinya Perpustakaan Pemda Indramayu selalu ramai dikunjungi, khususnya oleh para pelajar dan mahasiswa. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pihak pengelola perpustakaan melakukan berbagai terobosan inovatif. Secara berkala di selasar gedungnya diselenggarakan pameran buku. Pihak pengelola mengundang para penerbit atau distributor buku seperti Toko Buku Gramedia untuk menggelar pameran.

Lewat terobosan semacam itu, fungsi perpustakaan tidak hanya sebatas tempat peminjaman buku, tetapi juga menjadi area bagi masyarakat mendapatkan buku-buku terbitan terbaru. Lewat terobosan semacam itu, mereka juga mencoba mendekatkan masyarakat dengan dunia perpustakaan. Selanjutnya, berkat sokongan dana yang memadai, kini keberadaan armada perpustakaan keliling mampu beroperasi lebih baik. Secara berkala armada yang berjumlah tiga unit itu mengelilingi kota-kota kecamatan dan desa guna memberikan pelayanan kepada masyarakat. Memang jumlahnya masih terlampau sedikit untuk menjangkau wilayah Indramayu yang cukup luas itu.

Upaya lainnya, Pemda Indramayu juga mendirikan pos-pos baca. Kebijakan mendirikan pos-pos baca sampai tingkat desa ini, sejauh pengamatan penulis, agaknya belum dilakukan oleh pemda kabupaten lain di Jawa Barat. Kiat lainnya, secara proaktif Kang Yance juga terus berupaya mendekati kalangan dunia usaha swasta serta BUMN, khususnya yang ada di wilayahnya, untuk ikut serta membantu mendirikan rumah-rumah baca di wilayah Indramayu. Salah satu hasilnya, pada tanggal 1 Maret 2004 melalui PUKK-PKBL (Program Kemitraan Bina Lingkungan) PT Pertamina UP VI Balongan telah mendirikan sebuah rumah baca yang berlokasi di SDN Balongan III, tepatnya di Blok Kesambi, Desa/Kecamatan Balongan. Rumah baca tersebut dilengkapi komputer, jaringan internet, serta ribuan buku. Kemudian dalam upayanya membina minat baca masyarakatnya Bupati Yance juga bekerja sama dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, pers maupun LSM.

Belum banyak Di tengah gonjang-ganjing politik dan sosial serta keterpurukan ekonomi yang terus mendera bangsa, kebijakan yang dilakukan Bupati Yance dalam mendorong minat baca masyarakatnya lewat upaya nyata meningkatkan kuantitas maupun kualitas perpustakaan di daerahnya layak diberikan catatan tersendiri karena belum banyak pemda lain yang melakukannya. Padahal, banyak temuan hasil penelitian menyebutkan bahwa salah satu kendala terbesar yang kita hadapi dalam menumbuhkan minat baca (reading habit) di negeri ini, antara lain akibat masih sangat minimnya sarana perpustakaan yang tersedia di masyarakat. Sebagai gambaran, menurut data Perpustakaan Nasional, konon dari sekitar 70.000 desa dan 9.000 kecamatan yang ada di Indonesia, tak lebih dari setengah persen sudah memiliki perpustakaan standar. Adapun dari sekitar 316 kabupaten, baru 70 persen yang memiliki perpustakaan standar. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah? Ternyata masih belum beranjak dari kata memprihatinkan. Dari sekitar 200.000 SD, diperkirakan cuma satu persen saja yang memiliki perpustakaan standar. Sementara dari sekitar 70.000 unit SLTP, hanya 36 persen yang memiliki perpustakaan standar.

Dan, dari sekitar 14.000 unit SLTA, hanya 54 persen saja yang mempunyai perpustakaan standar. Sementara di perguruan tinggi yang notabene merupakan centre of excellence, dari sekitar 4.000 perguruan tinggi yang kita miliki, hanya 60 persen saja yang memiliki perpustakaan standar. Sebagai gambaran, menurut data UNESCO misalnya, konon dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia yang belum bisa membaca atau dikategorikan illiterate jumlahnya masih sekitar 34,5 persen. Artinya, cuma 65,5 persen saja yang sudah melek huruf.

Dari jumlah tersebut sebagian besar dari mereka termasuk dalam kategori kelompok aliterate, yakni mereka bisa membaca, tetapi memilih untuk tidak menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari tradisi hidupnya. Sementara itu, masyarakat kita yang berkategori literate, yakni yang telah menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari kebudayaan hidupnya, menurut sebuah hasil penelitian, jumlahnya tidak sampai 10 persen dari populasi bangsa ini. Bandingkan misalnya dengan kondisi Malaysia, di mana jumlah masyarakat melek huruf yang mencapai 86,4 persen dan sudah berkategori literate telah mencapai 50 persen. Tidak sederhana Upaya menghadirkan minat baca seseorang, terlebih menjadikannya sebagai bagian dari tradisi masyarakat atau bangsa memang bukan persoalan sederhana.

Sebab, sebagaimana dikemukakan dalam banyak literatur, faktor-faktor yang menggayuti minat baca ini memang cukup kompleks. Selain bergayut dengan aneka faktor psikologis, juga bergayut dengan faktor-faktor yang turut memengaruhi minat baca ini. Maka, pengupayaannya tidak dapat hanya bertumpu pada salah satu faktor saja dan mengabaikan faktor lainnya, misalnya hanya mengandal- kan institusi persekolahan formal belaka. Keluarga, masyarakat, dan terlebih pihak pemerintah mutlak dituntut peran sertanya secara nyata. Tanpa peran serta mereka, mengharapkan masyarakat dan bangsa ini berbudaya membaca hanya akan menjadi sebuah utopia saja. Kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Kang Yance merupakan contoh dari wujud peran pemerintah dimaksud. Apa yang dilakukan oleh Bupati Indramayu ini seyogianya dapat ditiru oleh para bupati atau wali kota di daerah-daerah lainnya dalam upaya mendorong minat dan kegemaran membaca masyarakatnya.

KHOLID A HARRAS Penulis dan pensyarah pada FPBS Universitas Pendidikan Indonesia

Tidak ada komentar:

Pengikut

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia